Pak Adi berlari ke tempat pos satpam di depan, untuk meminta bantuan. Sherill, Gadis dan Dinda berusaha melerai mereka.
"KELVIN STOOPP ITTT !!! Kalau Lo kayak gini, Lo sama aja sama Karel. Pleasee berhenti, Lo nggak kasian sama Kirana hah ?!" Teriak Kelvin sambil menarik lengan Kelvin. Tapi Kelvin menepis tangan Sherill hingga Sherill terlempar ke trotoar.
"SHERRIIILLL !!! Lo nggak papa kan?" Teriak Gina.
"Nggak.. gue nggak papa." Sherill menepuk tangannya membersihkan dari pasir.
Pak Adi dan dua orang satpam kompleks datang, dan berhasil melerai mereka.
"Mas Karel, sekali lagi saya bilang !!! Mas Karel pergi dari sini, saya tidak ingin di marahi oleh Pak Chandra (Papa Kirana) karena tidak bisa menjaga rumah ini dengan aman." Kata Pak Adi membawa Karel ke mobilnya.
Sedangkan Kelvin terduduk di depan rumah Kirana, dia belum mau masuk ke dalam. Kelvin ingin menenangkan dirinya sebelum berbicara dengan Kirana.
"Yakin Lo mau di sini dulu? Luka Lo harus segera di obatin tau." Bentak Sherill.
Tapi Kelvin tidak menjawab.
"Udah lah Sherill, biarkan Kelvin menenangkan dirinya dulu. Ntar kita panggil masuk lagi." Kata Gadis melihat Kelvin yang duduk di bawah.
"Iya biarin dia sini, kita masuk aja." Ujar Gina menarik tangan Sherill.
Kirana yang berada di dalam rumahnya terus saja menangis, Kirana masih bertanya - tanya apa yang sebenarnya terjadi. Dinda tidak tau harus menjelaskan bagaimana, Dinda hanya berusaha menenangkan sahabatnya itu.
"Ehhh, Naaa.. kok Lo nangis sih?" Tanya Ginda yang langsung duduk di samping Kirana.
"Gimana keadaan Kelvin dan Karel?" Tanya Kirana sesegukan.
"Mereka baik - baik aja kok, Karel udah balik, di usir sama pak Adi. Kelvin ada di depan katanya ingin menenangkan dirinya dulu." Jelas Gadis.
"Udah Kirana nggak usah nangis, apa yang Lo tangisin? Udah yahh." Kata Dinda mengusap air mata Kirana.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sampai seperti ini? Dan kenapa kakak - kakak kelas itu menelvonku? Ada yang terjadi di sekolah kan?" Tanya Kirana mengusap air matanya.
"Tenang yahh Kirana, gue bakal jelasin kalau Lo berhenti nangis dulu." Jawab Sherill.
"Hmm hmm iyaa, aku nggak nangis lagi." Kata Kirana mengusap air matanya dan sedikit tersenyum.
"Gitu dongg." Kata Dinda memeluk sahabatnya itu.
"Jadi gini Naa.. tadi itu ada yang mengirim pesan di grup sekolah, ntah siapa yang mengirim tapi isi pesannya, yahh soal itu." Kata Sherill yang tidak ingin memperjelasnya.
"Soal apa? Bilang aja sih, gue nggak papa kok." Kata Sherill memegang tangan Dinda yang menyenderkan bahunya.
"Dia bilang Lo sama Karel sempat melakukan hal yang nggak - nggak di gudang sekolah, yahh adengan panas begitu maksudnya. Dan katanya lagi Lo juga mau ngelakuin itu sama Kelvin." Kata Gadis.
"Apa? Pantesan aja kakak - kakak kelas itu bilang kayak gitu, mereka berkali - kali menelvonku, mereka menawarkan dirinya juga dan bahkan aku mau dibayar sama mereka."
Kata Kirana mulai menitihkan air matanya lagi.
"Lo tenang aja yah Kirana, kita semua bakal usahain untuk bersiin nama Lo lagi dan kita bakalan nyari siapa yang mengirim pesan itu." Kata Gina.
"Sepertinya aku sudah banyak ngerepotin kalian dengan masalah - masalahku, maafin aku. Mungkin sebaiknya kalian ngga perlu kayak gitu lagi, mau bagaimana pun yang terjadi di sekolah tentang aku, kalian nggak usah peduliin toh aku juga udah nggak sekolah di sana. Kenapa juga aku sesedih ini karena kata - kata kakak kelas itu, harusnya aku nggak usah fikirin mereka." Kata Kirana menguatkan dirinya.
"Kiranaaa, nggak yah.. kita semua sahabat Lo, dan kita nggak mau itu terjadi. Bukan karena lo ngerepotin kita tapi karena kita peduli dan kita adalah sahabat Lo." Kata Sherill tegas.
"Iya Kirana, Lo jangan pernah berfikir kalau Lo ngerepotin kita atau apa, karena kita ngelakuin ini karena emang mau, bukan karena paksaan. Dan kita nggak mau ngebiarin orang buat jahatin Lo. Dan kita semua begitu kalau kan kalau ada masalah satu sama lain." Kata Gadis.
"Tapi aku udah banyak ngerepotin kalian, dan aku udah nggak sekolah di sana. Jadi kalian tidak usah membuang waktu kalian itu hal yang tidak penting." Kata Kirana mengusap air matanya yang terus saja mengalir.
"NGGAKK.. Meskipun Lo udah nggak sekolah di sekolah kita, tapi kita semua sahabat Lo yang masih sekolah di sana, dan kita semua nggak terima kalau sahabat kita di fitnah kayak gini." Kata Sherill.
"Udahlah Kirana, serahin aja sama kita. Nggak usah diperdebatin lagi yah, dengerin aja kata - katanya Sherill, kita tau kok harus berbuat apa." Seru Dinda sembari memberi minum ke Kirana.
"Hmm, ya udah makasih yah guyss. Makasih udah sayang sama aku." Kata Kirana sambil meminum airnya.
Pak Adi yang berada di luar melihat Kelvin berjalan tanpa sepatah katapun melewati dirinya dan memasuki mobilnya. Pak Adi langsung berlari masuk untuk memberi tahu teman - teman Kirana tentang hal itu.
"Maaf mba mengganggu, tapi Mas Kelvin sepertinya mau pulang deh. Nggak di cegah dulu? Kasian wajahnya masih berdarah begitu." Kata Pak Adi yang baru saja masuk.
"Eh, iya Pak? Aduhh tunggu sebentar yahh, gue keluar dulu kejar tuh anak." Kata sherill bergegas berdiri.
Sherill pun berlari terburu - buru keluar mengejar Kelvin, untung saja Kelvin masih belum pergi. Kelvin hanya meluruskan badannya di dalam mobilnya.
Tuk tuk tuk.. Sherill mengetuk pintu mobil Kelvin.
"Woii, ngapain lo di situ? Keluar cepetan !!!" Teriak Sherill.
Kelvin membuka kaca mobilnya.
"Gue pulang aja yah Sherill, pengen istirahat." Kata Kelvin sangat lemas.
"Nggak, keluar dan cepatan masuk ke dalam rumah Kirana." Bentak Sherill dan membuka pintu mobilnya Kelvin.
"Ck, iya iya." Kelvin pun bangun dari kursi mobilnya dan keluar dari mobil.
Sherill pun membawa Kelvin masuk, Sherill tidak ingin kalau Kelvin pulang dengan keadaan yang seperti itu, Sherill khawatir terjadi apa - apa kalau Kelvin pulang dengan keadaan seperti itu.
"Sini Lo duduk dulu, gue bersihin luka Lo. Naaa, kotak P3K Lo ada kan?" Tanya Sherill.
"Iya ada di depan dapur kok, kalau nggak liat tanya bibi aja. Kamu nggak papa kan Vinn?" Kata Kirana.
"Eh, gue ambilin minum deh buat Kelvin." Kata Gadis mengikuti Sherill.
"Aku nggak papa kok Kirana, maaf yah udah buat keributan di depan rumah kamu." Jawab Kelvin.
"Lukanya banyak? Kenapa Karel kamu ladenin sih Vinn?" Tanya Kirana lagi.
"Iya tau nih Kelvin, sudah tau Karel orang gila, pake di ladenin segala." Celetuk Dinda.
"Sama aja lo sama Karel kalau kayak gitu tau." Seru Gina dan menepuk tangan dengan Dinda sambil tertawa kecil.
"Aku khilaff, dan aku udah nggak bisa nahan emosi gue mendengar ocehan dia." Kata Kelvin.
"AAUuuu, pelan - pelan dong. Sakit tau, gue kasih tau Mami gue Lo kalau nyiksa gue." Seru Kelvin memegangi pipinya.
"Makanya jangan sok - sokan berkelahi kalau nggak bisa nahan sakitnya. Dasar anak Mami !!!" Ujar Sherill sambil mengobati luka sepupunya itu.
"Hahahha, ternyata Lo anak Mami yah Vinn?" Kata Gadis memberi segelas air ke Kelvin.
"Enggakkkk.. cuma kalian liat aja nih, cara dia ngobatin gue, kayak bukan cewek tau nggak sih. Kasar banget, sengaja Lo yahh?" Seru Kelvin menatap kesal Sherill.
"Jangan gitu Sherill, kasian Kelvin. Nanti di laporin beneran Lo sama Maminya." Kata Kirana yang mulai tertawa.
"Kiraannnaaa." Teriak Kelvin malu - malu.
"Nggak gitu yahh, jadi dulu waktu gue kecil gue sering banget main sama nih anak tomboy, dan dia sering kasarin gue, jadi kalau gue lapor mami gue, dia langsung berubah jadi baik, Sherill tuh takut banget sama Mami gue, iya kan anak baik?" Kata Kelvin meledek Sherill.
"Gue tambah nih luka Lo, mauu??" Balas Sherill.
Candaan Sherill dan Kelvin membuat mereka sejenak melupakan apa yang terjadi, terutama Kirana perasaannya jauh lebih tenang dari sebelumnya. Kirana sangat tidak enak hati dengan teman - temannya, apalagi Kelvin. Kelvin harus bertengkar dan terluka karena membela Kirana dalam semua hal yang terjadi terhadap dirinya dan Karel. Dan sekarang teman - temannya juga harus melewati hal - hal yang membuat mereka resah karena dirinya.
"Kalau gitu kita pulang dulu yah Naa, Lo istirahat." Kata Sherill.
"Byeee Kirana sayaanggg." Kata Dinda memeluk Kirana. Sherill, Gina, dan Gadis juga langsung memeluk Kirana. Mereka semua berpelukan seperti teletubies.
"Iya iyaaa.. kalian semua hati - hati bawa mobilnya." Balas Kirana tersenyum.
Kelvin melihat tingkah persahabatan mereka sangat kagum, baru kali ini Kelvin melihat ada sahabat yang sangat setia satu sama lainnya seperti mereka.
"Wooiiii, ngapain Lo bengong ?!?!?! Ayo pulang, ntar Mami Lo khawatir lagi. Anak smata wayangnya belum pulang sekolah jam segini." Seru Sherill mengagetkan Kelvin.
"Sialaann Lo !!! Udah sana duluan aja, gue juga bawa mobil sendiri kok, nggak nebeng sama Lo. Sana sana Hussshhh hussshhh." Ujar Kelvin seolah mengusir seekor kucing.
"Ooohh, oke finee.." Seru Sherill sembari menjitak kepala Kelvin.
"Hahahah udah yukk balik, usir aja Si Kelvin kalau dia sampai basa basi lagi di rumah Lo Naa." Kata Gina.
"Hahahha, iya iyaa hati - hati." Seru Kirana.
Sherill, Gina, Gadis dan Dinda pulang bersamaan, karena hari sudah hampir malam.
"Kirana maafin gue yah, sepertinya yang mengirim pesan itu Carol. Karena nggak ada yang tau kan masalah itu selain kita semua." Kata Kelvin yang tiba - tiba berbicara mengagetkan Kirana.
"Duh, kaget tau nggak sih Vinn. Kirain kamu udah jalan keluar juga." Kata Kirana.
"Ih kan aku tadi belum pamit. Naa aku serius nih, aku benar - benar minta maaf." Kata Kelvin.
"Nggak papa kok Vinn, bagi aku semuanya yang berhubungan dengan sekolah sudah nggak penting lagi. Aku sudah bilang sama anak - anak kalau nggak usah ngurusin masalah ini lagi, tapi mereka tetap bersihkeras untuk ngebersiin nama aku di sekolah. Aku tau mereka pasti terganggu dengan pesan itu, karena semua anak - anak di sekolah pasti bakalan nanya - nanya ke mereka." Jelas Kirana meraba pintu rumahnya untuk dia sandari.
"Menurut aku memang harus seperi itu Kirana, kita semua nggak mau Lo di fitnah kayak gitu. Dan aku bakal pastiin kalau akan terus mencari pengirim pesan itu, meskipun aku sudah sangat yakin kalau Carol lah pelaku sebenarnya. Aku harus menanyakan langsung ke Carol." Kata Kelvin.
"Nggak usah terlalu di paksain yahh Vinn, jangan terlalu di fikirkan. Kalian juga harus fokus ke pelajaran kalian, sebentar lagi kan ujian kenaikan kelas, kalian harus fokus ujian. Okeyy??" Kata Kirana.
"Iya Naa, tenang aja kita semua bakal mengatur waktu. Kita nggak bakal ngelupain ujian, aku juga nanti kasih tau ke yang lain." Ujar Kelvin.
"Iya Vinn.. oh iya sepertinya aku cuma harus mengganti nomor ponselku juga deh Vin, biar nggak ada yang telvon - telvon aku lagi." Kata Kirana.
"Oh, iya Naa. Nanti biar aku yang urus yah, nanti aku cariin nomor baru." Kata Kelvin sambil memakai sepatunya.
"Ishh nggak usah Vinn, biar aku minta tolong ke Mama aku." Kata Kirana.
"Aku aja Naaa, biar aku orang pertama yang tau nomor baru kamu." Kelvin tertawa.
"Hahaha, apaan sih Vin. Ya udah kalau itu mau kamu, makasih banyak yah Vinn."
"Iya Tuan Putri, kalau gitu aku pulang dulu yan. Kamu masuk gih." Kelvin berdiri dan mengelus rambut Kirana.
"Iya hati - hati Vin." Kirana tersenyum.
Belum sampai keluar dari pagar rumah Kirana, ponsel Kelvin berdering. Dan itu dari Carol.