Salah Serang

1164 Kata
POV Sagi Aku mempercepat langkah berkali lipat. Aku malas berhadapan dengan Bima yang membuatku kesal tak berkesudahan. Bima sungguh menyebalkan. Ia terus-terusan membahas tentang Leo, bahkan menyinggung soal kinerjaku yang tidak memuaskannya. Aku tahu, apa yang kulakukan terakhir itu memang salah. Seharusnya aku lanjut mengikuti Leo. Tapi aku malah berhenti karena tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri. Aku juga cukup tahu, bahwa itu adalah momen yang paling penting untuk membuktikan apakah Leo benar selingkuh atau tidak. Tapi, pikiranku terlanjur kacau duluan. Logikaku terlalu cepat menyimpulkan bahwa wanita itu memang selingkuhan Leo. Mengingat kedekatan yang mereka tunjukkan, serta durasi waktu yang mereka habiskan selama di dalam hotel. Jadi aku terpaksa berhenti dan berkutat dengan pemikiranku sendiri. Tidak bisakah Bima memahamiku pada bagian ini? Tidak bisakah dia sedikit berempati? “Dasar cowok gak peka! Nyebelin! Iiihhh!” gerutuku sendirian, sambil berjalan cepat meninggalkan kedai ramen. Sesekali aku menjejak tanah untuk melampiaskan kekesalanku. Dari belakang, terdengar suara Bima memanggil. “Sagi! Tunggu!” teriak Bima dengan suara yang makin lama makin mendekat. Aku lurus saja berjalan tanpa memedulikan panggilan itu. Tak lama kemudian, sepeda Bima berhenti menghalangi jalanku. “Gak usah ngambek, dong! Aku minta maaf, deh! Ayo naik!” ajak Bima sembari memberi isyarat agar aku naik ke sepedanya. Ia mengajak pulang bersama. Tapi aku terlanjur kesal dibuatnya. Alih-alih bersedia dibonceng, aku lebih memilih untuk melampiaskan kekesalanku dengan menendang roda sepeda Bima. Bima pun terjatuh dan tertindih sepedanya. Bima kemudian bangkit. Ia terlihat tak terima dengan perbuatanku kali itu. “Kamu kenapa sih? Sensi banget hari ini! Ngeselin, tau gak?” Bima marah karena kubuat jatuh dari sepedanya. Disebut ngeselin, aku tentu makin sensi. Suasana hatiku makin buruk saja. Langsung saja kulayangkan sebuah serangan ke arah Bima. Aku hendak meninjunya, namun tinjuku terhenti di udara. Bima berhasil menghentikan kepalan tanganku dan mengambil alih serangan. Ya, Bima menyerangku balik. Dia memutar tubuhku dan menarik tanganku ke belakang. Aku pun merintih kesakitan. Tapi aku tak berhenti di situ. Aku berusaha melepaskan diri dengan kaki yang mencoba menendang Bima. Tapi lagi-lagi Bima berhasil menghindari kakiku. Dia dengan mudah bisa membaca gerakanku. “Diamlah!” Bima mencoba menenangkanku. “Lepasin!” Aku berontak. Tapi cengkeraman tangan Bima terlalu kuat. “Oke. Aku bakal lepasin. Tapi kamu dengerin dulu!” kata Bima. Sementara itu, aku terus meronta-ronta untuk melepaskan diri. “Jangan salah serang!” kata Bima lagi. “Aku tau, kamu kesal dan marah. Aku tau, kamu pengen nyerang seseorang. Tapi gak gini caranya. Jangan salah orang!” terusnya. “Siapa yang salah orang?” Aku menyangkal. “Ya kamu lah! Ini semua gara-gara Leo, kan? Kamu pengen marah sama dia. Bahkan pengen mukulin dia. Tapi kamu gak bisa melakukannya. Itu sebabnya kamu melampiaskan kepada sembarang orang,” lanjut Bima. “Lepasin gak? Lepasin aku sekarang!” perintahku tegas. Namun Bima belum selesai dengan apa yang ingin dikatakannya. “Kalo kamu pengen nyerang Leo, seranglah orang itu dengan cara yang elegan. Serang dia dengan cara yang pintar,” kata Bima lagi. Ia lalu melepaskan cengkeramannya dariku. Lantas, ia pulang duluan tanpa memaksaku untuk pulang bersama. Aku pun terdiam di tempatku berdiri. Aku mengakui bahwa seluruh perkataan Bima barusan adalah benar. Aku sangat marah dan ingin menghukum Leo. Tapi aku tak mungkin melakukan itu, karena Leo bukan siapa-siapa di hidupku. Aku tak berhak marah, meski aku sangat ingin. Dan sebenarnya, aku juga tak berhak cemburu, karena Leo sudah berstatus mantan. Entah mengapa, tiba-tiba aku ingin menangis. Perasaanku mendadak sedih karena sebuah rasa dan juga fakta. Sebuah rasa yang harus kuakui, bahwa aku masih menyukai Leo. Dan sebuah fakta bahwa Leo memanipulasi dan mempermainkan perasaan banyak orang, termasuk aku. Tanpa sadar, bulir bening mulai berjatuhan dari kedua mataku. Aku lalu berjongkok sambil menunduk. Membenamkan wajahku di atas dua tumpuan tangan yang bersidakap di atas paha. Menangis tersedu-sedu di pinggir jalan, tanpa peduli pada siapa pun yang lewat. Masa bodoh dengan orang yang melihat. Aku baru berhenti menangis ketika sebuah tangan tiba-tiba mendarat di bahuku dari arah belakang. Sontak aku berdiri dan berbalik badan. Sigap menyerang hingga orang itu meringis kesakitan karena tangannya kuputar. Seranganku pun berhenti setelah menyadari siapa orang itu. “Kakak?! Maaf, Kak! Maaf! Aku gak sengaja,” kataku begitu tahu kalau itu adalah Venus. Aku melepas tangan Venus dan langsung angkat tangan sebagai tanda bahwa aku benar-benar tak sengaja. Gerakanku sungguh refleks. Aku hanya berusaha melindungi diri dari serangan orang yang tidak diharapkan. “Sakit, nih!” keluh Venus sembari memegangi tangannya. “Iya, maaf!” ucapku sekali lagi. “Kakak baru tau kalo kamu bisa beladiri,” ungkap Venus. Ia seperti menyesal telah menyentuh bahuku tanpa suara. “Sejak kapan?” terusnya dengan pertanyaan. “Sejak orangtua kita berpisah,” jawabku jujur. “Ngomong-ngomong, kenapa Kakak bisa ada di sini?” tanyaku kemudian. Penasaran juga bagaimana Venus bisa tiba-tiba muncul di belakangku dan pada waktu selarut ini. Apa yang dia lakukan di sekitar apartemenku? “Kakak habis ketemu teman lama. Tempat tinggalnya di dekat sini. Karena keasyikan ngobrol, pulangnya malah kemaleman,” jawab Venus. Ia menjelaskan situasinya. “Suami Kakak gak jemput?” tanyaku berpura-pura. Mengikuti alur cerita Venus yang menyatakan bahwa hubungan mereka baik-baik saja. “Dia sedang tugas ke luar kota,” jawab Venus lagi. Entah Leo yang berbohong, atau Venus sendiri yang sengaja menutupi. “Oh ...,” kataku. “Jadi kalau boleh, malam ini Kakak mau nginap di tempat kamu. Besok pagi baru pulang,” pinta Venus. “Me-menginap?” ucapku terbata. Aku sungguh terkejut karena Venus mau menginap. “Kenapa? Gak boleh, ya?” “Enggak, bukan gitu. Ya ... boleh lah. Masa gak boleh nginep? Ya tentu boleh, dong!” jelasku, khawatir Venus akan salah paham. Venus diam sejenak. Ia menatapku seperti ingin mengatakan sesuatu. “Kalian lagi berantem ya?” tebak Venus kemudian yang sepertinya merasa tak enak karena harus merepotkan. “Kamu kenapa nangis barusan? Berantem sama Bima?” Mendapati pertanyaan seperti itu, aku jadi khawatir kalau-kalau Venus melihat dan mendengar percakapan kami barusan. “Kakak udah berapa lama berdiri di situ? Kakak lihat apa aja?” tanyaku penuh selidik. Lalu dengan spontan Venus menjawab pertanyaanku. “Kakak baru turun dari taksi. Tadinya mau langsung ke apartemen kamu. Tapi karena lihat kamu bengong di pinggir jalan, makanya turun di sini,” jelas Venus. “Kenapa? Ada masalah?” tanyanya lagi. Sekarang, aku benar-benar bingung harus menjawab apa. Aku harus menemukan alasan untuk menunda kedatangan Venus ke tempatku. “Aku sama Bima gak kenapa-kenapa. Kami baik-baik aja. Aku nangis bukan karena itu kok. Masalahnya adalah ... aku lapar sekarang. Temenin aku makan dulu sebelum pulang. Oke, Kak?” ucapku beralasan. Padahal aku baru selesai makan. “Oh, gitu. Aku kira apa,” kata Venus sambil tersenyum lega. Kami pun mencari tempat makan terdekat. Lalu pilihanku berhenti pada sebuah tenda pedagang nasi goreng kaki lima yang cukup penuh. Aku sengaja memilih tempat itu untuk mengulur waktu. Sementara itu, aku langsung menghubungi Bima lewat pesan instan. Aku harap, Bima bisa diajak kerjasama untuk malam ini. Karena tak ada pilihan lain, selain harus berakting. (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN