Episode 41

1734 Kata
"Aku nggak tau harus gimana.. aku merasa aja kalau semua ini salah aku, aku membuat Carol di musuhin sama teman - teman yang lain." Kata Kirana. "Sudah yahh Naa.. pokoknya kamu nggak boleh merasa bersalah. Kita udah bilangin ke kamu berapa kali, kalau nggak gitu Carol nggak akan berubah." Kata Sherill. "Iya Naa, dengerin aja yahh.. kamu nggak boleh nyalahin diri kamu." Ujar Kelvin. "Hmm... iyaa.. tapi Vin apa kamu nggak suka sama Carol?" Tanya Kirana. "Yah nggak lah.. aku nggak suka sama cewek jahat." Kata Kelvin. "Tapi dia udah mau berusaha berubah, sapa tau aja kalau sama kamu dia jadi baik." Kata Kirana. "Astaghfirullah aladzim.. kalau dia mau berubah nggak mesti sama aku, dia cukup ingat Tuhan aja, dan fikir dulu apa yang mau dia perbuat, itu salah atau benar." Ujar Kelvin. "Bener kata Kelvin Naa.. kalau memang dia mau berubah pasti udah dia lakuin dari dulu." Kata Gadis. "Permisi Mbaa.. ini ada titipan dari Mas Karel, saya di suruh kasih ke Mba Kirana." Kata Pak Adi yang baru saja masuk. "Apalagi tuh Pak?" Tanya Kirana. "Biasa Naa.. bunga sama strawberry kesukaan Lo." Seru Dinda. "Hmm.. Pak Adi simpen bunganya di tempat biasa aja yah." Kata Kirana. Kirana memiliki satu lemari hias di sudut ruang tamunya untuk menyimpan semua bunga - bunga yang di berikan oleh Karel, Kirana tidak membuangnya karena Kirana sangat suka dengan bunga dan tidak tega untuk membuang bunga. Bunga yang sudah kering pun masih Kirana simpan, meskipun sudah kering tapi penataannya sangat indah dan sangat cantik. "Strawberrynya simpen sini aja pak, kalau pak Adi mau ambil aja sebagian. Biar mereka yang makan strawberrynya." Kata Kirana. "Oh iya Mba, saya cicip aja sebagian yah. Makasih mba." Kata Pak Adi mengambil beberapa buah strawberry. "Lo kok betah banget sih simpen bunga - bunga itu Naa?" Tanya Dinda melihat ke lemari hias Kirana. "Kalian tau kan, kalau masih bisa aku simpen pasti aku simpen. Aku tuh paling nggak tega kalau harus buang - buangin bunga." Kata Kirana. "Itu semua dari Karel?" Tanya Kelvin. "Iya Vin.. tapi ada beberapa dari Mama Papa juga, eh dari kamu juga kayaknya aku suruh bibi simpen di situ." Kata Kirana. "Emang iya?" Tanya Kelvin lagi. "Berdiri aja Lo kesana liat, kalau nggak percaya. Nyusahin aja." Seru Gadis. "Ya Ampun galak amat. Emang gue mau kesana kok." Ujar Kelvin sambil berjalan ke lemari hias Kirana. "Ada kan? Dasar nggak usah senyum - senyum gitu. Kirana simpen karena Kirana suka banget sama bunga, nggak usah kePdan gitu." Seru Sherill. "Apaan sih." Seru Kelvin. "Terus sekarang Carol gimana?" Tanya Kirana. "Yahh gitu - gitu aja. Kita nggak bisa buat ngebuka pintu lagi buat dia Naa, kalau untuk berteman biasa yah oke - oke aja. Tapi kalau dia terus - terusan mau ngikut - ngikut kita itu nggak bisa Naa. Kita nggak bisa." Kata Gina. "Iyaa Naa.. tolong pengertian Lo yahh, kita semua yakin kalau ini yang terbaik. Kalau kita ngasih hati lagi buat dia, cewek itu semakin menjadi - jadi. Dan sekarang Kelvin udah jadi korbannya, sampai dia suka sama Kelvin." Kata Sherill. "Lo nggak tau aja Naa, perbuatan lancang apa yang sudah dia perbuat lagi sama Kelvin." Seru Dinda yang baru saja keluar dari dapur Kirana. Kelvin kaget dengan apa yang di ucapkan Dinda, Kelvin tidak ingin Kirana tau kalau Carol sempat datang ke rumahnya. Sampai - sampai Karel menjatuhkan gelas kecil berwarna pink yang ada di lemari hias Kirana. Untung saja tidak pecah, karena itu gelas kesayangan Kirana dari kedua orang tuanya. "Kenapa sih Lo Vin? Kirana tau juga nggak papa kok, nggak usah tegang gitu. Kan bukan mau Lo juga." Seru Sherill. Gadis, Gina, dan Dinda menertawai Kelvin yang kaget karena ekspresi wajahnya tidak bisa di kendalikan. "Kenapa emangnya? Apa yang Carol lakukan?" Tanya Kirana. "Permisi mba - mba Cantik.. ini minum dulu dan makan cemilan juga. Haii Mas Kelvin, makin ganteng aja." Ujar Bi Sri membawa beberapa minuman dan makanan kecil. Bi Sri mengedipkan mata ke Kelvin. "Haii bii." Balas Kelvin tersenyum kecut. Kelvin tidak mau Kirana mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengannya dan Carol, karena takut Kirana berfikiran negatif dan Kelvin sangat ilfil dengan Carol, kalau harus mengingat kejadian itu lagi. "Jadi si Carol datang kerumahnya Kelvin Naa, dia nyatain cintanya ke Kelvin dan meluk - meluk Kelvin tau nggak. Kelvin kaget dong di peluk - peluk gitu. Malahan dia sampai bilang nikmatkan Vinn." Jelas Sherill. "Iiiihhhh hahahahah. Gue ngebayanginnya aja merasa jijik tau nggak." Seru Gadis. "Hahahhahah, sabar yah Vinn.. kata Gadis dan Dinda bersamaan. "Sampai segitunya?" Tanya Kirana heran. "Iya Naa, sampai pembantu Kelvin tuh kaget karena melihat adegan seperti itu. Dan Kelvin sempat teriak biar Carol melepaskan pelukannya, tapi dia nggak mau ngelepasin pelukannya, malah meluk terus. Untung aja pembantunya Kelvin cepat keluar, kalau nggak Kelvin di peluk berjam - jam hahahha." Ujar Sherill. "Udah lahh, ngapain sih bahas itu. Nggak penting sumpahh." Seru Kelvin yang duduk kembali di samping Kirana. "Tapi beneran Vin? Kamu nggak suka balik sama Carol?" Tanya Kirana meraba pundak Kelvin. "Ya nggak lahh, gila aja kali aku kalau suka sama cewek seperti itu. Aduhh kalau di ingat lagi rasanya aku pengen mandi ngebersihin diri aku lagi." Kata Kelvin. "Husshh nggak boleh gitu Vinn.. ntar kualat lohh." Kirana menepuk pundak Kelvin. "Iya iya." Kelvin tersenyum. Setelah sahabat - sabahatnya memberi pengertian ke Kirana, akhirnya Kirana bisa luluh dan mencoba untuk tidak menyalahkan dirinya lagi. Dan dia tidak memaksa sahabat - sahabatnya untuk menerima Carol, karena menurut Kirana juga itu adalah hak mereka untuk berteman dengan siapa saja. Hal itu juga berlaku untuk Kelvin, Kirana juga tidak memaksa Kelvin untuk membuka hatinya untuk Carol. Kirana hanya bisa berdoa agar Carol bisa menjadi orang yang lebih baik lagi dan menyadari kesalahan - kesalahannya. Kirana tipe orang yang selalu merasa bersalah kalau ada orang yang menderita menyangkut namanya, meskipun itu bukan kelahannya. Kirana merasa kasihan dengan Carol. Tapi Kirana juga tidak bisa berbuat apa - apa, Kirana hanya bisa mencoba mengerti apa yang telah terjadi dan tidak ingin menyusahkan sahabat - sahabatnya. ***** Malam itu Kirana turun dari kamarnya dan tidak sengaja mendengar obrolan orang tuanya yang sedang memuji - muji Kelvin dan menjodohkannya bersama Kelvin. "Iya kan Pahh? Kelvin tuh orangnya baik banget. Papa liat sendirikan bagaimana dia memperlakukan Kirana waktu di Villa." "Iya Maa, papa liat kok.. dia sabar banget, dan kelihatannya Kirana juga nyaman dengan Kelvin." Kata Pak Chandra. "Apa kita coba tanya Kelvin aja Paah? Apa beneran dia suka sama Kirana? Kalau iya kita minta Kelvin untuk di jodohin aja sama Kirana. Iya kan Pahh?" Tanya Ibu Kartika. "Maahh Pahh.. Mama sama Papa ngomong apa sih? Jodoh - jodoh.. Kirana aja masih belum lulus sekolahnya, malah mau di jodoh - jodohin.” Kata Kirana baru melangkahkan kakinya di ruang keluarganya. “Ehh, sayang.. kok nggak bilang - bilang mau turun kan bisa di bantuin sama Mama atau Papa.” Seru Ibu Kartika. “Iya nih duduk sini nak.. kenapa memangnya kalau kamu di jodohin sama Kelvin, toh tahun lagi sekolah kamu udah selesai. Tapi kalau kamu mau kuliah juga nggak papa kan, bisa kuliah kalau sudah menikah.” Ujar Pak Chandra memegang Kirana untuk duduk di sofa dekat Ibu Kartika. “Bener banget Papa.. lebih cepat lebih baik, Kelvin juga anaknya sabar kok. Dan kalau di lihat - lihat Kelvin sangat menyukai mu Kirana sayang.” Ujar Ibu Kartika mengusap pundak Kirana. “Tau dari mana kalau Kelvin suka sama aku Maa?? Mama sama Papa sendiri Liatkan Kelvin sekarang nggak cuma dekat sama aku aja, Kelvin juga dekat sama sahabat - sahabat Kirana. Jadi nggak menutup kemungkinan kalau Kelvin juga nggak suka sama aku Maa.. Paa..” ujar Kirana menyenderkan kepalanya di sofa. “Tapi perlakuannya sama kamu beda Nakk, beda dengan Sherill, Gadis, Dinda ataupun Gina. Kelvin hanya memperlakukan kamu seorang dengan sangat special dan sangat sabar. Mama sama Papa liat kok, waktu di Villa kemarin. Coba deh kamu ingat - ingat, Kelvin sama kamu aja kan? Berdua aja kan sama kamu? Dan dia terus - terusan menemami kamu nak.” Jelas ibu Kartika. “Itu semua nggak cukup kalau Mama sama Papa menyimpulkan Kelvin suka sama aku Maa. Mungkin aja dia kasian sama aku. Lagian mana mungkin Kelvin mau sama Kirana, Kirana ini buta Mama.. Papa.." apa kalian lupa? Mana ada yang mau menikah dengan Gadis buta. Laki - laki pasti berfikir gadis buta hanya menyusahkan mereka nanti. Dan nggak akan ada yang bisa di berikan gadis buta untuk suaminya nanti. Bagaimana menjadi seorang istri yang bisa mengurus suaminya, kalau dirinya saja tidak bisa dia urus sendiri. Tidak bisa mandiri, jalan saja harus memakai bantuan tongkat, tidak bisa melihat apa - apa. Tidak bisa membuatkan kopi untuk suaminya di pagi hari, tidak bisa menyiapkan pakaian untuk suaminya. Nggak akan ada yang mau sama gadis buta Maa.. Paa..” tegas Kirana. “Sayaaaanggg.. kamu nggak boleh ngomong seperti itu. Semuanya belum selesai, insyaAllah kamu bisa melihat lagi, kita semua hanya perlu lebih sabar lagi untuk mendapatkan donor mata buat kamu nak.” Kata Pak Chandra sembari duduk di samping Kirana. “Iya Nakk, kamu tidak boleh ngomong seperti itu. Itu lah namanya cinta sejati, kalau bisa menerima pasangannya apa adanya. Dan Mama yakin suatu saat nanti akan ada donor mata untuk kamu. Dan kamu bisa melihat dunia lagi sayang.” Kata ibu Kartika. “Ya udah tunggu aja sampai Kirana bisa melihat lagi, jangan jodoh - jodohin aku sekarang di saat Kirana masih buta seperti ini. Dengan kata cinta sejati, Kirana percaya dengan itu Maa.. Paa.. tapi Kirana nggak mau di terima apa adanya dengan keadaan yang seperti ini, Kirana mau suatu saat nanti Kirana bisa mengurus semua keperluan suami Kirana, memasakkan makanan kesuakaan suami, bukan hanya dia yang terus - terusan mengurus Kirana. Dan jangan berbicara sembarangan dengan Kelvin, bisa - bisa ongoman Mama sama Papa jadi beban buat Kelvin. Dan pasti Kelvin jadi tidak enak dengan Mama sama Papa dan terpaksa untuk terus ada di samping Kirana atau mungkin saja setelah mendengar omongan Mama sama Papa Kelvin jadi tidak akan datang lagi melihat Kirana.” Ujar Kirana mulai menangis. “Iya - iya sayang.. maafin Mama sama Papa yahh.. Mama sama Papa nggak akan ngomong sembarangan sama Kelvin, biar waktu yang menjawab semuanya Nak.” Kata ibu Kartika memeluk Kirana. “Maafin Papa juga yah Nakk.. kamu nggak usah nangis lagi, jangan patah semangat okeyy? Senyum dong anak papa yang cantik.” Ujar Pak Chandra sambil mengusap kepala Kirana. “Nggak kok Maa.. Paa.. nggak usah minta maaf, Papa sama Mama nggak salah apa - apa kok, Kirana mengerti Papa sama Mama mau yang terbaik untuk aku. Kirana akan berusaha sabar menunggu donor mata Kirana.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN