Episode 19

1705 Kata
"Sheriiiiilllll !!!" Teriakku yang masih duduk. "Kamu kenapa sih? Kelvin udah ngasih tau ke aku semuanyang terjadi kok." Kataku "Terus Lo maafin dia gitu aja?" Tanya Sherill. "Lah kan dia emang nggak salah, kan nggak papa juga kalau dia kasih tau ke Carol, terus dia ngasih taunya kan secara nggak sengaja."  "Kirana gini yahh, Lo tau kan Carol seperti apa anaknya, dia nggak mungkin diem aja setelah tau kejadian sebenarnya." "Iya Kirana, gue juga baru mikir kayak gitu, dan gue setuju dengan pendapat Sherill. Carol pasti nggak akan diem aja." Kata Gina. "Terus kita mau gimana lagi? Semuanya udah terlanjur, dan aku juga nggak tau harus gimana ke Kelvin." Kataku mengarahkan wajahku ke pagar balkonku. "Iya juga sih guyss, kita mau gimana lagi, Carol udah tau semuanya dan emang karena kecerobohan Kelvin. Yang harus kita lakuin mencari cara agar Carol tidak menyebarkannya di sekolah." "Guuuyyssssss.. kalau Carol sampai menyebarkannya di sekolah juga nggak papa, aku kan udah nggak sekolah di sana, terus yang pasti orang - orang berfikiran jeleknya ke Karel bukan ke aku kan? Aku kan korbannya. Jadi nggak ada masalah kan?" Kataku. "Tapi Naaaa.. kita semua nggak suka kalau Orang - orang ngomongin Lo lagi di sekolah, kita nggak suka Lo jadi bahan pembicaraan mereka." Kata Gadis. "Udah nggak papa, nggak perlu kalian fikirin sampai segitunya, sapa tau aja juga Carol udah berubah kan, dan nggak akan menyebarkan semuanya." "Hmm iya semoga aja deh." Kata Sherilll "Kalau gitu kamu juga baikan sama Kelvin, kasian Kelvin dia takut banget sama kamu Sherill." Kataku. "Apaan?? Emangnya gue makan orang apa sampai dia bilang takut sama gitu sama gue."  Seru Sherill. "Lah emang iya Lo serem." Seru Dinda. "Hahahhahhah" semua tertawa. "Sialan lo Din hahahha, tapi kayaknya gue belum bisa baikan sama Kelvin deh Naaa, gue harus kasih pelajaran dulu ke tuh anak, biar dia nggak seceroboh itu lagi." Kata Sherill. "Ehh tapi gue masih heran deh, kok Kelvin sama Carol bisa jadi akrab gitu sih? Apa Carol suka yah sama Kelvin?" Tanya Gadis. "Dih apaan sih Lo Diss, Kelvin nggak suka sama cewek kayak gitu." Kata Sherill. "Lah terus kenapa Kelvin juga mau - mau aja dia ajakin sama Carol jogging, dan mau - mau aja di deketin sama Carol." "Mungkin aja kan dia nganggep Carol kayak kita - kita ini, Kelvin juga kan nggak ada jarak sama kita." Kata Sherill. "Duuhh kalian nggak capek apa ngomongin Kelvin dan Carol terus, gue bosen tau." Seru Dinda merebahkan badannya ke tempat tidurku. "Hahahha, tuh udah. Kasian Dinda udah bosen denger kalian ngomongin Kelvin dan Carol terus." Kataku. "Iya iya, kita sampai lupa tujuan kita kesini, Hahhaa." Kata Gina. "Eh iya nih Naa, besok kan ulang tahun gue jadi gue mau bikin acara kecil - kecilan gitu dan gue masih bingung mau di adain dimana, gue takutnya kalau banyak orang lo nggak mau datang." Kata Gina. "Alhamdulillah, Umur Kamu udah bertambah lagi Gin. Kenapa bikin acara kecil - kecilan? Kan ini Sweet seven teen kamu, bikin aja di mana yang kamu mau, aku dateng kok." Kataku "Beneran Naa?? Lo nggak terganggu kan dengan pandangan orang?" Tanya Dinda. "Nggak gitu, dateng sebentaran aja pas nggak ramai gitu, atau aku nunggu di mana gitu. Aku belum bisa kalau orang - orang lihat kondisi aku kayak gini, dan aku nggak bisa mendengar komentar mereka, hatiku masih belum bisa menerima semua ini guyss." Kataku memeluk boneka beruang besarku. "Nggak papa Ginn, nanti kita siapin tempat khusus buat Kirana, yang nggak banyak orang, gue juga sejujurnya takut kalau teman - teman yang baru melihat Kirana pada nanyain ke Kirana kenapa gini lah kenapa gitu lah, kasian kan Kirana." Kata Gadis. "Ya udah deh kalau gitu, gue buat di Cafe Xxx tempat biasa kita nongki - nongki gitu hahah, yang outdoornya aja nggak guyss?" Tanya Gina. "Iya outdoornya aja, kan bagus ada kolam renangnya." Seru Dinda. "Yaudah kalau mau di sana buruan telvon dan reservasi nanti di kedeluan ada orang lain loh." Kata Sherill. "Oh iya yahh, tunggu bentaran yahh guys gue nelvon dulu." Di tahun ini baru Gina dan juga Sherill yang berumur 17 tahun, selanjutnya aku, Gadis lalu Dinda, yahh makanya Dinda orangnya ceplas ceplos dan sangat polos karena dia yang paking muda di antara kami, bukan jarak tahun sih, tapi kita cuma berbeda bulan saja. Setelah Gina selesai menelvon, kami semua turun ke bawah di halaman belakang rumahku, yang ada kolam renangnya, salah satu tempat di rumahku yang paling aku sukai kecuali di kamarku, di pinggir kolam renang juga tempat favoritku, karena aku suka kalau membasahi sedikit kaki ku di dalam kolam renang, saat duduk di pinggir kolam. "Ehh gimana kalau kita BBQan? Mumpung masih sore, gue lagi pengen dehh makan gituan." Kata Dinda. "Wihh boleh juga tuhh, tapi kan nggak ada bahan - bahannya?" Seru Gadis. "Tenang - tenang biar gue yang pergi beli, kan ada supermarket deket sini." Kata Sherill berdiri dari tempat duduknya. "Boleh kan Kirana??" Tanya Dinda. "Ih apaan sih, boleh kok. Kalian kan datang kesini pasti buat nemenin aku juga, jadi ngapain aku larang  kalian, yang bersihin kan kalian juga sama bibi hahahah." Kataku memainkan air di kakiku. "Hahhaha iya juga yahh, kok gue nggak mikir sih" Kata Dinda tertawa. "Emang otak lo kan lambat gitu hahahha !!! Teriak Sherill berlari keluar. "Sialan Loooo cewek bar - bar !!!!! Hahahhaha." Teriak Dinda. "Gue pergi beli bahan - bahannya dulu yahh." Teriak Sherill lagi. "Ehh gue temenin Lo dehh, nanti Lo asal beli lagi. Gue pergi dulu yah guysss" Kata Gina yang juga berlari mengejar Sherill. "Hati - hatiiiii." Teriakku dari kolam. Sementara Sherill dan juga Gadis pergi membeli bahan - bahannya, aku, Gina dan juga Dinda menyiapkan peralatan yang di perlukan nanti. "Eh, aku panggilin Bi Sri dulu yahh, untuk ngeluarin tempat panggangannya." Kataku berdiri ke arah dapur. "Nggak usah Naa, biar gue yang panggil. Lo di sini aja okeyy?" Kata Dinda. "Iya iya, Bibi kayaknya ada di dapur kalau nggak di dapur cari aja di depan, dia suka nongkrong di tempatnya Pak Adi. Sekalian bilangin kalau kita mau bikin BBQan biar ntar bisa bantu." Kataku lagi. "Hahah oke - oke." Gina bergegas keluar. Ddrrrrrtt ddddrrrttttt drrrtttt... "Hape Lo Naa, nggak ada Namanya." Kata Dinda mengambil hpku. "Coba angkat aja Din, sapa tau dari mama atau papa aku, soalnya biasa pakai nomor kantor. Speaker ajaa." Kataku yang lagi mencuci tanganku. "Okeeyyy.. Halooo??" "Haloo?? Ini siapa?? Kok bukan suaranya Kirana?" Aku yang mendengar suara itu, langsung mengenali suaranya, tidak lain dan tidak bukan dia adalah Karel.. lagii. Aku berjalan mendekati Dinda, dan berbisik. "Itu Karel Dinn, aku nggak mau ngomong sama dia." Kataku berbisik. "Hahh? Ohh oke - oke" Dinda tertawa pelan. "Ohh, maaf tapi ini dengan siapa yahh? Mungkin anda salah sambung.” Kata Dinda sedikit tertawa.  “Loh, bukannya ini nomornya Kirana?” “Kirana siapa yah? Di sini tidak ada yang namanya Kirana, maaf yah dek saya tutup.” Dinda mematikan telvonnya dan tertawa terbahak - bahak. “Hahahah, si Karel bodoh banget sih. Dan ngapain lagi dia nelvon kamu Kirana ckckckk tuh orang nggak ada kapok - kapoknya.” Dddrrrrtttt dddrrrttt dddrrrrttt... “Eh nelvon lagi Naaa..” “Siapa yang nelvon lagi??” Tanya Gina yang baru saja masuk. “Karel.. tapi Kirana nggak mau bicara, jadi kita tadi pura - pura salah sambung gitu. Dia juga pakai nomor baru telvon Kirana. Hahha.” “Iyaa? Terus nelvon lagi? Sini sini gue yang angkat. SSsstttt.” Kata Gina. Aku hanya bisa tertawa karena mereka sangat semangat mengerjai Karel. “Halo? Ada apa lagi sih?” Kata Gina. “Ini siapa sih? Gue mau ngomong sama Kirana?” “Lahh, udah di bilangin di sini nggak ada yang namanya Kirana kok ngeyel banget sih.” Kata Dinda sambil mencubitku dan tertawa pelan. “Udah deh yah gue nggak bercanda, mana Kiranaa?” “Wahh, kok anda ngeyel yah, sudah anda yang menelvon malah anda yang marah - marah” kata Gina sambil tertawa. “Tapi ini sudah benar nomornya Kirana. Gue tau yah, ntah Lo Dinda, Gina, Gadis atau Sherill, sekarang gue mau ngomong sama Kirana.” “Si Gilaaa, malah nyebutin nama - nama lain lagi. Gue nggak kenal yah sama semua yang Lo sebutin, aneh banget deh nih orang, gue panggilin Mama gue Lo yah.” “Apaan sihh, panggilin Kirana sekaraaaanggg.” “Wahh, Maaa Mama ada yang marahin aku nih, terus nyari - nyari Kirana.” “Bi bibi pura - pura jadi Mama aku yahh, terus marahin si Karel hahhaha.” Kata Gina menarik Bibi. “Ssstt stttt jangan terlalu berisik hahha.” Kata Dinda “Kalian ini ada - ada aja deh” Kataku. “Oh ah oke - oke mba, serahin ke Bibi. “Heh? Kenapa telvon - telvon anakku? Pakai marahin anakku lagi?” Kata Bi Sri dengan nada tinggi. “Ahh, gue tau ini Bi Sri kan? Duhh tolong dong Bi jangan gini. Karel pengen bicara sama Kirana.” Eh, enak aja kamu ngatain saya Bibi, emang saya bibi kamu apa?? Kurang ajar yah kamu.” Kata Bibi lagi. Aku, Gina dan Dinda tertawa dengan aktingnya Bi Sri. “Bibi pleasseee, Kirana mana? Siapa sih tadi yang ngomong?” “Udah Maahh, nggak usah di ladenin, sinting tuh orang, matiin aja.” Kata Gina. “Awas yahh kamu nelvon anakku lagi, dasar kamu ini.” “Bii biii jangan di matiiiiinnn.” “Biarin bi, kita ngerjain Karel dulu aja.” Kata Gina berbisik ke Bibi. “Ehhh, masih panggil saya bibi lagi, kurang ajar yah kamu.” “Haaaiiii guysssss, kita udah balik nih.. Kirana kita beliin Lo es krim kesukaan Lo dari jama batu hahahah.” Teriak Sherill. Tiba - tiba Gadis dan Dinda datang dengan santainya meneriakkan namaku. “Ehh matiin bi matiin.” Kata Dinda. “Ihhh, Sherill Lo berisik banget sihh.” Teriak Gina. “Lahh, gue salah apa? Gue baru datang malah di omelin sama Lo.” Kata Sherill sembari meletakkan semua belanjaannya. “Hahahhaah, kalian ini.. udah nggak usah ngurusin Karel lagi.” Aku tidak bisa menahan tawaku. “Kita jadi gagal tau ngerjain Karel gara - gara suara lo itu.” Kata Gina sangat Kesal. “Karel? Kok ngerjain Karel?” Tanya Gadis. “Nih Naa makan es krimnya dulu.” Kata Gadis sambil memberikan ice cream yang sudah dia buka kan untukku. “Iya, jadi tadi tuh si Karel nelvon, dan kita pura - pura salah sambung gitu karena Kirana nggak mau ngomong, dan dia juga pakai nomor baru, ishh orang lagi asyik - asyiknya.” “Iya nih, bibi kan belum selesai acting.” Celetuk Bibi sambil tertawa. “Ya Maaf, gue kan nggak tau. Nihh makan ice cream dulu biar seger.” Sherill memberikan satu persatu ice cream untuk semuanya. “Sudah - sudah hahahha, lebih baik kita bikin BBQnya sekarang.” Kataku lagi. “Okeeyyy, kita siap BBQannnn.” Teriak Dinda yang sangat senang. =====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN