“Van!” seru Kayla ketika melihatnya memasuki ruangan. Bukan tanpa alasan ia menunggu perempuan itu. Perempuan berkemeja biru muda baru saja menaruh tas ke atas meja dan mendapati rekannya sudah menduduki kursi yang biasa ia pakai. Ia menghela napas tanpa sadar. Pagi ini dia berniat untuk menyelesaikan seluruh pekerjaannya sehingga ia bisa menikmati weekend dengan damai. “Pagi, Kayla.” Vanilla menyapa dengan senyum yang menurut Kayla menyebalkan. Ia sudah mengeluarkan senyum sindirian yang biasa dilakukan ketika Kayla melakukan sesuatu yang membuatnya kesal. Kayla tersenyum jail dan berdiri dari kursi itu. “Nanti ikut, ya.” Tangannya membersihkan sisa-sisa debu di kursi milik Vanilla. “Ke mana?” Vanilla mendudukkan dirinya dan mengambil ponsel dari tas yang ia bawa. Tak lupa ia menyala

