Mabuk Berat

1612 Kata
Ternyata Ando membawaku ke sebuah kelab malam. Aku kaget, karena seumur hidup, aku belum pernah ke tempat seperti ini. ”Kamu bilang, mau bikin kejutan untuk aku. Mana kejutannya?” Aku dan Ando masih duduk di dalam mobil, aku menatap lampu kelap-kelip yang terdapat di depan pintu kelab tersebut. ”Kejutannya ada di dalam sana, kamu pasti senang, deh.” Ando bicara seolah sedang meyakinkanku. Tapi, entah mengapa aku tidak yakin padanya. ”Ayo, kita masuk.” Ando membuka seatbelt di tubuhnya. ”Tapi, aku belum pernah masuk ke tempat seperti itu.” ”Kali ini kamu akan coba masuk dan aku yakin untuk selanjutnya kamu akan ketagihan.” Ando keluar lebih dulu dari mobilnya. Ia mengitari mobil dan membukakan pintu mobilku. “Ayo, sayang….” Ando mengulurkan tangan bak pangeran yang hendak menggandeng wanitanya yang akan turun dari kereta kencana. Suara dentuman musik yang begitu kencang langsung memekakkan gendang telingaku setelah aku berhasil masuk ke dalam kelab. Lampu warna-warni mengelilingi ruangan ini. Ada beberapa orang yang sedang tertawa, bercakap-cakap di sebuah kursi dan meja. Dan ada pula orang yang tengah bergoyang di lantai dansa mengikuti alunsn music. ”Ando ….” aku menarik tangan Ando dan hendak menghentikan langkahnya. ”Nggak apa-apa,” kata Ando lagi sambil membawaku menuju sebuah table yang diisi oleh teman-teman band-nya. Dan aku cukup kenal dengan mereka semua karena aku juga beberapa kali ikut menyaksikan Ando manggung. “Hai, Ayla, selamat ulangtahun ya….” Tian sang gitaris memberikan ucapan selamat ulangtahun sambil menjabat tanganku. ”Wih, ulangtahun yang ke berapa lo?” tanya Gio si drummer. ”Dua puluh lima tahun,” jawabku kaku. Apalagi saat melihat cewek sexy yang sedang duduk di pangkuan Gio. Pandangan ini sungguh membuatku menelan ludah. ”Ndo, kita pulang aja, yuk.” Aku berbisik di telinga Ando. ”Kok pulang? Kita baru aja sampai loh, Babe. Duduk dulu dong.” Ando menyentuh kedua pundakku agar aku segera duduk bergabung bersama teman-temannya. Tidak ada kue ulang tahun di sini, yang ada hanya sebotol bir beserta beberapa gelas. Kemudian, Tian menuangkan bir ke dalam gelas yang ada. ”Untuk merayakan hari ulangtahun Ayla!” Tian mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Gio dan Ando juga ikut mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. ”Ayo angkat gelas kamu, Ayla.” Pintah mereka. Aku pun ikut mengangkat gelas. Lalu melihat mereka mulai menenggak minuman alkohol tersebut. ”Ayla, sekarang giliran kamu minum minuman kamu,” ujar Gio. ”Sorry, aku nggak pernah minum kayak gini,” jawabku merasa tidak enak hati. Mereka langsung tertawa. “Ayolah, Ayla. Ini hanya minuman biasa, kamu bakal ketagihan. Trust me,” ucap Tian. ”Ayo, sayang. Ini hari ulang tahun kamu, dan kamu nggak boleh menyia-nyiakan moment itu.” Aku menelan ludah sebelum meneggak gelas pertamaku. Mereka bersorak dan bertepuk tangan meriah. Kemudian mereka kembali menuangkan bir ke gelas ku dan memaksa aku untuk menanggak minumannya lagi. Aku nyaris ketagihan, sampai lupa sudah menegak gelas ke berapa, dan akhirnya aku mabuk berat. *** Aku merasakan sakit di kepalaku. Kelopak mataku terasa berat dan enggan terbuka lebar, perutku berputar seperti diaduk-aduk. Badanku juga terasa sangat sakit seperti dipukul dengan palu berkali-kali. Terdengar sayup-sayup suara familier di sekitarku. “Ayla! Bangun kamu!” suara Papa begitu keras dan tegas sambil menggoncang tubuhku berulang kali—yang masih berada di batas ambang kesadaran. “Pa, sudahlah jangan bersikap kasar kepada Ayla.” Suara Mama ikut muncul bersamaan dengan isakan tangis. “Jika dengan cara lembut anak kamu itu tidak mau mendengar omongan kita, maka Papa harus bertindak dengan cara kasar!” Kini, Papa dan Mama mulai berdebat pendek. “Pa, anak aku anak kamu juga. Ayla ini anak kita!” Perlahan tapi pasti. Meskipun masih terasa berat, akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka kelopak mata. Melihat satu per satu keluargaku yang berada di dalam kamar ini. Wajah mereka semua terlihat tegang, cemas dan marah. “Kenapa sih, Pa?” tanyaku polos dengan suara serak. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. “Kenapa aku bisa ada di sini?” “Apa yang kamu lakukan semalam, Ayla? Kenapa kamu pulang dalam keadaan mabuk? Dan kemana kamu pergi? Dengan siapa kamu pergi?" serentetan pertanyaan meluncur mulus dari mulut Papa. Wajah beliau merah padam, sorot matanya begitu tajam. Aku terdiam, sembari mengingat potongan demi potongan tentang kejadian kemarin. Club, Ando, minuman beralkohol, dan mabuk. Astaga! Bagaimana aku bisa lupa dengan kejadian tadi malam? Sudah berapa banyak aku minum bir tadi malam? Setelah berhasil menyadari kesalahanku, aku mendongak dan menatap Papa dengan wajah iba. “Pa—“ Tapi Papa segera memotong kalimatku dengan cepat. “Jawab saja pertanyan Papa Ayla! Apa yang kamu lakukan semalam? Dan siapa orang yang berani-beraninya membuat kamu sampai mabuk seperti ini!” teriak Papa murka. Membuatku bergidik ngeri. Aku hanya menggelengkan kepala dan menangis. Seumur-umur aku tidak bernah dibentak separah ini dengan Papa. Sebagai kepala oleh, beliau memang selalu menerapkan hukum agama yang begitu kuat terhadap anak-anaknya. Seperti melarang sesuatu yang haram dan mengindahkan yang halal. “Astagfirullah, Ayla! Kenapa hidup kamu semakin lama semakin bebas? Apa selama ini Papa pernah mengajari kamu melakukan hal seperti itu?!” Papa terlihat marah. Beliau tidak pernah salah mendidik anak, tapi menghadapi watakku? Papa hampir angkat tangan. “Pa, sudahlah. Jangan berbicara seperti itu dengan Ayla. Lagi pula, kemarin itu Ayla dalam keadaan mabuk. Dia pasti tidak mengingat apa pun.” Maz Eza mulai mengambil alih pembicaraan. Berusaha membela adik semata wayangnya. “Jangan belain dia, Eza. Papa benar-benar sudah lelah menghadapi sikap nakal adik kamu ini!” sekarang Papa membentak Maz Eza, hingga Maz Eza mengatup mulutnya rapat-rapat sambil menatapku iba. Papa kembali menoleh padaku dan bertanya, “Ayla, ada satu hal lagi yang harus kamu jawab dengan jujur. Apa kamu tidur dengan laki-laki yang bukan muhrim kamu?” Nyaris, aku terperanjat, lantas memandang wajah Papa dengan mata terbelalak. Bahkan Mas Eza dan Mama sama terkejutnya. “Apa yang Papa bicarakan, nggak mungkin anak kita melakukan hal sehina itu,” timpal Mama. “Kita tidak tahu apa yang anak kita lakukan di luar pengawasan kita, Ma. Karena dia sudah terpengaruh dengan pergaulan bebas!” Papa dan Mama saling bertatapan sengit. “Pa, hanya karena Ayla pergi tadi malam. Bukan berarti pergaulan Ayla sebebas itu sampai berbuat sesuatu diluar kendali Ayla sendiri! Ayla masih waras, Pa. Ayla masih bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk!”potongku cepat. Hatiku “Kalau kamu masih waras, kenapa kamu bisa sampai mabuk, Ayla!” bentak Papa lagi sambil berkacak pinggang. d**a Papa ikut naik-turun karena menahan