Karel berusaha untuk tidak memaksakan kehendeknya dengan Kirana, dan perlahan - lahan mengikhlaskan apa hubungannya dengan Kirana meskipun semua itu sangat sulit bagi Karel. Semenjak saat itu Karel berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menikah dengan orang lain kecuali Kirana sudah menikah lebih dulu dari dirinya.
"Baiklah kalau begitu aku pulang yahh Naa.. maafin aku, maaf Naa. Aku mungkin nggak akan datang lagi dan mengganggu hidupmu, tapi aku tetap menunggumu sampai kapanpun." Rasanya sesak sekali di d**a Karel, air matanya perlahan - lahan mulai membasahi pipinya.
Kirana merasakan apa yang Karel rasakan, tapi rasa kecewa terhadap Karel lebih besar dari rasa sedihnya.
"Boleh aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya Naa?" Tanya Karel terbata - bata karena menangis.
"Hmm." Kirana menjawab menandakan iya mengizinkan Karel untuk memeluknya.
Saat Karel memeluk Kirana, tangisnya mulai pecah. Karel tidak bisa berkata apa - apa lagi, diam hanya dia dan terus memeluk Kirana.
Sherill, Gadis, Ginda, Dinda dan Kelvin bersembunyi karena ingin mendengar percakapan Kirana dengan Karel. Walaupun itu sangat tidak sopan, tapi karena mereka hanya berjaga - jaga agar Kirana bisa langsung di bawa masuk kalau saja terjadi apa - apa setelah berbicara dengan Karel.
"Huhuhuhu.. sedih bangettt.. kok kisah mereka jadi seperti ini sih. Padahal dulu mereka sangat saling mencintai." Celetuk Dinda yang terharu mendengar semua percakapan Kirana dan Karel.
"Sssttttt.. nanti kedengeran lohh.." ujar Sherill.
"Kembali aja yuk, kita ngobrol di dalam. Jangan di dengar lagi, nggak sopan." Ujar Gadis.
"Iya masuk yuk." Kata Gina.
Mereka semua kembali ke ruang tengah.
"Sudah Yah Karel.." Kirana melepaskan pelan pelukan Karel.
Karel mengusap air matanya.
"Aku balik yah Naa, jaga kesahatan kamu." Karel menatap wajah Kirana dengan cukup lama.
"Iyaa, hati - hati." Ujar Kirana pelan.
"Iyaa.. aku sayang kamu Naa.. sampai kapanpun, aku nggak akan pernah ngelupain kamu Naa." Kata Karel beranjak keluar dari rumah Kirana dengan hati yang sangat hancur.
Kirana duduk terdiam, di terasnya cukup lama. Hatinya juga sangat hancur, membayangkan kenapa semua ini bisa terjadi. Di terasnya Kirana terisak pelan, agar tidak di ketahui oleh sahabat - sahabatnya kalau dia lagi menangis.
"Kiranaa.. kamu nggak papa?" Tanya Kelvin yang menyadari Kirana masih duduk lama sendiri di terasnya.
"Eh, iya Vin. Aku nggak papa." Ujar Kirana tersenyum menyeka air matanya.
"Boleh aku bicara Naa?" Tanya Kelvin sembari duduk di kursi samping Kirana.
"Iya vin ngomong aja." Ujar Kirana.
"Ehh, nanti aja deh Naa.. nggak enak sama yang lain nanti kelamaan." Kata Kelvin.
"Oh oke Vin.. masuk yuk." Kirana berdiri dari kursinya di bantu Kelvin masuk kembali ke dalam rumahnya.
"Naaaa.. gimana Karel?" Tanya Dinda.
"Udah pulang.." Kirana duduk di sofa dekat Dinda.
"Kamu nggak papa kan Naa?" Tanya Sherill.
"Nggak papa kok Sherill.. aku juga udah ikhlas dengan keadaanku yang sekarang." Kata Kirana.
"Tapi apa kamu bisa melupakan Karel seperti itu Naa?" Tanya Dinda.
"aku nggak mungkin bisa ngelupain Karel, setelah apa yang semua dia lakukan sama aku. Kenangan baik, apalagi kenangan buruk sudah melekat di ingatanku. Tapi mungkin saja suatu saat aku bisa melihat, dan tidak pernah ketemu Karel lagi, insyaAllah aku bisa melupakannya dan lebih ikhlas lagi." Ujar Kirana.
"Kamu pasti bisa Naa, kami juga sangat menyayangkan semua yang telah terjadi antara kamu dan Karel." Ujar Gina.
"Iya Naa.. sedih banget aku kalian jadi seperti ini. Haaahh.. sifat Karel kenapa bisa berubah jadi seperti itu sih dulu.. sampai berbuat kecelakaan seperti itu." Ujar Dinda.
"Dindaaaaaa.. nggak usah di perjelas lagi.. kita semua harus bisa ngelupain kejadian itu, agar Kirana juga tidak selalu mengingat kejadian itu." Ujar Sherill.
"Maafin aku.. seandainya saja aku tidak muncul di kehidupan kalian, mungkin Kirana masih bersama Karel sekarang dan masih berbahagia bersama Karel." Kelvin merasa sangat bersalah, selalu di hantui rasa bersalah meskipun semuanya bilang kalau itu bukan salahnya.
"Kelviinnn.. sudah berapa kali kita bilang kalau ini semua bukan salah kamu, mungkin ini sudah jalannya yang Tuhan berikan." Kata Kirana.
"Iya Vinn.. sudah lah, berhenti berfikir seperti itu. Sekarang kita harus lebih mengikhlaskan dan menjalankan semuanya dengan sepenuh hati." Ujar Sherill.
"Hmmm.. iyaa." Kata Kelvin.
Satu harian mereka menghabiskan waktu di rumah Kirana. Dengan situasi yang lumayan sedih, mereka semua mencoba menghibur Kirana. Kirana juga tidak ingin terlihat sangat sedih di depan sahabat - sahabatnya dan juga Kelvin.
***
KIRANA POV
Malam itu setelah semua sahabat - sahabatku dan Kelvin pulang, aku kembali merasa kesunyian kembali datang, rasanya sangat sepi di dalam kamarku. Rasa sesak di dadaku muncul akibat mengingat ucapan Karel tadi siang. Kenapa dia melakukan hal yang tidak terduga seperti itu, dan dia meninggalkan kesedihan begitu dalam bagi dirinya. Aku bisa merasakan rasa sedih yang di alami Karel saat berbicara denganku tadi. Kelvin juga selalu di buat merasa bersalah dengan kejadian ini, karena alasan Karel kemarin adalah cemburu dengan Kelvin. Ini semua bukan salah siapa - siapa, benar kata Mama ini mungkin sudah jalan Tuhan yang di berikan untuk kami semua, karena Tuhan ingin melihat bagaimana kami semua bisa menerimanya. Setiap malam aku menanamkan di dalam diriku untuk tidak mengeluh dengan semua ini.
Di dalam kamarku yang besar ini, aku semakin merasa kesepian. Tidak ada yang bisa ku lakukan. Hanya terus memikirkan bagaimana kehidupanku nantinya, apa aku bisa melihat kembali? Apa aku bisa menemukan kebahagiaan di dalam hidupku lagi?
Tokk tookkk tokkk..
"Naaa sayanggg. Mama sama papa masuk yahh." Ujar Mama
"Iya Maa.. masuk saja."
"Kamu lagi ngapain sayang?" Tanya Papa
"Nggak ada Paa.. Kirana juga bingung mau ngelakuin apa."
"Hmm.. kita turun yuk Nak." Ujar Mama.
"Ngapain Maa? Kirana mau istirahat aja." Aku berjalan ke balkon kamarku.
"Ya sudah Nakk.. kamu istirahat aja kalau begitu. Jangan banyak fikiran yah sayang." Kata Papa menyusulku ke balkon.
"Iya Paa.. nggak kok.."
"Mama dengar Karel tadi datang lagi yah sayang?" Tanya Mama.
"Iya Maa.. dia datang katanya untuk yang terakhir kalinya. Dia bilang dia tidak akan mengganggu kehidupan Kirana lagi."
"Hmm.. sepertinya dia sudah mulai ikhlas." Kata Papa.
"Iya Paa.. baguskan kalau seperti itu, kalau dia datang terus aku bisa terus - terusan mengingat kejadian yang sudah mengambil penglihatanku ini. Yahh, meskipun dalam lubuk hati Kirana yang paling dalam masih sering mengingat hal - hal indah bersama Karel, tapi Kirana juga sudah tidak bisa bersamanya.
"Kamu pasti bisa melewati semua itu nak." Mama memelukku.
"Iya Maa.. Kirana berusaha untuk melewati semua ini dengan ikhlas."
"Kalau begitu kamu istirahat yah sayang, jangan lupa jendelanya di tutup." Kata Papa sembari mencium keningku.
"Mama sama Papa turun yahh." Mama juga mencium keningku.
*****
Esoknya pagi - pagi sekali Kelvin datang ke rumahku, bibi sangat heboh membangunkanku, katanya Kelvin datang ke rumah sepagi ini membawa bucket bunga mawar yang sangat besar dengan menaiki sepeda yang ada keranjangnya di depan dan sepedanya sangat cantik.
"Pelan - pelan dong Bii, Kelvin pasti nungguin kok." Kataku perlahan turun ke bawah.
"Ihh, si Mbaa.. bibi Kan gemess liat yang begitu - begituan." Ujar Bi Sri.
"Begitu - begituan apa sih Bi hahhaha.. Jangan lebay deh."
"Mas Kelvin lucu tau Mba naik sepeda gituan. Bibi jadi makin gemesss."
"Bibiiiii." Seru Kelvin yang mendengar ucapan Bi Sri karena sangat berisik dan sangat heboh.
"Hahahha.. katanya bibi makin gemes tuh Vin sama kamu."
"Hehehe.. emang faktanya begitu Mas Kelvin.. Mas Kelvin ngegemesin." Kata Bi Sri.
"Hahaha bibiiii.. kok pipi Kelvin di colek - colek sih. Udah yuk Naa, ikut sama aku.. dari pada di sini sama bibi." Kelvin menarik tanganku.
"Eh mau kemana Vin? Aku belum mandi." Tanyaku memegang bajuku.
"Nggak papa, cuma jalan - jalan naik sepeda kok. Menghirup udara pagi."
Kelvin membantuku naik ke sepedanya, ntah kemana dia akan membawaku.
"Bibi ikut donggggg.." teriak bibi.
"Ayok ikut aja bi, tapi bibi di sini nih. Di keranjangnya." Kata Kelvin.
"Hahahah.. jangan jahat gitu sama bibi." Kataku.
Aku dan Kelvin pun mulai berjalan mengelilingi jalanan menaiki sepeda yang dia bawanya. Sesekali Kelvin memegang tanganku, katanya biar aku tidak jatuh. Padahal aku nggak bakalan jatuh biarpun aku tidak di pegang olehnya.
"Naaa.. aku bawa bucket bunga mawar besar loh buat kamu." Kata Kelvin.
"Mana? kok nggak di kasih tadi sih?"
"Nihh di keranjang, ntar aja aku kasih ke kamu, biar bunganya di ajak keliling - keliling juga. Dari pada sama bibi di rumah, kasian kan bunganya hahahah."
"Ya Ampun hahah kok gitu sih, kasian kan bunganya di bawa - bawa terus sama kamu."
"Nggak papa sekalian bunganya juga menghirup udara pagi yang sangat segar ini."
"Seru juga yahh Vin, naik sepeda gini. Udah lama banget aku nggak naik sepeda."
"Eh iya Naa.. kan sepedanya untuk dua orang, kenapa nggak coba kamu goyangin juga pedalnya."
"Emang iya ada?"
"Ada Naa.. coba deh kamu raba pakai kaki kamu."
"Eh, iya iya ada.. wahh, kamu punya sepeda ini Vin? Kok beli model yang ginian sih?"
"Iya dong, biar nggak kesepian kalau belinya hanya yang untuk satu orang. Biar bisa selalu berdua"
"Hahah terus kamu udah sama siapa aja naik sepeda ini?"
"Sama kamu."
"Sama aku doang?"
"Iya."
"Kok sama aku doang, kan sepedanya udah lama. Pasti udah beberapa orang kan."
"Ihh, kapan aku bilang sepeda lama? Ini sepeda baru kemarin aku beli. Sotoy banget sih hahaha."
"Iya? Beneran?"
"Beneran Kirana.. kamu orang pertama yang aku boncengin. Kamu harus bangga karena kamu jadi orang yang pertama."
"Idih hahahah.. apaan.. kalau kayak gitu, harusnya kamu yang harus bangga karena aku orang yang pertama yang mau naik sepeda baru kamu ini. Hahaha."
"Hahaha iya iya dehh."
Sepanjang jalan kita bersenda gurau, cuaca pagi yang segar membuat kita semakin nyaman, aku dan Kelvin saling mengejek satu sama lain sambil mengelilingi perjalanan yang entah di mana Kelvin membawaku mengayuh sepeda barunya. Aku hanya ikut mengayuh sepedanya, tanpa tau arahnya kemana. Rasanya sangat segar keluar jalan - jalan pgi seperti ini. Meskipun aku tidak bisa melihat keindahan alam sekarang, tapi aku bersyukur masih bisa merasakannya dengan cara lain. Terima kasih Ya Allah.
"Naaa.. kita singgah istirahat dulu yahh." Kata Kelvin menghentikan gayuhan sepedanya.
"Kenapa? Kamu udah capek yah? Duh kok cemen banget."
"Hahahhaahhaha... parah banget aku di bilang cemen." Kelvin tertawa terbahak - bahak karena ucapanku itu sambil mencubit pipiku dengan sangat lembut. Padahal aku memang serius bertanya seperti itu haha.
"Kok ketawa sih, aku serius tauu."
"Hahaha nggak Kiranaaaa.. kita istirahat karena kita sudah sampai."
"Emang kita di mana Vin?"
"Coba deh Naa, lebih dengar lagi suara apa aja yang ada di sini dan coba rasakan lebih dalam lagi."
Aku mengikuti kata - kata Kelvin, Aku mencoba lebih fokus mendengar suara apa aja yang ada di sana, dan yah aku berhasil menebak ada suara ombak, dan banyak suara - suara orang lain yang sedang berjalan, bersenda gurau dan sedang makan. Aku bisa merasakannya melalui pendengaran dan penciumanku.
"Udah?"
"Iyaa Vinn. Kita di pantai kan?"
"Wiiihhh Kirana sudah sangat hebat sekarang. Kamu betul seratus persen."
Kelvin selalu menuntunku untuk bisa merasakan keadaan apa yang ada bersamaku saat aku lagi bersamanya.
=====