9

1366 Kata
Di seberang dinding yang penuh tawa itu, kesunyian di rumah besar Sadewa terasa hampir menekan. Dewa baru saja meletakkan kopiahnya di atas meja kerja ketika ponsel yang tergeletak di samping laptopnya bergetar hebat. Sebuah nomor internasional tanpa nama muncul di layar. Dewa menatap layar itu selama beberapa detik, seolah sedang menimbang apakah ia ingin kembali ke "dunia itu" atau tetap di sini sebagai seseorang yang ingin hidup lebih normal. Layaknya orang lain yang sedang menikmati hidup tanpa tekanan dan pikiran yang seakan membuat otaknya meledak. Akhirnya, ia menggeser tombol hijau. "Ya?" suara Dewa rendah, nyaris seperti bisikan yang tajam. "..." "Saya sudah bilang, beri saya waktu satu bulan. Semua sistem sudah saya setup dari sini. Tidak akan ada kebocoran," balas Dewa dengan nada dingin. "..." "Kalau dewan direksi keberatan, sampaikan saja: Kursi itu masih milik saya. Jangan ada yang berani menyentuh portofolio itu sampai saya kembali ke Jakarta. Mengerti?" Dewa mematikan sambungan secara sepihak. Ia mengembuskan napas panjang, lalu membuka laptopnya yang bermerek apel tergigit separuh itu. Jarinya bergerak dengan kecepatan luar biasa, melewati barisan kode-kode rumit dan grafik fluktuasi angka yang bergerak secepat detak jantung. Matanya menyipit, fokus pada satu titik data yang menurutnya janggal. Siapa pun yang melihat layar itu saat ini, pasti akan sadar bahwa Sadewa bukanlah sekadar "bule pengangguran" seperti yang digosipkan para ibu-ibu di komplek ini. Setelah hampir satu jam berkutat dengan dokumen-dokumen berformat enkripsi tinggi, Dewa akhirnya menyandarkan punggungnya. Ia memijit pelipisnya yang mulai berdenyut. Tekanan pekerjaan yang ia tinggalkan di benua seberang seolah mengejarnya sampai ke kamar yang berbau kayu jati ini. "Sedikit lagi," gumamnya pada diri sendiri. Tenggorokannya terasa kering. Dewa bangkit dan memilih untuk keluar kamar. Langkah kakinya yang berat bergema di lorong lantai dua yang minim cahaya. Ia menuruni tangga menuju dapur, berniat membuat secangkir kopi hitam tanpa gula lagi. Entah ini keberapa kalinya—satu-satunya hal yang bisa membantunya tetap waras di tengah tumpukan tanggung jawab yang ia pikul secara rahasia. Saat ia berdiri di depan mesin kopi, matanya tak sengaja melirik ke arah jendela dapur yang menghadap langsung ke arah taman belakang rumah Lintang. Di sana, ia bisa melihat pantulan cahaya lampu dari ruang tengah keluarga Aryadinata. Suara tawa Lintang yang melengking saat menggoda adiknya sayup-sayup terdengar hingga ke telinga Dewa. Dewa tertegun sejenak dengan tangan masih memegang sendok. Ia membandingkan dunianya yang penuh angka dingin dan ancaman korporat dengan dunia gadis itu yang penuh dengan keributan receh dan aroma pisang goreng. Ingatan Dewa melayang kembali pada rentetan interaksi tak sengaja dengan Lintang seharian ini. Mulai dari insiden saus pentol yang penuh drama, daster bunga matahari yang mencolok, hingga tatapan canggung di depan masjid tadi. Tanpa sadar, sudut bibir Dewa berkedut tipis—sebuah senyum yang nyaris tak terlihat, namun nyata. Ada sesuatu yang menyegarkan dari cara gadis itu berinteraksi dengan dirinya; tak ada wanita yang menjaga image, gadis dengan suara berisiknya, dan semua yang ada seakan apaadanya. Dewa segera menggelengkan kepala, mencoba kembali fokus pada mesin kopi di depannya. Ia memilih Espresso dengan double shot tanpa gula. Pahitnya harus cukup kuat untuk menendang kantuknya, karena tumpukan dokumen digital dari kantor pusat di Eropa tidak akan selesai dengan sendirinya. Ia menyiapkan kopinya sendiri yang memang sudah seoeeti kebiasaannya, mencicipi sedikit uap panasnya, lalu melangkah kembali ke lantai atas. Sesampainya di kamar, Dewa meraih sebungkus rokok, pemantik, dan laptopnya. Ia menggeser pintu kaca menuju balkon, memutuskan untuk mengerjakan pekerjaannya di luar. Ia ingin merasakan angin malam Surabaya yang sedikit lembap dan berbeda dari udara dingin yang biasa ia hirup di luar negeri. Dewa menyalakan rokok yang sudah terselip di sela bibirnya, membiarkan asap pertama mengepul pelan ke udara malam. Namun, baru saja ia hendak membuka layar laptop, suara gesekan pintu geser dari rumah sebelah membuatnya mendongak. Tak jauh darinya—hanya terpisah jarak beberapa meter antar balkon—gadis itu muncul. Lintang keluar dengan kaos oversize abu-abu yang menenggelamkan tubuh kecilnya, celana pendek yang nyaris tak terlihat, dan sebuah laptop di pelukan. Mata Dewa tak mampu teralihkan. Di bawah temaram lampu balkon, ia bisa melihat bagaimana Lintang menguncir rambutnya dengan asal hingga membentuk cepol berantakan di puncak kepala. Sepasang kacamata berbingkai tipis kini bertengger manis di hidung kecilnya, memberikan kesan serius yang belum pernah Dewa lihat sebelumnya. "Oh, shit..." Dewa mengerang dalam hati. Ia membuang muka ke arah lain, menghisap rokoknya lebih dalam. "Hilangkan pikiran gila itu, Dewa. Dia cuma tetanggamu." Namun, dari sudut matanya, ia tetap bisa melihat Lintang yang kini sudah duduk nyaman di kursi balkonnya, mulai membuka laptop dengan dahi berkerut tanda dirinya sedang fokus. Lintang tampak sangat asyik dengan dunianya sendiri, jari-jarinya mulai menari di atas keyboard tanpa menyadari bahwa ada seorang pria di seberang sana yang sedang berjuang keras untuk tetap waras dalam pikiran gilanya. Dewa mencoba kembali menatap layar laptopnya sendiri, tapi barisan angka dan kode itu mendadak jadi tidak menarik. Suasana hening malam itu hanya diisi oleh suara jangkrik dan bunyi ketikan samar dari dua orang "pengangguran" yang sedang bekerja di bawah langit yang sama. Dewa menyesap kopi pahitnya, tapi matanya kembali mencuri pandang ke arah gadis berkacamata di depannya itu. Ternyata, melihat Lintang dalam mode serius seperti ini memberikan getaran yang jauh lebih berbahaya daripada saat gadis itu sedang marah-marah. ---- Lintang menghela napas panjang, membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot, lalu kembali menatap layar laptop yang memancarkan cahaya biru. Jemarinya bergerak lincah men-scroll kolom komentar yang jumlahnya ratusan sejak ia mengunggah bab terbaru satu jam lalu. Bukannya merasa lega setelah update, kening Lintang justru berkerut semakin dalam. > @08769: "Kok interaksinya sedikit kaku ya Thor? Kayak robot, kurang nge-feel nggak sih? Masih kurang greget chemistry-nya." > @pacar-halu: "Aduhh Thor, adegan kissing-nya nanggung banget! Kurang panas, kurang deskriptif! Masa cuma nempel doang? Kurang menantang!" > @dark-romance-lover: "Coba dong Thor dibuat lebih agresif dikit. Yang cowok harusnya lebih dominan, narik pinggangnya lebih kenceng terus... Tit tit tit sensorrrr." > @hatikucenatcenut: "Aku tunggu bab selanjutnya Thor, tapi kalau bisa lebih 'berani' ya bumbunya. Biar makin baper!" "Ini pada kenapa sih? Ini novel romansa, hei! Bukan buku panduan Kamasutra online!" celetuk Lintang dengan nada heran sekaligus jengkel. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi balkon, menatap langit malam dengan frustrasi. Ia kembali membaca salah satu komentar panjang dari akun @pencinta-hot-scene yang memberikan "arahan" teknis bagaimana seharusnya lidah dan bibir sang tokoh utama bekerja agar terlihat lebih profesional di mata pembaca. Lintang bergidik ngeri, merinding sampai ke tengkuk. Bisa-bisanya para pembaca memberi arahan pada Lintang dengan begitu fasih dan vulgarnya. Dipikirnya, Lintang sudah pernah kali ya? Hey... Ya belumlah. Anaknya Pak Bramasta ini masih ting-ting seluruhnya. "Wah, jancuk-i kok wong-wong iki! Dipikire aku wis tau cipokan (ciuman) ngono tah? Asem, a*u!" umpatan kebun binatang itu meluncur lancar dari bibir mungil Lintang tanpa filter. "Nulis adegan romantis aja sudah mau copot jantungku, disuruh buat yang panas. Panas ya masuk oven sana!" Lintang tidak sadar bahwa di balik kegelapan balkon sebelah, ada seorang pria yang membeku dengan rokok di tangan. Dewa, yang sedari tadi berusaha fokus pada laporan finansialnya, terpaksa mendengar setiap kata yang keluar dari mulut tetangganya itu. Keningnya berkerut dalam. Meski ia tidak sefasih penduduk asli dalam bahasa Jawa—apalagi dialek Suroboyo yang kasar dan blak-blakan—sepuluh tahun di luar negeri tidak menghapus pemahamannya akan kata-kata dasar. Ia tahu apa arti cipokan. Dan ia sangat tahu apa arti umpatan-umpatan kasar yang baru saja dilepaskan gadis itu. Dewa menggelengkan kepalanya pelan, menyembunyikan senyum sinis sekaligus geli yang muncul. Jadi, gadis yang menarik atensinya ini ternyata belum pernah berciuman? pikir Dewa. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya ke udara. Suara ketikan Lintang kembali terdengar, kali ini lebih brutal dan penuh emosi, seolah-olah ia sedang melampiaskan kekesalannya pada tombol keyboard. Dewa mematikan ujung rokoknya di asbak. Ia menoleh sekilas ke arah Lintang yang kini sedang mengacak-acak rambut cepolnya sampai makin berantakan. "Kalau cuma teori, memang akan kaku," gumam Dewa sangat pelan, suaranya nyaris hilang ditiup angin malam. Entah dorongan dari mana, Dewa tiba-tiba berdeham cukup keras. Ehem. Suara itu memecah keheningan malam dan membuat gerakan tangan Lintang di atas keyboard mendadak kaku. Lintang mematung. Kepalanya perlahan menoleh ke arah sumber suara, dan di sanalah ia melihatnya—siluet pria tinggi dengan laptop dan puntung rokok yang menyala di kegelapan balkon sebelah. Jantung Lintang rasanya mau copot. Mati aku. Dia dengar semuanya nggak ya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN