Bim, kamu di mana? Udah nyampe apartemen belum?
Satu notifikasi terbaca di layar ponsel Bima. Sagi yang mengiriminya pesan. Tapi Bima masih gengsi untuk membaca dan membalasnya. Bima masih kesal dengan perlakuan Sagi yang membuatnya jatuh di jalanan. Lalu, pesan susulan masuk lagi.
Bim, jawab dong! Aku nanya serius nih! Kamu udah nyampe apa belum?
Bima lalu berkata sendiri setelah membaca notifikasi itu. “Lihat, dia bertindak seolah lupa dengan apa yang baru saja terjadi!”
Bima masih enggan untuk membalas pesan itu. Dalam kepalanya, ia berpikir bahwa Sagi harus tahu, kalau sekarang ini dirinya sedang ngambek. Lalu, pesan berikutnya masuk lagi.
Kak Venus mau nginap di tempat kita. Kalo udah nyampe, tolong kondisikan rumah! Aku lagi mengulur waktu.
Notifikasi kali itu otomatis membuat Bima terlonjak kaget.
“Venus? Menginap? Di tempatku?” ucap Bima seketika. Bima nyaris tak percaya dengan apa yang dikatakan Sagi. Bagaimana bisa Venus mau menginap? Tanpa sadar, jemari tangan Bima langsung mengetik sesuatu dan mengirimkannya kepada Sagi. Bima membalas pesan itu secepat kilat. Sekarang, dialah yang pura-pura lupa kalau mereka baru saja bertengkar.
Kamu lagi sama Venus? Kok bisa? Balas Bima yang penasaran.
Itu gak penting. Yang penting sekarang, beresin dulu tempat tinggal kita. Cepetan ya! Balas Sagi memberi perintah.
Tapi Bima masih penasaran. Sehingga ia mengirim pesan lagi ke ponsel Sagi.
Kamu gak lagi becanda, kan?
Lalu dengan cepat, Sagi membalas pesan itu.
Ngapain aku becanda? Aku udah pusing soal Leo. Ngapain harus becanda soal Venus? Udah buruan! Pokoknya, jangan sampai terlihat mencurigakan! Pesan Sagi.
Dengan cepat, Bima meluncur ke kamar Sagi. Bima memilih kamar itu untuk dijadikan tempat Venus menginap. Selain karena ukuran kamarnya lebih kecil, barang-barang Sagi juga tidak banyak. Jadi dengan mudah, ia bisa mengangkut barang-barang Sagi pindah ke kamarnya.
Kamar Sagi juga terbilang rapi. Jadi tak perlu banyak waktu untuk menyulap kamar itu menjadi kamar tamu. Bima hanya tinggal mengganti sprei dan memindahkan barang-barang Sagi yang terlihat. Selebihnya, ia hanya perlu mengunci lemari dan menyembunyikan kuncinya.
Namun, ternyata Bima keliru. Kamar Sagi tak serapi kelihatannya. Jika mengintip ke bawah tempat tidur, atau membuka lemari pakaiannya, maka segala hal yang berantakan akan ditemukan di sana. Alhasil, Bima terpaksa membereskan bagian-bagian yang tak terlihat juga. Mulai dari memungut pakaian kotor di bawah ranjang, hingga mengosongkan isi laci yang tak bisa dikunci.
“Dasar cewek ajaib! Bisa-bisanya dia memanipulasi kamarnya sendiri?” ucap Bima usai mengangkut barang-barang Sagi ke kamarnya. Bima mengoceh sendiri sembari memandangi barang-barang Sagi yang kini memenuhi ruang tidurnya. Ia sungguh baru tahu kalau kamar istrinya itu lebih berantakan dari kamarnya.
Selanjutnya, Bima memeriksa keadaan dirinya sendiri. Ia lalu membersihkan diri, mengganti pakaian dan mengkondisikan penampilan terbaiknya. Wajah tampannya harus terlihat kinclong di depan Venus. Bima harus terlihat menarik, walau belum tentu Venus akan meliriknya.
Sesaat kemudian, Bima menyadari sesuatu. Ia menyadari kalau dirinya terkesan seperti orang yang lupa status. Ia merasa dirinya berlebihan. Akhirnya, Bima mengganti kembali pakaiannya dengan tampilan yang super biasa saja. Tampilan orang rumahan yang sudah mau bobo malam. Lalu tak lama kemudian, terdengar Sagi sudah datang dan mempersilakan Venus untuk masuk.
“Ayo, Kak! Masuk! Anggap aja rumah sendiri,” kata Sagi di depan sana.
Tanpa berlama-lama, Bima pun segera menghampiri dan mulai berakting manis.
“Sayang, kok pulangnya malam banget?” sambut Bima yang secara spontan membuat Sagi membeku. Sagi terlihat bingung harus merespon apa. Ia juga sepertinya belum siap dipanggil sayang secara dadakan. Beruntung, sebelum gelagat anehnya terdeteksi Venus, Bima sudah lebih dulu mengalihkan perhatian.
“Eh, ada Kak Venus. Halo Kak, gimana kabarnya? Sehat?” sambut Bima kepada Venus.
“Aku baik. Maaf loh, aku datang gak bawa apa-apa,” kata Venus sambil malu-malu.
“Gak apa-apa, Kak. Santai. Kak Venus datang ke sini aja kita udah seneng,” kata Bima sembari melirik kepada Sagi. Yang dilirik malah menunjukkan ekspresi tak sukanya.
“Ayo Kak, kita ngobrol sambil duduk!” ajak Bima kemudian. Mereka pun menuju sofa.
Sementara Venus dan Bima mengobrol, Sagi menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan sang kakak untuk tidur. Sagi lantas masuk ke kamarnya. Sesampainya di situ, ia mendapati kamarnya telah berubah. Ia pun menyadari kalau kamar tersebut sudah dipersiapkan Bima untuk Venus menginap. Itu artinya, malam ini ia harus tidur di kamar Bima.
Sagi lalu menuju lemari. Ia hendak mengambil baju ganti untuk Venus. Namun, ternyata lemarinya terkunci, dan kunci tersebut tak ada di kamar itu. Sagi pun paham bahwa kuncinya pasti Bima sembunyikan. Ia lalu bergegas menuju kamar Bima.
Sesampainya di kamar Bima, Sagi terkejut karena barang-barangnya diletakkan sembarang. Ia pun hampir marah, namun tak jadi karena ingat ada Venus di sana. Setelah kunci yang dicari ditemukan, Sagi kembali ke kamarnya untuk menyiapkan pakaian ganti. Setelah semuanya selesai, barulah ia menghampiri Venus.
“Kak, udah jam dua belas lewat nih. Tidur, yuk!” ajak Sagi kepada Venus.
“Oh, oke. Kalau gitu, aku ikut ke kamar mandi dulu,” kata Venus yang langsung bangkit dari sofa. Menuju kamar mandi.
Seketika, terlihat wajah Bima berubah tak senang. Bima sedang asyik berbincang dengan Venus. Ia bahkan tertawa tak jelas entah membahas apa. Tapi Sagi merusak semuanya. Sagi menghentikan momen bahagia Bima.
Sementara Venus di kamar mandi, Sagi lantas menyerang Bima. Ia memukul lengan Bima sambil mengomel. “Itu barangku kenapa ditaruh sembarangan?” bisik Sagi menahan kesal. “Kalau rusak gimana? Kalau ada yang hilang gimana?” terusnya sambil memukul lagi.
“Sembarangan gimana? Semuanya aku taruh di kasur,” kata Bima sambil menghentikan pukulan Sagi. Sekarang, sebelah tangan Sagi ada dalam cengkeraman Bima.
“Ya tapi jangan dicampur juga nyimpennya!” protes Sagi. “Pokoknya, aku gak mau tau ya! Kamu ... beresin barang aku!”
Mendengar itu, Bima tentu protes. “Enak aja! Ya gak mau lah. Barang, barang kamu. Kenapa harus aku yang beresin? Udah bagus barangnya aku pindahin!” kata Bima.
“Siapa suruh dipindahin? Aku kan gak minta.”
“Kan kamu yang suruh kondisikan rumah?”
“Ya tapi gak harus sampe mindahin barang-barang yang itu juga kan?” ucap Sagi gemas.
“Asal kamu tau ya, kamar kamu itu ...,” ucapan Bima tak selesai. Bima menyadari Venus sudah keluar dari kamar mandi. Spontan, ia pun mengubah topik percakapan.
“Iya, Sayang! Aku minta maaf. Tangan kamu pegel? Iya, nanti aku pijat,” ucap Bima tiba-tiba sambil mengelus tangan Sagi. Membuat Sagi jadi heran dengan dialog yang mendadak tidak nyambung itu.
“Sudah selesai, Kak? Kamarnya sebelah sana, ya!” kata Bima kepada Venus sambil menunjuk ke arah kamar Sagi.
“Oh iya. Makasih!” balas Venus.
“Selamat istirahat ya, Kak!” ucap Bima lagi kepada Venus. “Yuk, Sayang, kita ke kamar!” lanjut Bima kepada Sagi, sembari merangkulnya berjalan menuju kamar. Mendadak romantis untuk akting yang manis.
Namun, begitu pintu kamar Bima dibuka, Sagi melepaskan diri dari rangkulan Bima. “Aku mau tidur sama Kak Venus!” katanya kemudian. Ia lantas menarik tangan Venus menuju kamar. “Yuk, Kak!” ajak Sagi.
Saat Sagi hendak menutup pintu kamar, Bima tiba-tiba merajuk. “Sayang, masa kamu mau tidur sama Kak Venus?” tanyanya sambil menahan pintu.
“Mumpung Kak Venus menginap. Aku udah lama gak tidur bareng. Boleh, ya? Please!” jawab Sagi sambil memelas.
“Kalau kamu tidur bareng Kak Venus, nanti aku yang gak bisa tidur,” bujuk Bima manja. “Kamu kan tau, aku susah tidur kalo tanpa kamu,” terusnya gombal. Ada saja akalnya Bima supaya Sagi tidak lepas dari tugasnya membereskan barang.
Mendengar itu, Sagi cuma menghela napas. Ia pasrah kalau saat itu dirinya akan kalah.
“Udah, sana! Lain kali kita bisa tidur bareng,” timpal Venus yang mendukung bujukan Bima.
Kalau sudah begitu, maka tak ada pilihan lain bagi Sagi selain mengalah sekaligus menurut. Ia terpaksa tidur sekamar dengan Bima. Tentunya, setelah membereskan barang-barangnya terlebih dahulu.
***
Malam berganti pagi. Saat itu, masih terlalu pagi untuk sebuah panggilan masuk ke ponsel Bima. Ponsel Bima yang berdering, sontak membuat Sagi terbangun dari tidurnya. Saat Sagi membuka mata, ia kaget karena ada Bima di sampingnya. Sontak, Sagi pun teriak. Namun, teriakannya berhenti karena tangan Bima membekapnya.
“Ada Venus di sini, pikir dulu sebelum berteriak!” ucap Bima mengingatkan.
(*)