Ketahuan

1775 Kata

Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam seraya membuang pandangan ke luar jendela. Bukan marah, tapi malu. Bahkan rasanya pipi ini masih terasa hangat ketika terus teringat apa yang kami lakukan di atas kebun teh tadi. Sampai tak sadar sering kugigit bibir sendiri dengan mata terpejam. Rasanya memang beda dengan saat kami berciuman di malam kelam itu. Aku membalas dan menerima sentuhannya karena terpaksa akibat pengaruh obat. Sementara sekarang, aku membalasnya dengan kesadaran penuh. Membuatku rasanya tak berani bertatap muka lagi. Kali ini jauh lebih malu dibandingkan setelah tragedi malam itu. "Mau mampir ke suatu tempat dulu enggak?" Aku menoleh saat merasakan usapan di kepala bersamaan dengan pertanyaannya. "Emang mau ke mana lagi?" "Terserah. Siapa tau kamu pengen ke mana du

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN