Menyusup Ke Ruang Kerja Leo

1142 Kata
“Kamu kirim foto-foto itu ke Venus juga?” Aku meminta konfirmasi kepada Bima setibanya di studio kayu. Saat itu, Bima tengah sibuk memeriksa lampu hias berbahan kayu palet yang akan segera dikirim kepada pelanggan. “Tentu saja. Venus kan klien kita. Aku harus ngasih laporan sama dia,” jawab Bima sambil lantas menyortir beberapa lampu untuk disimpan terpisah. Jawaban Bima memang benar. Hanya saja, ini tidak seperti biasanya. Ini tidak seperti kasus yang lainnya. Bima cenderung memperlakukan kasus ini secara subjektif. “Penyelidikan kita belum selesai. Foto-foto itu aja gak cukup membuktikan kalo mereka benar-benar selingkuh,” kataku. “Memang belum.” “Terus kenapa udah bikin laporan?” “Karena aku mau,” jawab Bima sekenanya. Ia lantas menarik tanganku hingga menuju ruangannya. Sesampainya di ruangan Bima, aku diberi amplop coklat berisi kamera tersembunyi, alat penyadap suara dan kartu akses masuk kantor Leo. Bima memintaku untuk menyusup ke ruang kerja Leo, dengan tujuan menemukan barang bukti yang lebih kuat. Dia bilang, penyelidikan itu harus dilakukan malam ini juga. Kami harus menyelesaikan kasus dugaan perselingkuhan itu secepat mungkin. Malam harinya, penyelidikan itu pun berlangsung. Aku memasuki gedung kampus tempat Leo bekerja. Dengan pakaian serba hitam, aku berjalan menaiki tangga darurat hingga mencapai lantai empat di mana ruang dosen berada. Setibanya di sana, aku melihat seorang petugas keamanan sedang patroli sambil mengarahkan senternya untuk memeriksa tiap ruangan. Sontak, aku sembunyi di balik dinding. Merapatkan diri supaya keberadaanku tidak terdeteksi oleh petugas itu. Begitu petugas keamanan itu pergi, aku segera membuka pintu menggunakan kartu akses yang diberikan Bima. Aku pun berhasil masuk ke ruang kerja Leo. Dengan penerangan minim dari senter yang kubawa, aku langsung menggeledah meja kerja Leo. Kuperiksa tumpukan berkas yang ada di atas meja, namun tak kutemukan sesuatu yang mencurigakan. Itu hanya daftar nilai dan tugas-tugas mahasiswanya. Selanjutnya, aku berpindah memeriksa setiap laci di meja itu. Kubuka satu persatu dan kulihat apa saja yang tersimpan di dalamnya. “Apa-apaan ini? Beneran gak ada apa-apa di sini,” keluhku setelah memeriksa semua laci. “Pasang aja alat penyadap dan kameranya dulu!” Bima menyarankan. Dengan cepat, aku langsung memasang alat penyadap suara di bawah meja kerja Leo. Lalu, aku memasang kamera tersembunyi di tempat strategis yang bisa memantau gerak-gerik Leo. “Sudah beres,” laporku pada Bima. “Sekarang hidupkan komputernya! Kita salin semua data yang ada di situ,” kata Bima lagi. Ia bersiap untuk meretas komputer Leo. Setelah urusan data komputer selesai, aku kembali memeriksa meja kerja Leo sekali lagi. Aku penasaran karena tak menemukan apapun. Begitu kuperiksa ulang laci yang paling bawah, aku menemukan sesuatu. Aku menemukan sebuah kotak mencurigakan yang langsung kuintip isinya. Sejenak, aku tertegun. Aku menemukan barang-barang yang tidak asing di penglihatanku. “Dia ... belum membuangnya?” ucapku spontan begitu melihat isi kotak itu. Dalam kotak itu, ada gelang pasangan, gantungan kunci, miniatur mobil, kartu ucapan ulang tahun, serta foto-foto kebersamaan antara aku dan Leo sewaktu masih pacaran. “Apa yang belum dibuang?” sahut Bima dari balik earphone. Sepertinya Bima sedang tidak melihat layar komputer. Tapi aku mengabaikan pertanyaannya. Bima lalu bertanya lagi. “Barang-barang apa itu? Itu ... foto kamu, kan?” Dengan cepat, aku melepas kacamata pengintaiku. Aku tidak membiarkan Bima melihat barang-barang yang satu ini. “Apa-apaan ini? Kamu arahkan ke mana kameranya?” protes Bima seketika. “Tunggu sebentar. Jangan berisik dulu!” kataku. Mendengar responku begitu, Bima lantas mengingatkan. “Cepat selesaikan tugasmu, jangan periksa yang gak penting!” Aku mengiyakan sembari masih memegangi foto-foto itu. Setelah puas melihat-lihat foto masa lalu, aku lantas merapikannya lagi dan mengembalikan ke dalam laci. Namun, tepat di bawah kotak itu ternyata ada selembar kertas yang membuatku penasaran lagi. Aku lantas memeriksanya dan ternyata itu adalah rahasia Leo yang ditulis tangan. Aku tertegun. Aku setengah tak percaya dengan apa yang baru saja k****a. Lalu tiba-tiba, Bima berkata lagi. “Aku menemukan sesuatu!” ucapnya yang membuatku beralih fokus. “Apa?” aku penasaran. “Foto wanita itu, yang bersama Leo!” ucap Bima dengan antusias. Ia terdengar senang mendapatkan informasi tentang wanita itu. “Coba tebak! Menurutmu, siapa dia?” tanyanya kemudian. Dengan yakin, aku pun menjawab pertanyaan itu. “Bukan selingkuhannya. Dia bukan selingkuhan Leo.” “Gimana kamu bisa tau?” Bima penasaran dengan jawabanku yang ternyata benar. Tapi, alih-alih menjelaskan kepada Bima, aku memilih bertanya tentang siapa wanita itu sebenarnya. “Jadi, siapa dia sebenarnya?” kataku. “Dia kakak tirinya Leo. Namanya Rose.” Kakak tiri? Lagi, aku termenung mendengar fakta kalau Leo punya saudara tiri. Selama ini, aku hanya tahu kalau Leo sudah tidak memiliki orangtua. Sejak remaja, Leo tinggal bersama paman yang sudah dianggapnya sebagai ayah sendiri. Paman itu jugalah yang telah menjodohkan Leo dengan Venus. Dan paman itu masih beristri sampai sekarang. Jadi, dari mana muncul istilah kakak tiri? “Tolong jelasin! Gimana mungkin bisa tiba-tiba ada kakak tiri?” kataku sambil bergegas meninggalkan ruang kerja Leo. Sambil mengendap-endap keluar gedung, aku mendengarkan penjelasan Bima. Bima bilang, almarhum ayah Leo pernah menikah dua kali. Dari pernikahan pertamanya, dia hanya punya Leo. Sedang dari pernikahan keduanya, dia tidak memiliki anak, tapi mempunyai anak tiri. Anak itu adalah Rose. “Tapi ... apa Leo sama sekali gak pernah cerita ke kamu tentang ini?” “Seingatku enggak. Dia lebih sering menceritakan keluarga pamannya daripada almarhum ayahnya,” kataku. “Dia juga sangat sensitif kalau ditanya tentang ayahnya, jadi aku gak pernah bertanya lagi,” tambahku. Lalu tiba-tiba, Bima mengatakan sesuatu yang lebih mengejutkan lagi. “Ayah kandung Leo dan ibunya Rose meninggal dalam sebuah kecelakaan.” *** Di sebuah halte, aku membuka lagi selembar kertas yang kucuri dari laci meja kerja Leo. Dalam selembar kertas itu, Leo menuliskan segala keluh kesahnya yang ia pendam sendirian. Tulisan tangan yang tak begitu rapi, tapi tanpa coretan sama sekali, itu menunjukkan bahwa tulisan tersebut adalah ungkapan hati terdalamnya. Di kertas itu, Leo mengakui segala perasaan yang ia pendam selama ini. Leo menuliskan bahwa dirinya tidak pernah bisa menyukai Venus. Dia tidak bisa memberikan hatinya kepada Venus atau wanita manapun. Rasa cintanya telah terpatri pada seseorang yang sudah ia tinggalkan. Dan orang itu adalah aku. Leo menuliskan namaku dengan jelas di kertas itu. Leo mengakui bahwa hingga detik ia menulis, dirinya sama sekali tidak pernah melupakanku. Perasaannya padaku masih sama seperti dulu. Dia juga sulit menerima kalau aku dan Bima telah menikah. Sebenarnya, Leo tidak terima karena aku memilih menikahi Bima. Tapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Lagi, aku termenung usai membaca seluruh paragraf di kertas itu. Mengetahui fakta kalau Leo masih menyimpan perasaannya untukku, aku mendadak galau. Jujur, ada rasa bahagia yang tak bisa kujelaskan. Tapi di sisi lainnya, aku dibenturkan pada status pernikahan yang kami miliki masing-masing. Di satu sisi, aku ingin sekali berlari dan menghampiri Leo saat ini juga. Sedang di sisi lain, aku masih berpikir bagaimana dengan Venus. Haruskah aku mengkhianati kakakku demi kembali bersama Leo? (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN