Episode 51

1756 Kata
Di pantai yang terlalu banyak suara, aku bisa menebak semuanya dengan cara menutup mataku ini yang tidak bisa melihat, dan fokus mendengar suara - suara yang ada di sekitarku. “Makasih banyak yahh Kelvin.” “Makasih buat apasih Naa?” “Makasih karena kamu mengajariku untuk bisa mengenali dan merasakan suatu keadaan dengan caramu.” “Iyaa Naaa.. ini semua aku lakukan agar kamu bisa lebih hidup lagi, meskipun kamu tidak bisa melihat, aku yakin kamu mampu untuk melihat dengan cara lain. Sekarang kamu nggak boleh merasa putus asa lagi, kamu cukup lebih bersabar dan berjuang lagi Naa.” “Siap Tuaannn. Aku akan berusaha semampuku.” “Hahaha anak pintar. Nahh, sekarang kamu mau makan apa? Aku akan beliin buat hadiah kamu karena sudah jadi anak yang pintar.” “Puuuffffftttt.. emang aku anak kamu apa?” “Hahah, nggak sih.. kamu itu bukan anakku, tapi ibu dari anak - anakku.” Kelvin mengecilkan suaranya saat bilang seperti itu. “Apa Vinn?” Tanyaku. Padahal aku bisa mendengar semuanya dengan sangat jelas. “Hahaha.. nggak apa - apa kok Naa.. kamu mau makan apa nih? Banyak jajanan di sini Naa.” “Makan yang manis - manis aja Vinn.. sama minuman yang seger pake banget yahh.” “Okeeyyy, kamu tunggu di sini yahh.” Kelvin membantuku duduk, di sebelah sepedanya di parkir. Semenjak hari itu Kelvin semakin dekat denganku, menghabiskan waktu libur sekolahnya selama dua minggu hanya untuk terus menemuiku. Kelvin sangat sering datang ke rumahku, mengajakku jalan - jalan, mambantuku lebih mandiri berjalan dengan tongkatku, mambantuku merasakan semua keadaan yang ada, dan membuatku agar tidak merasa menjadi orang yang tidak mempunyai semangat hidup lagi. Suatu hari Kelvin bertanya kepadaku, apa nanti saat aku melihat, aku akan kembali dengan Karel? Atau mungkin mulai berpacaran dengan orang lain? Yahh aku jawab saja kalau itu mungkin saja, karena kita tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Mendengar jawabanku kurasa Kelvin kecewa, mungkin Kelvin ingin mendengar jawabanku yang mengatakan kalau aku pasti akan bersamanya karena Kelvin lah yang selama ini ada denganku. Aku ingin mengatakan itu, tapi aku malu, aku takut kalau saja bukan jawaban itu yang dia harapkan, aku takut kalau itu akan membuat Kelvin Ilfil dan tidak ingin datang lagi menemuiku, seperti apa yang pernah aku bilang ke Papa dan Mamaku. Tapi sekarang aku tau, kalau Kelvin menyukai dari semua sikap yang dia tunjukkan kepadaku, perhatian - perhatiannya membuatku semakin yakin kalau Kelvin menyukai, dan aku tidak tau kenapa dia tidak mengungkapkan perasaannya kepadaku. Itulah juga yang membuatku ragu untuk mengatakan bahwa aku juga sekarang sadar kalau aku menyukai Kelvin. *udah dulu yah Kirananya. Sekarang giliran Author hihi. ***** AUTHOR POV Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Jakarta Libur setelah ujian semester telah usai, hari ini adalah hari pertama bagi siswa - siswi Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Jakarta menjalani kehidupan sekolah yang baru karena sudah menaiki kelas yang baru lagi. “Gooodddd Mooorrrrrniiiingggggggg.” Teriak Dinda. “Waaahhhh sepertinya kita semua nggak boleh di pisahkan deh hahahah.” Seru Sherill. “Kita semua satu Kelas lagi, senangnyaaaaa !!!!” Ujar Gina memeluk Dinda, Sherill dan Gadis. “Hahahah.. iyaa bener. Eh btw Kelvin gimana? Liat coba daftar namanya.” Sherill berjalan ke depan pintu kelas yang sudah di tempeli kertas hvs yang berisi nama - nama siapa saja yang ada di kelas 3 3 tersebut. “Inii Rill.. Kelvin juga satu kelas kok dengan kita, teman - teman yang lain juga nggak banyak pisah kok. Apa mungkin nggak banyak perubahan yah tahun ini? Apa gimana yah?” Ujar Gadis yang masih memperhatikan kertas pengumuman itu. “Kayaknya sih yahh, nggak banyak berubah.” Kata Sherill. “Ehh guysss tunggu tunggu.. kalau gitu— Gina belum selesai menyelesaikan ucapannya, terlihat Carol dari kejauhan berjalan menghampiri mereka. “Guyss guysss..” Mata Gina terus tertuju ke arah Carol yang sedang berjalan. Gadis langsung tau apa maksud Gina setelah melihat arah mata Gina. “Guyssss Carol satu kelas lagi dengan kita.” Ujar Gadis pelan melihat nama Carol yang juga ada di kertas pengumuman itu. “Whaaatttt??” Teriak Sherill. “Orangnya datang tuh.” Celetuk Gina. Carol yang sudah sampai di depan kelas, melihat kertas pengumuman itu hanya sekilas dan berjalan santai masuk ke dalam kelas dan memilih tempat duduk yang ingin ia dudukki. “Woiii !!! Ngapain diemm?? Udah.. kita juga harus cari tempat duduk yang aman.” Seru Dinda. “Nggak Diiinn.. kita tunggu sampai bell bunyi, baru kira ambil tempat duduk.” Jawab Sherill. “Loh kok gitu, nanti kita dekat dengan cewek gila itu lagi.” Ujar Dinda. “Iya Rill, kita cari tempat duduk sekarang aja.” Kata Gina. “Nggak guyss.. coba deh kalian pikir - pikir lagi. kalau udah bell kan, dia udah nggak bisa pindah - pindah tempat lagi. Dan dia nggak bisa ngikutin kita kalaupun dia emang mau duduk di dekat kita.” Jelas Sherill. “Wihh Sherill pinter banget deh hahah.” Seru Dinda. “Iya dooongg.. Sherill gitu lohh. Btw kok Kelvin belum datang - datang juga sih. Dia udah tau belum yah kalau kelas kita di sini.” Ujar Sherill melihat jam tangannya. “Coba Lo hubungin aja Rill, sapa tau aja dia kebingungan nyari kelas.” Jawab Gadis. Sherill, Gadis, Gina dan Dinda duduk di tempat duduk beton depan kelas mereka dan masih memakai tas masing - masing sambil menunggu Kelvin dan menunggu bell masuk berbunyi. “Assalamualaikuummmm.” Sapa Kelvin. “Walaikumsalam.. dari mana aja Lo? Baru juga mau gue hubungin.” Ujar Sherill memgang ponselnya. “Gue keliling - keliling nyari nama gue di semua kelas, ehh ternyata di sini.” Jawab Kelvin. “Iya di sini.. dan kita bareng Carol lagi.” Bisik Gina di telinga Kelvin sambil tertawa. “Beneran?!” Tanya Kelvin kaget. Kelvin tidak mau satu kelas lagi dengan Carol. “Beneran.. liat aja list namannya tuh.” Gina menunjuk kertas pengumuman di depan pintu kelas. Kelvin pun berbalik dan membaca perlahan semua nama yang tertulis di kertas itu. Kelvin sangat terkejut karena harus satu kelas lagi dengan Carol. “Guyss gimana dong? Apa gue minta di pindahin aja?” Tanya Kelvin dengan raut wajah yang sudah mulai kesal. “Hahahha.. nggak usah kesal begitu Kelvin. Nggak papa, kemarin sepertinya kita lupa kalau kita udah kelas 3 pasti akan sulit untuk meminta pindah kelas. Toh guru juga nggak mau di repotkan dengan harus mengganti - ganti absen, Lo liat aja nggak banyak yang berubah kan dari daftar teman - teman kita waktu kelas 2? Guru - guru kelas 3 pasti sudah nggak mau di pusingkan dengan hal - hal sepele seperti ini, mereka pasti fokus dengan pembelajaran kita, ujian - ujian kita, karena kita udah kelas 3.” Jelas Sherill. “Terus gue harus menerima perlakuan aneh lagi dari Carol dong.” Ujar Kelvin menyilangkan ke dua tangannya. “Nggak.. Lo harus ngebentengin diri Lo sendiri dari gangguan cewek itu. Masa Lo nggak bisa sih.” Ujar Sherill.  "Bener tuh Vinn.. masa Lo sebagai laki - laki nggak bisa tegas sih. Kalau nggak mau yah bilang nggak mau, kan Lo udah ngomong baik - baik sama dia, ngasih dia pengertian, kalau dia nggak ngerti juga baru Lo ambil tindakan." Ujar Gadis. "Iya iya.. gue pasti bisa. Tapi semoga aja dia nggak gangguin gue, gue mau fokus belajar. Gue nggak mau nantinya cuma gara - gara cewek itu nilai - nilai terakhir gue di sekolah malah jadi jelek." Kata Kelvin menaikkan satu kaki kanannya ke kaki kirinya. Trrriiingggg trriiingggg trriiinggg.. Bell yang sudah dari tadi mereka tunggu, akhirnya berbunyi. Sherill dan Dinda duduk bersama di bangku deretan ke dua, Gadis dan Gina duduk bersama di bangku deretan ke empat, dan Kelvin duduk bersama Andi yang juga teman kelas sewaktu kelas dua. Mereka semua jauh dari posisi duduk Carol yang berada di ujung kelas. Hari demi hari mereka lalui sebagai anak kelas tiga dengan tentram dan damai. Sampai akhirnya Carol datang lagi menghampiri Kelvin yang tengah asyik duduk sendirian di temani ponsel dan headshet yang ada di telinganya. "Haiii.. Vinn.. udah lama yahh." Carol duduk di sebelah Kelvin. Kelvin tidak menggubris Carol, Kelvin tetap tenang mendengarkan musik yang sedang dia mainkan di ponselnya seakan - akan dia tidak mendengar ucapan Carol. "Apa kabar Vin? Lo masih marah sama gue?" Tanya Carol sambil membuka satu headshet di telinga Kelvin. "Ckk.. ganggu aja sih Lo." Kelvin melirik tajam Carol sambil berdiri dari tempat duduknya. "Viinnn.." Carol menahan tangan Kelvin untuk tidak berdiri. "Lepasin gue, sebelum gue kasar yah sama Lo." Ujar Kelvin sangat marah. Carol perlahan melepaskan tangan Kelvin, dan membiarkan Kelvin berdiri dari tempat duduknya. "Kelvin kok Lo jahat banget sih ngomongnya sama Carol, dia kan ngomomg baik - baik sama Lo." Ujar Disa, sebut saja teman baru Carol yang tidak tau apa - apa tentang Carol. Kelvin hanya melirik Disa dengan tatapan sinis dan berjalan keluar dari pintu. Carol tidak tinggal diam, karena suasana kelas yang cukup sepi tidak ada Sherill, Gadis, Gina dan Dinda yang bisa mengganggu rencananya untuk mendekati Kelvin lagi, Carol berlari mengejar Kelvin. "Kelviiinnn.. pleasseee !!! Selama ini gue cukup sabar untuk menerima perlakuan buruk Lo bersama teman - temannya Kirana itu. Apa Lo nggak sadar Vin? Di sini posisinya gue yang tersakiti bukan Kirana !!! Gue udah minta maaf sama Lo, minta maaf sama teman - temannya Kirana itu, tapi apa balasan kalian ??? Kalian terus menjauhi gue, sepertinya di tubuh gue ini ada virus yang siap menyerang kalian kapan saja. APA LO NGGAK SADAR AKAN SEMUA ITU KELVIN ??? Gue kira Lo orang yang paling baik yang pernah gue temuin, tapi ternyata Lo sama aja sama yang lain. Melihat gue dengan tatapan sinis, atau bahkan nggak mau melihat sedikitpun ke arah gue. Gue kecewa sama Lo Vinn." Carol mengeluarkan semua curahan hatinya sambil menangis di depan beberapa teman sekelasnya yang berada di dalam kelas. Ada beberapa siswa yang sangat menyayangkan sifat Kelvin ke Carol, tapi ada juga yang mendukung Kelvin untuk lebih baik bersikap seperti itu terhadap Carol. "Caroll.. Lo jangan nangis, cowok seperti ini nggak pantas untuk Lo bersikap baik dengannya. Dia nanti semakin nginjak - nginjak Lo tau nggak." Kata Disa sambil merangkul bahu Carol. "DASAR COWOK NGGAK PUNYA HATI !!!" Ujar Disa melirik tajam Kelvin. Carol tersenyum licik di balik tangisannya. "Wah wah wah.. apa - apaan nih? Nggak salah dengar kan gue? Lo tadi di katain apa Vin?" Tanya Sherill yang baru saja datang dari kantin. "Katanya Kelvin nggak punya hati Rill. Hahhaha." Seru Dinda. Kelvin selalu saja berada di situasi seperti ini. Selalu ada Sherill dan yang lainnya membantunya lepas dari gigitan cewek ular itu. "Lo diem aja Vin di katain seperti itu?" Tanya Gina. "Nggak mungkin gue baleskan? Dia kan cewek masa iya gue adu mulut sama cewek, nanti gue di kira banci lagi." Kelvin menanggapinya dengan santai. "Wihh.. Kelvin pintar dehh.. emang bagus Lo nggak bales, karena kalau Lo bales juga nggak papa sih, semua orang yang ada di dalam kelas ini tau bagaimana sifat Carol selama ini. Cuma anak ini nih, yang nggak tau apa - apa dan dengan begonya ingin berteman dengan Carol." ujar Gadis. =====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN