"Naa, kamu mau ngapain hari ini?" Tanya Kelvin.
"Hah, mau ngapain Vin.. aku bisa apa kalau lagi sakit begini." Jawab Kirana.
"Iya sih.. hmm nanti kalau kamu udah keluar dari rumah sakit, kita ke danau lagi yuk. Aku mau ngajakin kamu naik perahu." Kata Kelvin.
"Beneran Vinn?"
"Bener dong, masa aku bohong sih."
"Yeyy, nggak sabar pengen cepat - cepat keluar."
"Hahah, nggak boleh dipaksain keluar loh yah."
"Hehehe, iya Vin.. nggak kok."
"Kalau gitu kamu istirahat dulu gih, aku nungguin kamu di sini." Kelvin membantu Kirana membaringkan dirinya.
"Iya Vin, makasih yah Vin."
Kelvin menemani Kirana dengan sabar, Kelvin duduk di sofa dekat yang tidak jauh dari tempat tidur Kirana.
Kelvin melihat Kirana yang sedang gelisah tidak bisa tidur.
"Kenapa Kirana? Kamu nggak bisa tidur yah?" Kelvin menghampiri Kirana.
"Iya Vin.. nggak tau kenapa nih, biasanya kalau habis minum obat aku langsung ngantuk." Kata Kirana.
"Ya udah aku coba temenin kamu di sini yah. Oh, coba dengar lagi deh Naa." Kelvin mengambil ponselnya dan memasangkan headsheet di telinga Kirana.
Kelvin memutarkan lagu - lagu milik Ed Shereen, itu membuat Kirana lebih tenang dan perlahan tidur. Kelvin yang juga ikut mendengar lagunya, jadi mengantuk dan tertidur di pinggir tempat tidur Kirana sambil menggenggam tangan Kirana.
Tidak lama Sherill, Gadis, Gina dan juga Dinda datang.
"Assalamualaikum."
"Loh kok nggak ada yang menjawab." Ujar Gina.
Mereka semua melihat Kirana dan Kelvin yang lagi tertidur.
"Ihh, lucu bangeetttt !!!" Seru Dinda.
"Husshhh, jangan berisik.. nanti mereka bangun." Kata Sherill.
"Habis mereka lucu, uhh gue jadi iri deh." Kata Dinda.
"Kita fotoin mereka yuk." Seru Gina.
Gina pun mengambil ponselnya dan mengambil foto mereka dari sudut ke sudut.
"Nanti kita gangguin Kelvin pakai foto ini hahaha." Gina memperlihatkan foto - foto yang sudah dia ambil ke teman - temannya.
"Kita istirahat dulu juga yuk, gue juga ngantuk." Seru Gadis membaringkan dirinya ke Sofa.
Akhirnya mereka semua pun ikut tertidur di kamar rumah sakit Kirana yang cukup besar. Papa Kirana sengaja mengambil kamar yang VVIP agar Kirana lebih nyaman, dan karena Papa Kirana tau kalau teman - teman Kirana ingin selalu mengunjungi Kirana. Orang tua Kirana tidak pusing berapa pun harganya, yang penting anak semata wayangnya itu nyaman dan senang, karena mereka mencari uang hanya untuk anak semata wayangnya. Bisnis kedua orang tua Kirana juga berjalan sangat lancar. Yahh, itu semua karena mereka satu keluarga sangat baik terhadap orang - orang dan selalu memberi sedekah ke orang yang membutuhkan. Mereka percaya bahwa kalau selalu memberi ke orang yang lebih membutuhkan pasti nantinya akan di balas oleh Allah SWT.
Ibu Kartika (Mama Kirana) yang baru saja datang dari pertemuan bersama dengan rekan kerjanya, melihat semuanya tertidur dengan pulas. Dan tiba - tiba matanya menitihkan air mata, Ibu Kartika sangat terharu karena semua sahabat - sahabat Kirana masih setia menemani Kirana dalam keadaan seperti ini.
"Heii, Maa ada apa? Kok berdiri doang?" Tanya Pak Chandra yang baru saja datang.
"Eh, Papa udah pulang. Liat deh mereka Pahh, Mama terharu melihat mereka seperti ini." Kata Ibu Kartika.
"Wahh, mereka sampai tidur semua Maa.. Liat Kelvin Maa, sampai megangin tangan Kirana." Kata Pak Chandra.
"Eh, tante.. om.. sudah pulang." Kata Kelvin yang terbangun dan cepat - cepat melepaskan tangannya.
"Santai saja Kelvin." Pak Chandra tertawa melihat tingkah Kelvin.
"Ehh, kok mereka?" Tanya Kelvin.
"Oh, kamu nggak tau kalau mereka datang Nak?" Tanya ibu kartika.
"Nggak tante, Kelvin nggak tau. Kapan mereka datangnya yah? Kok nggak bangunin aku." Tanya Kelvin berdiri dari tempat duduknya.
"Makasih yah nak Kelvin, kamu sudah nungguin Kirana." Kata Ibu Kartika.
