Laporan Tentang Leo

875 Kata
POV Sagi Jangan teriak! Oke?!” Ucapan Bima membuatku terpaksa mengangguk. Setelah memastikan aku tak akan teriak, Bima lalu melepaskan tangannya dari mulutku. Seketika aku langsung bangun dan menghajarnya dengan bantal. “Kamu ngapain di sini? Kenapa tidur di sebelahku? Modus ya?” serbuku dengan pertanyaan. “Modus? Gak gitu ceritanya kali ...,” sangkal Bima yang tak terima dituduh modus. “Kalo bukan, terus ngapain pindah ke bawah? Itu kasur masih luas,” kataku lagi. “Itu ...,” jawaban Bima menggantung. Ia kemudian tampak mengingat. Lalu, ia pun menceritakan. Menurut penjelasan Bima, yang terjadi semalam adalah ia kehilangan selimutnya. Menurut pengakuannya, selimut itu terjatuh lantaran aku tarik dalam keadaan tidur. Katanya, mungkin aku mengira kalau itu adalah selimutku. Ketika Bima hendak meraih selimut itu dari atas kasur, saat itulah dirinya malah terguling ke bawah. Namun, saat Bima berhasil merebut selimut itu dari tubuhku, aku malah menarik tangannya dan menganggap itu sebagai guling. Aku memeluk tangan itu. Alhasil, dia tidak bisa pindah ke atas lagi. “Serius kayak gitu?” tanyaku setengah tak percaya. “Ya emang gitu, kok.” “Terus kenapa gak bangungin?” Bima hanya menatapku. Beberapa detik setelahnya, barulah ia bicara seperti orang yang mau mengakui sesuatu. “Semalam, kamu ...,” katanya yang seakan ragu. “Aku kenapa?” aku tentu makin penasaran. Jangan saja aku sampai melakukan hal lebih konyol dari yang telah diceritakan. “Apa kamu ketemu Leo di mimpimu?” tanya Bima kemudian. Ia malah meneruskan dengan pertanyaan. Sejenak, aku mencoba mengingat. Benar. Aku baru saja memimpikan Leo. Aku bertemu Leo dan memohon kepadanya. Aku meminta Leo supaya tidak pergi dariku. Lalu aku menangis di pelukannya. Itukah sebabnya aku memeluk tangan Bima di kehidupan nyata? “Apakah ... aku juga muncul di mimpimu?” tanya Bima lagi. Sekarang, giliran aku yang menatap Bima. “Kenapa kamu harus muncul di mimpiku?” ucapku asal. “Jawab aja! Ada atau enggak?” “Gak ada. Gak mungkin aku mimpiin kamu,” kataku. “Memangnya kenapa?” terusku. Penasaran juga kenapa Bima tiba-tiba bertanya seperti itu. “Kalau aku ada, aku mungkin akan berubah pikiran,” kata Bima. “Maksudnya?” Sebelum Bima menjawab pertanyaanku, ponselnya berdering kembali. Nada dering itu berhasil meloloskan Bima dari pertanyaan yang pada akhirnya memang tak pernah dijawabnya. Bima lantas memeriksa ponselnya. “Dari Kevin,” ucapnya kemudian. Memberi tahuku. “Halo, Vin?” terusnya menjawab telepon. Bima tampak mendengarkan laporan dari Kevin. Wajahnya terlihat begitu serius saat menyimak kata-kata lawan bicaranya. Sesekali, ia berkata. “Oh.” “Oke.” “Oke, oke.” “Tahan di sana. Aku ke sana sekarang.” Setelah itu, Bima menutup telepon. Ia lalu pamit padaku untuk pergi ke studio kayu saat itu juga. Ia bahkan menitip pesan permintaan maaf untuk Venus karena tak sempat menyapanya di pagi itu. Dalam situasi yang kelihatan genting, sempat-sempatnya ia terpikir tentang Venus. Aku jadi berpikir. Apakah Bima terlalu peduli atau terlalu bucin kepada Venus? *** Aku baru selesai menyiapkan sarapan saat Venus keluar dari kamar dan sudah siap untuk pulang. Saat itu, Venus menanyakan keberadaan Bima yang tak terlihat olehnya sejak tadi. Aku lalu menjelaskan kalau Bima sudah berangkat pagi-pagi sekali. Bahkan, sebagai sahabat, aku menyampaikan permohonan maaf Bima untuk Venus seperti yang telah dipesankannya. “Ayo, Kak! Sarapan dulu. Maaf loh, hanya ini yang bisa disuguhkan,” ucapku sembari melihat beberapa potong roti dan tiga jenis selai di atas meja. Aku tak bisa memasak. Lebih tepatnya tak suka. Aku lebih suka memahat kayu daripada melakukan aktivitas di dapur. “Gak apa-apa. Ini udah cukup. Aku malah ngerepotin,” kata Venus. “Ngerepotin apa sih, Kak? Aku gak ngerasa direpotin. Adanya hanya ini.” Kami lantas mengambil tempat duduk masing-masing untuk memulai sarapan. Saat aku mengoleskan selai coklat ke rotiku, ponselku berbunyi menandakan masuknya pesan baru. Khawatir itu pesan penting, tanganku otomatis meraih ponsel dan melihat notifikasi. Begitu dilihat, ternyata Bima mengirimkan beberapa foto. Karena penasaran, aku pun segera membukanya. Beberapa foto Leo dan wanita misterius itu, kini memenuhi layar ponselku. Itu adalah hasil foto jarak jauh yang diterima Bima dari anak buah Kevin yang ditugaskan untuk memata-matai Leo. Dari foto-foto itu, terlihat bahwa mereka ada di sebuah rumah. Mereka tinggal bersama di rumah itu bahkan hingga malam berlalu. Aku terhanyut dalam aktivitasku memeriksa foto-foto itu. Fokusku baru teralihkan ketika Venus mengajukan sebuah pertanyaan. “Sagi, ada apa? Kamu kenapa?” tanya Venus karena melihatku tiba-tiba melamun setelah melihat ponsel. Aku lantas menatap Venus. Selain merasa sedih untuk diriku, aku juga merasa sedih untuk kakakku. Venus tidak tahu kalau suaminya bermalam dengan perempuan lain. “Kenapa?” tanya Venus lagi. Tapi aku memilih menggeleng. “Gak kenapa-kenapa, Kak. Aku hanya harus segera ke studio,” kataku. “Terusin sarapannya, Kak.” Lalu tiba-tiba, ponsel Venus juga berbunyi. Ia menerima pesan masuk yang dikirimkan oleh seseorang. “Siapa yang ngirim aku foto pagi-pagi begini?” ucapnya setelah memeriksa notifikasi. Tak lama setelah itu, bola mata Venus terlihat seperti mau keluar begitu melihat foto yang diterimanya. Ia pun terduduk lemas seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Melihat Venus begitu, aku yakin kalau itu adalah foto-foto tentang Leo yang juga dikirimkan Bima kepadanya. Jika bukan, mana mungkin wajah Venus berubah menjadi seterkejut itu? “Kak, kenapa? Kakak baik-baik aja?” (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN