Disa tidak terima Sherill berbicara seperti itu.
“Apa yang gue nggak tau? Gue tau semua tentang Carol. Dan gue juga tau tentang kalian semua, bagaimana kalian memperlakukan Carol dengan buruk selama ini.” Ujar Disa.
“Apaaa?? Kita memperlakukan Carol dengan buruk? Helloowwww Lo dari mana aja? Apa Lo nggak tau sifat dan apa aja yang sudah di lakukan oleh yang katanya teman baru Lo ini ????” Tanya Dinda.
“Gue tau, gue tau semuanya.. tapi Carol sudah meminta maaf sama kalian berkali - kali, kalian memang memaafkan Carol, tapi kalian tidak mengizinkan Carol untuk berada di dekat kalian, dan kalian memperlakukan Carol bagai hantu yang tidak terlihat sama sekali di kelas.” Ujar Disa.
Disa adalah siswa pindahan dari kelas 2 - 4 akibat rollingan kelas. Disa di kelasnya yang dulu tidak banyak bergaul, dia tipe anak yang pendiam, dan kurang update tentang masalah - masalah apa saja yang terjadi di dalam lingkungan sekolahnya, jadi Carol melihat kesempatan itu, mendekati Disa untuk dia manfaatkan. Disa sudah di pengaruhi sangat banyak oleh Carol, Disa percaya akan semua yang dikatakan oleh Carol.
“Wahh wahhh.. kayaknya Lo anak yang kudet yah Disa? Coba lo tanya deh anak - anak yang yang menonjol di sekolah ini, anak - anak yang tau semua informasi apa saja yang terjadi di kelas ini, coba Lo tanya bagaimana kelakuan Carol, Lo nggak bisa hanya melihat dari satu sudut pandang saja. Kalau Lo tau yang sebenarnya, gue juga ragu kalau Lo masih bisa berteman dengan Carol.” Ujar Gadis.
“Tapi mungkin aja sihh dia udah tau, dan mungkin aja sifatnya dia nggak jauh beda dengan Carol.” Celetuk Gina.
“Apaa?? Maksud kalian apa? Jangan menyamakan orang lain seperti itu, karena sifat orang berbeda - beda. Dan kalian nggak punya hak untuk ngelarang gue berteman dengan Carol.” Seru Disa yang sudah mulai emosi.
Carol sesekali tersenyum melihat Disa yang dengan bodohnya terus membela dirinya.
“Hahahha.. nggak salah nih anak gue manfaatin.. ternyata cukup pintar.” Batin Carol yang sangat puas mendapat teman seperti Disa. Bukan teman sih, tapi sebagai kacungnya.
“Sudah lah, kita buang - buang waktu tau ngurusin hal - hal nggak penting gini.” Ujar Gina.
“Maksud kalian Carol nggak penting??” Seru Disa.
“Iya.. Carol nggak penting.. kenapa ???” Ujar Gina.
Perseturuan itu akhirnya berhenti karena bell masuk jam pelajaran sudah berbunyi, kalau tidak perseturuan mereka tidak berhenti sampai ada salah satu yang mengalah.
Hari - hari damai kelas itu sudah tidak ada lagi, karena Carol sudah mulai kembali merusak suasana kelas itu.
“Ke rumah Kirana yuk?” Ajak Gadis.
“Oh iya ayok, btw lusa kan ulang tahun Kirana. Kasih surprise apa yah buat dia?” Tanya Gina.
“Emang iya ulang tahun Kirana lusa?” Tanya Kelvin tersenyum.
“Iyaaa.. kenapa Lo senyum - senyum gitu?” Ejek Sherill.
“Nggak kok.. nggak papa..” jawab Kelvin menyembunyikan senyumannya.
“Kita makan dulu yuk di cafer depan sebelum ke rumah Kirana, gue laper banget nih” ajak Dinda.
“Ya udah ayok.”
Mereka semua singgah di Cafe depan sekolahnya, untuk makan siang sebelum berkunjung ke rumah Kirana. Di Cafe yang lumayan ramai itu, mereka mengambil tempat duduk di pojokan yang cukup sejuk. Ada banyak siswa - siswa sekolah lain yang sedang nongkrong di cafe itu.
“Vinn gimana tadi? Kok bisa Carol bisa ngomong sama Lo? Dan Disa bisa bilang Lo nggak punya hati?” Tanya Sherill.
“Hahh, sumpah gue kira bakal tenang - tenang aja tau tadi di kelas seperti biasanya. Ternyata dia mendekati gue lagi. Tadi itu gue lagi duduk - duduk aja di bangku gue, lagi dengerin musik. Emang sih suasana kelas tadi lumayan sepi. Dia nanya, gue masih marah atau nggak sama dia. Tapi nggak gue gubris, gue langsung berdiri ninggalin dia.” Jelas Kelvin.
