Dengan memegangi perutnya yang mulai buncit Arin dan Saragih. Berjalan-jalan pagi. Mengelilingi taman kota. Layaknya pasutri muda. Sesekali Arin duduk di bangku yang ada ditangan tu. Dan Saragih terus mendampingi dengan setia dan tulus. "Mbak istirahat dulu, jangan terlalu dipaksakan," disekanya keringat Arin yang meleleh di jidat hingga pipinya. Sambil memandangi wajah Saragih. "Terima Kasih bang, sudah selalu menemani Arin hingga saat ini.". "Siapapun akan melakukan hal yang sama, apalagi kita teman satu tim dalam kerjaan." Arin tersenyu ceriah. "Langkah selanjutnya, nanti bagaimana." Tanya Saragih yang sudah tau, bahwa dia sudah mulai tegar. "Ya, seperti rencana semula. Begitu aku masuk rumah sakit. Dan ada tanda-tanda Si bayi ini lahir. Abang langsung hubungi nomer yang sudah sa

