PROLOG
"Wah, sudah lama sekali kita tidak bertemu ya, Tio. Anakmu sudah berapa sekarang?"
Yusuf menyambut hangat kedatangan sahabat lamanya—Tio—beserta istrinya—Aira, di kampung halaman mereka. Karena kebetulan, Tio ada urusan di kampung untuk menjual sawahnya kepada Yusuf.
Semenjak Ayah Tio meninggal, sawahnya tidak pernah ter-urus. Jadi, Tio akhirnya memutuskan untuk menjual sawah tersebut.
"Anakku dua, Suf. Pas banget sepasang," ujar Tio sambil duduk di kursi yang telah disediakan oleh Yusuf.
"Wah, sama kalau begitu. Anakku juga dua dan sepasang. Kamu ingat kan, dengan Arsen? Anakku yang nomor satu itu."
"Ya jelas ingat, dia itu baik banget dari kecil. Rajin ibadah dan pinter ngaji. Bukannya dia lagi belajar di pesantren ya, sekarang?" Tanya Tio.
Yusuf terkekeh geli. "Ah, sudah lama tamat dari pesantren. Sekarang, Arsen sedang mengejar mimpinya. Katanya, mau menjadi pilot, hahaha. Ada-ada saja anak itu."
"Wah, Masha Allah. Semoga saja mimpinya dapat terwujud ya, Pak. Pasti Pak Yusuf sangat bangga memiliki anak sehebat Arsen,” ujar Aira dengan pujian.
"Alhamdulillah, Bu. Apapun yang digemari oleh anak saya, harus kita dukung sampai sukses." Yusuf tersenyum bangga karena anaknya telah mendapat pujian.
"Dulu, ingat banget saya, waktu Arsen dan—" Kinanti coba berpikir. "Siapa nama anak perempuannya Pak Tio?"
"Ayla," jawab Tio.
"Ah, iya, Ayla. Dulu itu, menjelang lebaran dan Pak Tio sering pulang kampung. Arsen dan Ayla suka banget main lari-larian saat mereka masih kecil-kecil. Saya inget banget, saat Ayla terjatuh dan nangis-nangis. Si Arsennya panik, dan maksa saya bawa Ayla ke puskesmas, hahaha." Kinanti mengingat cerita lama.
"Iya, ya, Bu. Dulu Ayla masih sebesar ini." Aira mengarahkan telapak tangannya sebatas d**a.
"Sekarang, Ayla masih sekolah ya, Bu?" Tanya Kinanti pada Aira.
"Iya, Masih SMA dia, Bu, hahaha. Setahu saya, umur Ayla dan Arsen itu jaraknya sekitar tujuh tahun ya, Bu?" Lanjut Aira bersemangat.
"Iya, hahaha."
"Nah, kebetulan sekali kita berkumpul di sini, Suf." Tio merubah posisi duduknya kembali jadi berhadapan dengan Yusuf. "Yah, seperti yang kamu ketahui sendiri, kalau keluarga aku itu dari dulu turun-menurun selalu menikah karena perjodohan. Aku tahu, kalau jaman sekarang sudah modern. Tapi, aku tetap percaya, kalau menikah karena sebab dijodohkan akan lebih langgeng. Anak laki-laki aku, si sulung, sudah aku jodohkan dengan perempuan—yang Alhamdulillah baik sekali. Dan, sekarang aku juga ingin mencari laki-laki yang baik untuk menjadi pendamping Ayla kelak. Meski sebenarnya, ini terlalu cepat untuk diberitahu. Tapi, alangkah baiknya kita membat keputusan dan langkah awalnya dulu. Agar Arsen tidak diambil orang, hehehe.” Tio menyeringai geli.
”Dan. Alhamdulillah sekali, aku punya teman yang telah melahirkan anak-anak yang luar biasa seperti Arsen. Untuk itu, aku ingin sekali kalau Ayla dijodohkan dengan anakmu Arsen, Suf,” lanjut Tio lagi.
Yusuf dan Kinanti saling bertatapan bengon.
"Wah, Tio...." Yusuf mengusap-usap pahanya. "Suatu kehormatan sekali kalau kamu ingin menjadikan Arsen sebagai calon suami anakmu. Tapi, untuk hal itu, aku harus coba bicarakan dulu dengan Arsen. Karena cinta, tidak bisa dipaksakan. Benar begitu, Bu?" Yusuf menatap Aira di kalimat terakhir.
"Tapi, Pak, alhamdulillahnya, selama ini perjodohan yang keluarga kami lakukan selalu berhasil. Termasuk saya dan Mas Tio. Malah, kami semakin langgeng dan romantis. Iya, nggak, Pa?" Aira mengedik ke arah Tio.
Dan suasana menjadi cair.
"Kami sih, berharap Ayla menikah di usianya yang ke dua puluh lima tahun nanti bersama Arsen," kata Tio lagi.
Lantas Aira segera merogoh isi di dalam tasnya, dan memberikan sebuah foto Ayla kepada Yusuf dan Kinanti.
"Foto ini bisa diserahkan kepada Arsen, Pak. Itu foto Ayla yang terbaru," jelas Aira.
"Masha Allah, Tio dan Bu Aira memiliki anak yang cantik sekali ternyata," puji Yusuf terang-terangan.
