Gina langsung sadar bahwa nomor itu adalah nomor yang di pakai pengirim pesan itu.
"Sini Gin sim cardnya, itu sim card adik gue dititipin ke gue." Ujar Carol.
"Tunggu - tunggu.. eh, buka grup dong, cek coba nomor yang mengirim pesan soal Kirana kemarin." Kata
Gina menyuruh teman - temannya.
"Eh, gue kesana dulu yahh.." kata Carol berdiri.
"Tunggu Carolll !!!" Kata Gina memegangi tangan Carol yang mulai dingin.
"Tuh kan, nomor belakangnya sama. Liatkan belakangnya?" Kata Gina lagi memberikan sim card itu ke Carol.
"Lahh, emangnya cuma satu sim card aja yah yang bisa belakangnya begitu. Itu cuma kebetulan aja." Kata Carol membela diri.
"Gue coba pasang di ponsel gue deh" Kata Sherill membuka tempat sim card ponsel miliknya.
Carol semakin takut, tubuhnya sudah mengeluarkan keringat dingin.
"Iyaa, coba telvon gue Rill." Seru Kelvin.
Sherill pun memasang sim card itu di ponselnya, dan mencoba misscall nomor Kelvin.
"Wahh bener ini nomor pengirim pesan itu, ternyata emang Elo yah Carol. Gue bener - bener nggak nyangka kenapa Lo sampai setega ini. Gue udah percaya tau nggak sih sama Lo, sampai gue di marahin sama mereka pun gue tetap nge bela Elo Carol." Kata Kelvin penuh emosi.
"Lo mau beresin semua ini? Atau kita buat keributan di kantin ini sekarang juga?" Ancam Sherill memajukan wajahnya ke Carol.
"Ckckckck Carol, padahal gue juga udah yakin kalau Lo berubah." Celetuk Dinda.
"Lo emang nggak bisa di percaya Carol, sekali busuk yah tetap busuk." Kata Gadis.
"Sekarang gue minta sama Lo, Lo pasang nomor ini lagi di ponsel Lo dan kirim pesan yang berisikan kalau yang kemarin lo omongin itu semuanya nggak bener." Kata Kelvin.
"Nggak.. ini semua salah kalian, kalian udah mengabaikan gue. Gue cuma kasih kalian pelajaran karena kalian udah nggak nganggep gue ada, kalian nggak ngehargain gue." Kata Carol melepaskan tangannya dari genggaman Gina.
"Woiiii.. Lo Sadar dong, siapa Lo ngomong kayak gitu? Siapa lo yang mau di hargai? NGACA LO NGACA !!!" Kata Gina menekankan kata - katanya.
"Bener, udah baik Lo kita mau duduk dan makan bersama sama Lo dan sekarang Lo minta lebih lagi ??? Sadar Woiii sadarrrr !!!" Seru Dinda juga sudah mulai emosi.
"Udah deh, kan sim cardnya juga udah ada ditangan kita. Kita aja yang mengirim pesan itu kalau dia nggak mau, susah amatt." Kata Gadis.
Carol nggak bisa berkata apa - apa lagi, rasanya dia sangat malu dan sangat marah.
"Nggak , kalau cuma kayak gitu pelajaran yang kita kasih ke dia nggak ada woii." Kata Sherill.
Carol yang sangat malu berdiri mengambil gelas yang berisikan es teh punya Sherill, langsung melempar dan menumpahkannya di atas meja.
"Liat aja apa yang bakal gue lakuin untuk ngebales kalian." Carol langsung berlari meninggalkan mereka.
"Haahhh, dasar cewek sinting." Kata Sherill mengibaskan bajunya yang sudah basah akibat tumpahan es teh.
"Terus gimana dong sekarang?" Tanya Gina.
"Udah yuk, nanti kita fikirin lagi.. sekarang kita ke kelas dulu, udah mau bel juga." Kata Sherill.
Mereka semua pun kembali ke kelas dan melanjutkan sisa pelajaran hari itu.
*****
Sepulang sekolah Sherill, Gadis, Gina dan juga Dinda ke parkiran menunggu Carol di depan mobilnya. Carol pun muncul dengan santai.
"Mau apa lagi kalian? Kalian udah tau kan pelaku yang ngirim sms nggak bener itu gue, terus kalian butuh apa lagi sampai nungguin gue di depan mobil gue?" Tantang Carol.
"Okeyy, thanksss atas pengakuan lo Carol. Semuanya udah gue rekam, tinggal mau di proses dimana aja, di sekolah aja atau di bawa ke kantor polisi atas pencemaran nama baik." Kata Sherill memutar - mutar ponselnya di tangannya.
"Widdiihhh, serem amat dehh.. kayak sinetron - sinetron wahahahahhaha." Seru Dinda tertawa terbahak - bahak.
"Gimana guyss?? Udah berhasil?? Cabut yukk." Kata Kelvin yang baru datang.
"Belum Kelviinn.. kita kan mau nanya sama pelakunya, rekaman ini mau diapain? Kita kan masih baik." Kata Gadis.
Beberapa siswa lain yang mendengar percakapan mereka ikut bergabung, dan ikut menyimak semua yang terjadi.
"Okehh Fineeee !!! gue bakalan minta maaf ke Kirana, dan gue bakal mengirim pesan lagi ke grup kalau semuanya nggak benar." Kata Carol.
"Wahhh gila nihh Carol, jadi semuanya nggak benar?? Ckckckk."
"Parah nihh anak sakit jiwa kali yahh."
"Hampir aja gue juga telvon Kirana kemarin pas dapet sms itu, alhamdulillah gue nggak jadi berdosa sama Kirana.
"Iya nih Carol, Lo udah gila yahh."
Semua siswa mengeluarkan kata - kata yang tidak baik ke Carol. Carol sudah sangat tertekan dengan semua ucapan mereka.
"Dengar yahh kalian semua, dengan baik - baik. Memang yang aku sebarkan itu salah, tapi tidak sepenuhnya salah, Karel melecehkan Kirana di gudang sekolah dan di tolong oleh Kelvin, iya kan Kelviinnn???" Kata Carol dengan sangat emosi.
"CAROLL !!!!" Teriak Sherill.
"APAA??? Gue nggak nanya yah sama Lo, gue nanya sama Kelvin !!!" Seru Carol.
"Carol, lo nggak harus kayak gini !!! Kenapa sih Lo nyari masalah melulu." Ujar Gina.
"Jadi yang benar yang mana? Kirana habis berbuat itu sama Karel atau Karel yang melecehkan Kirana???" Teriak salah satu siswa lain yang berada di situ.
"Kalian tanyakan kebenarannya sama Kelvin.. atau nggak panggil si Karel kesini kalau kalian mau tau kebenarannya. Karena apa yang gue ucapin tadi sudah yang sebenar - benarnya terjadi dan itu keluar sendiri dari mulut Kelvin saat gue lagi sama dia. Mana tuh teman sekelas gue yang lain? Ohh itu.. kalian ingatkan, saat Kirana beberapa hari nggak masuk, yang katanya sakit dan pas masuk Karel datang ke kelas kita untuk meminta maaf? Itu semua karena Kirana sudah di lecehkan sama Karel."
Kelvin hanya menatap Carol saat Carol menyelesaikan semua ucapannya, Kelvin tidak ingin mengakui bahwa itu benar. Kelvin takut kalau nama Kirana hancur dan di pandang sebelah mata oleh satu sekolah.
"Wahh, iya benar Carol.. gue inget banget tuh, pas hari itu Karel datang dan Kirana nggak mau ngomong sama Karel, sempat ribut juga tuh hari itu." Kata teman kelas mereka yang juga berada di parkiran.
Tidak lama Karel datang, Karel yang dari pagi sangat kesal dan moodnya sangat jelek tidak mengetahui apa yang terjadi di parkiran. Tiba - tiba seorang siswa yang dari tadi mendengar perdebatan antara Kelvin, Carol dan yang lainnya menghampiri Karel.
"Ehh, Karel Lo beneran udah melecehkan Kirana? Ckckck apa yang ada di fikiran Lo sampai melecehkan cewek Lo sendiri, kalau nggak mau jangan di paksa dong." Kata siswa lelaki itu.
Karel yang sangat tidak karuan hari itu, melayangkan satu hantaman ke siswa itu.
"BRENGSEKK !!! Lo udah kayak banci tau nggaakk sialaann." Kata Karel melotot.
"Ckckckck apalagi yang Lo lakuin cewek haus perhatian? Lo puas dengan semua yang lo perbuat sekarang?" Karel menghampiri Carol yang tengah berdiri di depan Sherill, Gadis, Gina dan juga Dinda.
"Kalian semua percaya apa yang di omongin cewek ini?? Heii, Lo punya bukti atas semua yang Lo ucapkan itu hah??" Karel lagi - lagi mencengkeram wajah Carol.
"Rel Kareellll." Seru Sherill memegangi tanan Karel.
"Kelvin yang ngomong sendiri sama gue kalau itu yang sebenarnya terjadi antara Lo dan Kirana." Carol mencoba melepaskan tangan Karel tapi tangan Karel sangat kuat.
