Sherill yang mendengar pembahasan soal kejadian Kirana dan Karel membuat emosinya semakin memuncak, Sherill memang belum bisa menerima Carol berada di sekitar teman - temannya, di dalam lubuk hati Sherill dia masih menyimpan perasaan bahwa Carol benar - benar tidak bisa mengubah sifatnya yang sudah dari dulu tidak menyukai Kirana.
"Karel memang laki - laki brengsek." Seru Dinda.
"Emangnya Karel ngelakuin apa sih sama Kirana?" Tanya Carol perlahan. Carol sangat hati - hati dalam bertanya, agar pertanyaannya mendapat jawaban.
"Dinn, balik berdiri sekarang !!! Kita balik." Seru Sherill berdiri tiba - tiba hingga hampir membuat kursi yang dia dudukinya terjatuh.
"Hah? Oh oke - oke." Kata Dinda yang mengikuti langkah Sherill.
"Loh kalian udah mau balik yahh? Hmm hati - hati yahh." Kata Carol membalikkan badannya ke arah mereka yang sedang berjalan cepat.
"Byeee Carolll." Kata Dinda melambaikan tangannya.
"Carol kenapa sih Lo pake ngebahas itu? Itu pembahasan yang sangat tidak mau dibahas oleh kami semua, kenapa malah membuat suasana jadi seperti ini. Haaaaahhh, Sherill pasti sangat marah nih sama gue." Kata Kelvin.
"Oh maaf Vin, gue nggak tau... Sumpahh !!! Maafin gue Vin, gue nggak tau kalau itu nggak boleh di bahas, gue masih penasaran aja, soal itu. Maafin gue yah Vin, kalau Sherill marah nanti gue deh yang minta maaf, Lo kan nggak salah apa - apa." Kata Carol yang pura - pura cemas.
"Ehh nggak usah, nggak usah.. Lo nggak usah minta maaf sama Sherill, biar itu jadi urusan gue berdua sama Sherill. Lo habisin deh itu buburnya baru kita juga pulang." Kata Kelvin yang sudah tidak semangat lagi.
"Hmmm iya deh kalau gitu, maafin gue yah Vinn?" Kata Carol memperlihatkan wajahnya sedihnya.
"Iyaa, nggak papa kok. Habisin cepetan makanannya yahh, gue ke kasir dulu."
"Iya Kelvin." Kata Carol mengambil sendoknya lagi.
"Hahahah gue berhasil buat misahin Lo dari Circlenya Kirana Kelvin, tapi haah gue nggak berhasil dapatin info yang gue mau ckk. Kata Carol, yang melihat Kelvin berdiri di kasir.
"Udah makannya?" Tanya Kelvin.
"Iya udah kok Vinn, kita pulang sekarang kan?" Tanya Carol.
"Iya kita pulang sekarang." Kata Kelvin berjalan keluar dari rumah makan.
Sepanjang perjalanan pulang Kelvin banyak diam, Kelvin sangat takut kalau Sherill benar - benar marah dengannya.
"Vinn? Lo nggak papa kan? Mau minum?" Tanya Carol.
"Eh, nggak papa kok Carol. Gue baik - baik aja." Kata Kelvin.
"Lo mikirin Sherill yahh? Lo takut banget yah sama Sherill."
"Nggak.. bukannya gitu, gue tau banget kalau Sherill marah. Lo tau kan kalau Sherill itu sepupu gue, gue udah sering sama dia di rumah gue. Gue takut aja, kalau dia nggam ngizin gue lagi buat deket - deket sama Kirana. Haduuhhh, sepertinya dari tadi malam gue ngelakuin banyak kesalahan deh. Sudah buat Kirana nangis, dan sekarang pasti gue bakalan bener - bener nggak bisa di dekatnya Kirana."
"Viinn Vinnn tenang dulu, tarik nafas... Lo nggak harus seperti ini, memangnya kenapa kalau Lo nggak bisa deket - deket sama Kirana lagi? Lo suka yah sama Kirana?" Tanya Carol.
"Hmmm, nggak kok.. gue nggak suka sama Kirana." Kata Kelvin.
