- Hari Ulang Tahun Kirana -
Sherill yang mengetahui kalau Carol yang datang segera berdiri dan berlari keluar, bahkan iya sampai meninggalkan makanannya yang masih tersisa di meja makan.
“Ngapain Lo ke rumah Kirana lagi?” Bentak Sherill.
“Loh, kenapa Lo yang keluar? Gue kesini mau ketemu sama Kirana lah. Masa iya gue udah jelas – jelas ke rumah Kirana, tapi pengen ketemu Lo sih. Bego deh Lo.” Ujar Carol dengan santainya.
“Kirana nggak mau ketemu sama Lo, dan nggak akan pernah mau lagi buat ketemu sama Lo. Jadi, Lo nggak usah datang – datang untuk ketemu sama Kirana.” Jelas Sherill.
“Whatever !!! terserah Lo yah, mau ngomong apa. Gue nggak akan percaya kalau bukan Kirana langsung yang ngomong seperti itu sama gue. Orang terakhir kali gue ketemu sama Kirana baik – baik aja kok. Minggir deh, gue mau masuk.” Carol menyambar Sherill, lalu melangkahkan kakiknya masuk ke halaman rumah Kirana.
“PAK ADIIIIII… BI SRIIIIII… CEPETAN KESINI.. ADA MALINGGGGG !!!!!” Teriak Sherill
Pak Adi, Bi Sri, Gadis dan Dinda yang mendengar teriakan Sherill segera keluar. Carol berbalik ke arah Sherill dan melihatnya dengan tatapan sinis.
“Mana mba Malingnya?” Tanya Pak Adi yang sudah membawa tongkat dari dalam rumah Kirana.
“iya mana Rill?” Tanya Dinda yang juga membawa payung besar untuk memukul malingnya.
“Mana mba malingnya ?? Manaa??” Tanya Bi Sri yang juga sangat bersemangat.
“Kalian semua nggak liat ?? Tuh malingnya di depan kalian.” Jawab Sherill menunjuk Carol.
“Wahhhh.. ini sih bukan maling Rill.. ini Setan tau nggak sih. Gimana cara ngusir setan yahhh? “ ujar Gadis tertawa.
“Terserah yah kalian mau ngomong apa. Gue mau masuk ketemu sama Kirana. Kiranaaaaa Kiranaaaa.” Teriak Carol memanggil Kirana.
“Gini nih kalau orang bego. Kirana nggak ada, jadi Lo nggak usah ngabisin suara Lo buat manggil Kirana.” Ujar Dinda.
“Kalian bohong kan?” Tanya Carol.
“Aduhh.. Pak Adi tolong bangettt usir dia dari sini. Dan kalau pak Adi udah liat dari cctv cewek ini yang datang nggak usah di bukain pintu. Pak Adi mau Kesehatan Kirana menurun hanya karena gangguan dari cewek ini? Iya ???” Ujar Sherill.
“Ehh, nggak Mba.. saya nggak mau kalau Mba Kirana sampai sakit lagi.” Jawab Pak Adi.
“Nahh.. sekarang pak Adi bawa keluar cewek ini.” Ujar Sherill lagi
“Maaf yah Mba, Mba mau keluar sendiri atau mau saya paksa keluar ?” Tanya Pak Adi berjalan mendekati Carol.
“Gue nggak akan pergi sebelum ketemu sama Kirana.” Ujar Carol.
“Wahh, nantangin.. Pak Adi usir secara paksa aja, nggak papa. Nih orang nggak bisa di kasih tau baik – baik. Emang harusnya pakai kekerasan.” Ujar Gadis.
“Ckkckckckk.. iya Pak Adi seret aja keluar, nggak papa kok.” Ujar Sherill.
“Aduhh Mbaa, tapi bukan muhrim. Saya nggak mau pegang.” Kata Pak Adi.
“hahahah, Pak Adi.. Yaudah dehh.. kalau gitu BI Sri aja, Bi Sri bisa kan?” tanya Sherill.
“Lahh, siapa takut Mba.” Bi Sri menggulung baju lengan bajunya, segera memegang kedua bahu Carol untuk dibawanya keluar.
Tapi Carol juga sangat kuat menahan diri, hingga akhirnya Dinda juga ikut membantu Bi Sri menyeret Carol keluar.
“Lepasin gue nggak Dinnn ?!?!?!?!” Seru Carol meronta – ronta untuk melepaskan genggaman Carol dan Bi Sri yang sangat kuat.
“Siapa Lo nyuruh – nyuruh gue hahahah.” Seru Dinda.
Carol sudah hampir sampai di pagar rumah Kirana, dan tiba – tiba Gina muncul membawa minuman cup di tangannya.
“Aduuhhh.. tumpah deh minuman gue. Apa – apaan sih ini.” Ujar Gina membersihkan tangannya.
“aarrrgghhhh baju gue jadi kotor bego !!!!” seru Carol, karena minuman Gina tumpah tepat di baju Carol.
“Wahh.. Lo kok ada di rumah Kirana?” Tanya Gina ke Carol.
“Iya nihh.. bikin mood kita semua berantakan gara – gara dia. Nggak mau pergi lagi dari sini.” Kata Dinda yang masih memegangi Carol.
“Bener – bener Lo yahh, nggak ada malunya banget sumpaahhh.. Nihh, dehh gue tambahin biar tambah kotor.” Gina menumpahkan kembali sisa minumannya di baju Carol.
“ udah dehh, mending Lo pergi dari sini.” Ujar Gina lagi mendorong Carol keluar dari pagar rumah Kirana.
“Wihh Mba Gina hebat, satu dorongan aja bisa mengeluarkan makhluk ini. Hahahaah.” Ujar Bi Sri.
Akhirnya Carol keluar dari rumah Kirana, dengan keadaan bajunya yang basah dan sangat kotor akibat tumpahan minuman Gina.
“Ahhh, dasar orang – orang gila.” Gumam Carol berjalan menuju mobilnya.
“Tapi Kirana kemana? Kelvin juga nggak kelihatan ada di sana. Ckkk.. jangan – jangan mereka lagi berduaan.” Ujar Carol menaiki mobilnya.
“Ini nggak bisa di biarin, gue telvon Kelvin ahh.” Carol mencoba menghubungi Kelvin, tapi Carol baru sadar kalau Kelvin sudah memblock nomor telefonnya.
“Ahhhh sialaaannn Kelvvviiinnn.” Carol memukul – mukul stir Mobilnya.
Setelah Carol pergi, Sherill kembali ke meja makan menghabiskan makanannya. Gadis, Gina dan Dinda mulai mengeluarkan semua hiasan yang sudah mereka beli dari plastiknya. Gina mulai membuat balon, Dinda membuat hiasan dengan kertas berwarna – warni. Mereka semua berbagi tugas. Sherill selesai makan mulai membantu yang lainnya dan juga Bi Sri ikut mendekor taman rumah Kirana yang berdekatan dengan kolam renang. Sudut – sudut kolam renang di pasangi balon hias dan kertas berwarna – warni. Mereka semua sangat bersemangat untuk membuat kejutan untuk sahabat mereka yang tercinta.
Rumah Sakit –
Kelvin yang sudah janjian dengan kedua orang tua Kirana, datang ke rumah sakit seperti tidak di sengaja.
“Om.. Gimana? Mana Kirana?” Tanya Kelvin yang baru saja sampai di rumah sakit.
“Eh Nakk.. Kirana masih di dalam, masih pemeriksaan mata. Om sangat deg – degan, semoga aja donor matanya cocok untuk Kirana.” Jawab Pak Chandra.
“Aaminn semoga aja yah Om.” Ujar Kelvin.
Hampir satu jam Kelvin dan Pak Chandra menunggu Kirana pemeriksaan, akhirnya Kirana dan Ibu Kartika keluar dari ruang pemeriksaan. Wajah dari ibu Kartika tertunduk kecewa, karena ternyata donor mata untuk putri semata wayangnya tidak cocok lagi dimata Kirana. Kelvin yang melihat wajah Kirana juga, sudah tau kalau pasti donor matanya tidak cocok lagi.
“Kenapa Maa? Nggak cocok lagi yah?” Tanya Pak Chandra.
“Iya Pahh.” Jawab Ibu Kartika sangat lesu.
“Haaiii Naaa..” Sapa Kelvin dengan semangat berharap suasana hati Kirana bisa berubah dengan adanya dirinya.
“Lohh Kelvin? Kelvin kan? Kok ada di sini?” Tanya Kirana.
“Iya aku Kelvin.. aku kan mau ketemu kamu.” Jawab Kelvin merangkul Kirana perlahan.
“Kok bisa tau aku di sini?” Tanya Kirana lagi.
“iya dong, aku tau dimana pun kamu berada.” Goda Kelvin.
“Ihh, apaan sihh.. sotoyy banget hahaah.”
“Alhamdulillah Ya Allah.. akhirnya aku melihat Kirana tertawa hari ini.”
Ibu Kartika dan Pak Chandra hanya bisa tersenyum melihat Kelvin yang sangat peduli dengan putrinya.
“Om.. Tantee.. Kirana pulangnya sama aku aja yahh, boleh kan?” Tanya Kelvin berbalik ke orang tua Kirana.
“Boleh dong, boleh banget.” Jawab Pak Chandra.
“Hati – hati yahh Kelvin.” Kata Ibu Kartika.
“Yeeyyy.. makasih Om.. Tanteee…” Kelvin mengedipkan satu matanya ke orang tua Kirana.
Kelvin dan Kirana pulang bersama. Kelvin membantu Kirana berjalan sampai parkiran dan masuk ke dalam mobilnya. Saat di mobil suasana hati Kirana mulai sedih lagi karena mengingat donor matanya yang tidak kunjung cocok dengan matanya. Dan kalau di paksakan akan berpengaruh dengan Kesehatan Kirana nantinya.
“Kenapa Naa?? Kok wajahnya sedih gitu sih?” Tanya Kelvin sambil memasangkan sheet belt ke tubuh mungil Kirana.
“Vinn.. kenapa yahh donor mata yang aku dapat semuanya belum ada yang cocok sama aku?” Tanya Kirana Pelan.
“hmm.. Naa.. jangan terlalu di fikiran yahh. Aku yakin nanti pasti bakalan ada yang cocok buat kamu, dan untuk sekarang kamu nggak boleh sedih – sedih. Kamu harus focus juga dengan Kesehatan kamu, Okeyy?” Ujar Kelvin mengelus rambut Kirana.
“Apa aku banyak dosa Vin?” Tanya Kirana lagi.
“Naaa.. nggak boleh ngomong gitu ahh. Kirana yang aku kenal kan selalu berfikir positif, Tuhan pasti akan memberi mu yang terbaik Naa.” Ujar Kelvin lagi.
Kirana hanya diam mendengar ucapan Kelvin.
“Jangan sedih gitu dong, sekarang kita pulang yuukk.. Kita singgah beli ice cream dulu, biar suasana hati kamu jadi tenang.” Ujar Kelvin.
“hmm.. iya Vinnn..”
Di jalan Kelvin mengirim pesan ke Sherill, untuk di hubungi kalau semua persiapannya sudah selesai.
Sesampainya di restoran Fast Food Kelvin membeli dua Cup Ice Cream, untuk di makannya dulu di mobil bersama Kirana.
“Naa kita makan di mobil aja yahh.. aku tau kalau kamu nggak nyaman kalau makan di dalam.” Ujar Kelvin.
“Makasih kamu selalu ngetiin aku Vinn.”
Kelvin tersenyum sambil membelai rambut Kirana.
“Naa.. pinjem tangan kamu dong.” Ujar Kelvin.
“Hahh? Kok minjem?” Tanya Kirana.
“iya sini dulu satu tangan kamu.” Kelvin menarik satu tangan Kirana dan mengeluarkan kalung yang sudah di belinya tadi sebagai hadiah ulang tahun Kirana.
“Ihh, ini apa Vinn? Kok geli gini?” Kirana meraba yang ada di tangannya.
“Tebak dong.”
Kirana mencoba menebak apa yang di berikan Kelvin dengan merabanya.
“Aku nggak tau Vin, seriusan.” Ujar Kirana.
“Ishh nggak seru dehh.. Ya udah kalau gitu sini yahh.” Kelvin mengambil kembali kalungnya dan mendekati Kirana, melingkarkan kedua tangannya di bahu Kirana.
“Mau ngapain Vin?” Kirana kaget, seketika langsung memundurkan badannya menjauh dari Kelvin.
“Hahaha.. tenang Kirana aku nggak ngapa – ngapain kamu kok.” Kelvin pun memakaikan kalung di leher putih mulus milik Kirana.
“Kelvin ini kalung?” Kirana memegang lehernya dan meraba kalung yang di berikan Kelvin.
“Happy birthday Kiranaaaaa.. Semoga kamu bisa semakin Bahagia lagi.” Kelvin mengelus pipi Kirana dengan sangat lembut.
Kirana menitihkan air mata Bahagia di pipinya.
“Uuuhh.. kok nangis sih.” Kelvin membelai pipi Kirana yang sudah basah akibat air matanya.
“Aamiin.. Makasih banyak Viinnn.. kamu sampai melakukan ini, kamu tau hari ini ulang tahun aku. Aku saja nggak ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunku. “ Ujar Kirana masih memegang kalung pemberian Kelvin.
Kalung yang di belikan Kelvin adalah kalung emas putih yang berinisial “ K ” yang di hiasi tiga berlian kecil di tengah hurufnya. Sangat indah.
“Hahahhaa.. nggak usah di pegang terus. Tangan kamu nanti capek, pegangin kalungnya. Aku senang kalau kamu senang Kirana. Sekali lagi Happy birthday yahh, jangan sedih – sedih di umur kamu yang sekarang ini. Kamu harus bersinar seperti Kirana yang dulu, yang kata orang – orang Kirana adalah gadis yang sangat cantik dan sangat baik.” Ujar Kelvin.
“hikksss hiksss hiksss iya Vinn.. Makasih banyak.” Kirana tersenyum.
“Boleh aku peluk kamu Naa?” Tanya Kelvin ragu.
“Bolehh.” Jawab Kirana.
“uhhhh.. jangan sedih – sedih lagi yahh. Aku ada di sini untuk selalu nemenim kamu Naa kapan pun kamu butuh aku, insyaAllah aku akan berusaha untuk datang membantu dan mendengarkan keluh kesahmu.” Ujar Kelvin sambil menepuk – nepuk pelan bahu Kirana yang dari tadi tidak berhenti menangis.
“Aku sangat beruntung bisa kenal orang seperti kamu Kelvin. Kamu sudah sangat sabar untuk berteman denganku, sudah sangat sabar untuk selalu ada di sampingku untuk menemaniku. Terima kasih Kelvin.” Ujar Kirana menyeka air matanya.
=====