Setelah Carol berbicara seperti itu, suasana kelas kembali tenang. Memang mereka semua terkesima dengan apa yang barusan Carol lakukan, tapi tidak ada satupun yang memulai pembicaraan dengan Carol atau pun meminta maaf dengan Carol.
Carol yang melihat ekspresi semua teman - temannya sangat senang, karena menurut Carol teman - temannya cukup simpatik dengan apa yang Carol rasakan saat ini. Tapi semua itu hanyalah acting dari Carol, di balik kata - katanya yang akan dikasihani, Carol tersenyum dengan liciknya.
Jam istirahat pun tiba, Sherill, Gina, Gadis, Dinda dan juga Kelvin berjalan bersamaan menuju kantin seperti biasanya.
"Kalian denger nggak sih apa yang Carol bilang tadi?" Tanya Gina melipat kedua tangannya.
"Dengerlahh, gue sampai nggak bisa berkata apa - apa tau nggak." Jawab Sherill.
"Apalagi gue.. gue jadi merasa berasalah tau nggak sih sama dia." Kata Kelvin tertunduk.
"Lahh.. kok Lo merasa bersalah sih, ini semuakan awalnya emang karena dia. Kalau nggak ngelakuin itu semua, pasti dia juga nggak akan seperti ini sekarang. Nggak akan di musuhin sama teman - teman, mana ada sih yang mau berteman dengan orang jahat kayak gitu." Kata Dinda.
"Gue setuju sih sama apa yang Dinda bilang, kan bukan salah kita dia kayak gitu. Dan anak - anak yang lain juga pasti tau yang mana yang benar yang mana yang salah. Hanya untuk ke depannya kita nggak usah terlalu ngegubris dia kalau kita emang nggak bisa dan nggak mau berteman sama dia. Itu jadi hak masing - masing sih." Kata Gadis.
"Nahh, iya bener tuh." Seru Dinda.
Di kantin sudah banyak siswa - siswi yang mengisi meja - meja, seperti biasa mereka duduk di tempat favorit mereka. Kelvin yang sudah duluan memesan makanan, kembali ke mejanya menunggu makanannya. Sembari menunggu Kelvin mengambil ponselnya dan mengecek ponselnya.
"Astaga Sheriillll !!!!" Teriak Kelvin melihat ke arah Sherill yang sedang memesan makanan.
"Apasihh???" Tanya Sherill bingung.
"Sini cepetan." Panggil Kelvin melambaikan tangannya.
Sherill berjalan cepat menuju Kelvin, Kelvin memperlihatkan ponselnya yang masih terhubung dengan Kirana.
"Haaahhh !!!" Sherill menutup mulutnya.
"Gimana dong?" Kata Kelvin tanpa mengeluarkan suara.
Sherill mengambil ponsel Kelvin dan mematikan telvonnya yang masih terhubung dengan Kirana.
"Ehh kok Lo matiin sih?" Tanya Kelvin melihat ponselnya.
"Duhh gue panik tauu.. gimana dong ini, pasti Kirana denger semua yang terjadi dari tadi." Sherill duduk di kursi makannya sambil menepuk jidatnya.
"Elo sihh, gue kira Lo udah matiin tau nggak sih telvonnya. Pasti sekarang Kirana lagi mikirin ini semua, dan sekarang lagi nyalahin dirinya lagi karena mendengar semua ucapan dari Carol." Kata Kelvin.
"Ada apasih kok tegang banget?" Tanya Gadis yang membawa segelas es teh.
"Ini nih si Sherill, dia nggak matiin telvonnya Kirana tadi, gue baru ngeceknya juga pas udah di sini." Kata Kelvin.
"Haahh?? Beneran? Jadi Kirana denger semua dong dari tadi." Ujar Gadis.
"Apaan?? Yang di kelas tadi?" Tanya Gina. Di ikuti Dinda yang juga membawa segelas es teh.
"Iyaa.. hmm gimana dong.. apa kita tunggu Kirana nelvon lagi aja? Atau kita yang nelvon duluan buat ngejelasin apa yang semuanya terjadi tadi?" Kata Sherill.
"Hmm.. kita tunggu aja Kirana nelvon, tapi menurut gue sih, Kirana nggak bakal nelvon deh. Mending kita ke rumahnya aja ntar, lebih baik di jelasin langsungkan." Kata Gadis.
"Gue nggak mau kalau Kirana tau kalau Carol suka sama gue, pasti itu mengganggu banget. Dan dia pasti nyuruh gue buat ngebuka hati sama Carol, yah paling nggak dia nyuruh gue untuk baikan sama Carol. Gue nggak mau guyss." Ujar Kelvin.
"Tenang Vinn.. kalau Lo nggak mau kan nggak papa, itu hak Lo. Lo tinggal ngomong baik - baik saja sama Kirana. Kirana nggak bakal maksa kok." Kata Gadis lagi.
"Iya Vin.. kita tenang aja dulu, kita jelasin baik - baik apa yang sebenarnya terjadi. Toh ini bukan salah kita." Kata Dinda.
"Tapi kalian tau kan Kirana gimana? Pasti habis itu dia minta maaf lagi sama Carol, apalagi tadi Carol menyebut nama Kirana." Kata Sherill.
"Kita buat Kirana yakin kalau apa yang udah kita lakuin adalah langkah yang terbaik, agar kita nggak ada masalah lagi dengan Carol, harus dengan cara ngejauhin Carol." Kata Gadis.
Makanan mereka pun datang di antarkan oleh ibu kantin.
"Udah makan dulu guyss, jangan mikirin yang nggak jelas. Kita udah harus fokus ujian." Kata Gina mengambil sendok garpu yang ada di hadapannya.
Mereka pun menghabiskan makanannya dan kembali ke kelas. Jam istirahat belum berakhir, masih ada dua puluh menit sampai jam pelajaran berikutnya.
"Rill, minta nomor barunya Kirana dong." Karel tiba - tiba datang ke kelas Sherill.
"Hah? Gue nggak di izinin buat ngasih Lo nomornya Kirana. Justru Kirana ganti nomor tuh juga buat ngehindarin Lo." Ujar Sherill.
"Pleaseee Sherill.. Kirana nggak mungkin gitu kok, buktinya dia udah mau ngomong sama gue secara langsung." Kata Karel.
"Emang iya?" Celetuk Kelvin.
"Lo nggak percaya? Bahkan dia udah mau nerima bunga dan strawberry kesukaannya yang gue bawakan ke rumahnya." Kata Karel.
"Kok Kirana nggak cerita sama kita - kita." Seru Dinda.
"Emang harus yah semuanya di ceritain sama kalian?" Tanya Karel.
"Iyalah, Kirana tuh ceritain semua ke kita, apapun itu." Kata Gadis.
“Iya iyaa.. tapi beneran Kirana udah mau ngomong sama gue. Please lahh, kalian semua baikkan tolong dong nomornya Kirana.” Kata Karel memohon.
“Gini yahh Karel.. meskipun Kirana udah mau ngomong sama Lo, tapi kita sebagai sahabatnya Kirana nggak mau kalau Lo sampai deket lagi dan mengganggu Kirana lagi. Tolong Lo ingat apa yang udah Lo perbuat pada Kirana, Lo nggak bisa segampang ini untuk masuk ke kehidupannya Kirana lagi. Kalau pun memang Kirana udah maafin Lo, dia pasti bakalan ngomong sama kita semua.” Jelas Sherill.
“Kok kalian gitu sih? Kalian emang nggak mau ngeliat gue dan Kirana bersama lagi?? Gue bisa bahagiain Kirana, gue bisa menjaga dia guysss, dan gue udah benar - benar menyesal dengan apa yang sudah gue perbuat, gue mau menebus itu selagi Kirana udah berniat baik buat ngomong lagi sama gue.” Karel menarik bangku yang ada di samping Sherill.
“Ribet banget sih Lo.. kalau mau minta sana sama orangnya langsung, jangan minta sama kita, kita nggak ada hak buat ngasih nomor barunya Kirana tanpa sepengetahuan Kirana.” Seru Kelvin dengan Ketus.
“Iya bener tuhh kata Kelvin.. mending sekarang Lo pergi dari kelas kita deh Rel.” Ujar Dinda.
“Hmmm.” Karel berdiri dan meninggalkan kelas mereka.
Setelah menyelesaikan beberapa sisa jam pelajaran, akhirnya jam pulang pun tiba. Karel berinisiatif untuk pergi ke rumah Kirana. Karel lagi - lagi membelikan satu bucket bunga mawar dan buah strawberry kesukaan Kirana.
Tingg tonngggg tingg toonggg..
“Assalamualaikum.” Ujar Karel dari luar pagar rumah Kirana.
Pak Adi langsung melihat dari cctv.
“Aduhh kok anak itu datang lagi? Kan udah di bilangin kalau nggak boleh datang. Ckkk, bikin repot saja.” Gumam Pak Adi Kesal.
Tingg tonggg tingg tonggg..
Karel lagi - lagi membunyikan bell, tapi Pak Adi belum bergerak untuk membukakan pintu. Kirana yang mendengar suara bell itu memanggil Pak Adi dari balkon kamarnya.
“Pak Adiii?? Apa Pak Adi ada di situ??” Panggil Kirana.
“Iya Mbaa.. ada kok..” jawab Pak Adi mendongakkan kepalanya ke balkon kamar Kirana.
“Siapa yang datang kok nggak di bukain pagar?” Tanya Kirana.
“Itu Mba.. Mas Karel datang lagi, kan bapak sudah bilang jangan datang lagi. Nanti saya lagi yang di marahin sama Papanya Mba, kalau bukain pintu.” Kata Pak Adi.
