Pagi-pagi sekali Rey sudah direpotkan dengan kedatangan tamu tak diundang. Harus berapa kali lagi ia mengusir perempuan itu hingga enyah dari hadapannya? “Sudah berapa kali saya bilang untuk tidak datang ke ruangan saya tanpa izin?” tanyanya tanpa memandang perempuan di hadapannya. “Mau sampai kapan kamu menganggapku sebagai pengganggu, Rey?” Arum-perempuan itu mendudukkan diri persis di hadapan laki-laki itu. Rey tidak menanggapi perkataan perempuan itu. Ia tidak ingin memikirkan hal apa pun lagi. Pikirannya sudah dipenuhi hal-hal di luar itu. Emosinya sedang tidak stabil pagi ini. “Aku akan di sini sampai jam makan siang.” Arum bersikeras untuk berada dalam ruangan itu. Dengan atau tanpa persetujuan Rey. Secara kebetulan, seseorang mengetuk pintu ruangan Rey. “Ya, masuk,” sahut Rey.

