“Bisakah kita bertemu?”
Aku mengirim pesan singkat ke kontak Leo. Sambil menggambar desain furnitur permintaan pelanggan khusus, aku harap-harap cemas menunggu balasan pesan dari orang itu. Sesekali, aku melihat ponsel. Tapi pesan itu belum mendapat balasan. Bahkan, Leo belum membacanya sama sekali. Aku lalu fokus lagi pada buku sketsaku. Menggambar satu set furnitur untuk kamar tidur pasangan muda.
Tak lama kemudian, ponselku tiba-tiba berdering. Satu notifikasi masuk ke ponselku. Dengan cepat aku memeriksanya. Begitu dilihat, ternyata itu bukan dari Leo. Itu adalah temanku yang meminta tolong sesuatu.
Temanku bernama Reina. Dia adalah pelanggan yang memesan furnitur untuk rumah barunya, yang saat ini desainnya sedang aku buat. Reina meminta aku untuk datang ke tempat kerjanya jika sedang tidak sibuk. Katanya, ada calon pelanggan baru yang ingin konsultasi terkait smart furniture denganku. Berhubung tempat kerja Reina adalah kampus yang sama dengan tempat Leo bekerja, aku pun langsung menyanggupi. Aku tentu tak boleh melewatkan kesempatan langka seperti ini. Mana tahu saja aku bertemu dengan Leo di sana.
Singkat cerita, aku sampai di tempat Reina berada. Aku dipertemukan dengan calon pelanggan baru yang ternyata adalah atasan Reina. Namanya Pak Bambang. Dia sedang merenovasi rumahnya dan berencana untuk mengganti semua furnitur dengan desain yang lebih simpel tapi multifungsi. Kami pun bercakap-cakap hingga tak terasa telah menghabiskan waktu sekitar dua jam.
“Gimana, Gy? Udah selesai? Kok lama banget?” Reina langsung menghampiri begitu aku keluar dari ruangan atasannya.
“Iya, udah selesai,” jawabku singkat.
Reina kemudian mengendus. Ia membaui sesuatu dari tubuhku. Membuatku jadi risih dan spontan bertanya. “Kenapa, Rei?”
“Aku nyium rejeki nomplok. Aroma-aromanya sih, kayak ada yang abis dapat proyek baru,” ucap Reina kemudian. Ia menggodaku sekarang.
“Ah, kamu. Bisa aja. Iya, aku baru dapat pesanan. Btw, makasih ya, udah rekomendasiin studioku. Kalo gini, makin laris deh bisnisku,” kataku.
“Iya, sama-sama. Jangan lupa aja. Kasih diskon buat orderanku,” ucapnya dengan syarat.
Aku lalu tertawa menanggapi itu. “Tenang! Buat Reina, apa sih yang enggak? Nanti, kukasih diskon satu persen,” balasku dengan canda.
Reina kemudian mengantarku menuju lift. Setelah itu, kami berpisah di sana. Namun, tak berselang lama, seseorang menghentikan laju pintu yang tengah menutup. Pintu lift pun terbuka lagi. Dan aku begitu terkejut ketika melihat bahwa orang itu adalah Leo.
Aku dan Leo saling diam untuk beberapa saat. Hingga, akhirnya aku memberanikan diri untuk bicara lebih dulu. “Jadi masuk?” tanyaku seraya tersenyum karena Leo masih berdiri di depan pintu.
Leo kemudian masuk ke dalam lift. Ia menekan tombol untuk menutup pintu dilanjutkan dengan tombol lantai satu. Di dalam lift, ada rasa canggung yang mulai menyelimuti.
“Kamu kenapa bisa ada di sini?” tanya Leo begitu pintu lift tertutup.
“Habis ketemu klien yang mau pesan furnitur.”
“Siapa?”
“Pak Bambang, Pembantu Rektor,” jawabku lagi.
“Oh.”
Percakapan singkat pun selesai. Lift menjadi hening seperti diisi orang tak saling kenal.
Diam-diam, aku melirik Leo. Aku menunggu dia mengatakan sesuatu lagi. Tapi dia diam saja. Bertingkah layaknya orang asing yang tidak saling kenal. Lalu seperti biasa, overthinking-ku mulai kumat. Aku mulai mempertanyakan banyak hal di ruang pikirku.
“Udah? Gitu aja? Cuma nanya itu? Dia gak mau ngomong sesuatu lagi gitu? Soal chat aku? Dia lihat chat aku enggak sih sebenernya? Kok diam aja? Katanya masih suka, kok malah ngediemin gini?” ucapku dalam hati.