“Kenapa Carol gangguin Lo lagi sih? Selama ini kita damai - damai aja. Ada apa lagi sih cewek itu.” Ujar Gadis.
“Ntah lahh gue juga bingung, gue kira dia udah nggak mau gangguin gue lagi. Ternyata masih, dan sangat drama, malahan sekarang di udah ada Disa yang siap membelanya kapan saja. Apa kita keterlaluan selama ini? Tadi dia juga ungkit - ungkin kalau dia udah minta maaf sana kita, tapi kita masih memperlakukan dia dengan seperti ini. Kalian denger sendirikan juga tadi apa kata Disa?” Tanya Kelvin.
“Iya sihh.. apa bener sikap kita udah keterlaluan?” Tanya Dinda.
“Coba deh kalian fikir, selama ini kan kita hanya menghindar dari dia, toh mita juga nggak ngelakuin hal jahat sama dia. Letak keterlaluan kita dimana sih? Kita juga nggak minta semua anak - anak yang ada di kelas untuk tidak berteman dengan Carol kan? Mereka sendiri yang nggak mau berteman dengan Carol. Mereka semua juga pasti tau mana yang benar dan mana yang salah.” Jawab Gadis.
“Hmmm.. nggak tau dehh.. tapi Gadis ada benernya juga sih.” Kata Gina.
“Kalau menurut gue sih, lebih baik seperti ini saja. Berbicara seperlunya dengan Carol, kalaupun nanti kita ada satu kelompok dengannya yahh bicara aja seperlunya, tidak perlu yang bagaimana - bagaimana. Karena kalau seperti itu, pasti Carol akan mengambil kesempatan dalam kesempitan lagi.” Ujar Sherill.
“Tapi, kalau Lo Vin.. terserah sih mau gimana, kalau Lo udah bersikap baik sama Carol, yah Lo coba aja buat berteman lagi sama dia. Kan dulu Lo juga yang yakin kalau Carol bakalan berubah.” Kata sherill lagi.
“Hmmm.” Kelvin menghela nafasnya sembari meminum es Melon yang ada di depannya.
Sherill, Gadis, Gina dan juga Dinda masih tidak ingin membuka hati dengan berteman dengan Carol. Mereka masih tidak mau, kalau suatu saat nanti akan terjadi sesuatu lagi kalau mereka membuka hatinya dengan Carol. Kelvin masih ragu, karena Kelvin fikir sifatnya keterlaluan dengan Carol. Dia juga merasa bersalah kalau mimirkan apa yang di katakan Carol dengannya.
Sedangkan Karel, kehidupan Karel di kelas 3 ini sudah menjadi lebih baik, Karel sudah mulai bangkit dari kesedihannya. Fokus dengan semua pelajaran - pelajaran di kelas 3 ini. Tetapi masih tetap saja dalam lubuk hatinya yang paling dalam masih ada Kirana, dan Kirana tidak akan pernah terganti di hidup Karel. Sesekali ada cewek dari kelas lain yang mencoba mendekati Karel, tapi Karel tidak ingin berhubungan dengan siapapun.
Suatu hari Karel mencoba datang ke rumah Kirana, sampai di depan rumah Kirana, Karel hanya memandang balkon kamar Kirana yang terbuka, tidak mau masuk dan mengganggu Kirana lagi sesuai apa yang dia ucapkan terakhir kalinya. Karel masih berusaha untuk move on dari Kirana.
*****
Setelah makan siang, mereka semua ke rumah Kirana sebelum hari semakin sore.
“Kiranaaa sayangg.” Sapa Gina yang melihat Kirana duduk di taman depan rumahnya yang rindang.
Kirana tampak lebih sehat, lebih cantik dan lebih bersemangat dari biasanya.
“Haiii.. gimana hari - hari kalian sebagai kelas tiga? Ciee udah jadi kakak senior.” Kata Kirana berdiri menyambut sahabat - sahabatnya.
“Hahaha.. apanya yang kakak senior sih Naaa.. kita malah sibuk belajar, terus hari ini si Carol mengganggu kehidupan kita lagi.” Jawab Gadis.
“Loh kok bisa ?? bukannya dia udah cuek sama kalian??” Tanya Kirana. “Masuk di dalam yuk” Kirana menyuruh sahabat – sahabatnya masuk ke dalam rumahnya.
“ Hmm, bukan kita sih Naa yang dia gangguin, tapi dia mulai mendekati Kelvin lagi.” Jawab Sherill sembari berjalan masuk ke dalam rumah Kirana.
“oh, Terus Kelvin sekarang dimana? Kok tumben nggak ikut kalian ke sini?” Tanya Kirana lagi yang sedikit khawatir.
“Tadinya dia juga mau ikut kesini, tapi ada telepon dari mamanya minta di anter ke rumah tantenya.” Jawab Sherill.
“eh, Naa dan Lo tau nggak Carol sekarang sudah punya teman yang siap ngebelain dia kapanpun. O tau nggak Disa dari anak kelas 2 – 4 ? “ ujar Dinda.
“Hah? Yang mana? Aku nggak tau orangnya.” Jawab Kirana.
“hmmm.. wajar sih yahh Lo nggak tau, kita aja juga baru tau semenjak dia masuk di kelas kita.” Ujar Gina.
“Tapi baguskan kalau Carol sekarang udah punya teman, Carol udah nggak kesepian lagi. Kasian juga kalau masa – masa di sekolah yang tinggal sedikit lagi harus di lewati tanpa teman.” Ujar Kirana memberi pengertian ke sahabat – sahabatnya.
“hmmm.. udah gue duga kalau Kirana bakal ngomong kayak gitu.” Seru Gadis sambil minum soda yang di barusan di antarkan oleh Bi Sri.
“hahaha.. iya yahh Kirana mah dari dulu kayak gitu.. Tapi Lo nggak tau Naa.. gimana Disa sampai ngebelain Carol tadi. Sumpah yahh, dia kayaknya udah di pengaruhi banyak sama Carol, sampai bisa percaya begitu saja dengan Carol ckckckk.” Ujar Gina yang juga menuangkan soda ke dalam gelasnya.
“Nggak papa guysss.. yang penting Disa dan Carol masih dalam batas wajar kan? Nggak membuat ulah seperti dulu lagi.” Ujar Kirana.
“ iya Naa.. semoga aja nggak. Kita semua nggak mau kalau masa – masa kita di kelas 3 masih saja ada nama Carol yang terus – terusan ingin masuk ke kehidupan kita.” Ujar Sherill mulai mengambil posisi tidur di sofa yang sangat nyaman di rumah Kirana.
“semoga aja dehh.” Seru Dinda.
“Tapi gue bingung deh, kok dia sampai segitunya yah ingin berteman sama kita. Kita kan di sekolah nggak populer – populer amat, kenapa dia sampai segitunya ingin dekat dengan kita yah?” Tanya Gina.
“Hahahah, Lo aja kali yang merasa nggak populer.. Kalau gue sih emang popular. Hahahaa” Ujar Dinda tertawa terbahak – bahak. Karena di sekolah mereka semua memang sangat terkenal di kalangan kelas mana pun karena mereka mempunyai paras juga cantik dan pintar – pintar seperti Kirana.
“Hahahahah.. sialan Lo.” Seru Gina melemparkan ikat rambutnya ke Dinda.
Sahabat – sahabat Kirana hari itu, menyampaikan semua keluh kesahnya saat berada di sekolah. Perasaan mereka kalau sudah bercerita dengan Kirana sangat nyaman, karena Kirana adalah pendengar yang baik, dan kalau mereka membutuhkan saran, pasti Kirana akan memberi saran yang terbaik untuk mereka lakukan.
“BTW Naa.. gimana Karel? Apa dia udah nggak pernah datang lagi nemuin Lo?” Tanya Sherill.
“Setau aku nggak sih. Dia udah nggak pernah nyariin aku lagi, dia memegang ucapannya untuk tidak menemuiku lagi.” Jawab Kirana tersenyum.
“Maaf yah Naa, kalau pertanyaan gue ini nggak bagus buat Lo dengar. Hmm, apa Lo udah ikhlasin semua yang terjadi Naa? Kalau di ingat – ingat lagi rasanya dulu Lo sama Karel bagaikan pasangan yang sangatlah di sanjung – sanjung oleh orang – orang.” Ujar Gadis yang sangat penasaran dengan persaan sahabatnya itu.
“iya Naa.. gue juga pengen tau jawaban Lo apa.” Kata Gina.
“Guyyssss !!! ngapain nanya seperti itu sih? Kok kalian seperti menyayangkan apa yang sudah terjadi dan seakan – akan kalian ingin Karel dan Kirana kembali seperti dulu.” Ujar Sherill bangun dari posisi tidurnya.
“Nggak gituu.. Gue Cuma mau tau gimana perasaan Kirana yang sebenarnya. Gue nggak mau Kirana tersiksa, kalau harus memendam perasaannya yang sebenarnya.” Jawab Gadis.
Gadis tidak ingin melihat Kirana bersedih karena harus memendam perasaannya, Gadis berfikir kalau memang Kirana masih ingin bersama dengan Karel.
=====