Ada Apa Dengan Sagi?

1131 Kata
POV Bima Ada yang salah dengan Sagi setelah penampakan Leo dan wanita itu berakhir di dalam mobil. Sagi tiba-tiba mematikan kamera dan tak merespon ucapanku lagi. Berulang kali aku bicara, berulang kali juga Sagi tak menyahutku. Aku benar-benar bicara sendirian sekarang. Kalau sudah begini, pasti Sagi melepas seluruh perangkat kerjanya yang terpasang. Ia tak mau mendengarkanku atau bahkan mungkin ingin menghentikan pekerjaannya yang sudah setengah jalan. Lantas, kupantau pergerakan mobil Leo dari layar komputer. Mobil itu sudah meninggalkan hotel. Namun arah lajunya, tak mengarah ke jalan pulang. Maksudnya, bukan menuju rumah Leo. Aku jadi penasaran. Siapa sebenarnya wanita itu dan ke mana Leo membawanya pergi? Jujur saja, selama berteman dengan Leo, aku tidak pernah melihat wanita itu. Baik dalam foto maupun di dunia nyata. Begitu juga dengan lelaki yang ditemui Leo di cafe tadi. Aku sama sekali tak pernah melihatnya. Jika orang itu adalah teman baik Leo, maka seharusnya aku dan Sagi sudah mengenalnya. Tapi faktanya, kami baru pertama kali melihatnya sekarang ini. Sedang dari obrolan yang mereka bicarakan, orang itu sepertinya tahu betul apa yang Leo rencanakan. Itu artinya, dia cukup dekat dengan Leo. Haruskah kuselidiki orang itu juga? Aku lalu memantau posisi Sagi. Tapi posisi mobilnya masih ada di hotel itu. “Kenapa Sagi masih di sana? Apa yang sedang dia lakukan di tempat itu? Dia tidak mungkin pergi tanpa membawa mobilku, kan? Mana boleh dia meninggalkan mobil operasional begitu saja,” batinku. Ponsel Sagi juga mendadak tidak aktif. Aku tidak bisa melacak lokasi Sagi lewat ponselnya. Satu-satunya yang bisa kuandalkan hanyalah alat pelacak yang terpasang di mobilku. Sebenarnya ada apa dengan Sagi? Apakah dia kecewa dengan apa yang dilihatnya barusan? Sekecewa itukah dia kepada Leo sampai harus memutus komunikasi yang sedang berlangsung? Apakah hati Sagi terluka lagi? Jika kemesraan yang ditunjukkan Leo dan wanita itu, benar membuat Sagi patah hati atau kecewa berat, menurutku itu tidak perlu. Bukankah yang seharusnya merasa begitu adalah Venus? Sagi sudah bukan siapa-siapanya Leo. Jadi menurutku, dia tak perlu seperti itu. Sesaat kemudian, terbersit sesuatu di pikiranku. “Apakah Sagi masih suka sama Leo?” gumamku. Karena Sagi memutus kontak secara sepihak, aku lalu menjalankan rencana cadangan. Aku mengutus Kevin untuk mengecek ke hotel itu. Setelah Kevin sampai di hotel yang dimaksud, ia langsung mengabariku. “Halo, Bos?” “Iya. Gimana, Vin?” “Mbak Sagi ...,” ucapan Kevin tersendat. Membuatku penasaran dengan apa yang tengah terjadi. “Sagi kenapa?” kataku. “Mbak Sagi ada di dalam mobil,” kata Kevin. “Di mobil? Jadi dari tadi dia ada di situ? Lagi ngapain?” responku. Memburu Kevin dengan tiga pertanyaan sekaligus. “Lagi nunduk di setir. Kayaknya ketiduran deh. Ini pintunya gak dibuka juga dari tadi.” “Tidur atau nangis?” tanyaku penasaran. Meminta Kevin untuk memastikan sekali lagi. Namun, belum sempat Kevin menjawab pertanyaanku, tiba-tiba ia mengaduh. Lalu terdengar ia bicara kepada Sagi. “Mbak Sagi. Jangan ditabrak dong! Sakit tau!” omel Kevin yang sepertinya ditabrak oleh pintu mobil. “Maaf!” terdengar Sagi meminta maaf tanpa adanya nada ketulusan. “Yang tulus napa minta maafnya ...,” omel Kevin lagi. “Aaah, gak penting! Kamu ke sini disuruh, kan? Nih, bawa pulang mobilnya ke kantor!” terdengar Sagi berbicara lagi. “Loh? Mbak Sagi mau ke mana?” tanya Kevin lagi. Kevin sepertinya belum sadar kalau teleponnya belum dimatikan. “Aku mau pulang, naik kereta bawah tanah! Bye!” jawab Sagi tegas, yang mungkin langsung pergi meninggalkan Kevin dan mobilku. “Kereta bawah tanah? Di Indonesia belum ada kereta macam itu,” komentar Kevin seketika. Lalu ia kembali bicara padaku. “Bos, ada apa sih? Kalian masih berantem? Atau mbak Sagi lagi datang bulan? Kok aku yang jadi korban?” tanyanya. “Nanti aku jelasin. Sekarang, suruh anak buahmu buat datang ke alamat ini. Minta dia untuk memantau gerak-gerik orang ini,” kataku memberi tugas. Aku lalu mengirimkan lokasi mobil Leo berada, beserta foto mobil dan pemiliknya kepada Kevin. “Oke, Bos!” Telepon pun dimatikan. Aku lantas mematikan seluruh perangkat kerja dan bersiap untuk pulang. Aku mengambil sepedaku, menaiki, lalu mengayuhnya di tengah udara malam. Udara malam ini terasa begitu dingin. Dinginnya menusuk kulit tubuhku dan menjadikan perutku mendadak lapar. Aku lalu mampir sebentar ke kedai ramen langgananku. Aku butuh menghangatkan tubuhku dengan asupan makanan berkuah yang menggugah lidah. Maksudku menggugah selera, sekaligus menggoyang lidah. Setibanya di kedai ramen, ternyata Sagi ada di sana juga. Otomatis, bibirku melengkungkan senyum saat melihatnya baik-baik saja. “Memang, kalo jodoh gak akan ke mana. Ada saja jalannya untuk bertemu,” ucapku dalam hati. Tunggu sebentar. Apa barusan? Jodoh? Kutarik kembali kata-kataku itu. Perlu diketahui, bahwa Sagi memang istriku. Tapi bukan berarti dia jodohku. Pernikahan kami hanya sebatas hitam di atas putih. Kami sepakat menikah sebagai upaya penolakan terhadap sesuatu yang disebut perjodohan. Menurutku, daripada menikahi orang baru yang belum dikenal, lebih baik pura-pura menjalin hubungan dengan seseorang yang sudah kita kenal. Begitulah aku dan Sagi bekerjasama dalam pernikahan kontrak ini. Oke, cukup sekian dulu informasinya. Aku sudah berdiri terlalu lama menghalangi jalan. Aku lalu menghampiri Sagi yang baru didatangi pelayan yang membawakan ramen pesanannya. Sebelum pelayan itu pergi, aku sekalian memesan menu yang sama padanya. “Kenapa kamu ke sini?” tanya Sagi begitu pelayan itu pergi. “Karena aku lapar,” jawabku spontan. Tapi Sagi terlihat tidak senang. Ia sepertinya sedang ingin sendirian. Lalu, ia fokus pada makanannya tanpa bicara sepatah katapun lagi. “Gimana perasaan kamu?” tanyaku untuk mencairkan suasana. “Kamu ngomongin apa?” tanyanya sembari menyumpit ramen, lalu meniupnya supaya tidak panas. Nampaknya, Sagi pura-pura tak paham dengan arah pertanyaanku. Aku lalu melihat mata Sagi lebih dekat. “Mata kamu merah. Abis nangis ya?” tanyaku. Sagi mulai terlihat tidak nyaman. “Siapa yang nangis? Aku ngantuk,” jawabnya. Lalu menyuap makanan ke mulutnya. “Kamu bohong.” “Terserah!” Lantas, aku memandangi Sagi dalam diam. Aku menontonnya makan sembari menunggu makananku datang. Yang ditonton tentu jadi risih. “Apa? Kenapa lihat aku kayak gitu?” tanyanya padaku. “Kamu mau berhenti?” tanyaku balik. “Berhenti apa?” “Memata-matai Leo.” Lalu Sagi terdiam sebentar. Sampai pelayan datang mengantar ramen pesananku. “Sudah terlanjur masuk kolam, aku harus berenang sekalian,” kata Sagi setelah pelayan pergi. “Kalo gitu, yang tadi jangan diulangi. Itu gak profesional,” kataku sambil menikmati ramen yang masih panas. Aku menyinggung soal putus kontak yang dilakukan Sagi. “Aku gak bermaksud gitu.” “Terus?” tanyaku meminta alasan. “Udah kubilang aku ngantuk!” jelas Sagi. Ia bersikukuh pada pernyataannya yang meragukan bagiku. “Aku juga perlu istirahat. Soal Leo bisa dilanjutkan besok,” terusnya. “Tapi haruskah berhenti di momen yang paling penting?” ucapku kala itu. Namun, bukannya menjawab pertanyaanku, Sagi malah menghabiskan makanannya dengan cepat. Setelah itu, ia pergi meninggalkanku. (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN