8

1145 Kata
"Mbak Lintaaang! Linggar ikut! Mau naik motol kuning!" Rengekan si bungsu gembul itu tiba-tiba membelah udara. Linggar yang dasarnya malas berjalan kaki—apalagi kalau ada opsi naik motor—langsung memeluk jok motor Lintang dengan posesif. "Hah? Terus Ayah pulang sama siapa?" Lintang protes, namun tangannya tetap terulur untuk membantu adiknya. Linggar mencoba memanjat, namun karena sarungnya yang melilit kaki dan berat badannya yang maksimal, ia hanya berakhir ngos-ngosan tanpa hasil. "Aduh, Linggar! Ancen kaboten awak kamu itu. Kurangin makanmu!" ketus Lintang, meski akhirnya ia membungkuk, merengkuh ketiak adiknya, dan mengangkatnya dengan sisa tenaga yang ada ke atas jok. "Hup! Beratnya kayak bawa beras dua karung." Tanpa Lintang sadari, sedari tadi Dewa memerhatikan setiap gerak-geriknya. Mata kaku Dewa menangkap gurat-gurat keibuan yang tersembunyi di balik omelan kasar Lintang. Ada kehangatan yang tak biasa saat melihat Lintang berinteraksi dengan keluarganya. Benar-benar kontras dengan "macan lapar" yang memakinya tadi siang. "Hati-hati bawa motornya, Mbak," pesan Bramasta lembut. "Yah, Lintang pulang dulu ya!" pekik Lintang. Ia menekan tombol starter, lalu melajukan Vespa kuningnya dengan Linggar yang duduk di depan dan Dira yang duduk di belakang. Di sepanjang jalan menuju rumah Dira, angin malam mulai menusuk pori-pori, namun suasana di atas motor justru memanas karena rasa penasaran Dira yang meledak-ledak. "Lin, itu yang tetangga baru kita?" tanya Dira, suaranya setengah berteriak agar terdengar sampai depan. "Hm?" Lintang hanya menjawab pendek, fokus menembus kepadatan jalanan kompleks karena orang yang pulang dari masjid. "Ganteng ya..." puji Dira lagi, nadanya terdengar sangat terpesona. "Beneran kayak aktor luar negeri yang nyasar di Surabaya." "Hm?" Dira gemas sendiri. Ia mencubit pelan pinggang sahabatnya. "Kenapa se? Sariawan kamu? Jawab yang bener ta, Lin!" "Ya biasa aja, Ra. Cuma menang hidung mancung sama kulit putih aja itu," balas Lintang ketus, meski bayangan Dewa yang memakai kemeja panjang dan segar karena air wudhu tadi masih menempel di kepalanya seperti lem. "Lagian dia itu kaku. Gak asik." "Kaku-kaku gitu biasanya kalau sudah sayang, perhatiannya luar biasa, lho," goda Dira lagi sambil tertawa renyah. Linggar yang duduk di depan, terjepit di antara setir dan perut kakaknya, hanya diam saja. Matanya yang bulat sibuk memerhatikan lampu-lampu jalan, tidak tahu kalau kakaknya dam temannya sedang menggibahi tetangga baru mereka. "Sudah, nggak usah bahas si Bule itu. Bikin mood aku anjlok aja," pungkas Lintang saat mereka sampai di depan pagar rumah Dira. "Halah, bilang aja takut naksir!" Dira turun dari motor, melepaskan helm sambil mengedipkan mata. "Makasih ya, Lin. Salam buat Om Bram sama Ibun. Dan buat Mas Bule kaku itu... kirimin pisang goreng lagi sana, siapa tahu besok dia bisa senyum!" "Dira! Pulang sana!" seru Lintang sambil memutar gas. "Ati-ati ntar bobo-nya ditemenin mbah wowo." "Lintaaang!!" Dalam perjalanan pulang yang tersisa hanya lima ratus meter itu, Lintang mendadak terdiam. Ia masih terdiam dengan pikirannya kembali melayang pada saat Dewa yang berdiri bersama ayahnya di masjid tadi. Ada sisi lain dari pria itu yang tidak "menyebalkan" seperti di bayangannya. "Mbak Lintang," panggil Linggar tiba-tiba. "Apa?" "Mas Bule tadi baunya harum ya. Kayak sabun di hotel," celetuk Linggar polos. Lintang hanya bisa mendengus, namun dalam hati ia membenarkan. "Iya, Linggar. Bau harum yang bikin Mbakmu ini mendadak lupa cara bernapas dengan normal." Sesampainya di depan gerbang rumah, Lintang melihat SUV hitam milik Dewa terparkir rapi di garasi. Namun, yang membuat jantungnya hampir melompat adalah sosok Dewa yang masih berdiri di teras rumahnya, seolah sedang menunggu sesuatu—atau seseorang. "Ngapain sih tu bule liatin aja?" Gerundel Lintang. Ia berusaha mengalihkan rasa gugup yang mendadak