gejolak emosi. Wajahku tertekuk murung sambil mengaitkan ke sepuluh jari. Otakku berputar, namun terasa buntu. Aku tidak mempunyai jalan pintas atau cara terbaik untuk keluar dari masalah ini. Dasar Ayla dungu! Pantesan aja lo nggak wisuda-wisuda. Otaknya udah pindah di dengkul, sih! Suara batinku memaki. “Ma-maafin Ayla, Pa.” Akhirnya hanya kalimat penuh penyelasan yang keluar dari mulutku. Papa mendesah panjang sambil menengadahkan kepalanya, sedetik kemudian kembali memandangku. “Susah payah Papa mendidik kamu dari kecil, tapi beginikah balasan kamu terhadap orangtua sendiri? Dengan cara mabuk-mabukkan seperti orang yang tidak memiliki agama? Kamu udah buat kami kecewa, Ayla.” Suara Papa tidak semarah dan sekeras tadi, kali ini terdengar lebih pasrah. “Sekarang, lebih baik kamu mandi dan ganti pakaian. Karena sebentar lagi keluarganya Arsen akan datang untuk bertamu,” lanjut Papa kemudian sebelum keluar dari kamar. Aku mengerutkan dahi. Arsen lagi? “Ayla sayang, Mama percaya kok, kalau kamu tidak mungkin berbuat yang macam-macam.” Mama mendekat Dan duduk di sudut kasur sembari membelai rambutku lembut. “Sekarang kamu dengarin apa kata Papa kamu, ya? Mandi yang bersih dan dandan yang cantik. Anak Mama harus terlihat sempurna di hadapan keluarganya Arsen, oke?” Kemudian Mama bangkit dan ikut keluar dari kamar. Lagi-lagi dahiku berkerut. Siapa sih Arsen itu sebenarnya? Memangnya dia seterkenal apa? Kini giliran Maz Eza yang mendekatiku. Dia menghela napas sembari geleng-geleng kepala. Mas Eza juga sudah bingung melihat tingkah laku adiknya yang sangat jauh berbeda dari dirinya sendiri. “Mas juga marah ya sama Ayla?” tanyaku hati-hati. Namun Mas Eza hanya membalasku dengan senyuman. “Adiknya Mas udah gede, udah mau wisuda, udah bisa jaga diri sendiri. Jadi, Mas percaya sama kamu.” Suara Mas Eza terdengar begitu lembut. “Maaf ya Mas, gara-gara ulahku Mas Eza jadi capek-capek berkunjung ke sini dan ninggalin istri sama anaknya dirumah.” Mas Eza tertawa, menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Aku merasa sangat hangat dan nyaman. “Mas udah izin sama Mbak Dita kok, sepulang dari bertugas langsung mengunjungi kamu.” “Beruntung deh, Mas dapat istri yang baik seperti Mbak Dita. Ntar kalau aku nikah, aku juga mau cari calon suami yang sebaik Mas Eza.” “Kamu akan mendapatkan ciri-ciri suami yang kamu inginkan itu, Ayla. Bahkan lebih segala-galanya dari Mas Eza.” “Dari mana Mas tau? Emangnya Mas ini Tuhan, yang bisa menentukan jodoh buat Ayla.” Aku mengernyit sebal. Tapi lagi-lagi Maz Eza hanya membalasnya dengan tertawa. “Ya, Mas yakin aja kalau kamu akan menikah dengan laki-laki yang lebih baik daripada Mas. Udah deh, mendingan kamu mandi dan bersihin badan kamu dari bau alkohol. Sumpah, ini nyengat banget, Ay. Jangan sampai, keluarganya Arsen jadi mikir yang tidak-tidak tentang kamu.” Tuh kan, Arsen lagi! Umpatku dalam hati. Mulai kesal. “Sebenarnya Arsen itu siapa sih, Mas? Temannya Mas atau Papa?” Dari kemarin selalu nama Arsen yang menjadi topik perbincangan hangat di keluarga ini. Setenar apa memangnya si Arsen itu, hingga kepopulerannya melebihi gossip para artis yang sering Mama tonton di televisi? Maz Eza hanya tersenyum. “Nanti kamu juga akan tahu.” Bola mataku berputar jengkel. Lama-lama aku jadi curiga, jangan-jangan keluargaku ingin menjualku kepada Mas-Mas yang bernama Arsen itu. Ih Amit-amit!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN