Waktu aku dan Karel pacaran, Karel memang sangat manja denganku. Melebihi manjanya sama Mamanya sendiri.
Setelah berhasil membujuk Karel untuk kerumah sakit, aku mematikan telvonnya. Mungkin Mamanya masih ingin berbicara denganku nanti, tapi sekarang dia fokus untuk membawa Karel ke rumah sakit. Aku tidak berhenti menggoyang - goyangkan kakiku di dalam air, rasanya sangat nyaman dan membantuku merilekskan fikiranku. Tidak lama bibi datang membawakanku buah - buahan yang sudah dia kupaskan dan potong - potongkan untukku. Bi Sri menemani bercerita siang itu, aku menceritakan apa yang baru saja terjadi, perbincanganku antara Karel dan juga mamanya.
“Eh, iya Mba.. tadi kata pak Adi, Mas Karel nggak pulang dari semalam. Mas Karel tidur di dalam mobilnya, untung aja Pak Adi cepat keluar tadi pagi, kalau nggak, mungkin Mas Karel bisa pingsan di dalam mobilnya dan nggak ada yang tau.” Kata Bibi yang juga ikut duduk bersamaku di pinggir kolam.
“Beneran bi? Dari semalam?” Tanyaku.
“Iya Mba, Pak Adi sampai kaget liat Mas Karel masih ada di depan rumah. Katanya sih tadi malam Mas Karel sangat galau gitu mba, sedih, kayak nggak punya semangat hidup lagi. Terus kan Pak Adi ngajak ngobrol tuh, tapi Mas Karel hanya memandangi ponselnya terus, yang ada fotonya Mba Kirana dan Mas Karel.” Ujar Bibi berbicara sangat cepat.
“Kirana salah yah Bi kalau menghindar terus dari Karel? Apa Kirana keterlaluan sampai membuat dia seperti itu?” Tanyaku.
“Kalau menurut bibi, Mba Kirana nggak salah, kan perasaan orang nggak bisa di paksain, nggak bisa di paksain untuk suka sama semua orang, pasti ada plus minusnya, nggak semua harus di terima. Lagian kalau Mba Kirana udah nggak bisa, kan nggak bisa di paksa.” Kata Bibi.
“Iya Bii.. Kirana nggak bisa, kalau mungkin memaafkan Karel Kirana bisa Bi, tapi kalau utnuk menerimanya lagi, atau harus dikatakan hanya untuk berteman saja, Kirana nggak bisa. Nggak bisa seolah - olah nggak terjadi apa - apa Bi.. dan sekarang mungkin Kirana udah bisa berusaha ikhlas menjalani kebidupan Kirana yang sekarang, tapi kalau ingat Karel atau ada Karel datang pasti kejadian itu muncul lagi di ingatan Kirana.” Kataku tidur di pangkuan bi Sri di pinggir Kolam.
“Iya Mba, Bibi mengerti maksud Mba Kirana. Mba Kirana nggak usah sedih lagi yah, kan sekarang juga ada Mas Kelvin yang bisa selalu ada buat Mba Kirana. Mas Kelvin ganteng tau Mba, tapi emang sih lebih gantengan Mas Karel. Hihihi.” Kata Bibi mencoba menghiburku.
“Apasih bibi ihh hahaha. Kok malah banding - bandingin Karel sama Kelvin sih.”
“Bibi tuh nggak sengaja dengar percakapan Ibu sama Bapak Mba, katanya mereka pengen sekali kalau suatu saat Mba Kirana sama Mas Kelvin berjodoh. Karena menurut ibu sama Bapaknya Mba, Mas Kelvin itu orang baik, penyabar, dan kelihatannya sayang banget sama Mba Kirana.” Kata Bibi
“Hmm, itu lagi itu lagi.. kapan bibi dengernya?” Tanyaku bangun dari pangkuan bibi.
“Nggak tau deh Mba, udah beberapa minggu kali kalau bibi nggak salah ingat. Maklum lah Mba, bibi kan sudah tua.”
“Hahaha iya - iya bii.. padahal tuh aku udah larang mereka untuk nggak ngomongin hal itu lagi Bi.. mana ada sih bi cowok yang mau sama cewek buta? Nggak ada Bi..” aku kembali mencelupka setngah kakiku di dalam kolam renang.
“Husshh.. mba nggak boleh ngomong gitu. Banyak kok pasangan - pasangan yang saling menerima pasangannya apa adanya. Dan mereka bisa hidup rukun, tanpa harus memandang fisik pasangannya.” Jelas bibi.
Bi Sri orang yang paling bijak, yang selalu memberiku nasehat - nasehat kalau Papa dan Mama lagi nggak ada di rumah. Hanya ada bi Sri yang selalu aku temani bercerita, kadang juga sih bertiga sama Pak Adi. Tapi karena Pak Adi harus terus menjaga keamanan rumahku, jadinya aku hanya berdua sama Bibi. Yahh walaupun bibi kadang dia agak centil, dia bisa menjadi sosok orang tua yang mengerti.
“Tapi Kirana nggak mau seperti itu Bi, Kirana harus berusaha sembuh dan harus melihat lagi bi. Kirana harus lebih banyak bersabar, Kirana juga tidak mau kalau harus terus membebani Kirana dengan selalu menanyakan donor mata Kirana.” Kataku.
“Iya sabar yah Mba, Tuhan pasti mendengar semua doa - doa yang Mba panjatkan setiap harinya.” Kata Bibi mengusap - ngusap pundakku.
“Amiinn iyaa Bi.. makasih yah selalu mau mendengar curhat Kirana, bibi juga orang paling sabar yang selalu mau mendengar keluh kesahnya Kirana yang hanya itu - itu saja setiap harinya.”
“Iyaa Mbaaa.. kapanpun Mba Kirana butuh bibi, insyaAllah bibi akan selalu ada, doain bibi panjang umur aja.” Kata Bibi.
“Uuuhh Bibi kok ngomongin umur sih.. Kirana jadi sedih nihh.” Aku memeluk bibi.
“Tapi biarpun bibi udah tua, bibi tetap cantikkan Mba?” Tanya Bibi tertawa.
“Hahaha iye deh.. bibi emang paking cantik dan awet muda.”
Author POV
Tingg tooonggg tingg toongg..
Bell rumah Kirana berbunyi..
“Permisi pak, Kirananya ada?” Tanya Carol. Carol dari sekolah langsung ke rumah Kirana.
“Oh, iya ada Mba.. tunggu sebentar dulu yah.” Kata Pak Adi berjalan mencari Kirana.
“Mba Kirana.. ada yang nyariin tuh, kalau nggak salah ingat namanya Carol Mba.” Kata Pak Adi.
“Carol? Kok Carol kesini? Dia diaman sekarang pak?” Tanya Kirana.
“Masih di depan Mba, saya suruh menunggu dulu.” Kata Pak Adi.
“Kenapa Carol kesini yah? Dia mau apa lagi?” Gumam Kirana dalam hatinya.
“Hmm.. Bi, anterin aku keluar yah.” Ujar Kirana sembari berdiri.
“Iya ayo Mba.” Bi sri membantu Kirana berdiri.
“Ehh, atau suruh masuk aja deh Bi di sini. Aku nunggu di sini yah Bi.” Kata Kirana.
“Oh oke Mba, Pak Adi suruh masuk aja. Biar Bibi yang anter masuk kesini.” Kata Bi Sri.
“Oke siaappp.” Pak Adi keluar dan memanggil Carol.
Carol masuk ke dalam rumah Kirana, membawa sekotak cupcake di tangannya. Menghampiri Kirana yang sedang duduk di kolam renang pribadinya.
“Haii Kiranaa.. apa kabar??” Sapa Carol.
“Iya haii Carolll.. alhamdulillah aku baik - baik aja. Duduk Carol.. Ada apa kamu kesini?” Tanya Kirana.
“Gue boleh duduk di samping Lo?” Tanya Carol menghampiri Kirana yang lagi duduk di pinggir kolam.
“Basahh.. kamu duduk di atas aja.” Kata Kirana .
“Nggak papa Kirana, udah pulang juga kok. Bajunya juga nggak di pakai besok.” Kata Carol sembari duduk dan mencelupkan juga setengah Kakinya.
“Hmmm.. kenapa kamu kesini?” Tanya Kirana lagi.
“Maaf yah, kalau gue gangguin kamu dan menyita waktu Lo siang - siang gini. Gue mau ngomong sama Lo Kirana, gue bener - bener minta Maaaaaafffff, atas perbutan jahat gue lagi.” Carol memegang tangan Kirana.
“Aku udah maafin kamu kok, nggak masalah buat aku. Tapi ku mohon kalau memang kamu udah minta maaf gini, jangan di buat lagi. Kasian teman - teman aku harus menanggung semuanya di sekolah. Cari ini lah itu lah, belum lagi kalau harus di tanya - tanya sama satu sekolahan. Itu sangat mengganggu konsentras mereka untuk menghadapi ujian.” Ujar Carol tanpa melepaskan tangannya yang di pegang Carol.
“Iya Kirana.. gue janji gue nggak akan berbuat seperti itu lagi. Gue minta maaf yahh. Ini ada cupcake Kirana.. kita makan bersama yah.” Kata Carol sambil membuka box kuenya.
“Oh iyaa.” Kirana meraba isi boxnya.
“Mba ini di minum dulu.” Kata Bi Sri membawakan dua gelas minuman untuk Carol dan Kirana.
“Makasih yah Bi.” Kata Kirana.
“Iya Bibiiii makasih yahhh.” Seru Carol tersenyum.
“Kirana gue juga pengen cerita.” Ujar Carol sambil memakan cupcakenya.
“Cerita aja, cerita apaan?” Tanya Kirana.
“Soal teman - teman kamu Kirana, mereka nggak mau berteman sama gue. Dan tadi gue baru saja dapat perlakuan buruk dari kak Andika ketua osis itu hikss hiksss.” Carol berpura - pura menangis di depan Kirana.
“Lo nangis Carol?” Kirana mencoba meraba pipi Carol tapi Carol menjauhkan wajahnya dari tangan Kirana.
“Hikkss nggak kok Kirana, gue nggak nangis. Gue udah biasa dapat perlakuan buruk, tapi tadi rasanya sakit banget, Gue di permalukan di depan siswa - siswa lain di kantin, belum lagi adik - adik kelas yang melihat gue. Gue sangat malu Kirana huhuhu.” Carol semakin membuat - buat tangisannya.
“Gara - gara apa Carol? Kenapa sampai kak Andika seperti itu? Kenapa lagi?” Tanya Kirana memegang tangan Carol.
Carol tersenyum licik..
“Yahh karena apalagi Kirana, selain pesan teks yang aku kirim di grup itu. Kata kak andika kenapa gue memfitnah kamu seperti itu, padahalkan gue udah minta maaf sama Lo. Dan gue ngelakuin itu karena khilaf aja saat itu Kelvin dan sahabat - sahabat kamu yang lainnya nyuekin aku, bukan karena gue emang nggak suka sama Lo. Satu sekolahan sekarang membenci gue karena gue memfitnah Lo Kirana. Sekarang gimana caranya gue bisa dapet teman lagi kalau sepertinitu Kirana? Huhuhuhu.” Ujar Carol melancarkan keinginannya membuat Kirana luluh.
“Sampai segitunya yah Carol? Maafin aku yah Carol, mereka semua sampai seperti itu padahal aku sudah nggak ada di sekolah itu.” Ujar Kirana.
“Iya Kiranaa.. mereka semua jahat banget. Tapi Lo nggak perlu minta maaf Kirana, ini semua memang salah gue. Hiikkss hikss hiksss.” Carol mengambil sedikit air kolam dan membasahi pipinya karena dari tadi Kirana sangat ingin memegang pipi Carol.
“Sudah jangan nangis lagi Carol.. semuanya pasti akan hilang dengan sendirinya, aku akan cari cara agar ada yang mau berteman sama Kamu lagi.” Kata Kirana menghapus air yang dia Kirana itu air mata di pipi Carol.
“Puffttt..” Carol tertawa sampai tidak sadar. “Ehmm uhuk uhuk uhuk.” Carol berpura - pura batuk agar Kirana tidak sadar kalau Carol sempat tertawa.
“Nggak usah seperti itu Kirana. Gue bisa kom tanpa teman. Tapi sebenarnya gue sangat ingin berteman dengan Sahabat - sahabat Lo, tapi mereka nggak mau menerima gue lagi. Dan sekarang Kelvin juga nggak mau deket - deket lagi sama gue Kiranaaaaa huhuhuhu padahal gue suka sama Kelvin, tapi kalau seperti ini gue nggak bisa dapat kesempatan buat dekat sama Kelvin.” Ujar Carol yang masih berpura - pura menangis.
“Hmm.. bagaimana yahh Carol, aku nggak bisa menyuruh mereka untuk mau menerima kamu lagi, karena itu hak mereka mau berteman dengan siapa saja. Kalau untuk Kelvin cobalah bersabar dan dekati Kelvin pelan - pelan, dia pasti mau kok.” Ujar Kirana sambil tersenyum. Tapi dalam hati Kirana sebenarnya tidak suka mendengar bahwa Carol menyukai Kelvin.
“Udahh Kiranaaa, gue udah seperti itu. Gue udah berusaha, sepertinya Kelvin suka sama Lo Kirana.” Ujar Carol.
“Nggak lah, kenapa Kelvin suka sama cewek buta kayak aku. Itu nggak mungkin.” Kata Kirana.
“Kirana tapi kalau beneran Kelvin suka sama Lo, apa Lo mau pacaran sama Kelvin? Maaf yahh Kirana, tapi Lo nggak mau kan membuat Kelvin malu kalau... yah sapa tau aja dia ngajak kamu jalan, pasti bakal jadi perhatian banyak orang. Terus pasti lebih nyusahin Kelvin, karena harus mengurus ini itu buat Lo terus, bukan Lo mengurus dia. Apalagi kalau Kelvin sakit pasti, Lo nggak bisa ngapain - ngapain kan Kirana?” Tanya Carol dengan santainya.
“Iya Carol makanya aku nggak bakalan ngebiarin Kelvin suka sama cewek yang merepotkan kayak aku.” Kata Kirana tertunduk.
Hati Kirana sakit sekali mendengar ucapan seperti itu dari orang lain. Tapi Kirana memang sadar semuanya tidak bisa dia lakukan kalau berpacaran dengan Kelvin.