Mereka semua menghabiskan waktu liburan selama dua hari di villa keluarga Kirana. Kelvin selalu ada di samping kirana di saat liburan itu, membuat Kirana dan Kelvin menjadi semakin dekat.
"Makasih yahh Tante.. Om.. Kiranaaa.. kita udah di ajak jalan - jalan dan di bolehin bawa buah - buahan sebanyak ini." Kata Dinda memegang dua keranjang yang berisi bermacam - macam buah.
"Makasih tante.. Om.. Kirana." Seru Gadis, Ginda dan juga Sherill.
"Iya sama - sama semuanya.. kalian udah temenin aku liburan." Balas Kirana.
"Makasih yahh anak - anak, kalian sudah mau liburan bersama kami." Kata Ibu Kartika.
"Kelvin juga makasih yah Om.. tantee.. sudah di izinkan ikut. Baru pertama kali Kelvin ikut - ikut ginian kecuali kalau pas perpisahan sekolah hehe." Ujar Kelvin.
"Uhhh, kaciaaannn." Seru Kelvin.
"Hahahah, iya Nakk.. kapan - kapan kita jalan - jalan lagi okeyy." Kata Pak Chandra.
"Makasih yahh Vinn, kamu udah mau nemenin dan ngehibur aku selama dua hari ini." Kata Kirana.
"Apasih Naa.. gitu doang makasih." Kata Kelvin mengacak - ngacak rambut Kirana.
Ibu Kartika dan Pak Chandra hanya senyum - senyum saja.
"Kalau gitu kita pulang yah tante.. Om.. Kirana.. sekali lagi makasih." Kata Sherill.
"Hati - hati." Kata Kirana.
"Byeee Naaa." Seru Gadis, Ginda dan Dinda.
"Aku pulang dulu yahh Naa.. om.. tantee.. Kelvin pamit yahh." Kata Kelvin sambil saliman dengan orang tua Kirana.
"Hati - Hati Nakk.."
"Byee Viinn.." Kata Kirana tersenyum.
"Istirahat kamu." Kata Kelvin lagi.
"Iya hati - hati Vin."
Senin Pukul 06:30
Hari senin seperti biasa Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Jakarta melakukan upacara bendera. Hari itu pengumuman ujian semester sudah hampir di mulai, semua siswa di harapkan untuk mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian kenaikan kelas.
"Wahh, nggak terasa yah kita udah mau kelas 3, ntar lagi lulus, kuliah, kerja dan nikah hahahah." Kata Dinda.
"Ckckckk nih anak udah mikirin nikah aja." Kata Sherill.
"Lah harus gitu.. iya kan guyss?" Tanya Dinda ke teman - temannya.
"Iyain aja biar cepet hahah." seru Gadis.
"Eh, tapi Kirana gimana yah? Gue kasian deh, padahal dulu dia pernah bilang kalau dia excited banget kalau hari kelulusan karena pengen coret - coret baju kita - kita semua." Kata Gina.
"Iya yah.. hmm kalau ingat kondisi Kirana sekarang pasti gue langsung ingat Karel. Dan pengen murka tau nggak di hadapan Karel. Arrgghhhh." seru Dinda.
"Ya Allah Diiinnn.. ini sekolah kenapa Lo teriak - teriak gitu sih." Kata Kelvin yang baru saja bergabung dengan mereka yang sedang berjalan menuju kelas.
"Tau nihh Dinda, berisik banget." Kata Sherill.
"Yahh, habis gue kesel, gue jadi benci banget sama Karel kalau ingat kejadian itu." Kata Dinda.
"Iya Diinn.. kita semua juga ngerasain apa yang Lo rasain, tapi kita nggak bisa berbuat apa - apa." Kata Gadis.
"Kemarin gue sempat nanya ke nyokap bokap gue, soal donor mata buat Kirana. Gue minta tolong ke mereka untuk bantuin cari donor mata buat Kirana." Kata Kelvin.
"Eh iya juga yahh.. gue juga minta tolong deh ke orang tua gue, sapa tau ada kenalan di rumah sakit gitu." Kata Gina.
"Kalau gitu kita berjuang sama - sama untuk bantuin Kirana." Kata Sherill.
"Okeyyy siaaappp." Seru Dinda.
"Ehh, Vinn.. cewek yang suka sama Lo tuh." Bisik Sherill memandang Carol yang sedang duduk di bangkunya.
"Ckk.. gue sama sekali nggak mau melihat wajahnya. Dan pleasee kalian alihkan pandangan gue dari Cewek itu. Iiihhh kalau di ingat lagi kejadian itu rasanya gue pengen mandi ngebersihin badan gue tau nggak." Kelvin menaikan bahunya dan berjalan dengan cepat ke bangkunya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Carol.
"Hahahahha.. sabar Vin.. emang kalau orang udah gila tuh kayak gitu." Seru Dinda.
"Puufffttt jangan berisik, nanti dia ngamuk lagi." Kata Gina berjalan menuju bangkunya.
Carol melihat semuanya, dan Carol tau kalau yang mereka bicarakan adalah dirinya. Tapi Carol diam saja di bangkunya, dia berusaha menahan sabar agar Kelvin bisa luluh dengannya. Carol mengirim pesan teks saat itu ke Kelvin.
"Gimana Vinn? Apa kamu sudah memikirkannya?"
Ponsel Kelvin bergetar, Kelvin melihat pesan itu dan langsung menghapusnya. Kelvin tidak mau membalas pesan dari Carol, dan langsung minyimpan kembali ponselnya di dalam saku bajunya. Dan Carol melihat itu, Carol tidak membiarkan hal itu terjadi begitu saja. Carol lagi - lagi mengirim pesan teks.
"Vinn? Kok nggak di balas?"
"Viinn, apa kamu tidak ingin bersamaku?
"Vinn, tolong di fikirkan lagi.."
"Balas Kelvin."
"Kelvin."
"Kelvin."
"Kelvin."
"Gue beneran suka sama Lo."
Carol mengespam ponsel Kelvin, dan itu membuat Kelvin terganggu. Ponselnga terus - terusan bergetar.
"Ckkk." Kelvin berdecak kesal.
"Kenapa Lo?" Tanya Sherill yang mendengar suara Kelvin.
Kelvin memberikan ponselnya ke Sherill.
"Puffttt.. apa perlu gue yang balas?" Tanya Sherill.
"Apaan sih? Liat dong." Kata Dinda.
"Ehh, Gin Gadis.. sini liat." Dinda mencolek Gina yang berdada di depan bangkunya.
"Wahahhahaah.. kok kasian gitu sih." Gina tertawa sangat besar.
"Ginaa.. jangan gitu.. nanti timbul masalah lagi. Jangan berisik nanti singanya ngamuk." Kata Sherill.
"Hahahah, iya maaf - maaf." Gina mengecilkan suaranya.
"Ini masih pagi, kok dia gitu sih. Bikin mood gue jelek aja pagi - pagi." Kata Kelvin menyenderkan kepalanya di mejanya.
"Sabar Vinn.. jadi ini gimana? Mau gue yang balas atau gimana?" Tanya Sherill.
"Nggak usah di balas, biarin aja. Kalau di balas pasti bakalan panjang lagi kan." Kata Kelvin.
"Matiin aja ponsel Lo Vin, biar nggak ganggu." Kata Gadis.
"Iya tolong matiin Rill. Gue nggak ada semangatnya hari ini gara - gara pesan nggak jelas itu." Kata Kelvin.
"Nihh.. simpen aja." Sherill mengembalikan ponsel Kelvin.
Pagi itu selesai upacara jam pelajaran seluruh kelas tidak ada, di karenakan guru - guru sedang merapatkan ujian semester. Tapi semua kelas di haruskan belajar sendiri dan tidak boleh ada yang keluar kelas. Di sela jam pelajaran itu Kelvin teringat Kirana, dan dia menyempatkan untuk menelvon Kirana.
"Halo.. pagi Kiranaaa."
"Kok nelvon? Nggak belajar yah?"
"Belajar dong, cuman gurunya nggak ada lagi rapat."
"Terus kenapa nelvon?"
"Pengen aja hehe."
"Kirana yahh?" Tanya Sherill.
"Iyaa." Jawab Kelvin.
"Mau ngomong juga dong." Kata Sherill.
"Haii Rill.. kalian kenapa nggak fokus belajar gini, malah nelvon lagi." Kata Kirana.
"Hahah, kita fokus kok Naa.. cuma nggak ada gurunya kan, jadi kita nyuri - nyuri waktu aja untuk nelvon kamu." Kata Sherill.
"Kita punya gosip Naa." Seru Dinda mendekatkan suaranya ke ponsel Kelvin yang sedang di genggam Sherill di telinganya.
"Sssttt Dindaaaa." Sherill menjauhkan telvonnya.
"Gosip apaan lagi?" Tanya Kirana.
"Jangan di kasih tau nanti jadi fikiran buat Kirana." Kata Kelvin mengecilkan suaranya.
"Nggak tau nihh Dinda.. Lo tau kan nih anak semuanya dia bilang gosip." Kata Sherill.
"Hahha, iya sih." Kata Kirana.
"Haii Naaa." Seru Gadis dan Gina.
"Iyaaa.. kalian belajar gihh." Kata Kirana.
Di sela - sela telvonan dengan Kirana, Carol mendatangi bangku Kelvin.
"Vinn.. lo nggak baca pesan gue yahh?" Tanya Carol.
Sherill cepat - cepat memencet tombol untuk mematikan telvon dari Kirana, agar Kirana tidak mendengar ucapan dari Carol. Tapi Sheril tidak memperhatikan bahwa telvonnya masih tersambung dengan Kirana. Sherill mengembalikkan ponsel Kelvin, tanpa mengecek ponselnya Kelvin langsung memasukkan ponselnya di dalam saku bajunya kembali.
"Apasihh? Lo nggak punya malu atau gimana?" Tanya Kelvin.
"Pleasee Kelvin, kasih gue kesempatan." Kata Carol.
"Halo Rill??" Tanya Kirana dari telvon tapi tidak di dengar oleh Sherill.
"Sheriill?? Kok jawab? Halo?" Kirana tetap tidak mendapatkan jawaban dari Sherill. Sementara itu Kirana masih mendengarkan percakapan antara Kelvin dan Carol.
"Kesempatan apa? Denger yah Carol, gue idah ngomong baik - baik sama Lo, Lo jangan pancing emosi gue untuk berbuat kasar sama Lo." Kata Kelvin.
Sherill, Gadis, Gina, Dinda dan juga Aldi teman sebangku Kelvin hanya diam memperhatikan mereka berdua. Mereka belum mau ikut campur.
"Gue nggak papa Vin, lakuin itu aja. Gue rela kok yang penting gue bisa sama Lo." Ujar Carol memegang tangan Kelvin.
"Lo gila yahh?? Sumpah yah rasanya gue pengen pindah sekolah gara - gara Lo tau nggak." Bentak Kelvin.
"Viinn.. Ginaa, Gadis, Dinda.. siapapun Kelvin sama Carol kenapa sih? Kok nggak ada yang ngejawab aku?" Tanya Kirana yang masih kebingungan dengan apa yang dia dengar.
"Lo denger nggak apa kata Kelvin? Lo jangan bikin harga diri Lo nggak ada dong sebagai cewek, aneh banget sih Lo." Seru Sherill yang dari tadi sudah geram mendengar ucapan Carol.
"Nggak usah ikut campur, ini urusan gue berdua sama Kelvin." Kata Carol dengan ketus.
"Woii.. ini juga urusan gue.. gue sama Kelvin udah sepakat siapapun yang menganggu kehidupan kita, kita berdua bakal saling bantu. Dan gue sekarang lagi bantuin Kelvin dari cewek gila yang selalu mengganggunya." Seru Sherill sambil berdiri dan membentak Carol.
"Rill.. sssttt.. jangan terbawa emosi gue malu kalau anak - anak pada tau kalau.. eerrhhh mending sekarang Lo pergi dari hadapan gue." Kelvin mendongak ke arah Carol dengan tatapan tajam.
"Lo mau ngomong apa? LO MALU KALAU ANAK - ANAK TAU KALAU GUE SUKA SAMA LO ?!?!?!?!!!" Teriak Carol melihat semua seisi kelasnya.
"Apa Carol suka sama Kelvin?" Tanya Kirana pada dirinya sendiri.
Seisi kelas yang tadi nya cukup tenang, semuanya menatap ke arah Kelvin dan Carol.
"Wahhh.. bener - bener sakit jiwa nih cewek." Seru Dinda.
"Kalian semua yang barusan mendengar ucapan cewek gila ini, apa kalian setuju kalau cewe gila ini mendekati Kelvin?" Teriak Sherill melihat kearah teman - temannya.
"Ya Nggak lahh.. ngaca dong Lo Carol, mana Mau Kelvin sama Lo.. cantikan gue kemana - mana."
"Parah banget sih Carol."
"Udah gila beneran.. sumpah."
"Nggak punya malu."
"DIAM KALIAN SEMUAAA. Kalian semua nggak tau gimana rasanya suka sama orang sampai seperti ini. Dan gue benar - benar tulus suka sama Kelvin. Kenapa nggak ada satu orang pun dari kalian yang peduli sama gue? Apa segitu bencinya kalian sama gue? Apa benar kalian sudah tidak menganggapku? Apa salah gue sama kalian sampai kalian juga seperti ini. Gue yakin kalian semua pernah ngelakuin kesalahan, gue juga tau kesalahan gue, dan gue sudah minta maaf, gue menerima konsekuensi dari kalian semua. Tapi kalian nggak menganggapngue ada di kelas ini, sedangkan Kirana yang nggak ada di kelas ini kalian masih menyebut namanya, gue tau Kirana orang yang paling baik di kelas ini, tapi apa pantas kalian semua melakukan ini sama gue?" Carol mengeluarkan kata - kata yang sangat panjang dan dramatis. Carol mengucapkannya sambil mengeluarkan air mata sambil berjalan pelan ke bangkunya. Tapi ini semua hanyalah acting belaka yang dilakukan Carol agar semua teman - temannya merasa bersalah pada Carol. Dan tentu saja semua yang ada di kelas menjadi diam melihat Carol yang seperti itu, mereka semua memasang wajah bersalah dengan Carol.
"Diem semua kan Lo hahahahha." Batin Carol sambil tertawa licik.
Kirana yang mendengar semua ucapan Carol ikut menangis dan merasa bersalah atas apa yang terjadi dengan Carol. Kirana merasa ini semua salahnya, Carol sampai di kucilkan oleah teman sekelasnya.
"Kita salah yahh?" Tanya Sherill duduk kembali ke bangkunya.
"Hah? Ntah lah Rill.. tapi apa yang dia bilang ada benarnya sih." Jawab Dinda.
Kelvin juga tidak bisa berkata apa - apa setelah mendengar semua ucapan Carol.
=====