Pertemuan mereka pun diakhiri dengan saling berjabat tangan dan berpelukan sebelum berpisah.
Entah kapan mereka akan bertemu lagi, karena keduanya sama-sama sibuk. Tapi, seminggu setelah pertemuan ini, Tio menerima kabar dari Yusuf kalau Arsen menyetujui perjodohan ini. Karena Arsen tertarik kepada Ayla, ketika orangtuanya memperlihatkan foto perempuan tersebut.
Seperti mengingat memori lama.
***
Sebulan kemudian setelah pertemuan terakhir Tio dengan Yusuf, Tio mendapat kabar bahwasannya Yusuf dan istrinya mengalami kecelakaan yang menyebabkan keduanya meninggal di tempat.
Setelah mendengar kabar tersebut, Tio pun membawa keluarganya untuk pergi melayat ke kampung halaman Yusuf.
Selama di perjalanan menuju kampung halaman, Tio tidak berhenti meneteskan air mata. Padahal, baru saja mereka merencanakan perjodohan. Tapi, ternyata Allah lebih sayang dengan mereka.
"Yang sabar ya, Pa. Pak Yusuf dan istrinya pasti akan tenang di rumah Allah. Dan semoga mereka di terima di sisi-Nya." Aira mengusap pundak suaminya.
Sedangkan Ayla—yang saat itu duduk sendirian di kursi belakang—tengah menatap kedua orangtuanya dengan heran. Sejujurnya, Ayla tidak mau ikut ke pemakaman ini, karena dia juga tidak mengenal teman Papa-nya. Tapi, Tio dan Aira memaksa Ayla untuk tetap ikut.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, mobil mereka tiba di halaman rumah Yusuf.
Siang itu keadaan rumah tampak ramai. Bendera kuning sudah ditancapkan di depan pagar. Banyak orang yang memakai peci dan kerudung mulai berdatangan.
Laki-laki berusia dua puluh lima tahun tersebut duduk di hadapan jenazah Yusuf dan Kinanti sambil berusaha menahan tangisnya. Dia tidak boleh menangis di hadapan jenazah orangtuanya, dia harus terlihat tabah dan tegar. Apalagi, ia menjadi anak lelaki satu-satunya yang memiliki satu adik perempuan. Ia berjanji kepada Ayahnya untuk segera mewujudkan mimpinya dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Tio dan Aira masuk ke dalam rumah Yusuf untuk menghampiri Arsen. Sedangkan Ayla hanya mengikuti orangtuanya dari belakang.
"Sen ...." Tio menyentuh pundak Arsen.
Lelaki itu memutar kepalanya dan bangkit.
"Kamu masih ingat saya? Saya Om Tio, sahabat baik ayahmu," jelas Tio, karena mereka sudah lama tidak bertemu.
Arsen mengangguk dengan raut wajah yang masih terlihat sedih.
"Om turut berduka cita atas kepergian orangtuamu ya, Sen. Semoga amal ibadah mereka di terima di sisi yang maha kuasa."
Tio pun memeluk tubuh Arsen, dan mengusap-usap punggung lelaki itu.
"Terima kasih banyak sudah datang, Om. Sebelum pergi, Ayah sempat menceritakan tentang Om Tio dan berpesan tentang wasiatnya," ujar Arsen.
"Kalau hal itu, kita bisa bicarakan lagi nanti." Tio menepuk pundak Arsen.
Aira pun ikut mengucapkan kalimat belangsengkawa kepada Arsen.
"Yang sabar ya, Nak. Tante yakin kalau kamu bisa kuat dan tabah menjalani takdir ini."
"Insha Allah, Tante," balas Arsen berusaha untuk tetap tegar.
"Ay...." Kini Aira menyenggol sikut anaknya. "Ucapin belasengkawa kepada Arsen."
Ayla mengulurkan tangan. "Turut berduka cita ya," ucap perempuan itu singkat dan padat.
Arsen menerima uluran tangan Ayla. Ia menatap wajah perempuan di hadapannya lekat-lekat. Bahkan, Ayla terlihat lebih cantik daripada di foto.
Arsen bukan cinta pada pandangan pertama lagi, tapi sudah cinta pada pandangan kedua dan seterusnya.
"Terima kasih," balas Arsen.
Ayla buru-buru melepaskan tangannya dari genggaman lelaki asing yang tidak dikenalnya itu.
Setelah cukup lama bercakap-cakap dengan keluarga Yusuf yang lain. Akhirnya Tio dan keluarganya pun berpamitan untuk pulang.
"Kalau main ke Jakarta, jangan lupa hubungi Om ya," ucap Tio sambil memberikan pelukan perpisahan untuk Arsen.
"Baik, Om," balas Arsen.
Lantas, Tio dan keluarganya pun kembali masuk ke dalam mobil.
Arsen terus memperhatikan perempuan yang duduk di kursi penumpang belakang. Perempuan itu tidak melihat ke arah Arsen lagi, dan malah fokus mengotak-atik ponselnya. Mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir mereka, karena Arsen harus fokus dengan pendidikannya dulu.
Dan berjanji, akan kembali menemui perempuan cantik itu lima tahun lagi.