20

1656 Kata

Pagi itu, sinar matahari menelusup di antara celah-celah sempit gang kampung belakang kompleks. Kalinda melangkah santai menuju warung kelontong Mak Tun, tempat favoritnya untuk mendapatkan sayuran segar yang belum sempat masuk ke supermarket. Warung itu kecil, terselip di antara deretan rumah warga, namun menjadi pusat informasi—alias markas gosip—paling strategis di lingkungan tersebut. Benar saja, saat Kalinda sampai, di sana sudah ada "pasukan" lengkap. Bu Ida, Bu Ratmi, dan Bu Enny yang sedang asyik memilah kangkung sambil berbisik-bisik. "Eh, Bu Kalinda. Pangling saya, biasanya kan Mbak Lintang yang disuruh ke sini," sapa Bu Ida dengan nada yang dibuat-buat ramah, namun matanya memicing penuh selidik. Kalinda tersenyum tipis, mulai mengambil keranjang belanjaan. "Pagi, Bu Ida. Pag

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN