Episode 25

1784 Kata
Kelvin melihat layar ponsel yang terus saja berdering. Tapi Kelvin tidak ingin menjawab telvon dari Carol. Carol mengirimi pesan ke Kelvin. "Kelvin gue udah liat apa yang ada di grup sekolah yang membuat Lo, Sherill dan yang lainnya sangat khawatir. Gue juga sangat khawatir, kalau saja Lo pasti menuduh gue yang mengirim pesan itu. Tapi gue berani berani bersumpah Kelvin, itu bukan gue. Tolong Lo angkat telvon gue Vinn." "Ya Tuhan aku harus bagaimana, aku juga nggak punya bukti kalau Carol bersalah. Dan bagaimana cara mencari buktinya." Gumam Kelvin sambil berjalan keluar dari rumah Kirana. Kelvin tidak ingin berbicara dengan Carol dalam keadaan tak karuan seperti itu, karena Kelvin takut kalau membuat kesalahan dan kecerobohan lagi. Kirana POV Malam 20:00 Aku duduk di pinggir tempat tidurku yang berukuran besar, di temani oleh lagu yang ku mainkan dari pondelku, aku memikirkan apa yang teman - temanku rasakan di sekolah karena diriku. Aku tidak ingin teman - temanku mengalami stress karena masalahku, masalah yang tidak aku buat sama sekali. Tiba - tiba ponselku berbunyi, suara yang di keluarkan dari ponselku mengatakan bahwa nomor baru yang menelvonku lagi. Aku tidak ingin mengangkatnya, tapi aku juga penasaran siapa yang menelvonku. "Haloo?" Kata orang yang menelvonku. Aku belum ingin menjawab, sampai aku bisa mengenali suara dan apa mau orang ini menelvonku. "Halo Kiranaaa.. kamu di situ kan?" Dan sepertinya aku sudah mengenali suaranya, itu telvon dari Karel. "Mau apalagi sih kamu? Kenapa kamu tidak henti - hentinya mengganggu kehidupanku?" "Naaa sayangg, maaf kalau kamu fikir aku cuma mengganggu kehi— Belum selesai Karel berbicara, aku langsung menatikan telvonnya. Aku sudah sangat jijik mendengar Karel memanggilku dengan kata sayang, dan aku sudah sangat bosan dengan semua penjelasannya. Aku sudah benar - benar membenci Karel, tidak ada lagi sedikit pun perasaan di dalam hatiku setelah masalah baru ini muncul lagi. Memang bukan dia yang mengirim pesan itu, tapi semuanya berawal dari Karel dan yang membuatku semakin membencinya masalah ini membuat teman - temanku di repotkan dan merasa risih dengan masalah ini. Setelah mematikan telvon dari Karel, aku cepat - cepat mematikan ponselku. Aku tidak ingin di ganggi lagi olehnya dan aku tidur dengan tenang. AUTHOR POV Pagi 06:30 SMA Negeri 2 Jakarta. Siswa - siswa yang sudah datang, sedang membicarakan pesan soal Karel dan Kirana itu. Karel yang biasanya datang ke sekolah dengan sangat rapih dan mempesona, kini datang ke sekolah dengan tampilan yang sangat buruk. Rambutnya acak - acakan, seperti orang yang baru bangun tidur, wajahnya terlihat sangat marah. Karel menyusuri koridor hendak ke kelasnya, Karel mendengar berbagai macam bibir yang bergosip tentangnya dan Kirana, tapi Karel mengabaikannya. Setelah Karel sampai di kelasnya, dia langsung menbuang tasnya ke bangkunya. Teman sekelas yang melihat tingkah laku Karel yang tidak seperti biasanya, hanya melihat dan langsung memalingkan wajah mereka kembali, karena takut akan di terkam oleh Karel. Karel tidak sengaja mendapati teman yang melihatnya. "LIAT APA KALIAN b*****t ?!?!?!" Teriak Karel dengan penuh amarah. "APA KALIAN PERCAYA DENGAN PESAN YANG DI GRUP ITU? KALIAN MAU TAU KEBENARANNYA IYA?" Seru Karel lagi memperlihatkan tatapan tajam ke seluruh isi kelas.  Semua yang ada di dalam kelas Karel tidak ada yang berani berbicara sepatah kata pun. Karena baru kali ini mereka melihat Karel yang seperti itu. "BRENGSEKKK !!!! Gue akan kasih perhitungan ke cewek b*****t itu !!!!" Kata Karel berjalan meninggalkan kelasnya. Teman - teman Karel penasaran, siapa yang Karel maksud, siapa yang dia mau kasih pelajaran. Mereka pun mengikuti Karel keluar, tapi tetap berjalan pelan tanpa di ketahui Karel. Karel berjalan menuju kelas Kirana, di kelas Kirana belum banyak siswa yang datang, tapi orang yang di cari Karel sudah duduk cantik di tempatnya, orang yang dia cari adalah Carol. Karel menghampiri Carol yang tengah bermain dengan ponsel di tangannya. "WOIIII, CEWEK b*****t !!! Elo kan yang mengirim pesan itu? Hahh??" Teriak Karel sambil menarik kerah baju Carol. Carol terkaget akan kedatangan Karel. "Ngomong apaan sih Lo Karel? Pesan apa? Gue nggak ngerti." Balas Carol yang pura - pura bodoh. "LO NANYA PESAN APA ???? Nggak usah pura - pura bego deh Lo? Gue tau kalau pesan itu Lo yang kirim,  Lo mau ngaku sekarang atau gue bikin wajah Lo ini nggak mulus lagi ?!?!?" Ujar Karel memegangi rahang Carol. "Buu—kan gueweee" kata Carol yang berusaha bicara. "LO NGGAK MAU NGAKU HAHH??" Teriak Karel yang hampir menampar Carol membuat semua mata tertuju padanya. Sherill, Gadis, Gina dan juga Dinda baru saja datang, dan melihat kejadian itu. "KAREEELLL !!!! WHAT ARE YOU DOING ?!?!!!!!" Teriak Sherill menghentikan tangan Karel. "LEPASIN GUEEEEEE !!!!" Karel menepis tangan Sherill. "Cewek ini harus di kasih pelajaran, berani - beraninya dia mengirim pesan seperti itu dan memfitnah gue dan Kirana." Kata Karel.  "Tapi nggak kayak gini caranya Karel, Lo punya bukti nggak kalau dia yang mengirim pesan itu? Nggak kan?" Celetuk Gadis. "Lepasin Carol, nanti kalau guru - guru tau gimana Kare?? Masalahnya bisa tambah panjang, dan kalau Lo mukul Carol Lo bisa masuk kantor polisi tau." Kata Sherill memegangi bahu Karel. "HAHHH, Brengsekk !!!" Karel melepaskan Carol dengan kasar sampai Carol tersentak di bangkunya sendiri. Carol pun merapikan bajunya, dan merapikan rambutnya. "Makasih yahh.. tapi gue mohon sama kalian, percaya kalau bukan gue yang mengirim pesan itu." Kata Carol pelan. "Finee." Kata Sherill merespon dengan biasa saja. Sherill, Gadis, Gina dan Dinda meninggalkan Carol begitu saja dan pergi ke bangku mereka masing - masing. Carol tersenyum licik, sedangkan Karel berjalan keluar dari kelas Kirana. Di pintu Karel berpapasan dengan Kelvin, Karel hanya menatap tajam Kelvin yang juga menatapnya dengan kebingungan. "Karel benar - benar tidak bisa menahan emosinya, kalau tadi kita nggak ada pasti ini udah makin panjang masalahnya." Seru Dinda. "Iya, bisa - bisa polisi datang ke sekolah kita dan dia ditahan atas tindak penganiyayan." Balas Gina. "Ada apaan sih emangnya? Kenapa Karel keluar dari kelas kita?" Tanya Kelvin. "Karel tadi hampir mukulin Carol, karena Karel sangat yakin kalau Carol yang mengirim pesan itu, dan Karel mau Carol ngaku." Jelas Gadis. Kelvin yang mendengar itu sontak matanya langsung melirik Carol, dan Carol ternyata melihatnya juga. Kelvin langsung membuang mukanya. "oh? jadi Lo nyuekin gue?" Batin Carol  "Terus?? Sampai mukul?" Tanya Kelvin lagi. "Nggak, untung aja kita cepet datang. Kalau nggak tuh mukanya Carol udah rusak, nggak ada yang berani melerai Karel tadi." Kata Sherill. "Wahh Karel nggak kenal siapapun yahh? Mau cewek atau cowok dihajar aja." Kata Kelvin. "Eh btw gimana cara kita mencari orang yang mengirim pesan itu? Dan gimana cara kita ngebersihin namanya Kirana?" Tanya Gina. "Guysss, kemarin Kirana sempat ngomong sama gue. kalau kita nggak boleh terlalu terfokus sama masalah ini, karena kita udah mau ujian juga kan? Gue hanya menyampaikan pesannya Kirana." Kata Kelvin. "Iya tenang aja Vinn, kita udah memperhitungkan itu kok. Kita harus tetap fokus belajar, pokoknya kita bagi waktu aja." Kata Sherill. Pelajaran di mulai seperti biasanya, Sherill dan yang lainnya berusaha untuk fokus mengikuti pelajaran. Meskipun fikiran mereka memang ada di orang yang mengirim pesan itu. Jam istirahat tiba, mereka semua langsung keluar kelas dan menuju ke kantin. Di kantin mereka sudah di tunggu oleh kakak - kakak kelasnya. "Ehh, duduk sini.. gue mau nanya soal Kirana." Panggil Bian salah satu kakak kelas mereka. "Maaf kak, kita nggak ada waktu. Kita laper dan mau makan." Kata Gina. "Loh berani ngebantah kakak kelas?" Teriak Kakak kelasnya itu. "Kenapa nggak berani? Emang kakak siapa? Nggak penting tau nggak.. mau gue lapor ke ibu Nita?" Tantang Gadis. Mereka sama sekali tidak takut dengan kakak kelasnya, atau siapapun yang mengganggu mereka. Karena Ibu Nita adalah Kepala sekolah mereka yang tidak lain Mamanya Gina. Yang penting mereka masih meladeninya dengan sopan. "Sialaaann !!!" Kata Kakak kelas itu dan tidak melanjutkan pembicaraannya lagi. Sherill menunjuk meja yang di sudut, dan di ikuti oleh teman - temannya. Kelvin juga ikut bergabung dengan mereka. "Dasar kakak kelas gila, ngapain coba mau nanya - nanya. Jangan - jangan dia lagi yang kemarin nelvon Kirana." Seru Dinda meminum es teh manisnya. "Apaa?? Yang mana kakak kelasnya?" Tanya Kelvin langsung berdiri. "Woii !!! Kenapa kalau lo tau kakak kelas yang mana telvon Kirana? Lo mau bikin keributan di sekolah ini? Hahh?" Tanya Sherill. "Udah Vinn, duduk deh Lo. Nggak usah macam - macam, jangan jadi Karel kedua yang apa - apa emosian banget." Kata Gadis menarik tangan Kelvin dan memaksanya duduk. "Ckkk.." Kelvin berdecak kesal. "Eh, btw kemana tuh anak? Kok nggak kelihatan sih?" Tanya Dinda melihat sekeliling kantin. "Duh, jangan - jangan dia lagi merenung di dalam kelas dan nggak makan lagi. Lo pada liat nggak tadi, Karel berantakan banget. Nggak pernah Lo dia seperti itu." Kata Gina. "Iya yahh?! Jadi serem amat mukanya hahahha. Mana masih pagi lagi." Seru Dinda. "Udah - udah, makan tuhh makanan kalian. Jangan ngomong terus." Seru Sherill sambil memakan nasi goreng kesukaannya. Carol yang baru saja memasuki kantin, melihat Sherill dan yang lainnya duduk di meja yang tidak jauh dari jangkauannya, berjalan ke arah mereka karena ingin bergabung. "Guysss.. boleh gabung nggak ?" Tanya Carol ragu. "Lahh, duduk aja kali." Jawab Gina. Carol langsung duduk, di samping Gina. "Eh, gue pesen makanan dulu deh. Kalian masih lamakan?" Tanya Carol lagi. "Hmmm" jawab Gina. Carol pun berjalan ke tempat penjual nasi goreng yang ada dikantin mereka. "Ehh, guyss apa sekarang kita tanya Carol aja?" Celetuk Gadis. "Mau ditanyain apa coba? Mana mungkin juga kalau emang dia pelakunya, mana mungkin dia mau ngaku." Kata sherill. "Iya sihh, tapi gimana kalau kita pancing sedikit - sedikit? Tanya aja gimana tanggapan dia tentang pesan itu, kan kita bisa tau dari jawabannya dia." Kata Kelvin. "Ya udah sih, coba aja.. tuhh orangnya juga udah dateng." Kata Sherill. "Gue penasaran deh sama orang yang mengirim pesan kemarin, kok bisa - bisanya dia ngomong seperti itu? Emang dia punya bukti?" Kata Gadis mencubit paha Sherill agar membalas ucapannya. "Eh, iyaa nggak punya hati banget tuh orag. Udah sinting kali yah, kalau orang tua Kirana sampai nuntut kan jadi masalah yang panjang." Balas Sherill sedikit tertawa. Mendengar hal itu, Carol menjadi salah tingkah dan tidak sengaja menyambar minuman Gina yang membuat Ponselnya basah. "Ehh, sorry - sorry guyss.. aduhh, ponsel gue juga basah." Seru Carol yang mengangkat ponselnya dan mengambil tisu. Carol membuka hardcase yang melindungi ponselnya, di belakang ponselnya ada uang 100rb dan ada sim card yang dia gunakan kemarin untuk mengirim pesan. Semua mata tertuju ke meja. "Ehh, ini sim card lo basah juga. Gue bantu lap -in yahh." Kata Gina. "Ehh nggak usah.. biar gue aja.." Carol merebut sim card itu dengan kasar dan membuat sim cardnya jatuh ke lantai. "Aduh maaf yahh.” Seru Gina menunduk ke lantai, di ikuti Carol menunduk untuk mencari sim card itu. Gina yang mendapat duluan sim card itu, tidak sengaja melihat nomor yang ada di belakang sim card itu. “Ehh, tunggu deh.. kayaknya gue kenal nomor ini.” Kata Gina mencoba mengingat.  Detak jantung Carol semakin tidak teratur, Carol memikirkan bagaimana cara untuk lepas dari situasi itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN