Aku benar - benar malu dan merasa bersalah sudah menuduh Carol dan Karel tanpa bukti.
Setelah aku menelfon dengan Carol dan Karel, aku mencoba untuk tidur tapi aku tidak bisa tidur, aku juga masih terbayang - bayang oleh kata - kata kakak kelas yang menelfonku tadi siang. Kakak kelas itu sampai bilang dia ingin membayarku, rasanya harga diriku sudah tidak ada lagi. Dan ponselku terus saja berdering, Karel terus menghubungiku. Aku yakin dia khawatir, karena saat aku mematikan telvon aku masih menangis.
Mungkin aku tidur sekitar jam 3 pagi, dan bangun - bangun kepalaku sangat pusing, badanku lemas. Aku mencoba bangun dari tempat tidur, dan baru beberapa langkah rasanya kakiku gemetaran, aku mencoba memanggil bi Sri tapi aku sama sekali tidak punya kekuatan dan akhirnya aku pun pingsan. Saat bangun kembali aku sudah berada di rumah sakit, tempat yang sebenarnya aku sangat tidak suka, karena mengingatkanku lagi akan kecelakaan yang merenggut penglihatanku.
AUTHOR POV
Karel baru saja memarkir mobilnya di parkiran sekolah, saat turun dari mobil Karel melihat Sherill yang juga baru datang.
"Ehh, Sherill.. tunggu gue mau ngomong sama Lo." Karel menghampiri Sherill.
"Apasih? Mau ngomong apa? Kalau nggak penting jangan buang - buang waktu gue." Kata Sherill sambil berjalan.
"Gimana keadaan Kirana? Apa dia baik - baik aja?" Tanya Karel.
"Emang kenapa Lo nanyain itu? Lo Nggak usah tau lagi deh gimana keadaan Kirana." Jawab Sherill.
"Hmm.. sebenarnya pas hari masalah pesan yang masuk di grup itu Kirana nelvon gue malamnya." Kata Karel.
"Hah? Kok bisa?" Sherill menghentikan jalannya.
"Iya, dan dia nuduh gue kalau gue yang nyebarin pesan itu, katanya alasan gue ngelakuin itu karena bisa buat ancaman buat dia supaya balik lagi ke gue." Kata Karel.
"Emang bukan Lo kan?" Tanya Sherill.
"Rill, gue nggak sebodoh itu. Di pesan itu juga ada nama gue kan? Gue nggak mungkin buat orang tua gue malu lagi karena masalah ini." Karel menunjuk bangku mengajak Sherill duduk.
"Terus Kirana percaya? Kirana bisa mengerti?" Tanya Sherill.
"Iya dia mengerti kok, dia malah minta maaf sama gue karena dia udah nuduh gue. Tapi sebenarnya bukan itu yang mau gue omongin sama Lo."
"Terus apa dong?"
"Ada kata - kata Kirana yang mengganjal saat dia nelvon gue. Dia sampat bilang kalau kenapa dia bisa langsung percaya sama dia, tapi gue nggak tau dia itu siapa. Kalau kalian dia nggak mungkin bilang seperti itu sih."
"Hah, ada orang yang berhubungan lagi sama Kirana? Tapi siapa?"
"Gue juga nggak tau deh Rill, kalau Lo mau cari tau silahkan. Karena gue juga pengen tau, siapa yang menghasut Kirana sampai Kirana bisa percaya."
"Hmm, iya deh Karel. Thanks yahh infonya, kalau gue dapat info tentang orang itu pasti gue kasih tau Lo, okey?" Sherill berdiri dari bangku.
"Iya, makasih Sherill."
Sherill pun berjalan menuju kelasnya, melewati taman sekolah. Disana ada Carol yang sedang duduk.
"Duhh pemandangan pagiku di rusak oleh cewek gila itu." Gumam Sherill lalu menoleh ke arah Carol. Sherill memberikan tatapan sinis ke Carol.
Di kelas sudah lumayan ramai, Sherill menuju bangkunya yang disana sudah ada Gadis, Gina, Dinda dan juga Kelvin yang sedang bercanda ria.
"Pagi guyss.." sapa Sherill.
"Pagi Rill." Sapa semuanya.
"Tumben Lo nggak kepagian." Seru Kelvin.
"Iya nih, gue telat bangun. Makanya agak lama ke sekolah. Btw tadi gue ketemu Karel dan dia ngomong sama gue kalau kemarin dulu tuh kirana nelvon Karel." Sherill membuka tasnya.
"Nggak kebalik tuh? Karel yang menghubungi Kirana?" Tanya Kelvin heran.
"Nggak.. katanya Kirana yang nelvon Karel, trus Kirana langsung menuduh Karel kalau Karel orang yang mengirim pesan itu ke grup sekolah." Jelas Sherill.
"Hah? Kok Kirana langsung menuduh Karel sih? Kenapa dia ngambil kesimpulan kayak gitu?" Tanya Gadis.
"Nahh.. itu dia.. Karel bingung dengan ucapan Kirana yang sempat ngomong katanya kenapa aku langsung percaya sama dia sih, terus habis itu Kirana minta maaf sama Karel." Kata Sherill lagi.
"Dia? Dia siapa yang Kirana maksud?" Tanya Kelvin.
"Nah itu lagi.. salah satu di antara kita nggak ada yang telvonan sama Kirana kan? Dan Lo Kelvin bukannya Lo yang terakhir pulang dari rumah Kirana kemarin dulu kan? Bukan Lo yang ngomong kayak gitu kan?" Tanya Sherill.
"Dihh, nggak yahh.. ngapain gue ngomong kayak gitu ke Kirana, gue nggak pernah fitnah - fitnah orang yah." Kata Kelvin.
"Sapa tau aja kan, karena Lo udah mulai suka sama Kirana Lo jadi membuat Kirana benci sama mantannya itu." Seru Dinda yang lagi berkaca.
"Bener juga tuh." Ujar Gina melihat Kelvin.
"Astaghfirullah.. gue bukan cewek itu yahh, yang harus menghalalkan segala cara agar mendapatkan kesenangannya." Kelvin mulai kesal.
"Cewek itu? Eh jangan - jangan Carol lagi yang ngomong kayak gitu ke Kirana." Seru Sherill.
"Hahaha, maafin Vin.. kita bercanda kok, maaf yahh." Seru Gina.
"Isshh.. iya iyaaa.. eh, Rill Lo nggak boleh nuduh kayak gitu. Lo kan nggak punya bukti, nanti kita tanya baik - baik aja sama Kirana siapa yang ngomong kayak gitu sama dia." Kata Kelvin.
"Iya deh, mungkin saat Kirana udah keluar dari rumah sakit kali yahh.. biar nggak nambah beban fikirannya dulu saat ini." Kata Sherill.
"Iya nanti aja, btw kan kita juga belum kasih tau ke Kirana kalau orang yang sebenarnya mengirim pesan itu kan Carol." Ujar Gadis.
"Sekalian aja semuanya nanti pas Kirana keluar dari rumah sakit." Ujar Dinda yang dari tadi belum selesai berkaca.
"Btw Carol mana yah? Apa nggak masuk?" Tanya Gina.
"Puffftt.. ngapain Lo nyari - nyari dia? Kangen Lo?" Seru Dinda.
"Hahaha sialan.. kan tumben dia belum datang jam segini, biasanya udah duduk di bangkunya memakai maskara kesukaannya." Kata Gina.
"Ada kok tadi gue liat di taman, lagi meratapi nasib kali' hahahah." Jawab Sherill.
"Kemarin pas pulang sekolah gue sempat ngeliat dia sempoyongan gitu di parkiran, mau gue bantu tap—"
"Lo nggak bantuin dia lagi kan Vin?" Tanya Sherill.
"Isshh belum juga gue selesai ngomong. Iya gue nggak bantuin kok, gue pura - pura nggak liat hmmm gue udah berdosa kemarin udah liat orang kesusahan malah nggak gue bantu." Kata Kelvin menopan dagunya.
"Ihh Kelvin jahat." Ujar Dinda tertawa.
"Nggak papa Vin, kalau nggak gitu dia bisa manfaatin Lo lagi kalau Lo bantuin dia kemarin. Dan mungkin aja kan, dia lagi acting agar mendapat perhatian Lo lagi." Kata Gadis.
"Gue di manfaatin yah sama dia?" Tanya Kelvin.
Triiiinnngggg trrriiiiiinggg trrrriiinggg..
Bell masuk jam bertama pun berbunyi.
"Hahahha, iya Vin Lo dimanfaatin sama tuh cewek." Sherill melihat ke arah Carol yang baru saja masuk kelas.
"Berarti gue bego dong?" Tanya Kelvon dengan polosnya.
"Ahahhahaha." Sherill, Gadis, Ginda dan juga Dinda tertawa besar saat Carol melewati bangku mereka.
"Lo nggak bego Kelvin, cuma tuh cewek yang sangat licik." Kata Sherill yang sengaja membesarkan suaranya.
"LO CARI MASALAH SAMA GUE?" Teriak Carol.
Semua yang ada di kelas menoleh ke sumber suara itu. Saat itu, belum ada guru yang mengajar datang.
"Guysss siapa tuh yang cari masalah sama dia?" Tanya Sherill menoleh ke arah teman - temannya.
"Lo denger yahh Sherill? Kita nggak dengar sesuatu tuh dari tadi."
"Ihh, Sherill hebat bisa dengar suara makhluk gaib."
"Din Lo nggak merinding yahh? Sepertinya ada S-E-T-A-N berdiri di dekat Lo."
Satu persatu dari siswa yang ada di kelas mengejek Carol. Carol sangat marah dengan perlakuan mereka.
"Hahahaha, kayaknya gue perlu berobat deh.. kok bisa dengar suara makhluk gaib yah." Ujar Sherill.
"AAARRRRGHHHHHHHH... Kaliaannnnn tunggu saja pembalasanku, gue nggak akan tinggal diam !!!! Carol berteriak sekeras mungkin.
"CAROL !!!! Kenapa kamu berteriak seperti itu? Kamu nggak tau ini sudah bell?" Tanya Guru yang baru saja masuk untuk mengajar di kelas mereka.
"Ehh, maaf bu.." Carol tertunduk dan cepat duduk di bangkunya.
"Obatnya habis bu."
"Hahahhahahha." Seisi kelas menertawakan mereka.
Pelajaran pun di mulai seperti biasanya, Carol sangat tidak tahan di perlakukan tidak baik dengan teman sekelasnya, belum lagi Carol tidak mempunyai teman di dalam kelasnya, karena memang sekarang sudah tidak ada yang menyukai Carol. Citra teman sebangkunya pun sudah tidak duduk lagi dengannya, sekarang Carol duduk sendirian tanpa bisa berbicara dengan siapapun yang ada di kelas itu. Sepanajang jam pelajan, Carol tidak bisa fokus. Carol terus memikirkan bagaimana caranya agar di sukai oleh teman - temannya meskipun mungkin tidak semunya akan menyukainya. Beberapa kejadian tidak membuat Carol menjadi lebih baik, tapi membuat Carol menyimpan dendam lebih banyak ke Kirana. Carol berfikir semua ini terjadi karena Kirana.
"Sampai kapan pun gue sangat membenci Lo Kirana." Batin Carol memegangi pulpen dan mencoret - coretnya di bukunya.
Jam istirahat pun tiba, Kelvin yang biasanya langsung berdiri dan mengajak teman - temannya ke kantin, tidak lagi seperti itu. Bunyi bell Kelvin langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Kirana.
"Ngapain Lo diem aja? Ayo ke kantin, Lo nggak laper?" Tanya Sherill yang sudah berdiri dari bangkunya.
"Ntar.. kalian duluan ajaa, tapi jangan ninggalin gue lagi. Pesankan gue mie ayam aja, okeyy?" Pinta Kelvin.
"Dihh, mau ngapain sih Lo ntar - ntar?" Tanya Gadis.
"Aduuhh, kepo banget deh kalian.. udah sana, nanti kantinnya full loh." Seru Kelvin.
"Ihh, nggak jelas banget sih nih anak." Sherill melihat ke arah Carol yang juga tidak beranjak dari bangkunya.
"Lo mau ngomong sama tuh cewek kan? Makanya Lo diem di sini?" Tanya Sherill menunduk tepat di depan wajah Kelvin.
"Nggak woii !!!" Kelvin menjauhkan pandangannya dari Sherill.
"Gue mau nelvon Kirana tauuuuu.. nih liat nihh." Kelvin menunjukkan ponselnya yang lagi menghubungi Kirana.
Suara Kelvin juga di dengar oleh Carol.
"Wahahhah, bilang dong dari tadi. Anak pintar hahah." Ujar sherill mengacak - ngacak rambut Kelvin.
"Ihhh, dasar cewek - cewek kepo. Udahh sanaaaaa !!!!" Teriak Kelvin.
"Iya iya kita duluan, cepetan yahh nanti mie ayamnya dingin nggak enak." Kata Sherill berjalan keluar kelasnya.
"Iya iyaa."
Kelvin menghubungi Kirana lagi.
"Halo Naaa.. kamu ngapain? kok lama di angkat telvonnya?"
"Aku lagi mau di periksa sa dokter dulu Vin.. ini aku lagi izin sama dokternya buat angkat telvon kamu dulu."
"Oh, ya ampun maaf Naa.. maaf yah, kamu periksa dulu deh, aku cuma mau nanyain kabar kamu kok."
"Hahah, iya Vinn.. ntar aku telvon lagi yah."
"Iya, byee Kiranaaa."
Kelvin mematikan telvonnya dengan senyum - senyum senang. Carol melihat semua dan mendengar percakapan Kelvin dengan Kirana.
Setelah Kelvin menelfon, Kelvin berdiri dari bangkunya karena ingin ke kantin.
"Kelviiinn !!!" Tiba - tiba Carol memanggil Kelvin.
Kelvin hanya menoleh dan meneruskan langkah kakinya, Kelvin mengabaikan Carol begitu saja.
"Kenapa lagi sih dia memanggilku." Gumam Kelvin mempercepat langkah kakinya.
"Kelvin tungguuu !!!" Carol mengejar Kelvin keluar dari kelas.
"Maaf, gue sedang buru - buru.. makanan gue menunggu." Kelvin berlari secepat mungkin.
Anak - anak yang lain yang melihat Carol sampai menertawakan Carol karena di abaikan begitu saja.
"APA KALIAN LIAT - LIAT ?!?!?! Bentak Carol.
Tapi mereka tetap saja menertawakan Carol.
"Lo sekarang mengabaikan gue Kelvin ? Gue nggak akan tinggal diam Lo udah kayak gini sama gue. Kenapa harus seperti ini sih ? sialaaaann." Batin Carol berjalan kembali masuk ke kelasnya.
=====