Kelvin berdiri di depan cermin full body yang berada di dalam kamarnya, memperhatikan tampilannya dari ujung kaki sampai ujung kepalanya, dan melihat wajahnya yang masih merah merona.
"Oh, Tuhan mimpi apa aku kemarin, sampai Kirana tiba - tiba memelukku seperti itu. Aku tidak sanggup untuk membayangkannya, wajahku sudah seperti udang rebus kalau seperti ini terus." Kata Kelvin cekikian.
Kelvin merasa sangat bahagia, meskipun hati Kirana belum bisa di isi olehnya, tapi Kelvin akan tetap berusaha yang terbaik buat Kirana.
Kelvin menghembuskan nafas panjang dan senyum sumringah di wajahnya, merapikan pakaian sekolahnya, dan siap untuk berangkat ke sekolah.
"Assalamualaikum.. Pagi guuuuyyyyyssss !!!" Sapa Kelvin menyapa seisi kelasnya.
"Dih kenapa tuh anak , tumben - tumbenan menyapa kayak gitu, biasa juga langsung masuk tanpa sepatah kata pun." Celetuk Gadis.
"Iya yah, liat tuh muka dia.. kayak seneng banget tau nggak." Seru Dinda yang sedang melihat cermin kecil di tangannya dan merapikan rambutnya.
"Haiii, girlssss." Kata Kelvin merangkul Sherill.
"Dihh, apaan sih Lo? Mabuk Lo yahh?" Tanya Sherill menghempaskan rangkulan Kelvin.
"Astaghfirullah aladziiimmmm.. gue menyapa kok di bilang mabuk, jahat banget sih." Kelvin mengusap dadanya dengan kedua tangannya.
"Yahh, habis Lo aneh kayak gitu . Mana muka Lo merah lagi ckckck." Kata Sherill.
"Iya nih, Lo mabuk yahh Vinn? Ya Ampun belum cukup umur udah mabuk - mabukan, ingat Vinn kita tuh masih SMA, kalau mabuk di bawah umur bisa ditangkap polisi loh." Cerocos Gina yang tak berhenti.
"Ehh, buseettt.. Nihh perempuan - perempuan kok mulutnya pada jahat - jahat amat sih, nuduh - nuduh gue yang nggak - nggak. Gue tuhh lagi seneng aja, masa gue seneng di bilang mabuk sih." Kelvin mendengus kesal dan membuang dirinya di bangku miliknya.
"Hahahhah, kok jadi marah sih? Kita semuakan cuma heran aja." Seru Gadis.
"Gitu aja marah, cemen." Kata Dinda yang masih berdandan.
"Hahhaahha." Semua tertawa mendengar ucapan Dinda.
"Lo nggak mau cerita nih, kenapa lo sesenang itu?" Goda Sherill yang berada di samping bangku Kelvin.
"Mau - mau, tapi jangan ketawain gue yahh.. Awas Lo kalian." Kelvin menarik bangkunya keluar sampai berhadapan dengan mereka.
Trriiinggggg triiiingggg triiinggg..
"Ahhh, sialan baru juga mau cerita, udah bell aja." Kata Kelvin kesal.
"Hahahhahah, kasian deh Lo" Seru Gina.
"Hahaha, ntar aja ceritainnya.. pas istirahat, waktu lo masih panjang kok." Ujar Sherill menepukk pundak Kelvin.
"Ishh ya udah deh, ntar gue yang traktir kalian." Kata Kelvin berbisik dan kembali ke posisi bangkunya semula.
"Wahh, kayaknya tuh anak kerasukan setan deh hahahhah." Kata Gadis cekikikan.
"Ssssttt, nanti dia nggak jadi neraktir kita hahhha." Bisik Sherill.
Jam istirahat pun tiba, Kelvin, Sherill, Gadis, Dinda dan juga Gina, keluar kelas bersamaan. Mereka sedang asyik bercanda ria, menelusuri koridor berjalan ke kantin.
"Guuyssss, tungguin dongg." Tiba - tiba Carol datang dan berdiri di samping Kelvin.