menyerang saat menyadari tatapan Dewa masih tertuju padanya. "Mbak Lintang, ini apa?" Linggar yang baru turun dari motor menunjuk kresek putih yang tergantung di cantolan kolong Vespa. "Moleh." "Isi apa?" "Isi coklat sama keju." "Buat Linggar kan?" tanya Linggar dengan mata berbinar-binar, menatap mbaknya yang baru saja melepas helm. Lintang memasang wajah jahilnya. "Bukan ye... Mbak cuma beliin Ibun sama Ayah tok. Kamu kan tadi sudah makan es mambo, nanti gigimu geges (ompong) semua." "Ibuuuuun! Mbak Lintang medit! (Pelit!)" teriak Linggar sekencang mungkin sambil berlari masuk ke dalam rumah, sarungnya berkibar-kibar mengikuti langkah pendeknya yang terburu-buru. Lintang terkekeh, namun sebelum ia melangkah masuk, matanya tak sengaja bersirobok lagi dengan Dewa yang masih berdiri mematung di teras sebelah. Tanpa menyapa—karena gengsinya masih setinggi langit—Lintang langsung membuang muka dan melenggang masuk ke dalam rumahnya. Di dalam, suasana sudah sangat hangat dan gaduh. Linggar sudah duduk manis di pangkuan Ayahnya sambil mecucu, bibirnya maju beberapa senti sebagai tanda protes atas "kemeditan" sang kakak. Lintang yang tidak punya rasa bersalah justru mendekat dan kembali mencubit pipi gembul itu sampai Linggar memekik. "Duh, gemoy banget sih adiknya Mbak ini," goda Lintang, lalu beralih menggelayut manja di lengan kekar Bramasta. "Yah, Linggar makin gembul ya? Kayak bantal sofa." Plak! Kalinda yang baru datang dari dapur membawa piring berisi pisang goreng langsung menepuk pelan lengan Lintang. "Ibun..." tegur Bramasta lembut, menatap istrinya dengan senyum kecil yang seolah berkata 'Sabar, Bun'. "Anakmu ini Mas, godain Linggar terus aja. Nggak ada kapoknya bikin adiknya nangis," gerutu Kalinda, meski tangannya sibuk menata camilan di atas meja. "Mbak sudah, kesel nanti adiknya. Itu loh, Linggar sudah mau keluar air matanya," tegur Bramasta pada Lintang, tapi nadanya jauh dari kata marah. Suara Bramasta selalu tenang, setenang air di telaga. Lintang mencebik lucu tapi sama sekali tidak sakit hati. Ia justru makin mempererat pelukannya di lengan sang Ayah. Baginya, Bramasta adalah standar tertinggi untuk calon suaminya kelak. Ayahnya adalah pria yang tak pernah meninggikan suara, penuh kasih sayang pada istrinya, dan selalu punya cara untuk meredam keributan kecil di rumah dengan kebijaksanaan. "Yah, nanti kalau Lintang nikah, Lintang mau cari yang kayak Ayah," celetuk Lintang tiba-tiba, sambil mencomot molen keju yang tadi ia beli. Kalinda menyahut dari arah dapur, "Kalau kayak Ayahmu, nanti kamu yang galak sendiri, Mbak. Cari yang tegas dikit kenapa sih, biar kamu ada yang jinakin." "Emang Lintang singa apa pakai dijinakin segala?" balas Lintang tak mau kalah. "Pokoknya harus yang sabar. Kalau bisa sih yang nggak kaku-kaku amat kayak kanebo kering sebelah rumah itu." Bramasta tertawa kecil. "Loh, Mas Dewa itu orangnya sopan lho, Mbak. Tadi di masjid saja banyak yang ajak omong Mas Dewa. Dia jawabnya juga sopan. Ayah lihat dia pria yang bertanggung jawab." Lintang langsung tersedak molen kejunya. "Uhuk! Ayah... dia itu cuma tanya basa-basi. Jangan ketipu sama wajah bulenya," sahut Lintang cepat sambil meraih segelas air. Sambil mengunyah, pikirannya kembali melayang. Jika Ayahnya saja memuji Dewa, berarti pria itu memang punya kualitas "pria baik-baik". Tapi masalahnya, Lintang tidak suka pria yang terlalu misterius. Ia suka pria yang ekspresif, bukan pria yang hanya menaikkan alis setiap kali ia berinteraksi. "Linggar, sini... Mbak kasih molen kejunya. Jangan merengut terus, nanti gantengnya hilang," panggil Lintang sambil menyodorkan satu molen berukuran kecil ke mulut adiknya. Linggar yang tadinya marah, langsung luluh begitu mencium aroma keju. "Gitu dong... Mbak Lintang cantik kalau nggak medit," gumam Linggar dengan mulut penuh roti, membuat seisi ruangan tertawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN