Aku keliatan sangat buruk, benar kata Rufus. ditamba lagi pening dikepalaku. Aku langsung berfikir untuk membuat teh rempah untuk menghangatkan tubuhku. Aku mendengar palu yang beradu dengan benda tumpul. Tanpa menunggu aku membuka pintu dapur yang terhubung ke sana. Jefri. Aku berlari seribu langkah untuk memeluknya, tapi aku terdiam. Membeku, kehilangan senyumku begitu melihat Hasan di kandang kuda sedang mengganti sepatu Alaska. Ternyata bukan Jefri. Hasan menengadah melihatku "Kamu sudah bangun" Aku tidak banyak bicara berbalik, aku belum siap untuk menghadapinya. Maafkan aku wahai pualam, aku memang punya mental yang gampang menciut "Lyan.." aku bergidik mendengar suaranya yang memanggilku seperti cara seorang ayah memanggil seorang anak kecil kesayangannya. Entah kenapa aku t

