KIRANA POV
Siang itu aku baru pulang dari rumah sakit bukan karena ada kabar baik dari dokter soal donor mataku, tapi aku ke rumah sakit karena ada pemeriksaan rutin kesehatanku yang di jadwalkan sama Mama dan Papa sebulan 2 kali. Orang tuaku masih mengkhawatirkan kondisi kesehatanku akibat kecelakaan yang menimpaku bersama Kelvin. Aku diantar Mama untuk naik kemarku, ku dengar ponselku terus berbunyi kalau ada nomor baru yang menelvonku.
“Maa, minta tolong Hpku dong.” Pintaku ke Mama dan aku duduk di pinggir tempat tidurku.
“Wahh, banyak sekali panggilan tak terjawab nak, kebanyakan nomor baru dan sepertinya dari teman – teman sekelasmu.” Kata Mama
“Oh, iya Maa.. ada apa yah? Kok mereka nelvon aku? Apa ada hal yang sangat penting. Tapi kalau penting pasti Sherill atau nggak yang lain nelvon aku. Coba deh Mama cek lagi, apa ada telvon dari salah satu dari mereka?” Kataku.
“hmmm, nggak ada nih telvon dari mereka. Mungkin bukan sesuatu yang penting kali. Atau coba kamu tanyakan ke teman – teman kamu.” Kata Mama.
“Iya deh Mahh, ntar Kirana tanya ke mereka. Mama balik aja ke kantor, udah di tungguin tuh pasti sama rekan Mama.” Kataku lagi.
“Ya usah kalau gitu Mama balik ke kantor yahh, kalau ada perlu sesuatu panggil Bi Sri aja.” Kata Mama mencium keningku.
“Iya Mamaa, hati – hati jangan ngebut – ngebut.”
Sementara itu ponselku masih saja terus berbunyi, aku penasaran siapa dan kenapa mereka sampai menelvonku berkali – kali seperti ini. Karena sudah sangat penasaran, aku langsung saja mengangkat telvon itu yang tidak tau dari siapa.
“Halo ? Maaf ini dengan siapa yah?”
“Kirana mau nggak sama gue? Gue denger – denger Lo sudah berbuat itu kan sama Karel di Gudang ? Ayo dong Kirana Kakak juga mau nih.”
“Hah ?! Maksud anda apa ? dan siapa anda? Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang anda katakan?” Tanyaku kebingungan.
“Alaahhh, alesan aja lo sok nggak tau ?! sini mau dibayar berapa kamu? Atau kamu Cuma mau sama Karel yah untuk melakukan itu? Atau sama Kelvin aja ?”
“Sumpah yahh kak, mas atau siapapun anda. Saya benar – benar tidak mengerti apa maksud anda dan tolong jangan bicara sembarangan.” Aku langsung mematikan telvonnya.
Aku tidak tau telvon dari siapa tadi itu dan kenapa dia sampai berbicara seperti itu. Aku mau dibayar?? Maksudnya apa?? Aku sangat kebingungan dan berusaha menelvon Sherill, tapi ponselku berdering lagi, karena aku sedang mencari kontak Sherill, aku tidak sengaja mengangkat telvon yang baru saja masuk lagi.
“Haiii, Kirana ini kakak kelas Lo yang dari dulu suka sama Lo.”
“Oh, siapa yang mana yah kak? Tapi ada apa sampai menelvonku?”
“Gue mau nanya, Lo beneran udah gituan sama Karel? Kalau udah, sama gue lagi yukk Kirana, mau dong yahh yahh, nggak papa kok kalau Lo buta.”
“Kakk, maksud kaka kapa? Gituan apa sih? Jangan berbicara sembarangan.”
“Sembarangan gimana sih, nggak usah sok polos yah Lo, gimana nih? Gue jemput Lo sekarang yah, kita cari tempat yang pas, nggak digudang sama kayak Karel. Nggak modal banget sih tuh Karel.”
“Kaaakkkk !!!!” Kakak kelas ini tidak mendengarku dia terus saja melanjutkan omongannya.
“Masa mau gituan di Gudang sih. Dan lagi gue bisa kasih Lo lebih di banding Karel ataupun Kelvin? Gimana Naa? Siapa yang lebih lo suka pelayanannya Karel atau Kelvin? Tapi kalau Lo sama gue, gue pasti akan ngasih Lo yang lebih lebih lagi Kirana.”
“KAAAKKK, STOP ITTTTTT !!! Aku nggak tau kakak siapa dan aku nggak tau apa yang kakak bicarakan !!!!! Sekali lagi kakak menelvonku, aku nggak bakal segan – segan untuk melaporkan kakak ke polisi.”
Lagi – lagi telvon yang membahas itu, pembahasan yang aku tidak mengerti sama sekali. Buru – buru aku telvon Sherill dan terus mengabaikan telvon yang masuk. Akhirnya tersambung dengan Sherill.
“Halo Sherill lo dimana?”
“Ah, iya Kirana.. Gue di Café nih makan siang bareng yang lain kenapa Naa?”
“Bisa ke rumah Aku nggak habis itu? Penting banget, tolong yahh.” Aku sangat panik.
“Iya iya Naa, tunggu yah.. Kita bakalan kesana, udah mau selesai juga kok.”
“Iya, nggak usah buru – buru.. Byee Sherill.”
Aku sangat kebingungan dan sangat panik, kenapa orang – orang yang menelvonku sampai berbicara tidak sopan seperti itu.
AUTHOR POV
Sherill yang tidak sengaja melihat ke meja Carol akibat gelas yang pecah, tidak sadar bahwa perempuan itu adalah Carol karena dia dikagetkan dengan bunyi ponselnya dari Kirana. Sherill memberitahu ke teman – temannya bahwa Kirana ingin menemui mereka dan ini sangat penting.
“Hahh, penting apaan Rill?” Tanya Dinda.
“Nggak tau nih, kalau denger dari suaranya sih Kirana emang lagi panik dan dia bilang ini penting.” Jawab Sherill.
“Duhh, jangan – jangan Kirana tau lagi soal pesan itu.” Seru Dinda.
“Kalau Kirana tau dia pasti bakalan benci banget sama gueee.” Kelvin menyandarkan kepalanya ke sofa.
“Tenang dulu, nggak mungkin Kirana tau.. Bagaimana bisa dia tau, itukan pesan mana mungkin Kirana bisa baca sendiri kan?” Kata Gadis.
“Tapi gue udah atur mode ponselnya Kirana, agar dia bisa lebih gampang memakainya.”
“Eh, iya juga yahh. Duh bagaimana ini?” Kata Gadis.
“Kita jelasin aja pelan – pelan ke Kirana, dan coba tenangin dia. Kirana pasti bisa mengerti. Toh isi pesannya juga nggak benarkan, katakan kalau kita bakal usahain buat bikin anak – anak di sekolah nggak percaya dengan berita itu. Kalau kita nggak bisa tenangin diri kita,bagaimana bisa kita tenangin Kirana.” Jelas Gina.
“Yaudah habisin makanannya dan kita lanjut di rumahnya Kirana.”
Setelah selesai makan, Sherill yang pergi ke kasir untuk membayar. Posisi kasir tidak jauh dari meja Carol, Carol yang sadar akan itu segera mengambil buku menu yang ada di mejanya dan menutupi wajahnya agar Sherill tidak melihatnya. Sherill sempat melirik ke arah Carol, dan batinnya mengatakan kalau itu seperti Carol.
“Udahh?” Tanya Dinda.
“Iya udah, tapi kayaknya tadi di dalam gue liat Carol deh. Apa kita samperin aja terus nanya soal pesan itu?” Balas Sherill.
“Ah, nggak mungkin sih Carol ada di sini. Udah yukk langsung ke rumah Kirana aja.” Seru Gina membuka pintu mobilnya.
“Kelvin woiiiii !!!!” Teriak Dinda.
“Eh, iyaa.. Kayaknya gue nggak usah ikut ke rumah Kirana deh, gue nggak tau harus ngomong apa kalau emang Kirana udah tau soal ini.” Kata Kelvin berdiri di depan mobilnya.
“Dihh, pengecut banget Lo ?! Kalau ini semua gara – gara Lo, lo harus tanggung jawab. Bukan malah kita yang Lo suruh tanggung jawab. Enak banget hidup Lo, kita semua mikirin keadaan Kirana, kita nggak mau sampai Kirana drop lagi. DAN LO DENGAN GAMPANGNYA MAU CABUT GITU AJA DARI KESALAHAN YANG BUAT ?!?!?!?!?!” Bentak Sherill.
“Bukan begitu Sherill, gue takut dan malu nggak bisa memasang wajah gue di depan Kirana. Gue merasa sangat bersalah.” Kata Kelvin dengan raut wajah yang sangat sedih.
“Guysss guysss Calm down !!! Kenapa sampai sepanik ini sih, toh Kirana juga di rumahnya pasti nggak sepanik ini kalau tau yang sebenarnya, tenang aja dulu kenapa sih.” Kata Gadis menahan emosinya.
“FINEEEEE !!!! Sekarang kita ke rumahnya Kirana, dan Lo harus ikut.” Kata Sherill memandangi Kelvin dengan penuh amarah.
Carol melihat semuanya dari dalam Café, Carol tau kalau mereka sedang bertengkar hebat di luar, dan itu membuat Carol sangat senang bisa melihat mereka saling menyalahkan satu sama lain.
“Hahahaha, mampus.. Makanya jangan mengabaikan gue, belum taukan kalian berhadapan sama siapa. Aahahahaha..” Kata Carol dari dalam Café.
Kelvin, Sherill, Gadis, Gina dan juga Dinda akhirnya berangkat ke rumah Kirana dengan beriringan, karena hari ini semuanya membawa mobil. Sesampainya di rumah Kirana mereka di sambut dengan pemandangan yang mengherankan. Di depan rumah Kirana ada Karel yang berdiri di depan mobilnya sambil memegang ponselnya. Tapi tidak satu dari mereka menegur Karel, mereka langsung saja masuk ke rumah Kirana. Karel yang melihat mereka segera berlari ke arah mereka.
“Guysss WAIITTTT !!!” Teriak Karel.
“Kenapa Lo ? dan ngapain lagi Lo di rumah Kirana?” Tanya Gina.
“Pleasee dengerin gue dulu, gue nggak akan lama.” Kata Karel ngos – ngosan.
“Fineee, dengerin aja dulu.” Kata Sherill yang keluar kembali dari pagar rumah Kirana.
Pak Adi sampai terheran – heran melihat mereka, tapi tidak berani juga ikut campur.
“Jadi gini, kalian udah liatkan di grup sekolah? Gue nggak tau siapa yang menyebarkan gossip tidak benar seperti itu, dan tadi gue dapet telvon nggak tau dari siapa, tapi katanya kakak kelas. Dia bilang dia udah telvon Kirana memastikan berita itu benar atau tidak dan kakak kelas itu menawari Kirana untuk dia bayar untuk melakukan “itu” sama dia.” Jelas Karel.
“WHAATTT ???? b******k !!! siapa yang berani melakukan itu, pantas saja Kirana seperti ini.”
“Gue nggak tau, gue kesini karena khawatir dengan keadaan Kirana tapi gue hanya bisa berdiri di sini. Gue yakin sih, kalau yang mengirim pesan itu pasti Carol, dia sengaja ngelakuin ini, dan ini semua gara – gara Lo Brengsekkk !!!!” Kata Karel lagi menarik kerah baju baju Kelvin.
“STOOOPPPPP !!!! Ini semua juga gara – gara Lo, kalau Lo nggak ngelakuin itu, semua ini nggak bakalan pernah terjadi. DAN LO HARUS BERKACA SEBELUM NGATAIN ORANG LAIN b******k, KARENA LO LEBIH BRENGSEEKKKKK !!!!” Bentak Sherill yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.
Kirana ternyata sudah menunggu di depan rumah ke datangan teman – temannya, dan mendengar semua omongong mereka. Kaki Kirana tidak bisa melangkah karena gemetaran mendengar perkelahian teman – temannya.
“GUYSSSS !!!!” Teriak Kirana dengan tenaga yang dia punya.
Dinda langsung berlari ke Kirana, dan membawa kembali Kirana masuk.
“Kirana masuk aja yahh.” Dinda merangkul Kirana.
“Tolong tenangin mereka Diinnn.” Pinta Kirana yang sudah mulai menitihkan air mata.
“Iyaa Naa, tenang yahh. Lo nggak usah Nangis, mereka pasti tau batasannya.” Ujar Dinda sambil mengusap air Mata Kirana.
“Lebih baik Lo pergi dari sini deh Karel, nggak ada gunanya juga lo di sini.” Kata Gadis
“Haaahhhh, kalau aja Lo nggak ngomong sembarangan sama Carol Sialaaannn !!!!” Kata Karel melayangkan satu pukulan ke wajah Kelvin yang membuat bibir Kelvin mulai mengeluarkan darah.
Kelvin dari tadi tidak menggubris ucapan Karel, seakan – akan jiwanya hilang tiba di depan rumah Kirana.
“KAREEELLLLLL !!!!” Teriak Sherill, Gadis dan Gina.
“Mas Karelll !!! Apa yang mas Karel lakukan ?? Selalu saja membuat keributan kalau datang kesini.” Kata Pak Adi memisahkan mereka.
Tapi Kelvin tiba – tiba tersadar dari lamunannya tadi, entah setan apa yang merasuki tubuhnya, Kelvin juga menjadi emosi dan membalas pukulan Karel yang sedang di pegangi Pak Adi.
“INI SEMUA KARENA PERBUATAN MENJIJIKKAN LO !!!! LO DATANG KE SINI DAN BILANG LO KHAWATIR SAMA KIRANA ?!!!! SADAR LO BANGSAATTTTT !!!! SIAPA YANG MEMULAI SEMUA INI KALAU BUKAN LO ????? KEHIDUPAN KIRANA NGGAK AKAN BERUBAH KALAU LO DAN FIKIRAN KOTOR LO ITU NGGAK PERNAH LO LAKUIN SAMA KIRANA BANGSATTTT !!!!!” Teriak Kelvin yang sudah sangat emosi dan menarik Karel dari pegangan Pak Adi.
Kelvin melayangkan beberapa pukulan di wajah Karel, Karel pun juga membalas pukulan yang di berikan Kelvin. Mereka berdua saling adu pukulan, tenaga Pak Adi tidak mampu memisahkan mereka.