Episode 37

1729 Kata
Kelvin yang sedang berendam, merasa kesal kalau mengingat kejadian itu lagi. "Haahh sialan Lo Rill." "Hahahah, gimana ceritanya sih sampai dia meluk Lo? Kok bisa?" " ckk.. gue males banget sebenarnya untuk cerita sekarang, gue lagi memperbaiki mood tau nggak." "Idih hahaha. Cerita sekarang aja, gue penasaran." "Ishh jadi tadi di datang ke rumah, gue nggak mau dong ketemu dia. Terus gue nyuruh bi Wati bilang gue lagi tidur, tapi dia ngotot pengen nunggu gue." "Ckckckck kekeh bener dah tuh pendirian cewek itu." "Iya terus intinya dia bilang dia minta maaf,  mau deket lagi sama gue, dan dia suka sama gue." "WHAAATT? Dia suka sama Lo?" "Iya dia bilangnya gitu, terus gue nolak dong. Eh dia tiba - tiba meluk gue, dan nggak mau di lepasin. Sialan banget tuh cewek." "Hahahha, sabar - sabar Vinn. Tapi kok dia sampai segitunya sih. Ckckkckck emang parah banget sih tuh cewek, sekarang Lo udah sadarkan kalau dia emang gila dan selalu menghalalkan segala cara?" "Iya iya.. sekarang gue udah sadar banget, sumpah yah dia tadi meluk gue erat banget, dan dia malah bilang nikmat kan Vin. Dihhh gue jadi jijik sama dia." "Hahahhaha Lo jadi korban pelecehan Vin hahahah." "Hahah sialan Lo, untung aja besok libur jadi nggak ketemua dia." "Terus gimana kalau dia deketin Lo lagi nanti pas di sekolah, dan memohon - mohon kayak gitu Vin?" "Ya Lo semua bantuin gue lah, jauhin cewek itu dari gue." "Bayar tapi yahh?" "Dih Lo ini apa - apa duit." "Hahaha baper amat sihh, canda tauu." "Hmm.. eh iya tadi gue telvonan sama Kirana, katanya kita cepat datang rumahnya besok biar sampainya di Villa nggak kesiangan." "Oh iya okey deh, ntar gue tanya anak - anak yang lain." "Yoii.. ya udah kalau gitu, udahan dulu yah. Gue mau membersihkan diri gue dari kotoran yang tadi menempel di badan gue." "Hahahah, semangat Kelviiinnn.. byeee" Kelvin menyimpan ponselnya di samping bath upnya, dan menenggelamkan dirinya di dalam bath upnya. KIRANA POV Sore 17:00 Aku terbangun dari tidur siangku yang kurasa sangat nyenyak. "Lahh, tadi kan aku lagi telvonan sama Kelvin." "Hahhaa, sepertinya aku ketiduran mendengar Kelvin bernyanyi, berapa lama yah tadi telvonannya." Aku mencari ponselku untuk mengecek berapa lama aku telvonan dengan Kelvin. Dengan semangat ku dapati ponselku, dan semangatku seketika hancur mengingat bahwa diriku tidak bisa melihat. Air mataku mulai mengalir lagi, rasanya hatiku sangat rapuh kalau mengingat mataku yang tidak bisa melihat lagi. Tingg tonggg tingg tonggg.. Bell rumahku berbunyi.. Aku berdiri dari tempat tidurku menuju balkon kamarku untuk mendengar siapa yang datang. "Haduhhh Mas Karel mau apalagi datang kesini? Apa Mas Karel nggak ada bosan - bosannya di usir?" Kata Pak Adi suaranya lumayan besar hingga aku bisa mendengarnya. "Pak, Karel cuma mau bertemu Kirana sebentar sekaliii.. pleasee, Pak Adi kasih tau Kirana dulu, kalau memang Kirana nggak mau ketemu, Karel janji langsung pulang." Kata Karel. "Oh itu Kirana Pak." Karel mungkin melihatku yang sedang duduk di pinggir balkonku dari bawah. Sebenarnya aku sangat tidak ingin menemui Karel lagi, tapi aku ingat ucapan Kelvin yang tadi bahwa Karel sudah menjadi orang yang berbeda tidak ada lagi senyuman di wajahnya. Aku cuma mau mendengar apa yang dia ingin katakan padaku hari ini. Akhirnya aku perlahan menuruni tangga rumahku sendiri memegangi tongkatku, dan menemui Karel di bawah. "Kiranaaa.. akhirnya kamu mau temuin aku." Ujar Karel. "Kenapa lagi?" Tanyaku. "Aku cuma mau meluruskan kesalahpahaman soal pengirim pesan kemarin Naa, aku coba menghubungi ponselmu tapi tidak bisa di hubungi. Jadi aku kesini Naa." Ujar Karel. "Aku sudah tau semuanya kok, dan