"Terus kalau Kelvin yang bilang Lo percaya gitu aja? Lo bisa menjamin kalau itu semua Kelvin yang bilang?" Kata Karel.
Carol tidak bisa berbicara karena genggaman Karel sangat kuat.
"Sekarang gue tanya sama Kelvin, woii Kelvin lo bilang semua itu ke cewek sinting ini?" Teriak Karel.
Kelvin yang sadar dan dari tadi menyimak semua ucapan Kelvin memutar otaknya, dan mengetahui kunci dari omongan Karel.
"Hahh, nggak.. kapan gue ngomong seperti itu ke Elo?? Lo udah gila??" Jawab Kelvin.
Sherill, Gadis, Gina dan Dinda heran mendengar ucapan Kelvin. Kelvin melirik kearaha mereka, seakan memberi kode untuk membenarkan ucapannya, dan meminta bantuan untuk menolongnya agar ucapannya dipercaya oleh semu siswa yang menyaksikan kejadian itu. Dan orang yang pertama connect adalah Sherill.
"Iyaa, udah gila juga kalau Kelvin sampai ngomong sembarangan. Woii Carol lo sadar dong kalau mau ngarang cerita tuh yang masuk akal. Nggak mungkin Kelvin menjelek - jelekkan sahabat gue sendiri, sahabat sepupunya sendiri." Ujar Sherill.
"Udahh Rell.. lepasin aja tangan Lo dari mukanya dia, nanti tangan Lo kena virus lagi. Yang penting sekarang kalian semua yang ada di sini udah tau kebenarannya seperti apa, dan pesan yang ada di grup sekolah juga itu semuanya karangan cewek ini." Kata Gadis memandangi semua siswa yang ada di parkiran.
"Wahh, bener - bener Lo Carol.. kayaknya Lo harus periksa kejiwaan Lo dehh."
"Sialaann buang - buang waktu kita aja."
"Carol Caroll.. kalau iri sama orang tuhh jangan sampai gini banget dong. Kasian kan Kelvin dan Karel jadi korban Lo juga."
"Ckckckck.. kalian semua tenang aja yahh, gue udah rekamin semua apa yang terjadi tadi, dan gue bakalan send ntar di grup sekolah, biar semua orang tau kebenarannya."
"Banyak - banyakin berdoa Lo Carol."
"Astaghfirullah Aladzim.. sungguh luar biasa ciptaan mu Tuhan. Sepertinya perlu di Adzab."
Siswa yang berada di parkiran bergantian menghujat Carol. Setelah semua siswa lain pergi, Kelvin menghampiri Carol.
"Sorry yahh Carol, sepertinya ini cara yang terbaik." Kata Kelvin menepuk pundak Carol.
"Ngapain minta maaf sih Vin.. dari tadikan kita juga udah baik - baik sama dia, tapi dia nya tetap ngeyel. Dapat batunya sendiri kan." Ujar Dinda.
"Udahh yahh, gue cabut. Makasih udah ngebantuin gue." Kata Karel berjalan ke mobilnya.
"Kita nggak bantuin Lo, tapi kita bantuin Kirana." Seru Sherill.
"Terserahh, yang penting makasih banyak." Balas Karel masuk ke mobilnya.
"KALIAAANNNN !!!!!" Teriak Carol penuh amarah.
"Kenapa lagi sihh, kita nggak berlebihan kan? Kan kita udah baik - baik sama Lo. Tapi Lo semakin menjadi - jadi, sekarang lebih baik lo nggak usah marah, tapi lo coba intropeksi diri Lo, jangan kayak gini lagi. Kasian Kelvin yang udah percaya sama Lo tapi Lo bikin dia jadi merasa sangat bersalah sama kita semua." Kata Gadis.
"Semoga aja dengan kejadian ini, Lo bisa sadar dan ambil sisi baik dari kejadian ini. Bukannya Lo malah tambah dendam sama kita." Kata Kelvin.
"Udahh yahh, kita cabut. Lo juga pulang gihh, hati - hati bawa mobilnya, jangan ngebut." Kata Gina menepuk Carol sambil tersenyum.
Semuanya meninggalkan Carol yang masih berdiri, dengan fikirannya yang kemana - kemana. Carol sangat malu dengan apa yang terjadi hari ini dengannya.
"Aahhh, kenapa semuanya jadi seperti ini sih ?!?!?! Bukan ini yang gue mau. Sialaaannnn !!!!" Carol sangat marah sampai memukul - mukul stir mobilnya.