Ini pertama kalinya aku berada di kamar Hasan yang mewah, wanginya seperti wangi kayu manis bercampur aroma teh. Ranjangnya besar memenuhi setiap ruangan. Tirai-tirai berat memebenani langit-langit kamar yang kokoh. Ranjangnya terbuat dari kayu ek, berbaring di sana sangatlah nyaman. Selmut yang menutupi tubuhku terbuat dari kapas yang dirajut sempurna hingga hangat dan nyaman. Temeram cahaya dikamar itu tidak membuat kekokohan raut wajah Hasan lenyap oleh kegelapan. Wajah tidurnya sangat tenang, begitu damai, dia seperti bocah yang keesokan paginya cuma harus mengambil buku dan berangkat sekolah. Aku tahu benar, ketika dia membuka matanya ada ribuan rahasia dibalik setiap tatapannya. Aku bertanya-tanya pada diriku kenapa sendiri, kenapa aku bisa berakhir di ranjangnya ? berapa banyak

