"Vin itu suara Carol yah?" tanyaku.
"iya Naa.. udah dulu yah Naa." Kelvin mematikan telvonnya.
Padahal aku ingin bicara dengan Carol. Aku ingin meminta maaf walaupun dia memang pelaku sebenarnya. Aku tidak ingin Carol di kucilkan di dalam kelas.
"Kenapa mba?' Tanya Bibi.
"Nggak kok bi.. aku Cuma mikirin teman aku yang Namanya Carol itu, katanya sekarang dia di kucilkan di kelas."
"Oh, teman yang suka cari masalah sama mba Kirana yah?"
"iya Bii yang itu."
"Hmm kenapa Mba Kirana mikirin dia? Dia aja nggak pernah mikirin perasaan Mba Kirana. Biarkan saja dulu seperti itu Mba dia juga harus di kasih pembelajaran sedikit. Kalau Mba Kirana dan sahabat – sahabat Mba Kirana kasih hati terus, dia pasti nggak akan berubah dan akan seperti itu terus nantinya."
"iya juga yah Bi."
"Iya Mba, Bibi sebagai orang yang lebih tua Cuma bisa sampaikan itu Mba."
"Makasih yah Bi nasehatnya."
"sama – sama Mba Kiranaaa.. hehe."
Bi Sri sudah lama bekerja bersama kedua orang tuaku, bahkan sebelum aku lahir. Usia Bi Sri sekarang udah 50 tahun. Bi Sri selalu menemaniku kalau kedua orang tuaku lagi pergi bekerja.
AUTHOR POV
Carol sengaja mendatangi Kelvin yang sedang menelfon Kirana, Carol ingin mengganggu Kelvin yang sedang sangat senang berbicara dengan Kirana.
"kenapa?" Tanya Kelvin datar.
"boleh ngomong bentar?" Tanya Carol.
"Gue mau ke kantin nih, gue laper. " Kelvin berdiri dari bangkunya.
"Kalau gitu kita barengan ke kantinnya yah." Pinta Carol.
"Aduh ngomong di sini deh cepetan, kalau mau ke kantin nggak usah bareng gue." Kata Kelvin sinis.
"Lo masih marah yah sama Gue Vin?"
"Gue? Marah? Gue mau marah kenapa sama Lo?"
"Karena masalah kemarin."
"Gue nggak marah sama Lo."
"Kalau Lo nggak marah, terus kenapa Lo ngehindarin gue terus?"
"Yah, karena gue nggak mau Lo ada di dekat gue. Gue nggak mau orang yang membuat Kirana menderita dengan apa yang nggak dia perbuat sama sekali, ada di sekitar gue."
"Tapi kan gue udah minta maaf."
"Iya dan gue sama yang lain udah maafin Lo kan? Jadi lo harus tau diri dan tau Batasan Lo sampai dimana. Kita Maafin Lo bukan berarti kita mau Lo ada di dekat kita semua."
Carol terdiam.
"Udah yah, gue mau ke kantin."
Kelvin melewati Carol yang masih terdiam, Carol tidak bisa berkata apa- apa saat Kelvin mengeluarkan ucapannya.
"Okeyy.. fine.. kalau itu mau kalian." Carol tersadar dan dia juga berjalan ke kantin sendirian.
Sherill, Gadis, Gina, Dinda dan Kelvin duduk di meja tempat biasa mereka makan. Kelvin yang baru datang memesan nasi goreng kesukaannya. Carol yang terlihat baru saja memasuki kantin, melintasi meja Sherill begitu saja.
"duhh, gue udah deg – degan tau nggak.. gue kira dia mau gabung dengan kita lagi hahahah." Kata Sherill berbisik
"Gue juga loh sampai ngeliatin dia terus hahaha." Seru Gina sambil tertawa.
"kayaknya nggak lagi deh, dia udah ngerti kalau kita nggak mau ada dia di dekat kita." Kata Kelvin
"Seriusss?? Lo habis ngomong lagi yah sama anak itu?" Tanya Sherill.
"iya, barusan sebelum kesini."
"wihh, Kelvin hebat.. Kayaknya dia beneran ngerti kalau Lo yang ngomong deh Vin." Seru Gina.
"Lain kali Lo aja yang bicara sama dia Vin, kalau di cari masalah lagi hahaha." Kata Gadis.
"duhh buang – buang waktu gue aja." Seru Kelvin sambil memakan nasi gorengnya.
Braaaaakkkkkk...
Suara pukulan meja yang tidak jauh dari meja mereka. Semua yang ada di kantin menoleh ke sumber suara itu. Suara itu berasal dari meja Carol yang di pukul oleh Karel.
"Enak makanannya?" Tanya Karel memandang Carol dengan tatapan sinis.
Carol yang kaget sampai menumpahkan makanannya.
"Apaan sih Lo?? Ngapain Lo gangguin gue? Lo nggak liat gue lagi makan??" Tanya Carol Heran.
"Maksud Lo apaan nuduh gue ke Kirana soal pesan yang lo kirim itu? HAAAAHHH?"
Sherill, Gadis, Ginda, Dinda dan juga Kelvin saling memandang.
"Mampuss.. Gimana nih guys?" tanya Kelvin.
"Udah tenang aja.. Liat dulu apa yang Karel mau lakukan, kita nggak boleh ikut campur dulu."ujar Gadis.
Carol tidak menjawab pertanyaan Carol, Carol hanya melanjutkan menghabiskan makanannya.
"WOIIII PENDENGARAN LO RUSAK ATAU GIMANA? JAWAB PERTANYAAN GUEEE !!!!!" Bentak Karel.
"Yah, gue nggak punya maksud apa – apa.. yang ada di fikiran gue yah cuma itu waktu Kirana nuduh gue, gue nggak mau dong ngaku sama Kirana kalau gue pelakunya. Jadi gue bilang aja kalau Lo yang mengirim pesan itu." Jawab Carol dengan santainya.
Karel mendengar jawaban Carol sangat marah, karena dia dengan santainya menjawab seakan – akan tidak punya rasa bersalah. Karel langsung mengambil gelas es teh milik Carol, dan menyiram wajah Carol.
"HAAAHHHH.. KARELLL." Teriak Dinda memegangi pipinya.
"Kalian semua dengar sendiri kan bagaimana dia menjawab pertanyaan gue? Dia dengan santainya menjawab pertanyaan gue tanpa ada rasa bersalah, dan nggak minta maaf sama gue." Seru Karel.
Semua yang ada di kantin hanya diam dan hanya memandangi Carol dengan tertawa kecil karena tidak ada yang berani kalau Karel lagi marah.
"Itu balasan gue karena Lo udah ngomong sembarangan dan nggak minta maaf sama gue. Yang gue lakuin ini tidak sebanding dengan apa yang Lo lakuin. DASAR CEWEK PEMBOHONG, TUKANG FITNAH." Kata Karel lagi lalu meninggalkan kantin.
Carol mengibas – ngibaskan bajunya yang sudah basah dan rambutnya, Carol berlari ke toilet untuk membersihkan badannya.
"AAARRRGGGHHH.. Lagi – lagi gue di permalukan seperti ini. Dan semuanya menyangkut Kirana. Kirana Kirana dan Kiranaaaa." Teriak Carol di dalam toilet.
"salah lo sendiri kali, ngapain Lo nyalahin Kirana yang jelas – jelas sudah nggak ada di sekolah ini." Seru seorang siswi yang berada di dalam toilet itu juga.
"Siapa Lo nggak usah ikut campur." Ujar Carol.
"Dihhh.. siapa yang ikut campur.. PD banget Lo.. ewwwhhh."
"Cabut aja yukk, daripada nanti kita di fitnah juga."
"Iya sanaaaa.. KELUAR AJA KALIAANN !!!" Teriak Carol.
Untung saja saat itu sudah jam pelajaran terkahir jadi Carol tidak menderita ke dinginan dan bau teh selama berjam - jam.
"Guyss, hari ini kalian nggak ke rumah Kirana?" Tanya Kelvin memakai tasnya.
"Gue kayaknya nggak deh, gue kalau sampai rumah nih pengen tidur. Melepaskan semua kelelahan gue hari ini." Kata Sherill.
"Iya gue juga nggak deh. Kayaknya hari ini panjang banget dan melelahkan banget." Kata Gadis.
"Ya udah hari ini kita langsung pulang aja, ntar malam kita telvonan sama Kirana lagi." Kata Gina.
"Gue sih ikut - ikut aja sama kalian heheh." Seru Dinda.
"Okeyy deh kalau gitu, balik sekarang yuk. by the way gue ikut sama Lo yah Rill, sampai ke parkiran depan, mobil gue soalnya gue parkir di sana." Ujar Kelvin berjalan keluar kelas.
"Okeeyyy." Seru Sherill.
Sherill, Gadis, Gina, Dinda, dan juga Kelvin
berjalan menuju parkiran.
"Ehh, tadi Karel serem juga yahh? Langsung nyiram Carol kayak gitu." Ujar Dinda
"Eh gue baru juga mau omongin.. tadi kalian liat nggak mukanya Karel, serem banget tau." Balas Gina.
"Baru sekarang - sekarang nih Karel suka marah - marah kayak gitu. Kayaknya aura Karel udah berbeda semenjak bermasalah sama Kirana." Kata Sherill.
"Iya juga yahh. Sebenarnya gue kasian sih sama Karel, dia sampai nggak punya semangat hidup sekarang." Kata Gadis.
"Tapi salahnya juga sih, dia udah berbuat terlalu jauh." Kata Gina.
"Hmm.." Kelvin menghela nafasnya.
"Kenapa Lo?" Tanya Sherill.
"Nggak kok, nggak papa." Jawab Kelvin.
"Byee guysss, hati - hati yahh." Mereka semua pulang bersamaan.
Dalam rumah yang besar, Kelvin membaringkan dirinya di sofa ruang tamu.
"Apa gue salah yah sama Karel karena sudah menyukai Kirana seperti ini?" Gumam Kelvin di ruang tamunya yang cukup luas.
Kelvin memikirkan apa yang tadindi ucapkan Gadis, Kelvin jadi merasa bersalah sama Karel karena memang sekarang Karel terlihat seperti orang yang berbeda semenjak tidak bersama Kirana lagi. Senyum di wajah Karel sekarang sudah sangat jarang terlihat.
"Nggak ini nggak salah. Kalau memang salah Allah pasti akan menjauhkanku dari Kirana. Dan aku yakin Karel nantinya akan bahagia bersama orang lain. Nggak ada yang tahukan nantinya akan seperti apa." Gumam Kelvin lagi metanap langit - langit rumahnya.
Drrrrtttt drrrrttt drrrrttt..
"Eh telvon? Kirana?" Tanya Kelvin kepada dirinya sendiri.
"Halo Kiranaa?" Tanya Kelvin.
"Halo Kelvin, kamu udah pulang kan? Aku nggak ganggu kan?"
"Eh ah ehm nggak kok Naa.. ada apa kok kamu nelvon aku?"
"Kamu kenapa? Haha aku pengen nelvon kamu aja."
"Aku kaget aja, tumben banget kamu menghubungi ku duluan."
"Nggak boleh nihh, sebenarnya aku cuma cari kontak random aja sih Vin hihi."
"Ihh, nggak papa juga sih. Yang penting kamj nelvon aku, mau itu random atau apapun hahaha."
Kelvin sangat senang karena saat dia memikirkan Kirana, telvon Kirana langsung masuk. Jelas saja Kelvin kaget.
"Kamu baru sampai Vin?"
"Iya baru lima belas menitan kayaknya. Kamu nggak kenapa - kenapa kan Naa?"
"Apa sihh Viiinn... aku nggak kenapa - kenapa kom, aku cuma lagi bingung aja mau ngapain di rumah. Hari ini kan aku masih belum belajar, masih di suruh istirahat sama Mama."
"Oh iya juga yahh.. nggak aku cuma khawatir aja kok Naa. Ehmm Naa, mumpung kita lagi telvonan kayak gini, gue mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Ngomong aja Vin."
"Ehmm.. Naa apa kamu benar - benar udah nggak ada perasaan sama Karel?"
"Kenapa kamu nanya itu?"
"Nggak.. akhir - akhir ini Karel sangat berubah, dia sudah tidak ceria lagi dan gampang marah."
"Teruss??"
"Yahh mungkin itu karena berpisah sama Kamu Kirana."
"Hmmm.. mungkin Karel memang belum bisa melupakan aku, dan mungkin sekarang dia merasa sangat bersalah atas apa yang sudah dia perbuat. Aku bohong kalau aku ngomong nggak pernah mikirin dia lagi, tapi perasaan aku sama dia udah nggak bisa di lanjutin lagi. Aku nggak bisa kalau harus menerima Karel lagi, memang banyak kenangan indah yang udah aku laluin bersama Karel, tapi semua itu nggak bisa ngebalikin perasaan aku sama Karel seperti dulu lagi."
"Maafin aku yahh Naa, kalau aku lancang ngomong kayak gini."
"Nggak papa kok Viin, itu tandanya kamu peduli sama orang di sekitar kamu."
"Hmm, tadi Karel sempat marah - marah sama Carol di kantin Naa. Karel kelihatan marah banget sampai dia nyiram Carol pakai segelas es teh dan lagi ramai - ramainya kantin."
"Apa? Sampai segitunya? Karena Karel udah tau kalau Carol menuduh dia ke aku?"
"Iya Naa, aku kan yang ngasih tau pesan kamu."
"Hmm aku nggak nyangka kalau Karel sampai melakukan itu. Aku kira Karel bakal diem aja, dan nggak mau bertengkar sama Carol, karena dari dulu Karel malas banget ngeladenin Carol kalau Carol gangguin aku. Kayaknya ini semua salah aku lagi deh, Carol lagi - lagi menderita karena aku Vin." Kata Kirana sudah hampir menangis.
"Nggak Naa, semuanya bukan salah kamu. Carol sendiri kan yang cari masalah? Jadi Carol pantas mendapatkan ini semua."
"Hmm.. tapi Karel gimana? Dia jadi tempramen gitu karena aku. Apa aku harus menerima Karel kalau dia datang minta maaf di rumahku agar Karel bisa berubah seperti dulu lagi?"
Jantung Kelvin berdetak kencang saat mendengar ucapan Kirana.