Episode 38

1687 Kata
"Ya udah jangan nangis lagi, masa pagi - pagi udah nangis sih." Kiran tersenyum sambil mengusap air matanya. "Kamu mandi gih, biar mama yang packingin barang - barang kamu." "Iya Maa, makasih banyak yahh. Kirana sayang Mama." Ibu Kartika membuka lemari Kirana, mengeluarkan baju secukupnya untuk di bawa ke Villa. "Gimana Maa? Apa sudah selesai?" Tanya Pak Candra masuk ke kamar Kirana. "Iya sedikit lagi Pa, Kirana lagi mandi." Ujar Ibu kArtika. "Pahh, apa nggak ada kabar lagi dari rumah sakit mengenai donor mata untuk Kirana?" Tanya Ibu Kartika. "Belum ada Maa, kemarin pap sempat nelvon lagi ko ke rumah sakitnya. Katanya belum ada yang sesuai dengan Kirana, tapi mereka masih mengusakannya." Kata Pak Candra yang lagi duduk di sofa milik Kirana melihat istrinya packing. "Hmm.. kenapa gitu yah Paahh.. rasanya kita sudah menunggu sangat lama untuk mendapatkan donor mata. Atau gini aja Paah, coba kita share di sosmed aja, sapa tau ada yang dari luar negeri yang cocom buat Kirana, nggak di jakarta - jakarta aja." Kata Ibu Kartika. "Iya juga yah Maa.. ntar deh Papa coba, nangi papa juga kasih tau sekertaris papa di kantor buat share di sosmed." Kata Pak Chandra. "Iya Pahh.. Mama kasian sama Kirana, semalam dia menangis lagi dan tadi pagi juga dia masih menangis. Mama hanya bisa menguatkannya saja Paa." Kata Ibu Kartika berdiri dari tempat duduknya karena packingan barang - barang Kirana sudah siap. "Hmmm.. kita harus bagaimana lagi Maa? Kita sudah berusaha untuk mencarikan donor mata buat Kirana, tapi sampai sekarang belum ada. Yang bisa kita lakukan saat ini yah cuma berusaha, berdoa dan membantu Kirana melewati ini semua." Kirana selesai mandi hendak ingin keluar dari kamar mandinya, tapi mendengar semua percakapan orang tuanya dari dalam kamar mandinya langkahnya terhenti. "Maafin aku yah Maa Paa, harusnya aku nggak gini. Aku udah buat Mama sama Papa kesusahan gara - gara kesalahan aku sendiri. Memilih orang yang tidak tepat dalam hidupku dan membuat papa dan Mama juga ikut mananggung semuanya." Gumam Kirana tertunduk di balik pintu kamar mandinya. Tok tok tok.. Ibu Kartika mengetuk pintu rumahnya. "Sayangg Mama turun yahh, baju kamu sudah selesai mama packing. Kamu siap - siap yah." "Iya Maa." Jawab Kirana. "Assalamulaikuummmm." "Kiranaaaaa." Sahabat - sahabat Kirana dan juga Kelvin sudah datang, mereka semua sudah bersiap untuk berangkat. "Walaikumsalaaamm." Jawab Chandra. "Kirananya mana om?" Tanya Dinda. "Dia masih di kamarnya tunggu sebentar yah, sebentar lagi siap kok." Kata pak Chandra. "Masukkin aja dulu barang - barang kalian di mobil." "Okeyy Om." Pukul 08.00 mereka semua pun berangkat menuju Villa keluarga Kirana yang letaknya tidak jauh, yang terletak di salah satu puncak kota jakarta, dua jam perjalan mereka sudah sampai. "Waahhh besar sekali Villanya Kiranaaa." Seru Gadis. "Pemandangannya juga cantik, seger banget udaranya." Ujar Dinda. Kirana hanya tersenyum tipis. "Tenang Kirana.. aku bisa mendeskripsikan semua yang ada di sini buat kamu." Bisik Kelvin yang berada disamping Kirana. "Hmmm." Kirana tersenyum. "Kalian main sepuasnya yahh, di dalam juga ada kolam renang. Kalian keliling - keliling aja dulu. Di lantai dua terserah kalian mau pakai kamar yang mana semuanya sudah di bersihkan sama bibi yang menjaga Villa ini." Kata ibu Kartika. "Waaahhh makasih tanteee." Seru Gadis, gina, Sherill dan juga Dinda. Mereka semua berlari masuk ke dalam Villa. "Ayo sayang kita masuk." Ibu Kartika mengajak Kirana masuk. "Eh tante, boleh aku bawa Kirana jalan - jalan dulu di sekitar sini?" Tanya Kelvin. "Ohh, boleh Nakk. Terserah kalian, jangan lama - lama, kalian harus sarapan dulu. Udah di siapin makanan di dalam." Jawab ibu Kartika. "Okeyy, siap tante. Ayo Kirana." Kelvin memegang tangan Kirana. "Kita mau ke mana Vinn?" Tanya Kirana. "Ayo aku ajak kamu berkeliling biar kamu tau apa aja yang ada di sini." Kata Kelvin. "Nahh, di sekitar Villa banyak tanaman bunga - bunga yang berwarna - warni, terus ada ayunan di tamannya. Rumputnya sangat hijau loh Kirana." Jelas Kelvin. "Iya Vinn.. sepertinya ini belum berubah, aku sempat kesini kok dua tahun lalu sama Karel, keluarganya dan keluarga aku." "Oh gitu yah. Hmm, sepertinya aku yang terlalu semangat menjelaskan semuanya sama kamu Naa." "Ih, nggak kok Vin.. aku senang kamu jelasin seperti itu, aku jadi bisa tau bagaimana keadaan di sini meskipun aku tidak bisa melihatnya." Kata Kirana. "Sini Naa.. kita naik ayunan." Kelvin membantu Kirana naik ke ayunan. "Jarang sekali Villa ini ku datangi bareng Mama dan Papa. Villa ini memang hanha untuk tempat liburan kami." "Hmm Naa.. waktu itu sama Karel dan keluarganya ngapain? Ngomong serius sama keluarga kamu disini?" Tanya Kelvin. "Haaha, nggak Vin.. kami cuma Liburan, karena waktu itu Mama, Papa dan keluarga Karel jadi sangat dekat, dan waktu itu Mama dan Papanya Karel baru datang dari Jerman, katanya mereka ingin refreshing, jadi Mama sama Papa aku ngajak mereka kesini." Jelas Kirana. "Ohh, gitu.. kiraiiinn." Kata Kelvin sambil menggoyang - goyangkan ayunan yang bisa di naikki oleh 4 orang dewasa. "Kirain apaan?" Tanya Kirana. "Nggak kok hehee.. balik yuk Naa, kita sarapan dulu." Kata Kelvin. "Oh, iya ayo Viin." Kelvin dan Kirana pun kembali ke Villa, kelvin dengan sabar menuntun Kirana berjalan dengan pelan memaki tongkatnya. "Vinn, kok kamu selalu bergabung dengan kita semua sih? Kamu nggak punya teman main apa gimana?" Tanya Kirana sambil tertawa. "Ya Allah hahaha.. aku di bilang nggak punya teman. Yahh, aku pengen aja sama kalian, aku nyaman berada diantara kalian, apalagi bisa selalu ada di sampingmu untuk membantu mu Kirana." Jawab Kelvin. "Kenapa kamu mau membantuku Vin? Kamu kasian sama aku?" Tanya Kirana lagi. "Aku merasa nyaman kalau ada di samping kamu Kirana, dan aku suka rasa nyaman itu saat bersamamu." Kelvin merangkul Kirana. "Hmmm." "Kok hmm doang? Nggak percaya yah?" Tanya Kelvin. "Nggak kok.. aku merasa nggak pantas aja kamu merasa nyaman sama aku. Masih banyak yang lain yang bisa kamu ajak berteman dan nggak ngebebanin kamu gini Vin." Ujar Kirana. "Tapi aku maunya sama kamu Kirana, kamu sama sekali nggak ngebebanin aku. Aku senang  melakukan ini Kirana." Kata Kelvin. "Heiii kalian dari mana? Jalan - jalan kok ngajak - ngajak?" Teriak Sherill dari depan Villa. Pembicaraan Kelvin dan Kirana terpotong karena ada Sherill yang memanggil. "Ngapain ngajak Lo, berisik tau nggak kalau ada Lo." Seru Kelvin. "Heheh, nggak boleh gitu Vinn." Kata Kirana. "Cihh dasar, nyuri kesempatan aja Lo bawa - bawa Kirana berduaan. Yuk Naa jangan dekat - dekat Kelvin, kamu nggak nyium badan dia? Bau tau si Kelvin hahaha." Sherill menarik Kirana dari genggaman Kelvin lalu menjulurkan lidahnya. "Wahh, awas Lo yahh." Kelvin mengejar Sherill. Orang tua Kirana, Gina, Gadis dan juga Dinda menyaksikan tingkah mereka. "Hahha, sudah - sudah yuk sarapan dulu anak - anak." Kata Ibu Kartika menyiapkan beberapa hidangan di meja makan yang cukup panjang. Di meja makan itu ada menu sarapan yang sangat sehat, roti bakar, bubur ayam, buah - buahan dan bermacam - macam juz yang di buatkan oleh bibi penjaga Villa yang juga di bantu sama ibu Kartika. "Kirana mau makan apa sayang?" Tanya Ibu Kartika. "Tante aku di sampingnya Kirana yah." Seru Kelvin. "Puffttt." Tawa dari teman - temannya. "Iya - iya sini duduk." Kata Ibu Kartika. Kelvin pun dengan senangnya duduk di samping Kirana, Kelvin ingin membantu Kirana makan. Mama dan Papa Kirana tersenyum senang melihat Kelvin yang seperti itu. Sangat perhatian dengan Kirana. "Ayo anak - anak makan apa aja yang kalian mau." Kata Pak Chandra. "Kalian habis ini mau jalan - jalan ke kebun belakang atau mau istirahat dulu?" Tanya ibu Kartika. "Jalan - jalan dong tante." Seru Dinda. "Okeyy kalau gitu habis ini kita jalan - jalan, di kebun teh tante, ada beberapa tanaman buah - buahan Lo, tante punya rmah kaca di belakang." Kata Ibu kartika. "Wihhh, hebat banget tante." Seru Gina. "Yang ngurusin siapa tante? Tante sama om kan sibuk." Kata Gadis. "Tante ada bayar tukang kebun, dan kerjanya tuh bagus banget. Mereka benar - benar memperhatikan kesehatan tanaman tante." Kata Ibu Kartika. "Kalian nggak tau yah, kalau Mamanya Kirana ini sangat cinta dengan tanaman." Seru Pak Chandra. "Dulu Kirana yang suka ngurusin tamanan di rumah tapi sekarang Kirana udah nggak bisa." Kata Kirana membuat suasana jadi tegang. "Naaa, suatu saat nanti kamu bisa ngelakuin semuanya lagi. Dan sekarang juga masih bisa kok, aku siap untuk bantuin kamu kapan pun kamu mau." Kata Kelvin. "Iya Naa, ada kita semua yang siap mau bantuin kamu apapun yang kamu mau lakukan. Kalau di kerjakan sama - sama pasti lebih seru kan." Ujar Sherill. "Panggil kita aja Naa, kita pasti selalu siap untuk kamu." Kata Dinda. "Iya Naa." Seru Gadis dan Gina. "Tuhh, dengerkan semua sahabat - sahabat kamu, mereka akan selalu ada buat kamu sayang. Jangan patah semangat yahh Nak." Kata Pak Chandra. "Iya Maa.. makasih banyak semuanya." Kirana tersenyum. Setelah mereka selesai makan, mereka semja berjalan ke kebun belakang Villa. Di belakang Villa, ada beberapa pekerja kebun yang sedang sibuk memotong - motong daun yang sudah rusak. "Kalau kalian mau petik buah - buahan petik aja yahh, keranjangnya ada di sebelah sana." Kata Pak Chandra. "Wihhh, makasih om.. lets goo guysss" Seru Dinda. "Yuk Naa.. kita metik - metik buah - buahan." Kata Kelvin. "Kamu mau petik buah apa Naa?" Tanya Kelvin. "Hmm aku mau anggur Vin." Kata Kirana. "Okeyy, kita ke pohon anggur." "Aku yang pegang keranjangnya Vin." Kata Kirana. "Iya Naa, ini.. sini Naa, coba kamu pegang dan tebak yang mana yang udah matang?" Kata Kelvin. Kelvin membantu Kirana memegang beberapa tangkai buah anggur, Kelvin melakukan ini agar Kirana tidak merasa tidak bisa melakukan apa - apa. "Yang ini Vin?" Tanya Kirana sambil meraba buah anggur di tangannya. "Wihh bener loh Naa, kok bisa tau sih." Teriak Kelvin. "Hahah kaget tau Vin.. emang beneran yah aku milih yang udah matang?" Kirana tidak menyangka kalau dia benar. "Beneran Naa.. nih kamu masih pegang kan? Aku potong yang kamu pegang nih." Kelvin mengambil gunting dan memotong satu tangkai anggir yang di pegang oleh Kirana. "Nggak sabar aku pengen makannya, ini seger banget Loh Vin rasanya. Aku udah beberapa kali coba buah dari kebunnya Mama" Kata Kirana. "Iya Naa? Petik yang banyak kalau gitu, biar aku juga bisa makan banyak. Kamu bantuin pilih lagi yahh. Tapi kok bisa kamu tau sih Naa yang mana yang udah mateng?" Tanya Kelvin. "Yahh, aku meraba aja Vinn.. dan mencium baunya." "Kamu hebat Naa." Kata Kelvin membantu Kirana berdiri dan mengajak Kirana berkeliling lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN