“Tuh cewek kok nggak sadar - sadar yahh? Malah semakin bar - bar, dia bahkan rela memperlihatkan isi bajunya ke Lo Vinn.” Ujar Gadis.
“Kayaknya dia udah beneran suka deh sama Lo Vin.” Kata Dinda.
“Lo juga sih, ngasih harapan ke dia. Harusnya kalau mau ngomong sama cewek yang ada di kelas kita tuh, Lo cari info dulu ke kita.” Kata Gina.
“Ya kali gue harus gitu.. gue kan sebagai manusia pasti ngajak siapa aja untuk berbica. Masa kalau ada yang mau ngomong sama gue, gue harus nanya kalian dulu sih.” Jawab Kelvin.
“Hahahah.. bener juga sih Lo.. terus sekarang gimana? Tuh cewek pasti bisa ngelakuin apa aja buat dapetin Lo Vin.” Ujar Gina.
“Ya Kita liat aja nanti, siapa tau aja kan kita udah nggak satu kelas dengan Carol. Seenggaknya Kelvin sih yang nggak satu kelas dengan dia.” Kata Sherill.
“Apa gue minta sama wali kelas nanti aja yah, buat gue di pindahin ke kelas lain kalau emang satu kelas lagi dengan dia?” Tanya Kelvin.
“Boleh tuh, Lo kan juga murid berprestasi di kelas kita. Pasti permintaan Lo di turutin kok.” Kata Gadis.
“Ehh.. balik yukk.. udah jam berapa nih? Kita mau ke rumah Kirana atau nggak?” Tanya Dinda sambil melihat jam tangannya.
“Duh ya ampun.. saking sibuknya mikirin cewek gila itu.. kita jadi lupa. Ayuk lah ke rumah Kirana.” Ujar Sherill sembari berdiri dari kursinya.
Jam sudah menunujukkan pukul 14:00 Sherill, Gadis, Gina, Dinda dan juga Kelvin baru saja keluar dari sekolah, dan berangkat ke rumah Kirana.
“Assalamualaikuummm..” sapa Dinda.
“Walaikumsalam.. ehh Mba.. Mba Kirananya lagi nggak ada Mba.” Ujar Pak Adi sambil membukakan pintu pagar rumah Kirana.
“Loh, kemana pak?” Tanya Sherill.
“Ke rumah sakit, katanya kontrol kesehatan lagi.” Jawab Pak Adi.
“Oh, tapi Kirana baik - baik aja kan Pak?” Tanya Kelvin.
“Alhamdulillah baik - baik saja, kalian masuk saja dulu. Mungkin sebentar lagi Mba Kirana pulang.” Kata Pak Adi.
“Ya udah deh kalau gitu pak.”
Mereka semua pun masuk ke rumah Kirana untuk menunggu Kirana pulang.
“Bibiiiiii.. bibiiiii.” Teriak Dinda.
“Ehhh, Mbaaaa.. Mas Kelvvviiiinnnn... duh sudah lama sekali kalian nggak kesini. Kangennya bibi.” Teriak Bi Sri keluar dari dapur.
“Hahahah.. lebay deh bibi, baru juga seminggu.” Seru Gina.
“Seminggu udah kayak satu abad mba.. apalagi rasanya makin lama kalau nggak liat Mas Kelvin.” Ujar Bi Sri cengengesan.
“Cieee Kelvinn.. kayaknya banyak banget deh yang suka sama Lo.” Ejek Gadis.
“Hahahahha..” semua tertawa.
“Tunggu sebentar yahh, bibi buatkan minum.” Kata Bibi berjalan kembali ke dapur.
“Okeyy Biii.”
“Ehh, btw kalian pasti mau ceritain Kirana lagi kan tentang hari ini gue sama Carol.” Kata kelvin lemas.
“Ya iyalah.. hahhaha.. kita harus menceritakan semua sama Kirana, meskipun kita nggak tau bagaimana responnya nanti, yang penting kita harus cerita sama Kirana.” Ujar Gina.
“Nggak papa kok Vin.. kenapa Lo khawatir sih, Kirana nggak mungkin benci sama Lo, toh ini bukan salah Lo.” Ujar Sherill.
Mereka semua mengambil posisi yang nyaman di ruang tengah milik Kirana sembari menunggu Kirana. Dengan minuman dan cemilan yang di sediakan Bibi, mereka menikmatinya. Setelah satu jam menunggu, akhirnya Kirana pulang.
“Kiranaaaaaa !!!! Duhh kita kangen banget sama Lo.” Teriak Dinda sambil memeluk Kirana.
Sherill, Gadis, Dan Gina yang tadinya tidur terbangun karena suara melengking milik Dinda yang sangat berisik. Mereka juga bangun dan memeluk Kirana.
Kirana tersenyum, sangat senang karena bisa mendengar suara sahabat - sahabatnya lagi.
“Haiii Naaa..” sapa Kelvin.
“Ehh, Kelvin ada juga?!” Ujar Kirana.
“Iya dong.. Kelvin kan juga kangen sama Lo.” Celetuk Gina.
“Btw Lo baik - baik aja kan Naa?” Tanya sherill memegangi Kirana.
“Alhamdulillah gue baik - baik aja, nggak perlu ada yang di khawatirkan.” Jawab Kirana masih berdiri di kelilingi oleh sahabat - sahabatnya.
“Alhamdulillah.”
“Duduk woii, Kirana capek tuh berdiri terus.” Seru Kelvin.”
“Iyaa iyaaa.”
“Bagaimana ujian kalian? Semuanya lancar?” Tanya Kirana.
“Iya dong.. nggak tau yah kalau Dinda hahaha.” Ejek Gadis.
“Enak aja, lancar kok Naa.. gue bisa jawab semuanya.” Jawah Dinda melirik Gadis kesal.
“Hahahha, biasa aja kali.” Seru Gina.
“Alhamdulillah.. nggak terasa yah udah kelas 3 aja, ntar lagi lulus.” Ujar Kirana yang terlihat murung.
“Kenapa Naa?? Kok ekspresi kamu gitu?” Tanya Kelvin.
“Aku iri aja sama kalian, kalian bisa merasakan kelulusan dengan normal sedangkan aku? Aku hanya bisa di rumah, tanpa bisa merasakan momen kelulusan dengan kalian semua. Aku nggak bisa liat suasana di sekolah seperti apa.” Jawab Kirana.
“Naaa, kita semua ada untuk kamu.. kalau hari kelulusan kita pasti bersama - sama. Kita bisa membuat momen yang lebih indah di rumah Lo atau kita bisa ngajak Lo ke sekolah nanti. Lo nggak boleh sedih kayak gitu yah.” Ujar Gadis memeluk Kirana.
“Makasih yahh.. kalian selalu mau membuat aku merasa lebih baik.” Ujar Kirana memegangi tangan Gadis dan Dinda yang berada di sebelahnya.
“Kita nggak akan ngebiarin Lo sedih Naa.” Uajr Sherill.
Kelvin melihat situasi itu sangat kasian dengan Kirana, Kelvin berusaha mencairkan suasana agar Kirana tidak kefikiran lagi soal kehidupannya yang sekarang.
“Ehh, gimana kalau kita foto - foto yukk. Hari ini kan hari terakhir kita ujian, dan sekarang lagi di rumah Kirana. Lengkap kan?” Ujar Kelvin memberi teman - temannya kode agar Kirana tidak sedih lagi.
“Ehh, iya ayukkss.” Seru Gina.
“Ihh, tunggu gue pakai liptint gue dulu.” Seru Dinda.
“Hahahah.. Dinda always on.” Ujar Gadis.
“Iya dong, haruss.. Naa kamu juga pakai yahh.” Dinda memakaikan Liptint di bibir Kirana.
Kirana tersenyum pasrah saja dengan yang di lakukan Dinda.
Kirana mencoba lebih ikhlas dengan keadaannya sekarang, meskipun dalam hati kecilnya Kirana selalu iri dengan orang lain yang bisa menikmati hidupnya dengan normal.
Tinggg tooonggg tinggg tooongggg..
Bell rumah Kirana berbunyi.
“Eh siapa tuh?” Kelvin kaget, karena takut kalau saja Carol yang datang dan bisa mengacaukan harinya bersama Kirana.
Sherill secepat mungkin berdiri, berlari keluar untuk melihat siapa yang datang. Karena Sherill juga takut kalau yang datang itu Carol.
“Ada apa sih?” Tanya Kirana kebingungan.
“Nggak papa kok Naa.” Jawab Dinda sambil terus mendandani Kirana untuk mengalihkan perhatian Kirana.
Sherill sudah berdiri di depan pintu rumah Kirana, dan melihat Pak Adi yang tengah tidur di posnya.
“Pak Adi ada yang datang tuh.” Sherill membangunkan Pak Adi.
“Cctvnya mana pak?” Tanya Sherill lagi.
“Ini mbaa.” Kata Pak Adi mengucek matanya.
“Ohh, alhamdulillah gue kira Carol. Eh, tapi kok Karel sih.. kenapa Karel datang?” Gumam Sherill.
“Kenapa mba?” Tanya Pak Adi yang samar - samar mendengah ucapan Sherill.
“Ini pak, Karel yang datang. Apa Karel udah sering kesini lagi yah Pak?” Tanya Sherill.
“Oh, nggak Mba.. dia juga baru datang hari ini kok, kayak Mba.”
“Oooohh.”
“Jadi gimana Mba? Saya bukakan pintu untuk Mas Karel atau bagaimana?” Tanya Pak Adi.
“Ehmm.. coba pak Adi tanya sama Kirana aja deh. Saya juga nggak tau pak hehe.”
“Ih sih Mba.. kirain kesini ada jawabannya tamunya di bukakan pintu atau tidak.” Pak Adi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hahahha.. tadi saya kira teman saya yang cewek pak.. yang itu hari hampir tenggelam yang di tolong sama Kelvin.” Balas Sherill.
“Ohh.. iya mba saya ingat.. mba yang itu aneh - aneh yahh.” Ujar pak Adi.
Tinggg tongggg tinggg tonggg tingggg tonggggg..
sementara Sherill dan Pak Adi asyik mengobrol , Karel terus - terusan membunyikan bell rumah Kirana.
“Hahaha udah pak, pak Adi masuk gih tanya Kirana, dia mau ketemu Karel atau tidak.” Ujar Sherill berjalan masuk kembali ke dalam rumah Kirana.
“Permisi Mba Kirana.. ada Mas Karel di depan.” Ujar Pak Adi.
“Oh jadi dia toh, yang bunyiin bell terus - terusan. Nggak sabaran banget.” Seru Dinda.
“Hmmm.. dia mau apa yah? Gimana dong aku harus temuin dia atau gimana?” Tanya Kirana ke sahabat - sahabatnya.
“Naaa.. itu terserah kamu.. kok malah nanya ke kita sih, kamu mau ketemu Karel atau nggak.” Kata Kelvin.
Karel terus saja membunyikan bell rumah Kirana, karena Karel tau ada Kirana di dalam rumahnya bersama Kelvin dan sahabat - sahabatnya.
“Temuin aja dulu Naa.. itu lebih baik, dari pada dia bikin keributan terus di luar.” Ujar Gadis.
“Mau aku temenin?” Tanya Kelvin berdiri dari sofa.
“Nggak usaahhhh !!! Biar Kirana aja, ngapain Lo temenin orang ini urusan mereka berdua.” Seru Sherill.
“Astaghfirullah.. gue mau temenin sampai di depan pintu aja, bantuin Kirana jalan sampai di depan. Suuzdon aja nih orang.” Jawab Kelvin.
“Hahahah.. udah tuhh cepetan, pak Adi dari tadi nunggu jawaban tau.” Seru Dinda.
“Pak Adi suruh masuk aja Karelnya, di teras aja pak suruh tunggu.” Kata Kirana.
“Oke Mbaa.. siappp.” Pak Adi keluar menyuruh Karel masuk.
Kelvin menemani Kirana sampai depan pintu untuk ketemu Karel.
“Haiii Naa.” Sapa Karel yang juga melihat ada Kelvin di sampingnya.
“Makasih Vin.” Kelvin kembali ke dalam.
“Kenapa lagi kesini?” Kirana duduk di kursi yang ada di terasnya.
“Aku cuma mau ketemu sama kamu Kirana, rasanya sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Aku Nggak minta lebih kok, aku cuma mau melihatmu.”
“Hmmm.. udah kan? Aku nggak bisa temuin kamu lama, ada sahabat - sahabatku di dalam.”
“Iya Naa.. sebentar lagi.. boleh aku bertanya Naa?”
“Apa?”
“Naa apa kamu benar - benar sudah melupakan aku? Melupakan kenangan kita dan tidak bisa memberi kesempatan sekali lagi buat aku? Aku cuma bertanya Naa, aku nggak maksa.”
“Kamu kok masih bisanya bertanya seperti itu terus? Apa kamu nggak bisa melihat aku yang sekarang? Ini semua perbuatan kamu Karel. Kenapa kamu masih memintaku untuk terus memberi mu kesempatan?”
“Iya Kirana.. aku sadar akan semua yang udah aku lakuin sama kamu. Makanya aku mau ada di samping kamu lagi, untuk menebus semua kesalahan aku. Aku mau mendampingi kamu sampai kamu bisa melihat lagi, aku mau merawat kamu Kirana.”
“Kita sudah membicarakan ini berkali - kali Karel. Aku sudah tidak bisa bersama mu, aku sudah tidak ada rasa lagi untuk harus bisa menerima mu di hidupku lagi. Sekarang saja, setiap aku mendengar suara atau ada yang menyebut namamu, aku langsung teringat dengan kejadian di gudang sekolah. Kejadian itu terus ada di fikiranku, rasa takut akan dirimu selalu muncul. Rasanya kejadian itu terus melekat di ingatanku. Jadi, maaf.. ku mohon ini untuk terakhir kalinya kamu berbicara seperti itu, dan jangan pernah memintaku lagi untuk bersamamu. Karena aku sudah bicara baik - baik dan memberi pengertian sama kamu.”
“Hmmm.. baiklah Kirana.. aku mengerti, tapi kalau suatu saat kamu membutuhkanku, hubungi aku kapan saja. Aku janji akan selalu ada kapanpun kamu membutuhkanku.
Kirana diam tidak membalas ucapan Karel.
“Kalau begitu aku permisi Kirana.. maafkan aku lagi dan terima kasih untuk waktu mu hari ini. Aku merindukanmu, aku masih mencintaimu Kirana.” Ujar Karel terbata - bata menahan tangisnya.
Rasanya sangat berat untuk Karel mengucapkan itu, karena sangat sedih dengan keadaannya yang sekarang yang tidak bisa bersama Kirana lagi.
=====