Muntah Di Celana Arsen

1299 Kata
Aku mengenakan kaus oblong ber-logo starbucks dan celana jeans pendek. Kemudian, berjalan menuju ruang tamu. Mataku menyapu ke penjuru ruangan, melihat beberapa orang yang tidak aku kenal l—tengah asik berbincang hangat. Aku mengernyit saat melihat laki-laki pemilik wajah familier yang juga ikut duduk di ruang tamu. Itu kan si Mas-Mas yang kemarin! “Nah, itu Ayla.” Kata Mas Eza, lantas semua pasang mata langsung tertuju padaku. Tanpa terkecuali Papa yang memandangku tajam dari atas kepala sampai ujung kaki. Papa sangat tidak suka melihat pakaianku yang menurut beliau kurang sopan. But, I really don’t care. This is my style. “Oh, jadi ini yang namanya Ayla? Cantik ya, Cen.” Nenek Arsen—yang duduk di sebelah cucunya, memuji aku secara terang-terangan. Dan Arsen pun hanya mampu mengangguk-anggukan kepala seolah mengiyakan. “Ayla sayang, ayo sini gabung sama kita,” pintah Mama. ​Dengan berat hati, aku bergegas mendekat dan hendak duduk di sofa yang kosong. Tapi seorang wanita yang terlihat lebih muda dariku mulai bangkit dan bersuara. “Mbak Ay, duduk di sini aja. Di sebelah Mas Arsen. Biar Vanila yang pindah.” Kemudian wanita cantik bernama Vanila itu pindah posisi duduk ke sofa tunggal. Sedangkan sisi sebelah kanan Arsen jadi kosong melompong. Aku mendesah jengkel, saat tatapan Papa dan Mama yang mengisyaratkan agar aku segera duduk di sebelah Arsen. Si Mas-Mas tua! Saat akhirnya aku duduk. Entah kenapa sofa yang ditempatkan oleh tiga orang ini terasa sangat sempit. Apa karena tubuh Nenek Arsen terlalu besar atau Mas-Mas tua ini sengaja impit-impitan denganku? Aku berusaha menjepit tubuhku sendiri argar terhindar dari sentuhan Arsen. “Ay, kamu nggak mau salaman dengan keluarganya Arsen? Ayo, lekas salim dulu Nenek Arsen,” tutur Papa. Akupun langsung mencium punggung tangan Nenek Arsen dengan sopan. “Nah, kalau perempuan cantik itu namanya Vanila. Adiknya Arsen, umurnya hanya satu tahun dibawah kamu loh,” ujar Papa lagi kali ini menunjuk ke adrah perempuan cantik—yang berbagi tempat denganku tadi. Aku menoleh dan tersenyum kepada Vanila, senyuman terpaksa. “Dan yang terakhir ....” “Stop, Pa!” aku langsung mencegat, mengangkat kelima jariku tingg-tinggi. “Aku kenal dengan Mas-Mas tua ini. Dia itu temannya Papa, kan?” Semua orang langsung tertawa mendengarku. “Ay, Arsen ini bukan teman Papa,” sambung Mas Eza. “Tapi kemarin, dia sendiri yang bilang kalau dia itu temannya Papa.” Aku menatap wajah Mas Eza, memelas. “Ayla, panggil Arsen dengan sopan. Jangan dia-dia, namanya Arsen Wafi Haliim. Lihat wajahnya cakep pisan, Papa Arsen ini keturunan Timur Tengah loh, Ay.” Mama memuji Arsen blakblakan. Berhasil membuatku jengah. Mau keturunan Timur Tengah kek, keturunan Onta Arab kek, tetap aja dia itu kelihatan udah tua, bangkotan, berbulu kaya gorilla. Sumpah serapah terus bergelut di dalam hatiku. “Pa, Ma, Mas. Aku bingung deh, sebenarnya ini ada apaan, sih? Dan siapa Mas-Mas tua yang duduk di sampingku ini?” tanyaku spontan. “Ayla, namanya Arsen. Jangan panggil begitu! Lagipula, dia itu nggak terlalu tua. Umurnya masih—“ Mama menatap Arsen. “Tiga Puluh Dia tahun, Tante,” jawab Arsen cekatan. ”Nah, seumuran dengan Mas Eza. Dan jaraknya umurnya dengan umur kamu cuma sembilan tahun, loh,” lanjut Mama lagi. ”Tapi, tetap saja menurutku itu sudah tua.” Aku masih kekeh. ”Kalau sudah tua, kenapa kamu nggak panggil Mas Eza dengan sebuta yang sama saja? Mas-Mas tua.” Kali ini Mas Eza ikutan nimbrung. ”Ya beda, dong, Mas.” Aku mencari pembenaran. ”Hush!” Mama menegurku. Tiba-tiba Vanila terkikik geli. “Wajah Mas Arsen emang kelihatan tua, sih,” ejeknya menatap Arsen sambil tertawa terpingkal-pingkal. Arsen memelototi adiknya, memberi peringatan tegas. “Hush, sembarangan aja kalau ngomong.” “Ayla ini memang lucu, ya. Nenek jadi makin suka deh, dengan Ayla.” Kini Nenek menatapku dengan gemas seraya membelai punggungku dari belakang. Sumpah, ini acara apaan, sih! Buru-buru aku menjauh dari sentuhan Nenek dan bangkit dari sofa. “Sepertinya, Ayla mau masuk ke dalam kamar aja, deh. Soalnya Ay, lagi nggak enak badan, nih,” kataku berusaha menampik pembicaraan. “Ayla sakit ya? Yaudah, Cen coba kamu antar Ayla istirahat di kamarnya,” sambar Nenek Arsen asal, membuatku terpekik kaget. “What?” semua mata tertuju padaku. “Nggak perlu Nek, aku sehat-sehat aja, kok. Mendadak udah baikan.” Aku kembali mendaratkan b****g di atas sofa. Sedangkan Arsen justru tersenyum tidak karuan. "Jadi, Ay. Arsen ini anaknya Om Yusuf. Kamu inga kan, dengan teman Papa yang waktu itu pernah belikan kamu sepeda roda tiga saat umur kamu masih lima tahun?” gumam Mama di sela-sela Mbok Min datang mengantar minuman dan meletaknya di atas meja. Lima tahun? Aku sudah tidak ingat lagi pernah dibelikan sepeda roda tiga dengan Om Yusuf. Lagi pula aku juga tidak mengenal beliau. Namanya terasa sungguh asing di telingaku. “Udah pastilah Ayla lupa. Iya kan, Cu?” Nenek kembali menatapku. Yang kubalas degan anggukan saja meski aku tidak mengerti inti dari pembicaraan ini. “Om Yusuf itu sahabat karib Papa di kampung. Dulu, setiap pulang kampung saat lebaran, kamu sering banget main dengan Arsen waktu kamu masih kecil. Tapi, itu memang sudah lama sekalo, karena setelah Kakek Kamu meninggal, kita tidak Pernah pulang kampung lagi dan Araen juga masuk pesantren.” Papa mulai bercerita. ”Tapi, lima tahun yang lalu kamu juga pernah berpapasan dengan Arsen loh, Ay. Kamu ingat nggak waktu kita melaya ke kampung. Kita melayat karena orangtua Arsen meninggal,” jelas Mama lagi. “Kamu tidak ingat dengan saya?” Arsen tiba-tiba menatapku. Ia menunjuk dirinya sendiri. Aku langsung mengerutkan dahi, menatap wajah laki-laki di sebelahku ini dengan saksama. “Enggak,” jawabku ketus. “Coba kamu ingat-ingat dulu, Ay. Dulu kamu pernah meluk saya.” Mataku terbelalak kaget. “Meluk kamu?” aku menyeringai geli. “Jangan mimpi deh, nggak mungkin aku mau meluk laki-laki yang udah bangkotan kaya kamu, hahaha!!!” “Hussh, Ayla, kamu nggak boleh bicara seperti gitu.” Papa memberi teguran tegas. Matanya melotot tajam. Gurat wajahnya terlihat sungkan saat menatap Arsen. ​“Sudahlah Anakku, percuma juga kamu mencoba untuk mengembalikan memori lamanya Ayla. Dia pasti sudah lupa, dulu kan, Ayla masih kecil. Sekarang lebih baik, bagaimana kalau kita langsung membicarakan tentang masa depan anak kamu dan cucu saya saja sesuai kesepakatan yang telah kamu lakukan dengan Yusuf sebelum beliau meninggal.” ​Perkataan Nenek bikin aku bingung. Aku menyentuh kepalaku, tiba-tiba saja menjadi sakit. Kondisi perutku pun kembali bergejolak menahan mual. Mungkin ini efek alkohol dari mabuk kemarin. “Yasudah, kalau gitu langsung aja kita tentukan tanggal pernikahan untuk Arsen dan Ayla,” kata Papa. Satu kalimat dari Papa mampu membuatku berteriak histeris. Nyaris saja kedua bola mataku keluar. “Apa? Pernikahan? Aku sama si Bangkot ini?” kutatap Arsen dengan pandangan ngeri. Oh, Tuhan … bagaiman bisa? Papa mengangguk mantap. “Seperti yang kamu ketahui sendiri, Ayla. Kalau perjodohan sudah mendarah-daging dalam keluarga kita. Papa dan Mama juga sudah sering membahas ini, kalau kamu akan menikah di saat usiamu sudah dua puluh lima tahun. Jadi, Papa memilih Arsen sebagai laki-laki yang akan mendampingi kamu kelak. Saat mengetahui kalau Arsen akan dijodohkan dengan kamu, Arsen pun setuju. Dan rela menunggu kamu sampai usia kamu dua puluh lima tahun.” “Are you kidding me, Daddy?” Astaga Tuhan! Kepalaku kembali terasa pusing tujuh keliling. Tenggorokanku gatal, hingga akhirnya terjadilah kejadian yang tidak terduga seperti ini. “Huweeek!” ​Aku berhasil menumpahkan seluruh isi perutku ke arah baju Arsen. Semua orang langsung terkena serangan panik. Tanpa terkecuali Arsen. Saat laki-laki itu hendak bangkit dan ingin menghindar, muntahan kedua kembali muncul. “Huweeek!” Cairan putih kental dan berbau alkohol tersebut membuat kotor celana Arsen. Aku menyeka mulutku dengan punggung tangan sambil mendesah lega. Aku menyeringai geli ketika melihat wajah Arsen yang tegang. “Ops, Sorry.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN