Kelvin berdiri di depan kelas Karel, melihat sekeliling kelas tapi Kelvin sama sekali tidak melihat batang hidung Karel.
"Eh, Karel udah datang belum?" Tanya Kelvin ke salah satu teman sekelas Karel yang berjalan keluar kelas.
"Nggak tau tuh, tapi kayaknya belum datang."
"Hehh, kemana sih anak itu.. okey makasih yah."
Kelvin mengecek ponselnya, mencoba menghubungi Karel tapi tidak terhubung. Kelvin berjalan menuju kelasnya, sambil masih menghubungi nomor Karel.
"Woii.. kenapa sih lo?" Tanya Sherill.
"Ehh, Rill.. ini nih si Karel, gue hubungin kok nggak bisa yah. Padahal tadi gue sempat ngobrol sama dia. Kok perasaan gue nggak enak sih." Ujar Karel.
"Idih apaan sih.. kenapa sampai gitu? Emang Lo ngobrol apa tadi sama dia?" Tanya Sherill melipat tangannya.
"Tadi tuh Karel ngomong yang aneh - aneh, nggak biasanya dia kayak gitu. Sumpah kata - katanya serem woii." Ujar Kelvin.
"Ihh, serem gimana? Ngomong yang jelas dong." Ujar Gadis yang juga mendengar dari tadi.
"Iya nihh ngomong yang bener." Seru Sherill.
"Jadi tadi dia ngomong kalau dia udah relain Kirana sama gue kalau emang gue sama Kirana, terus dia nyuruh gue jagain Kirana, perlakuin Kirana dengan baik, pokoknya intinya dia udah relain Kirana. Dan cara ngomgongnya baik banget, nggak kayak seperti Karel yang biasanya kalau ketemu gue. Jangan - jangan dia mau bun—"
"Huussshhh sembarangan Lo kalau ngomong. Karel nggak mungkin gitu, mungkin aja kan kalau dia emang udah ngerelain Kirana , nggak mau ganggu Kirana lagi." Kata Gadis.
"Tapi sekarang dia nggak ada di kelasnya. Gue udah nyari tadi. Nggak ada temen kelasnya yang liat dia. Masa dia pagi - pagi nelvon dan nggak datang ke sekolah sih." Kelvin menggaruk kepalanya.
"Tenang dulu, kita tunggu aja ntar kalau jam istirahat kita cari Karel lagi. Jangan berfikir negatif dulu." Ujar Sherill.
"Hmm iya dehh." Kelvin pun duduk di bangkunya.
Pelajaran di mulai tidak seperti biasanya, suasana mulai tegang karena guru yang memberi pelajaran sedang melakukan kuis agar mereka lebih siap untuk memulai ujian semester. Walaupun suasana tegang, mereka bisa melewati iru semua sampai jam istirahat.
"Waahhh, selamat.. untung udah bell, takut gue hahaha." Seru Dinda.
"Makanya belajar, jangan dandan mulu Lo." Ujar Gadis berbalik ke bangku Dinda dan Sherill.
"Isshh dandan kan juga kebutuhan gue." Jawab Dinda ngeyel.
"Hmm.. ehh, Vinn gimana? Mau ke kelas Karel?" Tanya Sherill.
"Iya yuk, nggak tenang gue." Kelvin berdiri dari bangkunya.
"Mau ngapain ke kelas Karel?" Tanya Dinda.
"Mau cari Karel lah." Jawab Gadis
"Ihh, maksud aku ngapain cari Karel?" Tanya Dinda lagi.
"Iya kenapa kalian nyari Karel? Ke kantin aja yukk, laper nihh." Ujar Gina.
"Duhh, kalian berdua duluan aja yah. Ntar kita ceritain." Kata Sherill.
"Iya cerewet banget sihh. Udah yuk, cepetan." Seru Kelvin berjalan keluar.
Kelvin terburu - buru keluar sampai tidak melihat Carol yang berdiri di depan pintu kelasnya. Dan akhirnya menabrak Carol.
"Adduuhhh." Carol berbalik sambil memegangi bahunya yang kesakitan karena di tabrak.
"Eh, sorry - sorry.. nggak sengaja." Ujar Kelvin.
Tadinya Carol mau marah dengan orang yang menabraknya, tapi karena itu Kelvin, Carol tidak jadi marah malah melemparkan senyuman ke Kelvin.
"Mau kemana Vin? Buru - buru banget." Tanya Carol yang masih memegangi bahunya.
"Ah? ada urusan. Sekali lagi sorry yahh." Kata Kelvin.
Carol memasang wajah kesalnya.
"Sorry yahh. Hahhaha" Seru Sherill.
"Sialan !!!" Ujar Carol.
Sesampainya di kelas Karel, Sherill, Gadis dan Kelvin tidak menemukan Karel. Ternyata Karel tidak masuk, dan Karel sekarang lagi sakit.
"Tuh kan nggak ada." Ujar Kelvin meletakkan tangannya di pinggangnya.
"Ishh.. nggak usah khawatir gitu. Lo denger sendiri kan tadi kalau mamanya langsung yang menghubungi wali kelasnya, jadi yang psti sekarang dia dalam pengawasan Mamanya. Nggak usah mikir macem - macem." Kata Sherill.
"Iya nihh, pasti Karel nggak papa kok. Dan tadi dia ngomong gitu karena emang dia lagi sakit. Coba aja dia sehat, pasti nggak bakalan ngomong gitu ke Lo Vin, palingan kebalikan dari apa yang dia omongin tadi pagi. Hahahah." Ujar Gadis tertawa.
"Hhahaha, bener Lo Dis." Seru Sherill.
"Hmm.. ke kantin aja yuk, udah males gue." Kata Kelvin."
"Hahahah makanya jangan sok - sok an mikir macem - macem." Kata Sherill.
"Ya gimana nggak, gue kan kaget dia ngomong gitu pake nada pelan banget. Terus habis itu ponselnya nggak bisa di hubungin, wajarkan gue jadi takut." Ujar Kelvin.
"Iya iyaa.. udah yuk cepetan ke kantin."
Karel terbaring lemah di rumahnya, Karel sakit akibat berada di depan rumah Kirana semalaman sampai ketiduran di dalam mobilnya. Sekarang Karel mencoba untuk melupakan Kirana secara perlahan - lahan, seperti permintaan Kirana dan orang tua Kirana. Meskipun itu sangat sulit untuk Karel tapi dia akan berusaha untuk melakukannya.
Di kantin Carol sedang duduk sendirian menunggu makanannya, tiba - tiba seorang kakak kelas datang menghampiri dan mengganggu Carol yang tengah duduk sendiri tanpa teman. Kakak kelas itu bernama Andika, yang memang terkenal sebagai pengganggu di sekolah mereka, tapi Andika hanya mengganggu anak - anak yang bermasalah saja.
"Ohh ini yang namanya Carol?" Ujar Andika mengambil posisi duduk tepat di depan Carol.
"Kenapa kak?" Tanya Carol.
"Kenapa? Nggak kok gue cuma pengen kenalan aja sama cewek yang berani - beraninya memfitnah Kirana dan membuat heboh satu sekolah hanya dengan pesan teks Lo yang menjijikkan itu." Ujar Andika.
"Maaf kak, tapi gue nggak mau kenalan sama kakak." Kata Carol dengan santainya.
"Wiihhh.. lancang sekali Lo yahh? Lo nggak ngerti juga apa maksud dari ucapan gue barusan?" Pantesan aja Lo nggak punya teman dan makan sendirian kayak gini." Kata Andika sambil memainkan garpu yang sedang dia pegang.
"Iya gue nggak ngerti maksud kakak, dan kakak juga nggak ada hubungannya sama pesan yang gue kirim ke grup sekolah, kakak bukan siapa - siapanya Kirana, jadi kakak nggak usah kayak gini." Ujar Carol menantang Andika.
"Makin banyak bicara Lo yahh? Heiii.. di sini ada nggak yang mau temenan sama cewek ular kayak dia?" Teriak Andika melihat seisi kantin.
"Nggak ada lahh.. ngapain? Nanti yang ada kita jadi sasarannya kalau dia udah nggak suka sama kita."
"Dihh mending gue nggak punya teman kalau harus berteman sama cewek tukang fitnah kayak dia."
"Iya.. mana fitnahnya nggak kira - kira lagi."
"Orang baik kayak Kirana kok di fitnah sampai segitunya, di grup sekolah lagi."
"Kalau di grup kelasnya sih yah terserah, ini di grup sekolah.. udah gila kali yah."
"Siapa sih di sini yang nggak tau Kirana? Kita semua hampir tertipu hanya satu pesan teks yang di kirim cewek ular itu."
"Denger kann??? Nggak ada yang mau berteman sama Lo !!!" Seru Andika.
"Gue juga nggak mau berteman dengan kalian, NGGAK LEVEL !!!"
"Wahh parah tuh anak, kok ngomong kayak gitu." Kata Sherill yang dari tadi melihat dari kejauhan.
"Dia kan emang kayak gitu, nggak usah heran." Kata Gadis.
Perdebatan Andika dan Carol belum selesai, semua yang ada di kantin hanya mentonton dan mengeluarkan argumen dan kebencian ke diri Carol. Carol semakin tidak terima atas apa yang dia terima di sekolah, kebencian yang mengatasnamakan Kirana semakin memuncak di dalam hatinya.
"Kalian dengerkan katanya dia nggak level berteman sama kita semua, dengernya adik kelas yang cantik. Gue di sini sebagai ketua osis, dan Lo tau kan gue juga terkenal sebagai pengganggu kehidupan anak - anak yang bermasalah seperti Lo. Gue nggak akan ngebiarin hidup Lo tenang - tenang aja, sampai Lo bisa merubah sifat Lo itu. INGAT ITU !!!!" Andika memukul meja pas di depan Carol dan meninggalkan Carol.
