Episode 42

1766 Kata
Setelah perbincangan yang cukup panjang, Kirana kembali ke kamarnya untuk berisitirahat. Di kamarnya yang sangat nyaman, Kirana berjalan ke depan balkon kamarnya untuk menghirup udara malam dan merasakan bagaimana suasana malam melalui pendengarannya. "Setiap malam aku hanya bisa seperti ini, mencari udara segar, mendengarkan suara - suara kendaraan." Kirana menelungkupkan badannya. "Kiranaaaaa !!!!" Panggil Karel. "Siapa?" Kirana mencoba mengingat suaranya yang terdengar samar - samar karena ada suara kendaraan. "Naaaa.. aku mau ngomong sama kamu !!! Pleasee yahhh." Teriak Karel. "Karel ??" Tanya Kirana. "Kamu pulang aja Karel, ini sudah malam. Jangan mengganggu ketenangan tetanggaku dengan kamu teriak - teriak seperti itu." Teriak Kirana dari atas balkonnya. "Terus aju harus gimana Naa?? Aku datang tadi siang tapi kamu nggak mau temuin aku. Aku kangen sama kamu Naaa." Teriak Karel lagi. "Karel pleaseee !!! Kenapa kamu seperti ini sih? Kamu bisa mendapatkan orang lain yang lebih baik dari aku. Tolong jangan ganggu kehidupanku lagi Karel." Kirana berdiri meninggalkan balkonnya dan menutup pintu balkonnya. "Naaaa Kiranaaaa !!! Aku maunya sama kamuuuuu !!!" Teriak Kelvin lagi. "Kenapa dia seperti itu sih? Apa dia tidak sadar dengan apa yang sudah dia perbuat? Kenapa sekarang jadi seperti ini?" Gumam Kirana pada  dirinya sendiri. "Kiranaa !!!" Panggil Mama dan Papa kirana dari luar kamarnya. "Iya Maa Paa.." jawab Kirana. "Karel datang lagi kan? Dia kan yang ada di bawah?" Tanya Pak Chandra. "Iya Pahh.. dia masih ada di bawah." Ujar Kirana. "Kenapa sih anak itu nggak ada mengerti - mengertinya, kita sudah bilang berapa kali untuk tidak datang ke rumah ini. Kenapa dia seperti tidak punya tujuan hidup dan terus saja mengganggu." Kata Ibu Kartika. "Heiii Kareeelll !!! Pergi dari sini sekarang atau saya panggil polisi untuk mengusir kamu. Ini sudah mengganggu ketentraman hidup kita. Kalau sampai kamu tidak mau pergi dan datang lagi seperti ini, saya akan segan - segan untuk melaporkan kamu ke kantor polisi." Teriak Pak Chandra dari balkon kamar Kirana. "Om tolonglahh Karel sangat mencintai Kirana om." Teriak Karel. "Pak Adii.. Pak Adiii !!!!" Teriak Pak Chandra. "Iya Pakkk saya dengar." "Sekarang juga kamu usir anak itu, kalau dia tidak mau pergi telvon polisi untuk mengusirnya. Bilang kalau dia mengganggu ketentraman lingkungan rumah kita." Ujar Pak Chandra. "Iyaa baik pak." Pak Adi pun keluar untuk berbicara baik - baik dengan Karel. Agar Karel bisa mengerti dan  pergi dari rumah Kirana. "Mas Karel tolonglah jangan bikin pekerjaan saya bertambah banyak. Mas Karel membuat saya merasa bersalah kalau Mas Karel terus - terusan seperti ini. Saya mohon Mas Karel jangan datang lagi ke sini." Kata Pak Adi. "Pak.. pak Adi taukan bagaimana saya sama Kirana. Saya sangat menyesal atas apa yang sudah saya perbuat pak. Saya ingin menebus semua kesalahan saya dengan berada di samping Kirana, dan Karel sangat mencintai Kirana pak. Rasanya saya sudah mulai gila, kalau tidak bersama Kirana." Ujar Karel lemas dan terduduk di aspal. "Iya Mas Karel saya mengerti, tapi karena semua perbuatan Mas Karel, Mba Kirana dan orang tuanya tidak ingin Mas Karel berada di samping Mba Kirana. Sekarang Mba Kirana bisa jauh lebih bahagia kalau Mas Karel tidak datang ke sini dan mengganggu. Mas Karel bukan hanya mengganggu keluarga ini tapi juga keluarga yang lain yang tinggal di dekat sini. Jangan membuat malu keluarga Pak Chandra." Kata Pak Chandra yang berdiri melihat Karel. "Terus saya harus bagaimana Pak Adi? Saya tidak sanggup kalau harus seperti ini, saya tidak bisa tanpa Kirana Pak." Kata Karel mendongakkan kepalanya ke arah Pak Adi. "Denger yah Mas Karel.. Mas Karel ini masih muda, masih banyak perempuan di luar sana yang pasti mau sama Mas Karel. Dan saya sudah bertemu dengan orang - orang yang katanya sudah mulai gila karena pisah dengan pasangannya, tapi itu semua tidak terjadi dengan seiring berjalannya waktu. Mereka semua akhirnya bisa menemukan kebahagiaannya masing - masing meskipun dengan orang yang katanya bisa membuatnya gila." Jelas Pak Adi yang mulai duduk di samping Karel. Karel terdiam mendengar ucapan Pak Adi, Karel bisa mengerti semua nasehat yang di berikan Pak Adi, tapi hatinya belum bisa kalau tidak bisa bersama Kirana. Karena Kirana adalah perempuan yang sangat mengerti Karel, dan lagi Karel sudah sangat menyukai Kirana. Pak Adi juga kasihan sama kisah cinta yang sudah di jalani oleh Karel dan Kirana, karena pak Adi adalah salah satu orang yang juga sangat menyukai mereka berdua. Saat kecelakaan terjadi, Pak Adi sangat syok mengetahui kalau Kirana sampai buta hanya karena Karel cemburu buta. "Itulah Mas Karel, kalau mau berbuat sesuatu harus di fikirkan dulu. Jangan hanya karena alasan cemburu Mas Karel melakukan hal yang keji, hal yang merusak diri Mas Karel. Untung saja dulu Papanya Mba Kirana tidak melaporkan Mas Karel ke polisi atas kecelakaan itu, kalau tidak, sekarang mungkin Mas Karel sudah memiliki catatan kriminal." Ujar Pak Adi. "Hmm.. apa ada kemungkinan Karel bisa bersama Kirana lagi?" Tanya Karel. "Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi nanti Mas Karel. Kalau memang Mas Karel berjodoh dengan Mba Kirana, suatu saat nanti pasti kalian akan di persatukan kembali. Sekarang Mas Karel berdoa yang baik - baik saja, dan melakukan hal yang baik." Kata Pak Adi. Karel tidak membalas ucapan Pak Adi lagi, Karel kembali terdiam dan terus saja memperhatikan layar ponselnya yang di mana terpasang foto berduanya dengan Kirana. "Kalau begitu saya masuk dulu Mas Karel, saya haral Mas Karel bisa mengerti semua ucapan saya dan tidak akan datang lagi mengganggu ketenangan keluarga ini. Baik - baik yah Mas Karel." Pak Adi berdiri meninggalkan Karel yang masih duduk diam menatap layar ponselnya. Sementara itu Pak Chandra terus memperhatikan Karel dari balkon kamar Kirana. Ada setengah jam Karel duduk di aspal dekat mobilnya yang hanya terdiam menatap layar ponselnya. Saat itu Karel benar - benar putus asa, Karel sangat merindukan Kirana. "Kenapa anak itu belum pergi juga sih? Malah diam di situ." Gumam Pak Chandra. "Sendirian Pah?" Tanya Kirana. "Iya sendirian, dari tadi hanya menatap layar ponselnya. Pak Adi sudah masuk, entah apa yang di sampaikan Pak Adi sampai anak itu hanya diam di situ, seperti tidak ada semangat hidupnya lagi." Kata Pak Chandra. "Apa Mama telvon Mamanya saja Pah? Kasih tau kalau anaknya ada di sini." Kata Ibu Kartika. "Nggak usah Maa.. kasian juga kalau Mamanya sampai kepikiran lagi." Ujar Kirana. "Hmm.. iya iyaa." Ujar Ibu Kartika. "Papa tutup aja yah pintunya, biarkan saja anak itu di luar. Yang penting tidak ribut dan mengganggu ketenangan tetangga." Ujar Pak Chandra sembari menutup pintu balkon kamar Kirana. "Kamu istirahat saja sayang, ada Pak Adi kok kalau dia teriak lagi." Ujar Ibu Kartika sambil mencium kening Kirana. "Iyaa Pahh.. Maa.. maafin Kirana yah, Kirana ngerepotin kalian lagi." Kata Kirana memegang tangan Ibu Kartika sebelum keluar dari kamarnya. "Nggak sayangg.. kamu sama sekali nggak ngerepotin kita. Sekarang kamu tidur aja, jangan berfikir sembarangan. Okeyy??" Ujar Ibu Kartika. "Iya istirahat yah sayang." Kata Pak Chandra juga mencium kening Kirana." ****** Esoknya. Mobil Karel masih terparkir di samping rumah Kirana. Pak Adi yang bangun lebih cepat, menemukan Karel yang sedang tertidur di dalam mobilnya. Tuk tuk tuk.. "Mas Karel." Teriak Pak Adi sambil mengetuk kaca mobil Karel. "Mas Kareelll." Tuk tuk tuk.. Karel perlahan membuka matanya, dan