Aku lalu meraih ponsel dari dalam tas. Aku penasaran juga ingin tahu apakah Leo sudah membaca pesanku atau tidak. Begitu dilihat, ternyata pesan itu sama sekali belum dibacanya. Dan aku kecewa. Lalu tiba-tiba, satu pesan masuk datang dari Bima. Bima mengirim sebuah foto yang disertai keterangan.
Ini progresku. Progresmu sudah sejauh mana?
Membaca pesan itu, aku refleks menghentakkan kaki lantaran kesal. Bima membuatku iri karena progresnya mendekati Venus berjalan lancar. Hal itu otomatis membuat Leo jadi bertanya karena penasaran. “Kenapa?” tanyanya sambil melihatku.
“Ini si Bima. Dia pamer makan siang sama gebetannya,” jawabku spontan dengan nada kesal.
“Gebetan? Maksudnya?” tanya Leo lagi.
Seketika, aku menyadari sesuatu. Aku sungguh lupa kalau yang sedang bertanya adalah Leo. Aku keceplosan mengatakan hal itu kepadanya. Untung saja aku tidak sampai menyebutkan nama Venus juga. Alhasil, karena keceplosan itu, pertemuan aku dan Leo tidak berhenti sampai di lift saja. Kami lanjut makan siang di cafetaria yang ada di kampus itu.
“Jadi ... Bima punya gebetan?” tanya Leo sembari makan.
“Ya, begitulah. Seperti yang aku bilang tadi.”
“Sejak kapan? Aku kira hubungan kalian baik-baik aja.”
Aku sedikit menimbang. Haruskah aku basa-basi dulu atau langsung ke intinya saja? Hingga akhirnya aku putuskan untuk cerita seadanya saja.
“Aku gak tau harus mulai cerita ini dari mana. Tapi intinya, ya ... aku dan Bima punya hubungan yang tidak seperti yang kalian lihat. Kami bukan pasangan yang seperti kalian pikirkan,” jelasku.
Leo menyimak dengan seksama. Sisi pendengar yang baik dari dirinya kini muncul secara nyata.
“Bima punya kehidupannya sendiri. Aku pun begitu. Kami hanya tinggal bersama. Tapi semuanya gak berarti apa-apa,” terusku.
“Jadi maksud kamu ... kalian menjalani pernikahan pura-pura?” tanya Leo dengan ragu.
Aku mengangguk. Aku mengakui status pernikahanku yang hanya sandiwara saja. Rahasia itu aku ungkapkan tanpa keraguan sedikitpun. Aku sudah ingin mengatakannya sejak mengetahui kalau Leo masih menyimpan perasaannya untukku.
Leo terlihat tak percaya. Raut wajahnya begitu terkejut ketika mendengar pengakuan itu. Ia sama sekali tak menyangka kalau aku dan Bima bisa senekat itu. Bahkan, ia terheran-heran karena akting kami selama ini tidak terlihat mencurigakan sama sekali. Mulai dari kemesraan yang ditunjukkan di depan keluarga, perhatian kecil, hingga masih banyak lagi. Leo merasa ditipu oleh drama yang aku buat bersama Bima.
“Kalian benar-benar keterlaluan!” komentar Leo seketika. “Kalian tega membohongi semua orang,” tambahnya.
Aku tak menyangkal komentar Leo. Aku menerima semua penilaiannya tentang apa yang sudah kami perbuat. “Kamu benar. Kami memang keterlaluan. Terutama aku. Tapi kami gak punya pilihan lain selain harus memainkan drama itu. Hanya itu cara yang bisa ditempuh untuk menolak perjodohan,” ungkapku terus terang.
“Kamu lagi nyindir aku?” Tiba-tiba Leo merasa tersindir karena pernikahannya juga hasil perjodohan.
“Enggak. Aku gak bermaksud menyindir. Aku hanya bicara fakta tentang aku dan Bima. Tapi maaf, jika kamu merasa begitu.”
“Oke. Terus, kenapa kamu kelihatan kesal tadi? Kamu cemburu? Kamu mulai menyukai Bima?”
Sontak aku langsung menyangkal. “Bukan cemburu, tapi iri.”
“Kenapa harus iri?”
“Karena aku belum mendapatkan seseorang yang aku sayang,” ungkapku sembari menatap tajam ke arah Leo.
Leo terdiam. Sepertinya, ia memahami maksud tersembunyi dari apa yang aku katakan. Dia cukup pintar dalam memahami pembicaraan yang sarat akan bahasa tubuh meski hanya lewat tatapan mata.
“Aku belum mendapatkanmu!” terusku dengan tegas.
(*)