Meskipun jantungnya berdegup kencang karena aroma sandalwood dan dekapan kokoh Dewa, gengsi Lintang tetap memenangkan hatinya saat ini. Ia merasa sangat malu tertangkap basah dalam kondisi "tidak estetik" di depan pria yang baru saja ia ejek dalam nyanyiannya. Dengan gerakan canggung, Lintang mencoba melepaskan diri dari pegangan Dewa yang protektif. "Ayah... sakit banget, Yah. Gendong ke depan," rengek Lintang dengan nada manja yang selalu seperti itu jika pada ayahnya, ia tak memandang Dewa lagi untuk menutupi rasa canggungnya pada Dewa. Matanya sudah berkaca-kaca menatap Bramasta, mencari perlindungan dari situasi yang memalukan ini. Bramasta yang sudah sangat hafal dengan tabiat putri sulungnya jika sedang kesakitan seperti ini, hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum maklum

