Episode 34

1735 Kata
Akhirnya Karel sampai di sekolah, dia melihat Karel yang baru saja turun dari mobilnya. "Ehh, Karel.. masuk masuk.." Kelvin berlari ke arah Karel dan memaksa Karel kembali masuk ke mobilnya. "Apa sih Lo? Gue mau ke kelas." Tegas Karel. "Ayo ayo masuk aja dulu, gue mau ngomong sama Lo." Ujar Kelvin yang langsung saja masuk ke dalam mobil Karel. Sebenarnya Kelvin berusaha agar tidak bertemu Carol lagi. "Mau ngomong apa Lo? Pagi - pagi udah rusuh banget Lo." Kata Karel dengan kesal. "Kemarin gue sama yang lain ke rumah Kirana, terus Kirana cerita soal dia udah nuduh - nuduh Lo, dia minta tolong untuk menyampaikan maafnya lagi sama Lo, karena dia nggak enak udah nuduh Lo kayak gitu. Terus kita juga udah ngasih tau kalau Carol pelaku sebenarnya dan bukan Lo. Orang yang Kirana maksud kemarin itu juga Carol, yang katanya kenapa dia bisa langsung percaya sama orang itu, yang dia maksud adalah Carol." "Apa Caroooll?" Tanya Karel heran. "Iya , Carol. Jadi pas hari pesan itu di kirim, malamnya Kirana menghubungi Carol, minta maaf sama Carol kalau memang Carol pelakunya, karena Carol nggak mau merepotkan sahabat - sahabatnya, dia mau menyelesaikannya sendiri, tapi Carol nggak ngaku malah nuduh Lo. Makanya Kirana langsung menghubungi Lo saat selesai telvonan sama Carol." Kata Kelvin sambil melihat ke arah depan, untuk melihat Carol apakah dia sudah jalan masuk ke kelas atau belum. Dan pas saja Carol sudah muncul dan berjalan menuju koridor. "Apa maksudnya sih cewek b******k itu, menuduh gue. Kayaknya gue harus kasih pelajaran lagi buat tuh cewek, kok nggak ada habis - habisnya sih berbuat licik seperti itu." Kata Karel. "Sama aja kan sama Lo." Kata Kelvin dengan suara pelan. "Lo bilang apa?" Tanya Karel yang mendengar Kelvin mengeluarkan suara tidak jelas. "Nggak.. gue bilang yahh karena dia nggak mau ngaku kan, makanya dia menuduh Lo." Kata Kelvin. "Hmm, masih ada nggak yang Lo mau omongin?" Tanya Karel. "Eh udah nggak ada itu aja semua, kalau gitu gue cabut ke kelas yahh.. byee broo." Kata Kelvin menepuk pundak Karel. "Thanks yahh." Kata Karel. "Yoi broo." Kelvin keluar dari mobil Karel dan berjalan menuju kelasnya. Kelvin berhasil kabur dari Carol, dan di kelas dia tidak ingin menoleh sedikit pun ke arah Carol. Di kelas sudah ada Sherill, Gadis, Gina dan juga Dinda. "Lo baru datang?" Tanya Sherill ke Kelvin. "Nggak, udah dari tadi kok." Kata Kelvin sambil menyimpan tasnya. "Terus?" Tanya Sherill lagi. "Terus apaan? Gue habis nongkrong." "Idihh, gaya lu nongkrong." Seru Dinda tertawa. "Hahahah, emang kenapa kalau gue nongkrong. Gue tadi habis ketemu Karel dan menyampaikan pesannya Kirana." Kata Kelvin. Carol yang melihat Kelvin, sangat kesal karena sudah membuatnya jalan sendiri. Padahal tadi Carol sangat ingin jalan berdua dengan Kelvin. "Hayyy, gimana? Gue udah bisa ngomong sama kalian?" Carol menghampiri mereka. "Sorry kita lagi nggak ada waktu." Kata Dinda yang berada tepat di samping Carol. "Gue cuma mau minta maaf sama kalian atas apa yang udah gue perbuat lagi, gue sekarang udah benar - benar berubah, dan nggak akan ngelakuin yang seperti itu lagi." Kata Carol. "Gini yah Carol, itu terserah Lo.. Lo mau berubah atau nggak, kita nggak peduli. Dan kita udah maafin Lo kok." Kata Sherill. "Serius kalian mau maafin gue?" Tanya Carol. "Iya udah, kan di maafin doang. Nggak ada susahnya buat kita, tapi kita nggak pernah bisa ngelupain apa yang udah Lo lakuin." Kata Gadis. Kelvin hanya diam mendengar pembicaraan mereka. "Makasih yah, kalian udah mau maafin gue. Kalian sangat baik." Kata Carol tersenyum. Carol tidak menyimak baik - baik ucapan mereka, yang terpenting bagi Carol, mereka sudah bisa memaafkannya. Dan Carol bisa mendekati Kelvin lagi. "Iya ya udah sana, kita nggak punya waktu lagi buat ngomong sama Lo." Kata Gina. "Kalian kan udah maafin gue, masa nggak boleh sih gue gabung sama kalian." Kata Carol dengan santainya. "Heii !!!! Lo itu nggak punya malu atau bagaimana sih? KITA CUMA MAAFIN LO, NGGAK LEBIH. KITA NGGAK MAU ADA ORANG KAYAK LO DI SEKITAR KITA. NGERTIII ???" Gadis menekankan ucapannya yang dari tadi sudah mulai gemes dengan sikap Carol. "Upsss.. duuhh lebih baik Lo pergi dari sini deh Carol, kalau Gadis udah marah serem tau." Kata Gina tertawa. "Kok kalian gitu sih? Katanya udah maafin gue, tapi kok seperti itu?" Tanya Carol lagi. "Lo nggak ngerti bahasa yah? Kita emang udah maafin Lo tapi kita nggak mau berteman dengan Lo, jadi cukup sampai di sini aja Lo ngomong sama kita. Udah ngerti nggak?" Kata Dinda. "Guysss.. sarapan dulu yukk." Kelvin berdiri dari tempat duduknya. "Ayo deh, dari pada di sini ngurusin orang yang nggak ngerti bahasa. Di kasih hati malah minta jantung." Gadis juga ikut berdiri. "Minggir dong, gue mau keluar nih." Seru Dinda menyuruh Carol menjauh tanpa menyentuhnya. Carol terdiam dan menghindar begitu saja. Mereka semua pun meninggalkan Carol dan berjalan keluar kelas. Kelvin memang sengaja mengajak teman - temannya keluar karena tidak ingin melihat dan mendengar ucapan Carol yang tidak masuk akal itu. "Belajar bahasa indonesia nggak sih Lo?" "Aduhh kasiaannn." "Kalau gue sih udah malu banget." Seru anak - anak yang ada di kelas, sambil menertawakan Carol. Carol hanya melihat sinis    ke seisi kelasnya. "Kenapa dia seperti itu sih? Gue heran deh sama sifat Carol." Kata Kelvin berjalan dengan gaya khasnya memasukkan satu tangannya ke saku celananya. "Kayaknya dia pengen banget deh gabung sama kita." Jawab Gina. "Tapi sampai seperti itu? Kok dia sampai mau malu sih di hadapan kita semua dan anak - anak yang lain." Kata Sherill. "Yah dia kan emang udah nggak punya malu, dia udah nggak peduli mau malu kek apa kek, yang penting dia bisa dapat apa yang dia mau." Kata Gadis. "Eh tapi Lo tadi serem deh Dis hahaha, nggak nyangka gue Lo bisa marah seperti itu." Seru Gina. "Hahaha, habis gue emosi banget liat muka dia yang nggak ada rasa bersalah sama sekali. Benar - benar nggak punya hati tau nggak sih dia." Ujar Gadis. "Bu ini yahh" Gadis mengambil satu bungkus roti dan s**u coklat di kantin. "Bener banget Lo Dis, gue sampai muak tau liat muka dia. Uuurrrgghhhh !!!! Seru Sherill meremas roti yang ada di tangannya. "Hahaha udah. Cepetan sarapan nanti bell bunyi loh." Kata Kelvin. Setelah Sherill, Gadis, Gina dan juga Dinda  mengisi perut mereka yang kosong, mereka pun kembali ke kelas. KIRANA POV Matahari sudah terbit dan menyilaukan kamarku, ku buka mataku pelan - pelan berharap ada keajaiban yang muncul mataku bisa melihat kembali. Tapi semuanya hanya bayanganku saja, yang ku tahu itu semua nggak mungkin dan mustahil akan terjadi kalau begitu saja. Aku bangun perlahan dari tempat tidurku, merapikan rambutku dan berjalan pelan ke tempat alat musikku. Aku ingin sekali bernyanyi pagi itu, moodku sedang bagus untuk bernyanyi. Ku ambil saja gitarku, dan ku petik senarnya sambil bernyanyi. Dari kecil aku memang sudah dia ajarkan oleh Papaku bermain alat musik piano, biola dan gitar. Aku bisa semuanya berkat bantuan Papa yang selalu menemaniku untuk melatih kepintaranku dalam memainkan alat musik. Dari kecil aku benar - benar gadis yang mungkin bisa di bilang tanpa kekurangan apapun, teman - teman, keluarga dan orang tua yang sangat kaya raya tanpa kekurangan apapun dari kecil. Bahkan kasih sayang sangat ku dapatkan dari mereka. Dan sejak masuk Sekolah Menengah Atas aku mendapatkan lagi orang yang menyayangiku bagai ratu yaitu Karel, sebelum insiden ini terjadi. Dan sekarang aku hanya gadis buta yang hanya bisa duduk di dalam kamar menunggu kedatangan orang - orang yang menyayangiku. Tapi aku harus kuat untuk mereka, untuk mereka yang selalu ada untukku. "Pagi sayangg.. tumben kamu nyanyi lagi sayangg." Kata Papa yang baru saja ke kamarku. "Pagi Paahh.. Papa belum berangkat?" "Belum Nak, sebentar lagi. Papa naik karena dengar suara gitar kamu, ternyata anak papa sudah bangun dan langsung main gitar." "Hehe iya Paahh.. Kirana lagi kangen main gitar aja, dan sepertinya pagi ini mood Kirana lagi bagus." "Baguslah Nak kalau begitu, Papa senang kalau kamu semangat seperti ini." "Wah wah wah.. ada yang lagi Happy nihh." Seru Mama yang baru saja naik. "Apasih Mama.. Kirana lagi pengen main gitar aja kok, dari pada lamakan di anggurin gitarnya." Kataku. "Haha iya sayangg.. ini kamu sarapan dulu yahh, mama bikinin roti bakar kesukaan kamu, dan ini ada s**u strowberry hangat." Kata Mama. "Iya Maa, simpen aja dulu di meja. Ntar Kirana makan kok." "Jangan lupa dimakan loh Nak, kamu harus minum vitamin kalau habis yah." Kata Papa. "Iya awas yah, kalau kamu nggak sarapan lagi." Kata Mama. "Iya Papaaa.. Mamaaa.. tenang aja, Kirana akan melakukan perintah dari bosku heheee." "Haha ada - ada saja kamu Nakk.. kalau gitu Papa sama Mama berangkat ke kantor dulu yah, minta tolong sama Bi Sri kalau kamu butuh sesuatu." Kata Papa. "Iya siaaapp.. Mama sama Papa hati - hati yahh." "Kiss dulu dong." Kata Mama sembari mencium keningku dan papa juga melakukannya. Sekarang aku di kamar sendirian menghabiskan sarapan yang di bawakan Mama  tadi dan meminum vitaminku. Aku masih harus minum vitamin selama beberapa hari kedepan agar kondisiku semakin pulih. Aku memikirkan percakapan yang sahabat - sahabatku keluarkan kemarin soal Kelvin yang menyukaiku, aku senang kalau Kelvin menyukaiku, tapi apa iya Kelvin suka sama gadis buta sepertiku. Rasanya sangat tidak mungkin kalau hal itu terjadi. Aku tidak ingin terlalu membawa perasaan saat ini, karena aku merasa aku tidak pantas untuk Kelvin. Siangnya kira - kira pukul 12:00 ponselku berdering dan itu dari Kelvin. Sudah berapa hari ini Kelvin sering menghubungiku di saat jam istirahat sekolah. "Halo iya Kelviiin." "Halo Kiranaaaa.. kamu lagi ngapain?" "Aku? Aku nggak lagi ngapa - ngapain kok, ini Bi Sri lagi menata rambutku, katanya nggak ada kerjaan." "Ohhh, salamin sama Bi Sri yahh." "Bi salam katanya Kelvin." "Salam balik Mas Kelvin uncchh uncchh" teriak Bibi. "Hahahah, bibi bibi.. kamu nggak mau nanya ke aku Naa?" "Nanya apa Vin?" Tanya aku bingung. "Tanya apa kek gitu? Biar basa - basinya lama." "Hahahah.. aku kirain apa.. nggak, ini kan jam istirahat.. kamu makan dulu gihh, di tinggal lagi kan sama yang lain?" "Hahah iya iya.. baik lah kalau begitu tuan putri." "Huussshh.. kamu nggak malu di dengar sama anak - anak yang lain? Bi Sri yang mendengarnya saja sampai ketawain kamu Loh Vin." "Mas Kelvin kalau Mba Kirana tuan putri, Bibi apa dong?" Celetuk Bi Sri sambil tertawa genit. "Hahahha kenapa harus malu? Terserah aku dong mau ngomong apa. Dan Bi Sri tetap Bi sri aja yah nggak usah yang lain hahahah." "Ihhh, Mas Kelviiinn." Seru Bibi. "Hahhaha.. ya udah kamu ke kantin yahh, salamin sama yang lain." "Okeyy tuan put—" "KELVIINNN." Belum selesai Kelvin berbicara, ku dengar itu suara Carol memanggil Kelvin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN