Ibu Kartika menasehati Kirana panjang lebar, dan akhirnya Kirana bisa mengerti. Kirana sangat menyesal atas apa yang sudah dia lakukan dengan sahabat - sabahatnya dan juga Kelvin.
Hikksss hiksss.. "Aku harus menghubungi Kelvin dan meminta maaf." Ujar Kirana sambil terisak.
"Kiranaaa sayangg." Panggil Ibu Kartika dari luar kamarnya.
"Iya Ma.. aa.." Kirana masih terisak.
"Loh kok masih menangis sih, sudah dong sayang.. kalau kamu nggak bisa minta maaf sekarang, lebih baik besok saja kamu menghubungi teman - teman kamu."
"Iya Mama.. makasih Mama, udah sadarin Kirana." Kirana memeluk ibu Kartika .
"Iya sayang.. Eh, mama kesini mau kasih tau kamu kalau besok kita ke rumah sakit lagi untuk kontrol kesehatan kamu. Tapi kayaknya Papa nggak bisa ikut, sekarang aja Papa masih di kantor. Masih ada yang harus dia selesaikan." Ujar Ibu Kartika
"Iya Mama.. mama aja nggak papa kok.. Maa, apa mama nggak malu punya anak yang buta kayak aku?" Tanya Kirana.
"Loh kok ngomongnya gitu sayang. Kenapa mama harus malu, Mama justru bangga punya anak yang kuat seperti kamu sayang. Mama sangat bersyukur kamu masih ada di samping mama." Kata Ibu Kartika merangkul anaknya.
"Aku merasa saja kalau jadi sekarang jadi nggak berguna maa.. terus Kirana nggak tau harus ngapain tiap harinya, udah nggak bisa bantu bibi masak, nggak bisa bersih - bersih kamar Kirana sendiri, Kirana sangat frustasi dengan semua ini Maa.. Kirana hanya bisa menyusahkan orang di sekitar Kirana, apalagi Mama sama Papa yang terus - terusan berusaha agar Kirana bisa mendapatkan donor mata secepatnya." Ujar Kirana.
"Nggak sayang.. itu kan kewajiban Mama sama Papa, semua yang kita lalui sekarang adalah cobaan yang Tuhan berikan untuk kita semua. Seberapa sabar kita menjalani cobaan yang di berikan. Mama kan udah pernah bilang sama kamu soal ini, jadi kita harus sabar - sabar aja dan tetap berusaha yang terbaik. InsyaAllah semua akan di permudah sama Allah, dan semua akan indah pada waktunya Nak." Kata ibu Kartika.
"Hmmm.. iya Maa.. Mama istirahat gih, mama pasti juga capek banget seharian di kantor." Kirana bangun dari sandarannya.
"Iya sayang.. kamu juga istirahat yahh."
"Eh Mama, Kirana minta tolong dulu dong kirimkan pesan ke Kelvin. Bilang besok kalau bisa datang ke rumah, aku mau bicara. Kirim itu aja Maa." Kata Kirana.
"Oh iya sini sayang.. kamu ngomong baik - baik yah sama Kelvin. Ibu Kartika mengambil ponsel Kirana.
***
- Esoknya -
Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Jakarta
Pagi yang cukup sejuk dan menyegarkan. Tidak ada lagi awan hitam, dan cukup cerah. Siswa - siswi sudah terlihat banyak yang berdatangan. Hari itu sudah akan di adakan ujian akhir semester hari pertama.
"Pagiii..." sapa Sherill.
"Pagi Rill.. duhh, sherill gue takut banget nih mana kita nggak satu ruangan, aku takut nggak bisa ngejawab pertanyaannya." Dinda memegang tangan Sherill.
"Hahhaah.. makanya Lo itu belajar, jangan dan mulu kerjaannya." Seru Gina.
"Isshhh gue belajar tauuu." Jawab Dinda.
"Ehh, btw Kirana gimana Rill? Nggak Lo hubungin lagi?" Tanya Gadis.
"Nggak sihh, tapi tadi malam gue sempat telvonan sama Kelvin. Kelvin sempat kecewa dengan sikap Kirana, tapi Kelvin ngasih pengertian kok Kirana. Mudah - mudahan aja Kirana bisa mengerti." Jawab Sherill sambil memutar - mutar pensil yang ada di tangannya.
"Kenapa juga sih Carol datang ke rumah Kirana.. uuuhhhh kesal banget gue, dia tuh ngehasut Kirana tau nggak sih." Ujar Dinda.
"Woooiiiii !!!! Kalian semua di ruangan mana?" Tanya Kelvin tiba - tiba datang merangkul Dinda dan Gadis yang tengah berdiri di koridor.
"Ishh ngagetin aja Lo bambanggg !!!!" Teriak Dinda.
"Gue Kelvin bukan bambang. Hahahahah.. btw kok muka kalian serius amat sih pagi - pagi gini. Takut nggak bisa jawab soal - soal yah." Ujar Kelvin.
"Idihhh.. sembarangan. Kita lagi mikirin masalah Kirana dan Carol tauu." Jawab Sherill.
"Hmmm.. jangan mikirin itu dulu, kalian fokus aja sama ujian. Kirana kan udah pernah bilang sama kita, kalau kita harus fokus. Nanti kalau nggak naik kelas bahaya Lo." Kata Kelvin.
"Iya iyaa.." jawab Sherill, Gadis, Gina dan juga Dinda.
"Okeyyy semuanya fokussss !!! Ayuk yang satu ruangan sama gue, ke sana yuk." Ajak Kelvin.
Satu minggu mereka menjalani ujian dengan sangat fokus tanpa memikirkan hal lain. Saat Kelvin mendapat pesan dari Kirana yang di minta ke rumah Kirana, Kelvin tidak pergi. Kelvin hanya mengirimkan pesan teks ke Kirana, kalau Kelvin tidak bisa datang dulu ke rumah Kirana sampai ujian selesai. Begitupun dengan Sherill, Gadis, Gina dan juga Dinda. Sesekali mereka hanya melakukan panggilan grup untuk menanyakan kabar Kirana, dan berbagi keluh kesah tentang ujian. Tapi selama ujian sahabat - sahabat Kirana juga tidak pernah mengunjungi rumah Kirana.
Kirana mengerti dengan keadaan saat itu, saat sahabat - sahabatnya tidak datang, Kirana juga menjalani rutinitasnya. Menjalani ujian untuk naik kelas dengan home schooling yang di ajarkan langsung oleh guru khusus, Agar Kirana juga tidak ketinggalan pelajaran meskipun dengan keadaannya yang tidak bisa melihat.
Hari demi hari berlalu, akhirnya satu minggu ujian berhasil mereka jalani dengan sangat lancar. Tinggal menunggu kapan hasil ujian akan keluar, dan mereka akan segera menjalani kehidupan sebagai kakak kelas paling senior dan harus benar - benar fokus belajar karena sudah memasuki kelas tiga sekolah menengah atas.
"Alhamdulillah !!!! Akhirnya selesai juga." Ujar Sherill.
"Iya yahh.. alhamdulillah banget, tinggal liburan nih hahaha." Kata Gina.
"Liburan ke mana yah? Haahha. Eh, kita cari yang lain yuk." Kata Sherill berjalan keluar dari ruang ujian.
Sherill dan Gina berjalan menuju kelas lain untuk mencari Gadis dan juga Dinda yang berada di kelas yang berbeda - beda.
"Dindaaaa !!! Gimana ujian terakhir bisa?" Tanya Gina menggoda Dinda.
"Hahaha.. Lo anggap remeh gue yahh. Bisa dong gue, Dinda gitu Looooohhh." Jawab Dinda mengibaskan rambutnya.
"Hahahha, sotoy banget deh nih anak." Ujar Gadis.
"Ehh, gimana hari ini mau ke rumah Kirana? Atau nggak?? Gue kangen banget nih sama Kirana." Kata Dinda.
"Kesana aja yuk, gue juga udah kangen sama Kirana." Ujar Sherill.
"Tapi Kelvin dimana yah? Dari tadi kok gue nggak liat batang hidung dia sih." Tanya Sherill.
"Kita ke kantin dulu aja yuk.. ntar di kantin Lo coba telvon Kelvin deh. Gue laper baget nih." Kata Gina menarik tangan Gadis.
Sherill, Gadis, Ginda dan juga Dinda berjalan menelusuri koridor menuju ke kantin.
"Ehh ehh bukannya itu Kelvin yah? Dia sama siapa tuh di pojokan?" Tanya Gina.
"Mana sihh?" Tanya Sherill balik.
"Itu loh di sana." Gina menujuk tempat duduk yang ada di pojok koridor.
"Itu Carol kan? Kok Kelvin sama Carol sih? Di pojokan lagi, mereka ngapain?" Tanya Gadis.
"Kita kesana aja yuk." Sherill mulai melangkahkan kakinya.
"Tunggu Sherill jangan dekat - dekat m, kita dengar dari sini aja." Gadis menahan langkah Sherill.
Sementara itu suasana di pojok koridor itu sudah sangat sepi, hanya ada Kelvin dan juga Carol yang sedang berdiri saling berhadapan.
"Lo itu kenapa sih Carol? Lo nggak bisa ngerti juga yahh? Gue kira satu minggu ini Lo udah bisa berubah, gue kira Lo nggak seperti ini lagi." Kata Kelvin.
"Viinnn.. gue nggak akan nyerah untuk bisa dapetin hati Lo, gue beneran suka sama Lo Vinn.. Please kasih gue kesempatan untuk bisa sama Lo, untuk bisa berada di samping Lo.. Lo nggak harus sama Kirana Vin." Jawab Carol.
"Puffttt.. kenapa sih tuh cewek." Seru Dinda dari kejauhan.
"Dindaa ssssttttt jangan berisik, nanti ketahuan." Sherill menutup mulut Dinda.
"GUE NGGAK BISA.. gue nggak bisa sama Lo, gue udah suka sama Kirana.. suka bangetttt, nggak ada yang bisa gantiin Kirana di hati gue." Kata Kelvin.
"Waahhh.. Kelvin—"
"Dindaaa jangan berisik." Gina mencubit Dinda.
"Nggak Viinn, gue bisa.. apa yang gue nggak bisa dari Kirana. Gue nggak buta kayak Kirana Vin, gue jauh lebih berguna dari Kirana. Pleassee Viinnn." Carol memeluk Kelvin lagi dengan sangat erat.
"Haahhh." Sherill kaget sambil menutup mulutnya.
"Lepasin nggak Carol.. gue nggak bisaa, kalau ada yang liat kita kayak gini, mereka semua bisa curiga kita buat aneh - aneh di sini tau. Lepasin gue." Kelvin mencoba melepaskan pelukan Carol.
"Nggak Vinn, gue bisa kasih Lo apa yang Lo mau sebagai laki - laki Vin." Carol mulai membuka kancing bajunya satu persatu.
"Liat Vin, Lo mau ini kan Vin? Gue bisa kasih Lo lebih, kalau Lo ngasih kesempatan buat gue." Ujar Carol sambil memperlihatkan badannya yang sudah setengah kelihatan.
Kelvin berusaha untuk menghindar, dan tidak melihag bagian tubuh Carol yang sudah terbuka.
"Duuhh, kayaknya kita harus kesana deh. Ini udah nggak bener tau. Kalau ada yang liat gimana." Kata Sherill bergegas ingin mendatangi Kelvin dan Carol.
"Sherill tungguu.. kita semua ada di sini sebagai saksi kalau Kelvindi tuduh macem - macem. Gue penasaran Carol bakal ngelakuin hal gila apalagi." Ujar Gadis sambil memegang ponselnya yang sedang dalam mode merekam.
"Dari tadi Lo rekam dis?" Tanya Gina.
"Iya ssstttt, dengerin lagi aja apa yang mereka obrolin." Kata Gadis
"Tapi gue kasian sama Kelvin." Ujar Sherill lagi.
"Rill dengerin aja apa yang Gadis bilang, ini seru tau hahahah." Kata Dinda memelankan suaranya.
Kelvin yang dari tadi berusaha ingin menghindar dari Carol tidak bisa berbuat apa - apa. Karena Kelvin takut kalau Carol akan berteriak dengan keadaan yang bajunya sudah terbuka.
"Carol pleassee.. tutup baju Lo.. Lo maksa gue kesini tadi dan bilang ada sesuatu yang sangat penting yang ingin Lo omongin ternyata seperti ini? Gue dari tadi nurut sama Lo yah, gue kira Lo udah berubah tau nggak sihh.. hahh, gue capek ngomong ini terus. Lebih baik gue pergi dari sini." Kelvin melangkahkan kakinya menjauh dari Carol.
"Kalau Lo pergi tanpa persetujuan kalau Lo mau jadi pacar gue, gue bakalan teriak sekarang juga. Kalau Lo mau berbuat aneh - aneh sama gue." Ancam Carol.
Carol menarik Kelvin kembali ke posisi semula, berhadapan dengannya di pojok, dan Kelvin tidak bisa berbuat apa - apa.
"Vinn liaaatt, Lo nggak usah munafik.. gue tau kalau semua cowok menginginkan ini kan?" Carol membuka bajunya, memperlihatkan ke Kelvin dan mengambil tangan Kelvin menaruhnya di pinggang Carol. Carol semakin mendekatkan tubuhnya ke d**a bidang milik Kelvin sehingga tidak ada ruang untuk Kelvin bergerak.
"Carol please gue serius.. jauhkan tubuh Lo sekarang juga !!! Tolonglah Carol jangan seperti ini. Jangan memaksakan keadaan seperti ini."
Carol sama sekali tidak mendengarkan apa yang Kelvin ucapkan, Carol terus memegang tangan Kelvin yang berada di pinggangnya, membawa tangan Kelvin ke belakangnya, dadanya semakin di eratkan di d**a bidang milik Kelvin. Carol mendekatkan wajahnya dan ingin mencium bibir Kelvin.
Sherill yang dari tadi sudah sangat geram dan tidak bisa menahan emosinya menghampiri Carol dan juga Kelvin.
"Woiiii.. cewek gila. Lepasin sepupu gue sekarang !!!!" Teriak Sherill.
Kelvin dan Carol sangat kaget. Terlebih lagi dengan Carol karena bajunya masih terbuka.
"Sherillll !!!! Thanks God kamu mendatangkan malaikat untuk ku." Kelvin berlari menuju Sherill.
"Enak yah Vin? Hahah." Goda Dinda.
"Lo nggak Liat baju gue terbuka seperti ini? Kelvin mau berbuat aneh - aneh sama gue, tapi kenap kalian malah menatapku seperti itu, seakan - akan gue yang salah." Seru Carol.
"Kita semua punya bukti kalau Lo yang salah, jadi kalau Lo nggak mau ini tersebar, nggak usah macam - macam." Kata Gadis mempelihatkan ponselnya.