"WHATEVERRRRR !!!!" Seru Carol.
KIRANA POV
Aku duduk di pinggir kolam rumahku sambil membasahi setengah kakiku di dalam kolam. Setelah menyelesaikan home schoollingku yang menurutku lumayan susah karena aku harus belajar dengan mata yang tidak bisa melihat, sehingga harus belajar dengan berkebutuhan khusus. Ntah sudah berapa lama aku menjalani hidup sebagai Kirana yang tidak bisa melihat, setiap hari aku hanya bisa berdoa agar semuanya kembali normal.
Setiap aku sedang sendiri, aku selalu terbayang bagaimana bisa Karel melakukan semua hal yang tidak bisa aku percaya. Orang tuaku dan orang tua Karel yang dulunya sangat akrab sekarang menjadi seperti musuh akibat apa yang di perbuat Karel. Dan aku juga heran kenapa sekarang Karel mengejarku sampai seperti ini? Sudah berapa kali dia di usir tapi tetap saja dia datang lagi, lagi dan lagi.
“Permisi Mba.. ada telvon nih, katanya dari Mamanya Mas Karel.” Kata Bibi membawakan aku pesawat telvon rumahku.
“Ckk, kenapa lagi sih bi?” Kataku pelan.
Aku sangat malas untuk berbicara, tapi rasanya itu sangat tidak sopan. Jadi terpaksa aku berbicara dengan Mamanya Karel.
“Assalamualaikum.. kenapa tante?” Tanyaku.
“Maaf Kirana.. tante tau kalau kamu tidak ingin berbicara dengan Tante, tapi tante sangat membutuhkanmu. Tante mencoba menghubungi ponselmu tapi tidak bisa terhubung, jadi tante menghubungi nomor rumahmu.”
“Hmm? Iya tante, kenapa memangnya tante nelvon?”
“Karel sekarang lagi sakit, badannya sangat panas. Dari tadi dia hanya berbaring dan terus - terusan memanggil nama kamu Nak.. tante mau bawa dia ke rumah sakit, tapi dia sama sekali tidak mau. Tante bingung harus ngapain, karena dari tadi dia hanya menyebut namamu, jadi tante telvon kamu. Maafkan tante kalau tante selancang ini nak.”
Aku tidak tega mendengar Mamanya Karel dari tadi minta maaf, diakan nggak salah apa - apa.
“Terus Kirana harus ngapain tante?” Tanyaku bingung.
“Bisa minta tolong kamu bicara sama Karel dulu nak? Suruh dia ke dokter, tante yakin kalau kamu yang bilang pasti dia mau. Tante sangat khawatir dengan keadaannya yang seperti ini. Tadi malam dia nggak pulang ke rumah, pas pagi dia pulang dia pingsan pas di depan rumah nak. Tante sangat khawatir.” Mamanya Karel mulai menangis, rasanya sakit sekali kalau mendengar orang tua menangis.
“Baiklah tante, biar Kirana coba untuk bicara dengan Karel.”
“Makasih Nakk, tunggu yah tante bawakan ke kamarnya.”
“Iya tante.”
Saat itu rasanya aku tidak bisa menolak karena Mamanya Karel sampai menangis seperti itu mengkhawatirnkan anaknya. Aku nggak tau Karel kemana sampai nggak pulang, seingatku dia hanya ada di rumahku tadi malam.
“Ini Nakk.. kamu bicara dengan dia yahh.”
“Kiranaa.. Kiranaa.. Kiranaa..” aku mendengar suara Karel samar - samar memanggilku.
“Halooo.. Karel.. ini Kirana, kamu kenapa?” Tanyaku pelan.
“Kirana.. Kiranaa..” Karel tidak menjawabku, dia hanya terus - terusan menyebut namaku.
“Heii, iya ini akuu.. kenapa kamu terus memanggilku? Aku sudah mendengarmu. Bangunlah Karel.”
“Kirana? Kamu? Kamu mau berbicara denganku? Kirana aku sakit, aku membutuhkanmu. Aku mau ada disampingmu seperti dulu, kamu selalu menjagaku, merawatku saat aku sakit. Kirana kamu dimana? Aku mau kamu ada di sini. Maafin aku udah berbuat sesuatu yang sangat fatal sama kamu, maaf Kirana.” Karel mulai menangis mengeluarkan semua yang ada di hatinya. Kurasa sekarang dia setengah sadar karena sakit.
“Iyaa, sekarang kamu kerumah sakit dulu yah sama mama kamu. Supaya kamu sembuh, dan nggak sakit lagi.” Aku sengaja berbicara seperti itu, agar Mamanya tidak khawatir lagi. Dan itu berhasil, dia mendengarku. Karel mau kerumah sakit bersama Mamanya.
=====