"Iya tante, sama - sama." Kelvin tersenyum.
"Woi bangun wooii." Kelvin membangunkan satu persatu Sherill dan yang lainnya.
"Eh, tante om.. maaf yahh, kami jadi ketiduran disini." Kata Sherill.
Gina, Gadis dan juga Dinda perlahan membuka mata matanya, dan duduk manis di sofa.
"Hahaha, iya nak nggak papa kok. Tante malah senang kalian semua ada di sini menemani Kirana." Kata Ibu Kartika.
"Oke, kalau semuanya sudah bangun bagaimana kalau kita pesan makan dulu, bir makan bareng - bareng dulu yahh." Kata Pak Chandra mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya.
"Asyiiikkkk."
Kirana juga terbangun karena suara mereka yang sudah mengisi kamar itu.
"Nak, gimana perasaan kamu?" Tanya ibu kartika.
"Alhamdulillah, aku baik - baik aja kok Maa, lebih baik dari kemarin." Kata Kirana mengusap matanya.
"Kirana sayanggg" sapa Sherill, Gadis, Ginda dan Dinda yang menghampiri dan memeluk Kirana.
"Oh kalian sudah datang yah.. udah dari tadi?" Tanya Kirana.
"Udah dari tadi tuh mereka, udah sempat tidur di sini tuh." Seru Kelvin.
"Idihh, Lo juga tidur kali. Tidur sambil megangin tangan Kirana. Hahahahah" Seru Gadis.
"Iya lucu bangett deh, so sweeeettt." Ujar Dinda.
Wajah Kelvin berubah menjadi merah merona, Kelvin malu harus di saksikan seperti itu.
"Wajahnya nggak usah merah gitu kali' hahhahaah." Seru Sherill.
"Tenang Vin, gue udah fotoin Lo tadi kok. Genggaman Lo sangat erat tau nggak." Kata Gina.
"Hahhaha, kalian ini ada - ada aja deh." Ujar Pak Chandra.
"Jangan gituin Kelvin, nanti Kelvin pulang loh." Kata ibu Kartika menggoda Kelvin.
"Hahahaha." Semuanya tertawa.
"Maa, sepertinya aku udah boleh istirahat di rumah deh. Aku bosen di rumah sakit terus." Kata Kirana.
"Iya sayang, tunggu sampai besok lagi yah. Nanti mama tanya dokter dulu." Kata ibu Kartika.
"Okeyy, pizzanya sudah dataaangg." Kata Pak chandra.
Setelah itu mereka semua makan bersama, Kirana sangat senang, semua orang yang ia sayangi sedang berkumpul. Meskipun Kirana tidak bisa melihat momen kebersamaan itu, tapi Kirana bisa merasakan suasana yang hangat itu. Kirana sangat bersyukur akan hal itu.
"Tante kabarin yahh, kalau Kirana besok udah di bolehin pulang." Kata Sherill.
"Iya nak, pasti." Kata Ibu Kartika.
"Kalau gitu kita pulang dulu tante.. om.. makasih banyak pizaanya om." Kata Dinda.
"Naa, aku balik dulu yah. Kamu istirahat, kalau nggak bisa tidur dengerin lagu lagi aja. Okeyy?" Kata Kelvin mengusap kepala Kirana.
"Makasih banyak yah Vin. Makasih kalian semua udah nemenin aku lagi di sini." Kata Kirana tersenyum.
"Sama - sama Naa, kita pulang yahh. Jangan banyak fikiran, biar besok bisa pulang." Kata Sherill.
"Iyaa, kalian hati - hati yahh." Kata Kirana.
Mereka semua berpelukan sebelum pulang, kecuali Kelvin.
*****
KIRANA POV
- Sehari Sebelum masuk rumah sakit -
Masalah pesan yang tersebar di grup tentang aku dan Karel membuatku sangat stress. Hari itu setelah sahabat - sahabatku dan juga Kelvin pulang dari rumahku, aku naik ke kamarku untuk berfikir bagaimana cara agar semua masalah yang berhubungan denganku bisa hilang dan tidak membuat sahabat - sahabatku kerepotan dan terus saja membelaku di sekolah. Malamnya aku sempat menghubungi Carol, dan bertanya apakah benar dia yang menyebarkan pesan yang tidak benar itu ke grup sekolah.
"Halo, benar ini dengan Carol?"
"Hahhaha, Kirana? Kenapa Lo bertanya benar ini dengan Carol? Apa Lo saking nggak pernahnya yah kepikiran buat ngehubungin gue?"
"Ehm, maaf Carol.."
"Hahaha, gue bercanda kok? Ada apa Lo nelvon gue, tumben banget."
"Maaf Carol kalau ini membuat kamu tersinggung atau bagaimana, apa kamu tau tentang pesan di grup sekolah itu?"
"Wahh, Lo tau yah Naa?? Kok bisa? Duh kasian banget Lo Naa, padahal udah nggak sekolah, tetap aja di gosipin. Ckckckck sabar yahh Kirana."
Ucapan Carol membuat hatiku sakit, rasanya memang aku sudah menjadi orang yang sangat menyedihkan.
"Hmm, apa kamu orang yang mengirim pesan itu Carol?"
"Lo nuduh gue? Lo tumben - tumbenan nelvon gue, hanya untuk menuduh gue iya? Ini baru pertama kalinya kita telvonan loh Kirana, dan Lo memberikan kesan pertama yang seperti ini? Gue nggak nyangka ternyata Lo orangnya seperti ini Kirana."
"Maaf Carol maaf, kalau memang bukan kamu bisa nggak aku minta tolong sama kamu untuk bantuin teman - temanku aku cari pelaku sebenarnya? Aku kasian sama teman - temanku yang
terus - terus saja terlibat dengan masalahku."
"Kenapa Lo minta tolong sama gue? Gue bukan siapa - siapa Lo Kirana? Dan gue kasih tau yah sama Lo, yang mengirim itu pasti Karel. Siapa lagi yang tau selain kalian semua dan Karel kan? Pasti Karel ngelakuin ini untuk mengancam Lo agar Lo bisa balikan lagi sama dia. Kalau gue apa untungnya buat gue ngelakuin itu Kirana, Lo kan udah nggak ada di sekolah, jadi untuk apa gue ngelakuin itu. Nggak ada untungnya tau buat gue."
Sejenak aku berfikir, kalau ucapan Carol ada benarnya juga. Untuk apa Carol memfitnahku, aku kan udah nggak ada di sekolah, aku jadi yakin dan percaya kalau Karel yang melakukan itu.
"Hmm, iya juga yah Carol.. maafin aku yah, maaf banget udah curigain kamu, dan makasih kamu udah ngasih aku jawaban. Aku jadi yakin kalau Karel pelakunya. Sekali lagi maaf dan terima kasih Carol."
"Iya iya Kirana, nggak papa kok.. udah biasa gue di tuduh - tuduh kayak gitu hahaha. Lebih baik sekarang Lo telvon Karel, tanya tujuan sebenarnya dia apa. Tapi kalau Feeling gue sih dia nggak bakal ngaku sih Kirana, jadi Lo pinter - pinternya aja buat ngomong sama dia. Dan paksa aja dia buat ngaku."
"Iya Carol, sekarang aku bakal langsung telvon Karel. Byee Carol, maaf udah mengganggu waktumu."
"Okeyy, byee Kirana. Good Luck yahh."
Dan dengan bodohnya diriku mempercayai Carol. Setelah mematikan telvon Carol, aku langsung menelvon Karel, aku tidak tau sudah berapa lama aku menelvon bersama Carol. Mungkin saat aku menghubungi Karel, kira- kira sudah jam 11 malam.
"Hal—"
"Kirana? Kiranaaaa???"
"Iya ini aku Kirana."
"Hah, alhmadulillah.. akhirnya kamu menghubungiku duluan Kirana."
"Maaf Karel, aku nggak mau basa - basi. Kenapa kamu ngelakuin itu sih Karel? Tolong dong kamu fikir posisi sahabat - sahabatku, mereka pasti di cecar dengan pertanyaan - pertanyaan super bodoh dari pesan itu, kenapa kamu egois sekali sih Karel."
"Hah? Maksud kamu apa Kirana? Aku nggak ngerti."
"Kamu nggak usah pura - pura nggak tau Karel, please aku mohon sama kamu untuk memperbaiki keadaan di sekolah."
"Apasih Kirana? Apa yang mau di perbaiki? Sumpah aku nggak ngerti, kamu jelasin ke aku pelan - pelan, jangan kayak gini. Aku beneran nggak tau maksud kamu apa."
"Hmm, kamu kan yang mengirim pesan tadi ke grup sekolah? Biar aku bisa maafin kamu? Kamu pakai itu biar bisa ngancem aku kan?"
"Astagfirullah Aladzim.. jadi itu maksud kamu? Naa, aku berani bersumpah kalau bukan aku yang mengirim pesan itu. Bagaimana mungkin aku melakukan hal yang juga merugikan diriku. Kamu nggak tau isi pesan itu? Pesan itu bertuliskan kalau aku sudah ngapa - ngapain sama kamu. Di situ juga ada nama aku Kirana, nggak mungkin aku ngelakuin itu. Aku nggak senaif dan sebodoh itu Kirana."
"Hiksss.. kenapa aku bisa langsung percaya sih sama dia." Aku mulai menangis terisak, aku menyesal sudah menuduh Karel seperi ini.
"Heii heiii Kirana.. tenang.. maksud kamu percaya sama siapa?"
"Maaf Karel, maaf aku sudah menuduhmu seperti ini. Aku nggak tau lagi harus bagaimana, aku nggak mau sahabat - sahabatku terus memikirkan masalahku."
"Iyaa, nggak papa Kirana. Aku senang kok bisa dengar suara kamu lagi, meskipun kamu harus marah - marah sama aku."
"Maafin aku yahh Karel, Maaf."
Aku langsung mematikan ponselku.
=====