Semua hanya diam menatap Carol, dan dengan cepat membalikkan pandangan mereka ke depan lagi.
Kelvin berusaha menghindari Carol, dia tidak ingin menjadi semakin dekat dengan Carol.
"Sherill pinjem hp Lo dong." Kata Kelvin melangkahkan kakinya lebih cepat dan merangkul Sherill agar tidak berjalan di sebelah Carol.
"Isshh, kebiasaan Lo yahh rangkul - rangkul gue." Seru Sherill menjitak kepala sepupunya itu.
"Pleasee, gue nggak mau jalan di samping Carol, ini cuma alasan gue untuk menghindar tau." Bisik Kelvin.
"Hahhahaa, sialan Lo.. kan kas—
"Sssstttttt." Kelvin mencubit Sherill.
"Iya - iyaa hahhaha."
Carol merasakan itu, dia merasakan bahwa semuanya mengabaikannya, tapi dia tidak tinggal diam, Carol mencoba membuka pembicaraan dengan mereka.
"Ehh, Gin seru banget yah pesta kamu semalam. Btw Lo suka nggak sama kado gue?" Tanya Carol berusaha membuka pembicaraan.
"Eh, iyaa makasih banyak yah Carol, gue suka kok." Jawab Gina.
Kelvin duduk tepat di depan Sherill, tapi dengan cepat Carol duduk di samping Kelvin.
"Ohh, tuhaann." Gumam batin Kelvin.
Sherill yang melihat itu, tertawa kecil menatap Kelvin.
Mereka semua pun memesan makanan dan minuman untuk di santapnya siang itu.
"Ehh, Viinn.. gimana tadi cerita Lo? Masih mood nggak Lo buat cerita? Hahah." Ejek Dinda.
"Oh, iya pasti dong." Kata Kelvin menyendok kuah bakso di depannya.
"Ya udah ceritain sekarang." Seru Gadis.
"Jadi, tadi malamkan waktu gue mau bganter Kirana balik, gue nggak langsung balik." Kata Kelvin.
"Lah trus Lo kemana? Kok nggak langsung balik sih?" Tanya Sherill tegang.
"Dihhh, tegang amat.. gue ngajakin Kirana ke pantai, dan dia sangat menyukainya. Makanya gue senang banget, karena bisa membuat Kirana pulang dengan senyuman." Jelas Kelvin.
"Oalahh.. emang sih, Kirana tuh suka banget sama pantai. Dulu kita juga sering banget ke pantai bareng - bareng." Kata Gina.
"Iyaaa, apalagi kalau pantainya bersihh." Seru Dinda.
dihh lebay banget sih nih orang - orang. Bikin jijik aja." Gumam batin Carol seraya meminum es teh manisnya.
"Lo suka sama Kirana Viinn?" Tanya Carol dengan nada yang cukup besar membuat siswa lainnya yang berada di sekitar mereka sontak berbalik ke arah meja mereka.
Carol memang sengaja melakukannya, dia ingin membuat Kelvin bicata yang sejujurnya dan di lihat oleh banyak orang.
"Whhatt?? Kiranaaa?? Kirana mantannya Lo Karel?" Tanya salah satu siswa yang duduk di dekat Karel tak jauh dari mereka.
"Nggak tau deh gue, tanya aja sendiri ke orang yang lagi di tanya sama Carol." Celetuk Karel melirik tajam Kelvin.
"Carol apaan sih Lo? Lo sengaja biar semua orang melihat kesini?" Tanya Kelvin yang sudah naik pitam.
"Nggak.. nggak Vinn, gue nggak sengaja kok. Fikiran gue langsung menuju ke situ, terus tanpa sadar gue ngomong dengan cukup berisik, maaf banget yah Vin." Carol memohon.
"Udah - udah, nanti anak - anak malah makin kepo lagi, nggak usah di lanjutin Vinn. Mungkin kita yang salah ngomongin ini di sini, ntar kita lanjutin lagi." Kata Sherill yang juga menahan amarahnya karena Carol.
"Iyaa lanjutin aja makannya, kasian di anggurin." Seru Dinda.
"Nanti kita janjian di luar aja Vinn, atau nggak ke rumah Kirana, berlima." Celetuk Gina yang sengaja mengucapkan kata berlima, agar Carol tau diri.
"Okeyyy." Seru Kelvin semangat.
Ckk, sialan liat aja.. gue belum bertindak, tunggu kalian akan menghadapi yang lebih dari ini." Batin Carol yang sudah mulai kesal.
Jam menunjukkan pukul 14.30, waktunya sekolah di bubarkan. Kelvin, Sherill, Gadis, Gina dan juga Dinda janjian untuk makan bareng diluar. Sejak Kelvin pindah kelas, Kelvin memang sudah terbiasa untuk bergaul dengan sahabat - sahabat Kirana, terlebih lagi ada Sherill yang tidak lain adalah saudara sepupunya, Kelvin merasa lebih nyaman karena dia bisa mengetahui bagaimana kondisi Kirana setiap harinya.
Sesampainya di restoran, mereka di kagetkan dengan bunyi ponsel mereka yang bunyi secara bersamaan. Kelvin, Gadis, Dinda, Gina, dan Sherill serentak mengecek telephone genggam mereka. Mereka mendapati pesan di grup sekolah mereka.
HOT NEWSSSSS !!!!!
Pasangan romantis yang selama ini bagaikan putri raja, yang hampir 2 bulan ini sudah kelihatan tidak bersama lagi, yapp ternyata Karel dan Kirana sekarang sudah putus, dan yang sangat mengagetkan ternyata Karel dan Kirana sempat melakukan adegan panas di gudang sekolah, dan di saksikan langsung oleh Kelvin. Saat kecelakaan yang terjadi sama Kirana, ternyata Karel cemburu karena saat itu Kirana dan Kelvin berada di satu mobil, mungkin Kirana juga ingin merasakan kemikmatan bersama Kelvin, akibatnya di kasih azhab oleh Tuhan mengalami kecelakaan, dan matanya dibuat buta karena kecelakaan itu.
085325xxxx : "Apa ini benar?"
082344xxxx : "Ah, nggak mungkin.. Kirana cewek baik - baik kok. "
081234xxxx : "Enak dong Karel"
082555xxxx : "Karel sama aku ajaaa, aku juga bisa seperti Kirana"
083354xxxx : "Jangan percaya dulu."
085104xxxx : "Nggak nyangka Kirana cewek seperti itu, ya ampun gue di butakan oleh ke kebaikannya.
087044xxxx : "Bohong nihh pasti, Lo punya bukti nggak?"
Dan masih banyak lagi balasan di dalam grup SMA Negeri 2 Jakarta itu.
Pesan itu di sampaikan menggunakan nomor baru, tidak ada yang tau pengguna nomor itu.
Sherill, Kelvin, Gina, Gadis dan juga Dinda saling menatap.
"Hahh, apaan sih ini?" Teriak Dinda.
"Siapa yang mengirim pesan ini, tega sekali berbicara seperti ini." Kata Gina menghela nafasnya.
"Caroll??" Tanya Sherill.
"Tapi ini nomor baru Sherill." Seru Gadis
"Yahh, bisa aja kan dia pakai nomor baru. Siapa lagi yang tau kejadian di gudang itu kecuali kita semua, ini pasti kerjaan Carol." Kata Sherill.
Kelvin hanya terdiam, dan merasa sangat bersalah atas ini.
"Ini semua salah gue, ini salah gueeee." Kelvin terduduk lemas.
"Tuh kan gue bilang apa jangan percaya Carol, ini semua emang salah Lo Kelvin, yang udah membawa Carol mendekat dengan kita." Kata Sherill mengarahkan jari telunjuknya tepat pada Kelvin.
"Maafin guee." Kelvin menundukkan wajahnya.
"Heiii guysss, Calm down.. itu hanya pesan yang nggak punya bukti. Gue yakin anak - anak di sekolah nggak mungkin percaya gitu aja." Ujar Gadis mencoba menenangkan teman - temannya.
"Tapi Lo liatkan respon anak - anak di grup? Mereka ada yang percaya Dissss." Bentak Sherill yang sangat kebingungan.
"Iyaa gue liat, tapi kita nggak munculkan di grup.. kita sekarang bisa masuk ke grup dan memberi pembelaan kalau semua itu tidak benar, dan kita coba buat tekan ke pemilik nomor itu meminta bukti. Pasti anak - anak yang lain, langsung berfikir ke situ juga, pasti bakalan banyak yang meminta bukti." Jelas Gadis.
"Hmm, bener juga sih kata Lo Diss. Kita bisa coba cara itu, dan kalau emang Carol yang melakukannya kita harus buat dia ngaku." Seru Gina mengigit jarinya.
"Kalian yakin?" Tanya Sherill, wajahnya sangat khawatir.
"Yakin Sherill, ayo kita coba sama - sama. Toh ini semua nggak bener kan? Tuhan pasti ngasih jalan buat kita yang nggak bersalah." Jelas Gadis lagi.
"Baiklahh, semoga saja berhasil.. dan anak - anak nggak akan percaya sama orang jahat ini." Kata Sherill melirik Kelvin.
"Maafin gue yahh." Celetuk Kelvin yang lagi - lagi sangat merasa bersalah.
"Udah Viinn, nggak usah minta maaf lagi. Guysss kita makan sekarang aja dulu gimana? Gue jadi laper banget karena masalah ini." Seru Dinda melebarkan bibirnya tersenyum.
Pengirim pesan itu memang benar Carol, Carol menggunakan nomor baru agar todak bisa di ketahui identitasnya, Carol sempat memikirkan bahwa nantinya dia yang akan di tuduh menyebarkan berita itu di grup sekolah mereka, tapi bukan Carol namanya kalau tidak menyiapkan berbagai alasan dan berbagai cara agar tidak di ketahui dan agar tidak di jauhi oleh Kelvin. Carol tadinya tidak ingin menyebarkan pesan yang isinya kebihongan itu, tapi karena sikap Kelvin dan sahabat - sahabat Kirana hari ini membuatnya marah, maka dia langsung memikirkan untuk menyebarkan hal itu ke grup sekolahnya.
"Karena kalian udah bersikap buruk sama gue, gue juga akan bersikap buruk sama kalian." Gumam Carol yang berada di sebuah Cafe dekat sekolahnya.
Dan ternyata Kelvin, Sherill, Dinda, Gadis dan juga Gina makan bersama di Cafe itu. Carol yang tidak sengaja melihat mereka, bersembunyi di balik tiang tembok yang menghalangi pandangannya.
"Ohh, SHIIITTT !!! Gue emang udah nyiapin berbagai alasan, tapi nggak sekarang juga ketemunya." Carol cepat - cepat mengganti kartu ponselnya dan menyimpan kembali kartu ponsel yang tadi dia gunakan untuk mengirim pesan itu.
"Permisi mba.. ini pesanannya." Kata seorang pelayan yang baru saja mendatangi meja Carol.
Carol kaget, berbalik dan tidak sengaja menyambar gelas yang baru saja di antarkan, ponsel miliknya pun jatuh, akhirnya menimbulkan suara gaduh yang membuat semua pelanggan tertuju ke meja Carol.
"Aduhh, maaf mba saya nggak sengaja." Kata Carol yang berbicara sambil menunduk, dia tidam ingin di lihat oleh Kelvin ataupun yang lainnya.
"Tunggu saya bersihkan mejanya yah Mba." Kata pelayan itu.
"Iya - iya Mba." Kata Carol dan sedikit melirik ke arah meja Kelvin, dan tidak sengaja mata Carol dan mata Sherill saling bertatapan.
Carol langsung memalingkan wajahnya dan bermain sendok.
"Shiittt shiitt !!! Dia ngeliat gue nggak yahh ?!" Aahhh, tenang Carol tenang."
Carol berusaha menenangkan dirinya, dan pindah ke kursi sebelahnya dekat jendela agar tidak kelihatan oleh mereka.