"Terus?? Kenapa sampai Lo takut gini nggak bisa deket - deket sama Kirana? Vinn, gue kasih tau yahh, kalau Lo emang nggak mau jujur sama gue kalau Lo suka sama Kirana, sekarang Lo mungkin bisa deketin Kirana, tapi tidak untuk mengambil hatinya Kirana. Gue nggak tau apa yang sebenarnya Karel lakuin sama Kirana, dan emang dia yang sudah bikin Kirana buta, tapi gue yakin di dalam lubuk hatinya Kirana yang paling dalam dia masih sayang sama Karel, dia nggak bisa gantiin Karel di hidupnya, Lo nggak tau gimana perjalanan cintanya mereka, Lo anak baru yang tidak tau kisah mereka." Carol terus berbicara panjang lebar, meyakinkan Kelvin bahwa Kirana tidak akan menyukainya.
"TAPI LO NGGAK TAUU KALAU KAREL HAMPIR MELECEHKAN KIRANA DI GUDANG SEKOLAH, KAREL SUDAH MEMBUAT KIRANA TRAUMA, KAREL MEMAKSA KIRANA MEMBUKA BAJUNYA SAAT ITU, SAMPAI GUE DATENG NYELAMATIN DIA, BAJUNYA SUDAH TERBUKA CAROOOOLLL !!!!" Teriak Kelvin yang cukup emosi dan di luar kendali dirinya membeberkan semua perbuatan Karel.
"Haaahh? Jadi itu yang sudah di perbuat Karel? Ya ampun gue nggak nyangka Karel seperti itu. Tapi mungkin aja kan, Kirana juga mau melakukan itu, Lo aja mungkin yang datang di saat yang tidak tepat." Kata Carol lagi.
"Haaahhh, kenapa gue ngasih tau Lo sihh. Gue bener - bener nggak bisa nahan emosi gue, saking pusinhnya memikirkan Kirana. Carol pleasseee Lo jangan ngasih tau ke orang - orang kalau itu kejadian yang sebenarnya, gue mohon sama Lo Carol. Dan satu lagi, Kirana nggak mau ngelakuin itu sama Karel, bahkan pas gue datang Kirana menangis, saat itu dia sangat syokk Carol." Kata Kelvin menghela nafasnya.
Kelvin dan Carol pun akhirnya sampai di depan rumah Carol.
"Iya Vinn, gue nggak akan ngasih tau ke orang - orang kok. Lagian siapa yang mau gue kasih tau, nggak ada untungnya juga kan buat gue. Mending sekarang Lo pulang, tenangin diri Lo Vinn." Kata Carol meyakinkan Kelvin.
"Maafin gue yahh Carol, udah maki - maki Lo. Maaf banget." Kata Kelvin sembari duduk di depan mobilnya.
"Hahhha nggak papa kok Kelvin, udah biasa gue di gituin. Nihh, Lo minum dulu baru balik." Kata Carol menyodorkan air minum ke Kelvin.
"Makasih yah Carol." Kata Kelvin meneguk airnya.
Carol hanya tersenyum melihat Kelvin.
"Kalau gitu gue balik sekarang Carol, maaf untuk hari ini." Kelvin berjalan menuju masuk ke dalam mobilnya.
"Iyaa nggak papa, hati - hati yahh Vinn. Makasih udah mau olahraga bareng gue." Kata Carol melambaikan tangannya.
"Byee Carol." Kata Kelvin melajukan mobilnya.
"Yeessss hahahhahahaha, akhirnya gue dapet informasi yang sangat besar. Kelvin Kelvin lo emang cowok yang gue cari. Hahhahahaha" Kata Carol melompat - lombat kegirangan.
Carol sangat senang karena informasi yang selama ini dia cari akhirnya bisa dia dapatkan juga, bukan karena hasil paksaan. Tapi atas ketidaksengajaan Kelvin yang tidak bisa menahan emosinya.
"Liat aja apa yang bakal gue lakuin dengan informasi ini, wahhh ternyata Kirana sudah di lecehkan sama Karel, hahahhaha dasar cewek murahan, ternyata segitu doang tubuh Lo. Hahhahaha duh seneng banget deh gue." Kata Carol berbicara sendiri di dalam kamarnya.
RUMAH KIRANA
Sherill dan Dinda berjalan menuju rumah Kirana, di jalan Sherill melampiaskan emosinya dengan Dinda.
"Din Lo itu polos atau bego sih, kok lo bisa - bisanya terus membalas ucapan Carol." Gertak Sherill.
"Hahh? Maksud lo apaan sih Sherill? Lo ngatain gue bego yah?" Kata Dinda mulai marah.
"TERUS APA DONG??? Lo tau nggak Carol itu berusaha mencari - cari informasi tentang kejadian sebenarnya yang di timpa Kirana. Pasti dia bakalan sebarin di sekolah kalau dia udah ngedapetin informasi itu, gue yakin dia nggak berubah Diiinnn. Percaya deh sama gue, tolong dong Din Lo bisa lebih peka terhadap situasi yang seperti ini, Lo nggak mau kan kalau Kirana jadi bahan gosip lagi di sekolah?" Kata Sherill memegang ke dua bahu Dinda.
"Ohh, hmmm gitu yahh" Dinda tertunduk menyesal.
"Iya Dinn, kita nggak boleh percaya gitu aja sama Carol, Carol tuh udah menyimpan kebencian dari dulu sama Kirana, gue yakin dia nggak bakalan bisa cepat berubah hanya karena perkataan Kelvin." Kata Sherill sandar di pagar rumah Kirana.
Mereka belum juga masuk ke dalam rumah Kirana, karena ingin menyelesaikan pembahasan soal Kirana.
"Iya Sherill, gue udah ngerti. Gue juga nggak mau kalau Kirana jadi bahan gosip lagi di sekolah. Maafin gue Sherill, lain kali gue akan lebih peka lagi." Kata Dinda tersenyum.
"Hmm, maafin gue juga yah, udah ngebentak lo tadi." Kata Sherill.
"Hahaha iya nggak papa. Tapi gue heran deh kok bisa Kelvin ngomongn itu ke Carol? Kelvin kan tau kalau itu nggak boleh di kasih tau ke orang lain." Kata Dinda yang ikut menyandarkan tubuhnya di pagar rumah Kirana.
"Itu juga yang bikin marah banget, kenapa Kelvin harus ngomong seperti itu ke Carol, Carol pasti sangat penasaran soal itu, Lo tau kan kalau dia penasaran pasti dia bakalan cari sampai ke akar - akarnya. Duuhhh gue marah banget sama Kelvin, sialan tuh anak."
"Tenang Sherill, semoga aja Carol nggak berusaha untuk tau lagi kejadian sebenarnya. Kan yang tau semua itu hanya kita berlima dengan Kelvin di sekolah, kalau kita kan nggak mungkin ngasih tau ke Carol. Mending Lo kasih tau Kelvin baik - baik, supaya dia ngejaga mulutnya lagi biar nggak ember kayak gitu. Dia juga kan baru kenal sama Carol, nggak boleh langsung percaya kayak gitu." Kata Dinda.
"Hmm iya nanti dehh, kalau sekarang gue nggak mau bicara dulu sama Kelvin, pasti emosi gue meledak kalau bicara sama Kelvin sekarang." Kata Sherill.
"Hahha iya iya, mending sekarang kita masuk yuk. Udah mulai panas nih, nanti kulit gue gosong kalau berdiri lama - lama di sini hahahha." Kata Dinda membunyikan bell Rumah Kirana.
"Ehh tunggu, kita balik aja yuk Dinn. Nggak usah masuk, gue nggak bisa ketemu Kirana dalam keadaan seperti ini Diinn, Kirana pasti tau kalau keadaan hati kita nggak tenang kayak gini." Kata Sherill.
"Ih gue udah bunyiin bell nya, tapi iya juga sih Kirana kan peka banget."
"Iya kan? Yukk cabut aja yukk, sebelum Kirana atau tante ..... keluar." Kata Sherill menarik tangan Dinda.
"Ehhh ehh, kalian mau kemana? Nggak jadi masuk?" Teriak Pak Adi keluar dari rumah.
"Nggak pak Adi, nggak jadi. Tiba - tiba Mama Sherill nelvon suruh pulang, nggak tau kenapa. Sampein ke Kirana yahh pak Adi, nanti kita tlvon Kirana juga Pak. Makasihh yahh pak Adi, daaaaaa." Sherill melajukan mobilnya dengan cepat.
"Hahh, ada - ada aja Lo Rill." Seru Dinda.
"Yahh mau gimana lagi, daripada kita masuk dan Kirana nanya - nanya? Kita nggak tau kan mau ngomong apa. Yang ada nanti kalau di kasih tau dia malah kepikiran lagi kita nggak boleh nambahin beban fikiran Kirana." Kata Sherill menghela nafasnya.
Drrrttttt drrrtttt drrttttt...
"Eh, handphone Lo tuh Sherill, eh dari Kelvin." Seru Dinda.
"Kelvin? Haahh nggak usah di angkat, pasti sekarang dia mau minta maaf soal tadi." Kata Dinda.
"Wihhh udah dua puluh kali Sherill hahahah, pasti dari tadi dia nelvon - nelvon Lo deh." Kata Dinda melihat handphone Sherill.
"Biarin aja, ntar juga capek sendiri." Kata Sherill yang terus melajukan mobilnya.
"Nelvon lagi nih, angkat aja Rill, kasian dia pasti kepikiran deh. Gue angkat yahh." Dinda menggeser touchscreen hp Sherill dan mengangkat tlvon Kelvin.
"Dindaaaaa" Seru Sherill sangat gemas.
"Haloo.. kenapa Vinn? Ini gue Dinda, Sherill lagi nyetir." Kata Dinda.
"Ohh, speaker dong Diinn, gue mau bicara sama Sherill."
"Udahhh." Kata Dinda.
"Sherill gue tau Lo pasti marah sama gue, tapi waktu itu gue bener - bener nggak sengaja ngomong seperti itu ke Carol, gue terbawa suasana Sherill, gue minta maaf."
"Kenapa sih Lo harus sedekat itu sama Carol? Lo nggak tau gimana Carol sangat membenci Kirana Viinn. Sumpah yahh haahhh." Kata Sherill.
"Sherill Dindaa, gue minta maaf. Gue emang nggak tau gimana Carol ke Kirana, waktu itu gue hanya memikirkan kalau gue bisa meyakinkan Carol, supaya dia nggak mengusik Kirana lagi, dan tetap jadi dirinya sendiri. Karena gue yakin kalau Carol bisa berubah, saat itu yang gue lakuin hanya untuk Kirana, agar dia tidak menjadi bahan gosip lagi sekolah, gue juga kasihan kok sama Kirana."
"Hmmm.. iyaa iyaa kalau itu memang alasan Lo, gue maafin Lo. Tapi gue harap Lo nggak boleh terlalu percaya dengan Carol, dan gue harap Lo nggak akan kasih tau yang sebenarnya ke Carol lagi, ntah itu alasan lo terbawa suasana atau apa , gue harap Lo bisa ngejaga itu Kelvin." Kata Sherill.
"Iya Vinn, gue juga tadi sempat hampir terbawa suasana saat bicara dengan Carol, tpi untung ada Sherill yang bisa menahan gue. Tapi gue juga sebenarnya mau sih kalah si Carol itu berubah, semoga aja yahh." Kata Dinda.
"Maafin gue, maafin gue.. gue benar - benar cowok yang bodoh."
"Iya iya kita udah maafin kok." Kata Sherill.
"Sherill gue udah ngasih tau semuanya ke Carol tadi.. haaaahhh kayaknya gue nggak pantes minta maaf, gue terbawa emosi tadi bicara sama Carol. Maaf maaf maaffffff..."
"APAAA????" Teriak Sherill dan Dinda.
"Lo gila yah Viin? Wahh SINTING LOOOO !!!!"
"KELVIIINNNNNN !!!!"
"Maaf guyss maaf, gue terbawa emosi. Tadi Car....."
"Haaahhh, b******k LOOOO !!! Gue nggak mau denger penjelasan Lo."
Tuuttttt ttuuuttt tuuutttt...
=====