maafin aku juga sudah menuduhmu. Kalau nggak ada lagi yang mau kamu sampaikan tolong kamu pergi sekarang Karel." "Hmm baiklah Kirana.. aku pulang sekarang, maafin aku lagi. Aku bawain kamu bunga dan buah strawberry dari toko kesukaanmu. Aku simpan disini saja yah." "Iyaa, makasih." Aku terpaksa harus menerimanya karena aku sedikit kasian sama Karel. "Aku balik Naa." Karel pun pergi, aku tidak bisa melihat bagaimana wajahnya. Yang ku tau dia sudah bisa sedikit tersenyum karena aku sudah ingin berbicara dengannya dan menerima pemberiannya lagi. "Mba Kirana bunganya??" Tanya Pak Adi. "Iya?? Simpen dimana aja terserah Pak Adi." "Buahnya Mba?" "Tolong bukain dulu Pak." Aku cuma mengambil satu buah strawberry dan ku berikan sisanya untuk Pak Adi. Yahh, aku menghargai Karel karena sudah jauh - jauh datang ke rumahku. Malamnya Karel datang lagi ke rumahku, tapi saat itu Papa yang lagi berada di depan rumah bercerita dengan Pak Adi, tidak mengizinkan Karel masuk. Aku dan Mama berada di taman rumahku sedang bersantai, aku baring di pangkuan Mama, rasanya nyaman sekali. "Kenapa lagi kamu kesini?" Tanya Papa. "Boleh saya ketemu Kirana sebentar Om?" Kata Karel. "Tidak tidak.. sekarang juga kamu pulang, om kan sudah bilang kalau kamu jangan oernah menginjakkan kakimu lagi di sini. Apa kamu nggak ngerti bahasa Indonesia?" Gertak Papa. "Om pleassee tanya Kirana dulu, dia tadi sudah mau ketemu sama aku om, udah mau bicara sama aku. Tolong om, aku ingin ngobrol sama Kirana." Ujar Karel. "Biarpun Kirana sudah ingin menemuimu tapi om tidak mau kamu menemui Kirana, kamu sudah membuat anak saya satu - satunya tidak bisa melihat, dan kamu dengan santainya datang ke sini ingin menemui dia lagi??" Kata Papa. Aku mendengar percakapan Papa dan Karel dari taman. "Memang benar nak kamu menemui Karel tadi?" Tanya Mama. "Iya Maa" "Kok bisa? Kamu udah nggak marah lagi sama dia?" Kata Mama sambil membelai rambutku. "Kirana sebenarnya sudah nggak marah Maa sama Karel, tapi Kirana masih kecewa dengan Karel dan Kirana udah nggak bisa seperti dulu lagi dengan Karel. Tadi Kirana menemuinya karena terfikir ucapan Kelvin, kata Kelvin, Karel udah seperti orang yang berbeda tanpa Kirana, Kirana hanya mau sedikit membantunya agar bisa menjadi dirinya lagi Maa." "Hmm iya sayang.. Terus sekarang bagaimana? Apa kamu mau menemui Karel?" Tanya Mama. "Nggak Maa, aku udah nemuin dia tadi.. aku nggak tau kenapa lagi dia kesini. Kirana nggak mau terlalu memberi Karel ruang untuk masuk ke kehidupan Kirana lagi." "Kalau gitu kamu tunggu di sini yah, biar Mama yang keluar ngomong sama Karel." "Oh iya Maa, makasih Mama." Aku bangun dari pangkuan Mama. Mama pun keluar melihat situasi saat itu, mencoba untuk berbicara dengan Karel, dan menenangkan Papa yang sudah mulai emosi lagi. "Kenapa Paa?" Tanya Mama. "Ini anak nihh, nggak bisa di bilangin. Kamu mau bikin malu orang tuamu, kalau kamu begini terus? Iya?" Ujar Papa ke Karel. "Maaf tantee.. Karel hanya ingin bertemu Kirana, karena tadi Kirana sudah mau menemui Karel dan sudah baik sama Karel." Ujar Karel. "Begini yah Karel, memang Kirana tadi sudah menemui kamu, tapi bukan berarti kamu sudah bisa untuk sering datang kesini. Dan bukan berarti kita sekeluarga mau melihat kamu ada di sini lagi setelah apa yang sudah kamu perbuat dengan Kirana. Tante harap kamu mengerti ucapan tante sekarang." Kata Mama. "Mengerti kamu? Ingat  baik - baik ini Karel.. kamu sudah membuat anak saya buta, BUTA KAREEELL !!! Itu bukan perbuatan yang bisa di maklumi, dan saya sebagai Papanya Kirana sangat tidak bisa kalau harus melihat orang yang sudah membuat anak saya menderita ada di rumah ini." Kata Papa. "Sekarang lebih baik kamu pergi, tidak usah terlalu berharap kalau kamu bisa kembali dan menemui Kirana lagi. Kamu harus tau diri, kamu lah yang membuat semua suasanya tidak menyenangkan ini terjadi. Jadi, jangan datang lagi hanya untuk memperkeruh suasana rumah kami, dan membawa kesan buruk di mata para tetangga saya setiap kamu kesini." Kata Mama dengan sangat menekankan kesalahan Karel. "Maaf Om Tanteee. Karel Pamit." Ujar Karel. "Pak Adi tutup pintunya rapat - rapat dan jangan pernah membiarkan anak ini masuk ke dalam rumah ini lagi." Kata Papa menyuruh Pak Adi. Aku tau bagaimana perasaan Karel saat ini, rasanya pasti dia sangat hancur setelah mendengar ucapan - ucapan yang di lontarkan oleh Papa dan Mama. Dan Aku tau kenapa Papa dan Mama sampai seperti itu dengan Karel. Orang tua mana yang baik - baik saja setelah anaknya di buat buta karena kecelakaan yang di sengaja, dan lagi karena Karel sudah berusaha untuk melecehkanku. Itulah sebabnya kenapa Mama dan Papa sampai semarah itu dengan Karel. Mungkin sekarang Karel lagi memukul dirinya sendiri, dan kembali tidak ada senyuman di wajahnya. Dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku jiga kasian sama Karel, tapi rasa kecewa yang sudah dia buat di dalam hatiku jauh lebih besar dari rasa kasianku dengan Karel. AUTHOR POV Sabtu 06:00 Pagi itu  matahari belum terlalu menyinari kamar Kirana, Kirana yang tadi malam terus memikirkan Karel dan memikirkan hidupnya yang mulai berubah, bangun dengan mata yang lagi - lagi bengkak akibat menangis semalaman. "Kirana sayaaanggg." Panggil Ibu Kartika. "Iya Maahh, aku udah bangun." Teriak Kirana dari dalam kamarnya. "Mama masuk yah, bantuin kamu packing barang - barang kamu." Ibu Kartika membuka pintu Kamar Kirana. "Iya Maa, masuk aja." "Pagii sayanggg.. loh loh kenapa mata kamu bengkak seperti ini lagi? Kamu habis menangis lagi?" Tanya Ibu Kartika memegangi wajah anaknya itu. "Nggak kok Maa, nggak papa kok." Kata Kirana  tersenyum. "Nggak papa gimana? Kamu kenapa? Apa yang kamu tangisin sayang? Coba sini cerita dulu sama Mama." Kata Ibu Kartika. Seketika air mata Kirana jatuh membasahi pipinya yang mulus. "Kenapa semua ini terjadi sih Maa?? Kenapa Karel seperti itu? Kenapa dia nggak mikirin Kirana sebelum melakukan itu? Kenapa Maa." Tangis Kirana pun pecah. "Heii tenang dulu sayang." Ibu kartika memeluk Kirana. "Kamu harus ingat Nak, semua ini terjadi atas izin yang di atas. Kita sebagai umat manusia hanya bisa menerimanya dengan lapang d**a. Allah nggak akan ngasih hambanya cobaan kalau nggak mampu. Mama yakin kalau Allah SWT sedang sayang - sayangnya sama kita, apalagi sama kamu, makanya di kasih cobaan seperti itu. Berarti kamu orang yang terpilih untuk melewati ini semua, kita harus tetap berdoa dan berusaha untuk bisa melewati ini semua dengan ikhlas sayang." Kata Ibu Kartika menepuk - nepuk pelan pundak Kirana." "Apa benar seperti itu Maa? Atau mungkin Kirana orang jahat makanya Kirana di kasih kehidupan yang berubah seperti ini Ma?" Tanya Kirana dengan air mata yang tidak berhentinya menetes. "Nakk.. kita nggak boleh berprasangka buruk, dan coba deh kamu ingat, apa kamu selama ini jadi orang yang jahat? Nggak kan sayang?" Kata Ibu Kartika. "Hmm, iya Maa.. maafin Kirana karena seperti ini lagi, maaf Maa." Kirana memeluk Mamanya. "Nggak sayang.. kamu nggak perlu minta maaf, Mama bangga sama kamu karena kamu bisa bertahan sampai detik ini Nakk, kamu harus percaya kalau kamu bisa melewati ini semua, sampai suatu saat nanti akan menjadi takdir yang indah buat kamu." Kata ibu Kartika lagi. "Makasih Mama." Kirana menyenderkan kepalanya di bahu Mamanya. =====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN