Ando b******k

1720 Kata
"Kamu benar-benar udah buat Papa malu, Ayla! Bagaimana bisa kamu muntah di depan Arsen?” Papa berjalan mondar-mandir, mengusap wajahnya frustrasi sebelum menatapku dengan murka maksimal. Sejak kepulangan keluarganya Arsen, Papa langsung menyerangku dengan serentetan perkataan amarahnya. ​“Habisnya mau gimana lagi? Jelas-jelas muntahnya keluar sendiri, kok. Tadi itu kepala dan perut Ayla memang lagi sakit, Pa,” balasku santai membela diri. Sesekali bersendawa akibat terlalu meresapi gerakan tangan Mama yang begitu handal memijat leherku dengan minyak angin. ​“Tapi setidaknya jaga sikap kamu di depan tamu kehormatan kita, Ayla! Dan satu lagi, kenapa kamu memakai pakaian seperti itu? Papa kan, udah bilang kalau pakai baju yang sopan!” Papa mengacungkan jarinya, menyapu bersih pakaianku dari atas sampai bawah dengan pandangan tidak suka. ​Aku memasang wajah memelas. “Pa … Arsen itu kan, tamu kehormatan Papa bukan Ayla. Lagipula Ayla nggak kenal sama tuh orang. Terus, kenapa kalau Ayla pakai baju kaya gini? Yang penting kan, Ayla nyaman sama bajunya. Nggak mungkin dong, Ayla pakai kebaya segala mau ketemu keluarganya si Bangkot itu!” ​Papa berkacak pinggang, memandangku seolah-olah aku ini seorang musuh bukan anak beliau. “Sejak kapan kamu menjadi anak yang pemberontak dan pembangkang seperti ini, Ayla?” “Sejak keluarganya Arsen datang ke rumah kita,” jawabku mantap. “Pa, Ayla nggak mau nikah sama Bangkot tua itu!" “Jaga ucapan kamu, Ayla!” hampir saja Papa bertindak gegabah ingin melayangkan satu tamparan keras di pipiku—sampai aku memejamkan mata karena ketakutan. Badanku menggigil, bibirku begetar hebat dan air mata keluar begitu saja meski hanya setetes. “Papa tega menampar Ayla demi Arsen?" aku menatap Papa dengan nanar. “Sekarang jelaskan sama Ayla, kenapa Ay harus menikah dengan Arsen? Apa kehebatan Arsen sampai Papa begitu mempertahankan dia untuk menjadi suaminya Ayla?" Papa menghela napas gusar, berusaha untuk menenangkan diri sejenak sebelum kembali bersuara. “Karena Arsen adalah sosok suami idaman para wanita. Kamu harus percaya dengan pilihan Mama dan Papa karena kami sangat kenal keluarga Arsen dengan baik.” Sungguh, aku tertegun mendengar penjelasan Papa yang kurang logis. Bagaimana mungkin Papa bisa menyimpulkan kalau Arsen adalah suami idaman para kaum hawa. Kalau pun memang benar adanya, sudah pasti aku sangat tergila-gila dengan Bangkot tua itu. Bagiku, Arsen hanya Bangkot tua yang secara kebetulan disukai oleh orangtuaku karena diaanak dari teman baik Papa dan Mama. Sudah, itu saja. Tidak lebih dan tidak kurang. “Ayla, tetap nggak mau menikah sama Arsen. Please jangan paksa Ayla, Pa.” Aku memohon dari lubuk hati yang paling dalam. Sekilas suara isakan tangis muncul dari bibirku. Kenapa sih hidup jadi seberat ini? Bahkan lebih berat daripada masalah wisuda​. Kali ini hembusan napas Papa terlihat lelah. “Baiklah, kalau begitu giliran kamu yang kasih Papa alasan. Mengapa Papa harus membatalkan perjodohan kamu dan Arsen?” ​Mataku langsung berbinar, seolah mendapatkan lampu hijau untuk keluar dari jebakan perjodohan ini. “Karena Ayla sama sekali nggak kenal dan nggak cinta sama Arsen.” Aku mengangkat bahu tidak acuh. “Maka dari itu kamu harus memberikan Arsen kesempatan untuk dapat mengenal kamu lebih jauh lagi, Ay. Bagaimana cinta itu bisa timbul, kalau dari awal aja kamu sudah memeberikan penolakan seperti ini.” Aku kembali mencari alasan yang lebih baik. "Pa, Ayla kan masih harus fokus sama skripsi. Kalau misalnya kami menikah nanti, kuliah Ayla semakin nggak kelar-kelar dong?” “Alasan klasik, Ay. Papa yakin kamu bisa membagi waktu antara kuliah dan berumah tangga. Lagi pula, Arsen itu orang yang pintar loh. Kamu bisa minta bantuan sama Arsen untuk menyelesaikan tugas skripsi kamu itu.” Lah, katanya disuruh cari alasan. Nyatanya, semua alasan yang telah kusebutkan tadi langsung dibantah secara telak oleh Papa. Piye iki? Aku mulai mengatur napas. Lama-lama otakku bisa eror memikirkan alasan yang lain lagi. “Ayla tidak mau buncit saat masih menyandang status Mahasiswa.” Mama langsung terkekeh geli. “Kamu kan, bisa berunding dengan Arsen, buat anaknya ditunda dulu. Jangan buru-buru main langsung tembus aja dong.” Aku menepuk jidat, merasa bodoh sendiri. Bukan itu maksud Ayla, Ma! Ingin sekali rasanya aku menghantukkan kepala ke dinding. “Oke!” aku benar-benar sudah kehabisan akal, ini adalah ide terakhir yang aku punya. “Sebenarnya, Ayla udah punya pacar! Jadi pacar Ayla itu adalah, calon suami Ayla.” Papa dan Mama saling bertatapan kaget. Suasana berubah menjadi hening dan canggung seketika. “Kalau begitu perkenalkan pacar kamu kepada kami. Papa beri kamu waktu dua hari. Jika calon pilihan kamu tidak muncul dalam waktu yang sudah ditentukan, mau tidak mau kamu harus menikah dengan Arsen. Itu sudah pilihan terakhir buat masa depan kamu, Ayla.” Itu kalimat terakhir dari Papa sebelum beliau berbalik dan pergi meninggalkanku yang masih diam membeku seperti patung. Siapa laki-laki yang harus aku kenali kepada orangtuaku. Ando? Ya, hanya nama dia satu-satunya yang terlintas di dalam benakku. Karena dia memang pacarku. *** Siang harinya, aku duduk disalah satu kursi kafe sambil menikmati secangkir Macchiato. Mengetuk-ngetuk meja dengan bosan, dan melirik arloji yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Setelah beberapa menit menunggu lama, akhirnya orang yang sejak tadi aku tunggu hadir juga. “I'm sorry for late, Baby.” Ando tersenyum hangat sebelum menarik kursi dan duduk di hadapanku. Kepalaku menggeleng memaklumi seraya membalas senyumannya. “It's okay, By.” “Oh iya, katanya kamu mau ngomong sesuatu yang penting. Apa itu Baby?” Ando menyandarkan punggungnya santai ke kursi sambil membolak-balikan kertas menu. Di atas kursi, aku mulai duduk dengan gelisah. Sekilas kupejamkan mata ini sebelum memulai perkacapan yang tergolong serius. ”Kamu ingat kan, kalau aku pernah cerita ke kampu tentang perjodohan yang mendarah daging di keuargaku?” ”He’eh.” ”Karena umurku sudah dua puluh lima tahun, Papa dan Mama menginginkan aku menikah dengan laki-laki pilihannya.” Tatapan Ando mengernyit antara bingung atau kaget. “Maksudnya, Kamu udah dijodohin?” tanya Ando kembali, memastikan. Aku mengangguk ragu dan tersenyum hambar. “Ayolah, Ay, ini bukan jamannya Siti Nurbaya lagi!” Ando mengusap rambutnya ke belakang. “Tapi kamu tenang aja, By. Aku juga nggak setuju dengan perjodohan ini, karena aku udah punya solusi untuk kita berdua.” “Solusi apa maksud kamu?” dahi Ando berkerut. Ia mulai mencondongkan badannya ke depan. Berharap keputusan ini adalah titik final hubungan kami berdua. Pelan-pelan aku menghela napas, jantungku tidak berhenti berdetak kencang. Aku mengulurkan tangan untuk meraih tangan Ando dan menggenggamnya erat. “Kamu harus nikahin aku.” "Apa?" nyaris saja Ando terjungkang ke belakang karena terkejut. Tiba-tiba dia sudah menarik tangannya menjauh, “kamu udah gila ya?” lanjutnya kemudian. Wajahnya pucat maksimal. “Hanya ini satu-satunya cara agar aku terbebas dari perjodohan, dan kita bisa hidup bersama selamanya.” Ando menggeleng-gelengkan kepala gusar. “Tapi aku nggak bisa menikahi kamu secara gamblang. Pernikahan itu ikatan yang sakral!” “Ya, I know. Tapi kita saling mencintai satu sama lain, kan? Kamu bilang, cuma aku satu-satunya wanita yang ada dihati kamu dan bisa bikin hidup kamu penuh warna.” “Yaa ....” Ando mendengedikkan bahunya, ia terdengar ragu-ragu. “Tapi kita ini baru pacaran beberapa bulan, Ay. Dan aku belum yakin sepenuhnya sama kamu,” ujarnya menangkal. Kedua alisku saling bertautan bingung. “Kamu nggak yakin sama aku? Berarti kamu juga nggak yakin sama hubungan kita? Intinya, kamu sama sekali tidak mencintai aku!” “Hmmm, bukan begtu maksud aku Ay. Tapi—“ Ando benar-benar dilema. “Tapi apa? Kalau kamu cinta sama aku, udah pasti kamu akan mempertahankan aku!” Aku mulai naik pitam, namun berusaha keras untuk menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk mata. “Sebenarnya ….” Ando menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Kemudian ponselnya berdering nyaring. Ia pun segera menggeser tombol hijau dan menempelkan sepaker ponselnya di telinga. “Iya sayang ….” Dahiku mengernyit. Sayang? Ando tidak pernah mengeluarkan panggilan yang tidak lazim seperti itu terkecuali kepadaku. Berselang beberapa menit, Ando sudah selesai berbicara dengan seseorang di ponselnya dan kembali menatapku. Pelan-pelan, dia mulai menarik napas. “Itu, yang menghubungi aku tadi adalah istriku.” “Apa?” Aku menjerit, kaget. Saraf-saraf pedengaranku seperti di tarik putus. Aku tidak salah dengar kan? “Ya, sebenarnya aku sudah menikah.” “Apa?” lagi-lagi menjerit, berhasil menjadi tontonan para pengunjung kafe. “Jauh sebelum aku pacaran sama kamu,” lanjut Ando lagi hati-hati. Suara kursi berderit terdengar nyaring saat tubuhkumundur ke belakang. Gurat wajahku sudah cemas, namun pura-pura menyeringai geli. “Kamu bercanda kan By? Kamu bohong kan? Jangan main-main deh sama aku.” Tidak ada wajah keraguan di mimik Ando, semua itu murni keseriusan dan kejujuran. “Aku tidak bercanda, Ay. Maaf selama ini, aku cuma—“ Marah, kesal, benci. Hati ini sudah menggebu-gebu dan terasa panas. Tanpa banyak basa-basi lagi, aku langsung mengangkat tinggi-tinggi gelas Macchiato-ku dan mengguyur wajah Ando. “Jadi selama ini kamu cuma mempermainkan aku? Jadi selama ini kamu cuma menjadikan aku sebagai pelampiasan?Kamu cuma menjadikan aku selingkuhan?” bentakku naik pitam. Ando mengusap wajahnya dengan sapu tangan dan menjawab enteng. “Maaf, Ay.” “Maaf?” wajahku sudah berubah frustrasi. “Kamu udah jadiin aku sebagai perusak rumah tangga kamu sendiri dan udah jebak aku sampai bersedia minum-minuman beralkohol. Terus, dengan mudahnya kamu cuma bilang maaf? Enak banget hidup lu ya!” seruku sarkastis. Tapi wajah laki-laki di hadapanku ini sama sekali tidak menampilkan rasa sesal. “Kamu yang salah, kenapa kamu mudah terpedaya? Aku hanya memulai permainan kecil ini, tapi kamu sendiri yang mengikuti alurnya kan?” “Dasar cowok b******k kamu, Ando! Kamu pikir kamu itu siapa, ha? Adam Levine, Sarukh khan, Lee min ho, Rio Dewanto? Jangan sok kecakepan deh, kamu itu cuma laki-laki playboy yang tidak tahu malu! Pergi kamu dari sini sebelum aku tendang selangkanganmu!” Ando bangkit berdiri sambil tersenyum sinis. “Ayla, Ayla.” Ia geleng-geleng kepala. “Pantesan aja kamu nggak wisuda-wisuda, mulut kamu belum lulus di kuliahin, sih.” Dalam hati aku mulai menghitung sampai lima, kalau saja Ando tidak buru-buru enyah dari hadapanku. Mungkin aku sudah melempar laki-laki itu dengan kursi. Tapi ternyata, Ando berlalu sebelum hitunganku berakhir. Dasar pengecut! Sakit dan sesak. Dadaku seperti tertimpa batu besar. Aku kembali duduk dan menundukan kepala di atas meja. Akumenangis. Baru kali ini aku merasakan sakit hati yang begitu parahnya. Kenapa aku terlalu bodoh, mau memercayai laki-laki seperti Ando?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN