“Aku udah bilang kan, kalau Leo gak mungkin selingkuh?”
Aku menghampiri Bima sambil membawakan sarapan karena dia tidak pulang semalaman. Semalam, Bima lebih memilih begadang untuk menemukan bukti kejahatan Leo yang akan dilakukannya terhadap Venus. Ia sibuk mencari tahu motif Leo menikahi Venus, serta tentang rencana perceraian yang tak sengaja kami dengar. Bima begitu yakin, dirinya akan menemukan sesuatu dari data-data di komputer Leo yang berhasil diretasnya.
“Kamu pagi-pagi ke sini hanya untuk ngebahas itu?” responnya sembari membuka kemasan roti kukus yang kubeli di tempat langganan Bima. Ia lalu menggigit sebagian sisinya.
“Tentu saja enggak,” jawabku.
Aku tentu saja tidak datang sepagi itu hanya untuk membanggakan diri kalau prasangkaku tentang Leo terbukti benar. Meski aku sempat terbawa situasi hingga mengira Leo benar selingkuh, tapi faktanya dugaan merekalah yang salah. Tuduhan Venus tidak terbukti, dan Bima sendiri yang membuktikan itu bukanlah kasus perselingkuhan. Jadi, untuk apa aku datang kemari? Itu karena ada hal mendesak yang harus segera kudiskusikan.
“Aku datang karena punya rencana yang harus kita lakukan,” lanjutku.
“Maksud kamu, rencana apa?” tanya Bima yang belum dapat meraba tentang rencanaku. Ia lalu menyeruput americano kesukaannya.
“Tentang laporan kepada Venus,” kataku.
Bima mengernyitkan dahinya. “Maksudnya gimana sih? Coba jelasin, deh! Jangan sepotong-sepotong gitu.”
“Jadi begini, Bima. Berhubung kita sama-sama tahu kalau Leo terbukti enggak selingkuh, maka kita buat laporan palsu aja. Gimana?”
“Laporan palsu?” ulang Bima dengan nada tanya.
“Iya, laporan palsu. Buatlah seakan-akan Leo beneran selingkuh sama kakak tirinya. Jangan kasih tau Venus kalau cewek bernama Rose itu adalah kakak tiri Leo,” jelasku dengan antusias.
Mendengar ini, Bima tentu tak setuju. “Kamu gimana sih? Mana boleh begitu. Itu namanya memanipulasi hasil penyelidikan,” Bima mengingatkan.
Aku tentu sadar betul kalau itu adalah tindakan manipulasi. Tapi aku sudah memikirkan rencana ini matang-matang. “Benar, tapi inilah yang harus kita lakukan,” kataku.
“Bentar, bentar. Kita?” Bima terlihat tidak terima. Ia seolah tak mau dilibatkan dalam tindakan yang jelas tidak benar ini.
Aku mengangguk.
“Kenapa harus?” tanya Bima lagi. Nampaknya ia makin penasaran.
Aku pun menjelaskan ide gila yang kutemukan kepada Bima.
“Bima, sekarang aku tanya dulu sama kamu. Gimana perasaan kamu setelah tau kalau Leo gak selingkuh?” Aku bertanya karena sangat penasaran dengan isi hati Bima.
“Biasa aja. Kenapa memang?”
“Yakin biasa aja? Bukannya dengan begitu, kamu jadi gak bisa deketin Venus?”
Bima tiba-tiba tersedak. “Yang mau deketin Venus itu siapa?” sangkalnya kemudian.
“Ayolah, Bim. Gak usah pura-pura gitu. Kita sama-sama tahu kalau kita gagal move-on dari mantan masing-masing. Aku gak bisa move-on dari Leo, dan kamu gak bisa move-on dari Venus,” jelasku rinci. Aku sengaja mempertegas keadaan supaya Bima dapat membaca arah pembicaraanku.
“Teruuus?”
“Itu sebabnya kita harus buat laporan palsu, supaya kamu bisa deketin Venus lagi, dan aku kembali sama Leo lagi. Paham kan maksudku?” aku memastikan.
Bima hanya geleng-geleng kepala sembari menatapku tak percaya. “Jadi, kamu mau merebut Leo dari kakakmu? Kamu berencana jadi selingkuhannya?”
“Apa yang salah dengan itu? Leo gak menyukai Venus dan dia akan menceraikannya. Leo juga masih menyukaiku. Aku punya buktinya. Dia masih menyimpan barang-barang pemberianku di kantornya. Semalam, kamu juga sempat melihatnya, kan?” Aku mengemukakan pendapatku.
“Hanya karena masih menyimpan barang-barang masa lalu, bukan berarti masih menyimpan perasaannya untukmu.” Bima menepis pemikiranku. Tapi dengan tegas aku meyakinkan pernyataanku. “Leo masih menyimpan perasaannya untukku. Dan dia tidak terima aku menikahimu. Itulah bukti yang kutemukan di laci meja kerja Leo.”
Bima termenung. Pandangannya tenggelam pada lamunan yang tak mampu kuselami. Sepertinya, Bima sedang mempertimbangkan rencana gila yang kutawarkan. Dan aku berharap, dia tak akan menolak kesempatan langka yang sama-sama akan menguntungkan ini.
“Aku ... memang masih menyukai Venus. Aku juga belum melupakannya sama sekali. Setiap malam, aku berharap akan ada keajaiban supaya aku bisa bersamanya lagi. Aku masih mencintainya. Hingga detik ini aku masih –“
“Hentikan!” selaku tiba-tiba. Entah mengapa aku tiba-tiba ingin memotong perkataan Bima. Rasanya, seperti ada sesuatu yang mendorongku untuk tidak mendengarkan kelanjutan dari pengakuan Bima.
Bima menatapku. Ia tak mengerti mengapa aku menghentikan perkataannya.
“Aku sudah tau kamu akan bilang begitu,” ucapku beralasan. “Jadi intinya, kamu setuju dengan rencana ini, kan?” terusku memastikan. Tapi Bima belum memberikan jawaban. “Masalahnya adalah ... kamu belum tau motif Leo menikahi Venus. Kamu belum tau rencananya,” ungkap Bima kemudian.
Lagi-lagi Bima berkata benar. Aku belum tahu, kenapa Leo meninggalkanku dan memilih menikahi Venus. Aku juga belum tahu, apa maksud perkataan Leo saat menemui seorang pria di cafe beberapa waktu lalu. Namun jelas, aku tahu Leo menyembunyikan sesuatu. Dan aku berpikir, mungkin akan lebih mudah mengetahuinya jika aku mendekatinya. Jika aku kembali bersama Leo, aku akan buat dia bicara padaku.
“Apa ada hal lain yang kamu temukan dari komputer Leo?”
Bima terdiam. Ia hanya menatapku seperti sedang menimbang sesuatu. Dan aku sungguh tidak tahu apa yang dia pikirkan saat itu.
“Bim, kebiasaan deh, suka lihatin aku tiba-tiba kayak gitu,” protesku seketika. Membuyarkan pandangan Bima.
“Gak ada. Aku belum nemuin hal baru,” jawab Bima kemudian.
“Oke. Kalo gitu, tentang Leo biar aku yang urus. Kamu fokus aja buat deketin Venus lagi,” kataku dengan nada super optimis. Aku sangat yakin, bisa menjalankan rencana ini dengan baik. Aku bahkan sudah tidak sabar untuk mengambil langkah pertamaku.
“Lalu bagaimana dengan hubungan kita?” tiba-tiba saja Bima bertanya tentang status pernikahan.
“Kontrak pernikahan kita gak sampe setahun, kan?”
Bima mengangguk.
“Kalau begitu, maka gak ada yang perlu dikhawatirkan. Kita fokus saja ke masa sekarang. Yang itu bisa dipikirkan nanti,” jelasku yang cenderung mengabaikan hal-hal rumit terkait masa depan. Bagiku, langkah awal perlu didahulukan sebelum mengurusi tentang masa depan. Toh, masa depan ditentukan oleh langkah awal yang kita putuskan saat ini.
“Kamu ... benar-benar pengen balikan lagi sama Leo?” tanya Bima lagi. Ia seperti memastikan bahwa aku sungguh yakin dengan keputusanku. Ia seolah memastikan bahwa aku tidak akan menyesal di kemudian hari.
“Ya tentu, dong! Aku dan Leo saling mencintai. Sudah seharusnya bersama. Bukankah cinta butuh diperjuangkan?” jawabku yang diakhiri dengan permintaan persetujuan. Secara tidak sadar, aku menggiring Bima pada pemahaman yang sama. Pada pendapat yang mau tak mau harus ia setujui.
“Oke. Kamu benar. Cinta memang butuh perjuangan. Maka dari itu, mari kita berjuang untuk mendapatkan kembali cinta lama kita! Mari kita berjuang demi mendapatkan mantan masing-masing!” ucap Bima yang membuatku tersenyum senang atas persetujuannya.
(*)