“Kiraanaaaaaaa.. kamu denger aku kannn??? Aku mau ketemu sama kamu.” Teriak Karel.
“Hmmm.. suruh pulang aja pak, Kirana juga nggak mau ketemu Karel, Kirana mau istirahat.” Kata Kirana pelan.
“Oh, iya baik Mba.”
Belum sempat Pak Adi keluar, Sherill, Gina, Gadis, Dinda dan juga Kelvin sudah tiba di rumah Kirana.
“Woii, ngapain Lo ke sini?” Tanya Sherill.
“Kenapa lagi sih nih anak kesini” gumam Kelvin melihat Karel dengan wajah kesalnya.
“Gue mau ketemu Kirana lah, ngapain lagi kalau bukan ketemu Kirana.” Ujar Karel ketus.
“Assalamualaikum.. Pak Adii bukain pintu dong, kami mau masuk nih.” Seru Dinda menghiraukan adanya kedatangan Karel.
“Iya masuk - masuk.”
Karel dengan senyuman di wajahnya juga ikut melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah Kirana.
“Stopp.. maaf tapi Mas Karel nggak boleh masuk, mba Kirana nggak mau bertemu dengan Mas Karel.” Pak Adi menghentikan langkah Karel.
“Pufffttt..” Kelvin tertawa kecil.
“Yahhh, kasian nggak bisa masuk.” Seru Gina.
“Tapi Pakk..” Karel perlahan mundur.
“Maaf Mas Karel, tapi saya sudah beri tahu mba Kirana. Kata Mba Kirana dia nggak mau ketemu sama Mas Karel.” Ujar Pak Adi.
“Sabar yah Relll. Eh tapi mana katanya Kirana udah mau ketemu sama Lo, tapi ini kok nggak mau sih.” Kata Sherill.
“Bener kok, tanya aja Pak Adi. Pak Adi iya kan saya sempat ketemu sama Kirana? Dan Kirana mau menerima bunga yang saya bawa hari itu kan?” Tanya Karel ke Pak Adi untuk meyakinkan teman - temannya.
“Iya bener Mba.” Jawab Pak Adi melihat Sherill.
“Ohh ya udah kalau bener.” Kata Sherill.
“Udah yukk masuk aja, biar Pak Adi yang ngurusin Karel.” Ujar Dinda yang sidah kelelahan.
Sherill, Gadis, Gina, Dinda dan juga Kelvin masuk, meninggalkan Karel dan Pak Adi yang berada di luar.
“Maaf yahh Mas Karel, tapi saya haru menutup pagarnya lagi.” Kata Pak Adi menarik pagar rumah Kirana perlahan.
Karel terlihat sangat kecewa.
“Kalau gitu saya titip ini aja pak, mohon di kasih ke Kirana yah Pak Adi. Makasih banyak.” Ujar Karel pelan, berjalan menuju mobilnya.
“Iya oke Mas.” Kata Pak Adi.
Pak Adi juga tidak tega kalau terus - terusan harus menyuruh Karel pergi, tapi mau bagaimana lagi itu adalah perintah dari yang punya rumah. Pak Adi tidak berhak untuk mempersilahkan orang lain untuk masuk ke rumah begitu saja.
“Kiranaaa.. Kiranaaa.” Panggil Dinda.
“Tunggu sebentar yah Mba, bibi coba panggilkan.” Ujar Bi Sri.
Sebelum Bi Sri naik ke kamar Kirana, Kirana sudah turun duluan.
“Guyss.. aku mau nanya ke kalian.” Kata Kirana yang masih berada di tangga.
“Iya Naa.. kita tau Lo mau nanya apa.” Kata Gadis.
“Pelan - pelan.” Kelvin membantu Kirana turun perlahan dari tangga.
“Vinn.. Carol suka sama kamu yah? Itu beneran?” Tanya Kirana.
“Duduk dulu, jangan buru - buru gitu dong.” Kata Kelvin.
“Aku denger semua yang Carol bilang tadi, Carol menderita di sekolah gara - gara aku kan? Karena masalah pesan itu kan?” Tanya Kirana.
“Naaa, Lo taukan masalah pesan teks itu Carol sendiri yang memulainya? Ini semua bukan salah Lo, dia sendiri yang memulainya. Kenapa ini semua harus jadi salah Lo sih? Denger yah Naa, kalau Carol nggak melakukan hal semacam itu pasti seisi sekolah nggak akan kayak gitu ke dia.” Ujar Gadis dengan tegas.
“Iya Naa, please lahh jangan suka nyalahin diri Lo sendiri atas apa yang nggak Lo berperbuat. Dan ingat Carol pantas mendapatkan itu semua.” Kata Gina.
Kirana terdiam mendengar ucapan sahabat - sahabatnya.