langsung membuka kaca mobilnya. "Mas Karel kok tidur di sini? Mas karel kenapa nggak pulang tadi malam? Ckckckck sekarang lebih baik Mas Karel cuci muka, dan langsung pulang sebelum Pak Chanda keluar dan melihat Mas Karel yang masih berada di sini. Nanti saya yang kena marah Mas." Kata Pak Adi yang kebetulan membawa satu botol air mineral. "Iya Pak Adi.. makasih banyak yahh, saya pulang sekarang." Kata Karel menyalakan mobilnya tanpa mengambil air yang di berikan oleh Pak Adi. "Hati - hati Mas Karel." Karel pun melajukan mobilnya dan pergi dari rumah Kirana. "Ckckckck anak itu kok bisa - bisanya tidur di sini. Dia kan harus sekolah." Gumam Pak Adi sambil masuk kembali ke dalam rumah." - Sekolah - Pagi itu cuaca tidak cerah seperti biasanya, awan hitam yang berada di langit menandakan akan segera turun hujan. Beberapa siswa yang membawa motor, cepat - cepat memarkirkan motonya. Sedangkan yang membawa mobil tenang - tenang saja, karena di setiap siswa yang membawa mobil pasti akan ada payung di belakang mobilnya. Itu sudah jadi kebiasaan bagi mereka. Tidak lama kemudian hujan pun turun dengan sangat derasnya. Kelvin yang baru tiba di sekolah belum mau turun karena hujannya sangat deras. Kalaupun memakai payung, pasti akan kebasahan juga. Kelvin memutar musik kesukaannya di dalam mobil karena jam masuk masih sangat lama. Drrrtttt drrrtttt drrtttt.. "Ckk siapa sih yang menelvon pagi - pagi gini." Gumam Kelvin kesal. "Karel ?!?!?! Karel nelvon pagi - pagi kenapa?" Kelvin memperhatikan dengan seksama tulisan yang ada di ponselnya. "Halo?? Kenapa Lo?" Tanya Kelvin. "Lo udah di sekolah yah?" "Iya, kenapa?" "Nggak." "Apaan sih Lo nggak jelas banget, kenapa Lo nelvon gue??" "Kelvin Lo suka yah sama Kirana?" "Idihh, Lo nelvon gue pagi - pagi gini cuma mau nanyain itu? Dimana sih Lo? Sini ke mobil gue, ngapain pakai nelvon segala sih." "Kalau Lo emang suka sama Kirana, tolong jaga Kirana baik - baik. Jangan kecewain dia kayak apa yang sudah gue perbuat." "Yaiyalah gue kan nggak sama kayak Lo, b***t dan gila." "Iyaa gue tau, jadi gue mohon sama Lo kalau emang Lo suka sama Kirana, perlakukan Kirana dengan baik, Kirana suka bunga mawar, Kirana suka buah strawberry dan Kirana suka travelling." "Idihh kenapa sih Lo? Nggak jelas banget. Nggak usah ngasih tau ke gue, gue bisa cari tau sendiri. Lagian Lo kenapa? Aneh banget tiba - tiba kayak gini." "Gue udah relain Kirana, gue mau berusaha untuk lupai dia. Gue relain kalau dia bersama sama cowok yang lebih baik dari gue, yang memperlakukan dia dengan baik." "Lo nggak papakan Karel? Lo sakit yah?" "Gue nggak papa.. itu aja yang mau gue sampaikan ke Lo, semoga Lo bisa menjadi cowok yang bisa memperlakukan Kirana dengan baik dan membuat Kirana bahagia." "Woii sumpah merin—" Tutututututtttt.. "Halo? Halo? Lahh di matiin." Ujar Kelvin. "Ihh, kenapa sih nih anak. Sumpah merinding gue." Gumam Kelvin. "Kayaknya gue harus nyari anak ini deh." Kelvin mengambil payung dan keluar dari mobilnya. Kelvin berjalan perlahan menuju koridor, sebelum ke kelasnya Kelvin ingin singgah di kelas Karel dan mencari Karel. "Kelviiinnnnn !!!!" Sherill berlari mengejar Kelvin. "Berisik luuuu !!!! Jangan lari - lari gilee, ini licin, kalau jatuh malu bego." Seru Kelvin." "Eh buseettt !!! Pagi - pagi udah kasar aja." Balas Sherill memukul Kelvin. "Lagian Lo cepet banget jalannya, mau kemana sih terburu - buru begitu?" Tanya Sherill. "Bukan urusan Lo.. udah sana, ke kelas duluan jangan ikut - ikut gue." Ujar Kelvin." "Ishh apaan sihh?? Kasih tau dong." "Errrggghhh.. gue mau ke kelas Karel. Ada yang mau gue bicarakan sama dia, nanti gue kasih tau. Udah sana." Kelvin mendorong Sherill menjauh darinya. Sherill melihat sinis, dan pergi menuju kelasnya.  =====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN