Alasan Ekstrem Membatalkan Pernikahan

1556 Kata
“Dasar Ando jahat! Cowok kurang ajar! b******k! Nggak tahu malu!” racauku sambil mengepalkan tangan kanan dan memukul meja. Aku tidak pernah menyangka kalau Ando akan melakukan hal ini padaku. Padahal, selama ini aku selalu menyemangatinya setiap dia main band, dan teman-temannya juga tahu aku. Atau, mereka semua berselongkol untuk bikin hatiki hancur? ”Dasar b******k! Ando b******k!” Aku meracau dan menenggelamkan kepalaku di atas meja. Tok! Tok! Mendadak, muncul ketukan lain di mejaku. “Ada yang lagi patah hati ya?” sejurus kemudian terdengar suara bariton yang begitu familier. Tangisanku berhenti, aku menyedot ingusku kembali masuk ke dalam Sambil mendongak. Alisku saling bertautan saat memandang seseorang yang telah duduk di hadapanku. Brak! Tanpa basa-basi, aku langsung menendang kaki laki-laki itu kuat-kuat, hingga ia meringis kesakitan. “Apa yang kamu lakukan di sini, Bangkot!?” aku membentak Arsen. Sedangkan Arsen hanya tersenyum manis dan menyebalkan. Aku sangat membenci senyuman cari muka itu. “Hanya sekedar lewat, lalu bertemu dengan seseorang yang aku kenal sedang menangis hingga sesenggukkan.” “Nggak mungkin kalau hanya sekedar lewat. Pasti kamu ngikuti aku, kan?” aku menatapnya curiga. Lagi-lagi Arsen tersenyum. “Well, ya.” Kemudian mengedikkan bahu santai. “Sebenarnya, Papa kamu yang suruh saya untuk mengikuti kemana kamu pergi.” “Apa?” Sungguh, aku tercengang. Arsen hanya mengangguk, sebelum merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sapu tangan. Arsen memberikannya padaku. “Hapuslah air mata itu. Kamu tidak pantas menangisi laki-laki yang udah tega ninggalin dan menyakiti hati kamu. Jangan buat diri kamu sendiri malu, Ay.” Aku enggan menggubris atau pun mengambil saputangan Arsen. Aku masih menatapnya penuh kebencian. Semua laki-laki sama saja, terlihat baik di luar namun tampak busuk dari dalam. “Aku-bisa-ngapus-air-mata-sendiri!” seruku penuh penekanan sembari mengusap air mataku kuat-kuat menggunakan telapak tangan. Laki-laki itu mengangkat bahu dan kembali menyimpan saputangannya ke dalam saku kemeja. Sekilas, aku memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh Arsen dengan tatapan sedikit terpukau. Ternyata tubuh Asen terlihat lebih maco kalau pakai kemeja. Otot-otot kekar di sekitar lengannya tercetak jelas. Aku menggeleng kuat, merutuki kesalahan sendiri, Aduh …aku ini mikirin apasih? Ingat Ay, dia itu udah tua! Sama sekali tidak pantas bersanding dengan kamu yang masih kinclong, muda dan energik. “Umur kamu sebenarnya berapa sih?” Arsen tertegun dan mengangkat alisnya mendengar pertanyaan tiba-tiba yang terlontar dari bibirku. Tidak masalah kan, kalau aku hanya sekedar penasaran? “Mulai tertarik dengan saya?” tanya dia sombong. Aku mengelus d**a, sabar Ay … sabar. “Udahlah, lupakan aja!” lanjutku kemudian sambil mengibaskan tangan. “Umur saya tiga puluh tiga tahun, Ayla.” ​Benar dugaanku kalau si Bangkot ini sudah tua. Maaf saja, tapi tipe laki-laki idamanku itu harus seumuran, atau berondong. Karena yang muda lebih menggoda. Kalau aku menikah dengan Arsen, sama saja artinya aku menikah dengan teman-teman Mas Eza, Dong! “Oh iya, aku punya pertanyaan yang harus kamu jawab dengan jujur!” sambarku lagi melontarkan pertanyaan. “Silakan ….” Arsen mengedikkan bahu sambil tersenyum lagi. Betapa murah senyuman dia itu. Sungguh. “Kamu bilang, aku pernah meluk kamu di umur lima tahun. Sebenarnya, seberapa dekat sih kita? Apa kita itu temenan baik atau pernah berhubungan lebih dari itu?” jujur saja, aku benar-benar lupa. Seingatku, aku tidak pernah memiliki teman laki-laki yang jarak usianya sampai sejauh ini. Arsen mendesah pendek, mulai mencondongkan badan dan menyandarkan kedua sikunya di atas meja. “Dulu itu kita teman kecil. Kita selalu main saat kamu datang lebaran ke kampung.” Aku langsung menjentikkan jari dan ikut mencondongkan badan. “Nah, kalau begitu seharusnya kita nggak perlu melanjutkan perjodohan ini karena hanya teman kecil—yang sudah aku lupakan. Dan aku yakin, kalau kamu ingin menikah dengan wanita yang kamu cintai sepenuh hati, kan?” Arsen mengangguk pelan. “Ya, memang benar. Tapi saya berjanji akan mencintai kamu setulus hati, Ayla.” “Oke, mungkin kamu bisa mencintai aku setulus hati dengan caramu sendiri. Tapi aku? Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta, Arsen. Aku nggak bisa! Apalagi karena kejadian tadi. Kamu tau? Aku ini habis patah hati! Harusnya kamu bisa ngerasain gimana sakitnya hatiku. Remuk, Sen. Remuk!!!” tanpa sadar aku menepuk dadaku secara dramatis. “Saya juga janji, tidak akan membuat hati kamu patah. Lagi pula, saya ini masih single. Belum menikah. Jadi kamu tidak perlu takut dibilang sebagai perusak hubungan rumah tangga orang lain.” Arsen menyindirku secara halus. Rasanya, ingin sekali aku melempar kepala laki-laki Bangkotan itu dengan gelas. Benci dan kesal bercampur menjadi satu. “Aku tetap nggak bisa jatuh cinta sama kamu, Bangkot jelek!” “Ayla, cinta itu akan datang karena terbiasa. Terbiasa lihat saya, terbiasa berduaan dengan saya, terbiasa bobo bareng dengan saya, dan terbiasa—“ Braak! Sekali lagi, aku kembali menendang kaki Arsen. Laki-laki itu mengeluh, merintih menahan sakit. “Jadi? Kamu tetap ingin menerima perjodohan ini meskipun kita tidak saling mencintai satu sama lain? Dan kamu merasa, kita bisa menunggu hadirnya cinta yang terbiasa itu?” Arsen mengangguk. Refleks, aku langsung memukul meja kuat-kuat karena kesal. “Why Arsen? Kamu tau kalau menikah tanpa didasari dengan cinta itu nggak akan bisa membuat hubungan kita jadi lebih baik. Kecuali kamu suka berhayal dan ingin kehidupan kamu menjadi happy ending seperti yang ada di dalam film atau novel. Karena sampai kapan pun hal itu tidak akan pernah terjadi!” “Hm, sayangnya saya tidak suka baca novel. Dan kebanyakan film yang saya tonton itu berakhir dengan scary ending.” “Scary ending? Apa maksudnya?” tatapanku berubah bingung. Yang aku tahu, sejak dulu hanya tercipta dua ending saja di dunia ini. Sad ending dan happy ending, tidak ada yang namanya scary ending. Benar-benar aneh ini si Bangkot. Arsen mengangkat bahu acuh tak acuh. “Semua film yang saya tonton rata-rata film action. Jadi kebanyakan endingnya itu mengerikan. Misalnya saja seperti pembunuhnya yang tertembak hingga mati? Atau penjahatnya ditusuk hidup-hidup? Bahkan ada juga pemeran utamanya yang kepalanya dipenggal—“ “Oke, enough!” Kuangkat tangan tinggi-tinggi. Pantas saja Arsen suka film action, lihat badannya yang tegap dan berotot seperti bodyguard. “Begini saja tuan Arsen yang terhormat. Saya tekankan sekali lagi kepada anda kalau saya tidak ingin menikah dengan anda! Jadi tolong, batalkan perjodohan ini sekarang juga!” Akibat emosi yang sudah tampak kalut. Aku sampai menunjuk meja dengan jariku hingga timbul suara gaduh. Justru jawaban yang Arsen tampilkan hanya gelengan kepala, tanda penolakan mentah. “Maaf, saya tidak bisa. Perjodohan kita adalah wasiat dari kedua orangtua kita, dan harus saya tepati.” “Yasudah kalau gitu, kamu bicarakan hal ini baik-baik dengan orangtua kamu untuk menghapus perjodohannya dari daftar wasiat. nanti, aku juga akan menyampaikan hal ini dengan orangtuaku.” “Sudah terlambat Ay. Kedua orang tua saya sudah tiada dan tenang di surga.” Hening. Ludahku terteguk kelat seolah sedang menelan biji durian. Mendadak, perasaan ini menjadi tidak enak hati, tubuhku berubah menjadi kaku. Aduh, bodoh banget sih Ay! Lamat-lamat, aku mulai berdehem pelan. “Maaf. Aku nggak tau kalau orangtua kamu—“ “Tidak apa-apa, Ay. Itu hal yang wajar, karena kamu juga sudah lupa dengan kejadian terdahulu dan kamu belum tahu banyak tentang saya meskipun kedua orangtua kita berteman akrab.” Sempat hening beberapa menit karena rasa canggung, aku kembali membuka suara. Mencari cara agar Arsen dapat membatalkan perjodohan kami. "Listen to me. Apa kamu nggak jijik sama aku? Jelas-jelas, kemarin aku sampai muntah di depan kamu dan bikin pakaian kamu jadi kotor.” Arsen hanya mengangkat alisnya sekilas. “Saya tidak mempermasalahkan hal itu. Lagi pula baju dan celana saya sudah dicuci bersih.” Aku menghela napas dalam-dalam dan mencoba mencari kerburukan yang lain lagi. “Kamu tau kan, kalau aku ini masih berstatus sebagai Mahasiswi abadi. Aku belum mendapatkan gelar sarjana, loh. Emangnya kamu nggak malu punya istri yang telat wisuda?” Laki-laki itu mengangguk. “Saya tahu. Mas Eza sudah menceritakan semuanya kepada saya.” Lalu berubah menjadi menggeleng. “Toh, telat wisuda itu perbuatan yang manusiawi, kan?” Aku masih belum menyerah. “Asal kamu tau ya bangkot. Aku ini suka keluyuran malam, suka datang ke tempat hiburan malam dan suka mabuk-mabukkan!” Laki-laki itu mengedikkan bahu. “Sudah saya duga. Tercium dari muntahan kamu yang berbau alkohol.” Hampir saja aku memukul keningku sendiri. Aku sudah mengatakan semua keburukanku, namun benteng pertahanan Arsen begitu kukuh hingga sulit dihancurkan. Aku memijat pelipis yang tiba-tiba dilanda pusing. Tebersit ide di kepalaku, aku yakin setelah mengatakan alasan ini Arsen pasti akan menyerah. “Oke, begini saja. Sebenarnya, ada satu rahasia yang belum kamu ketahui tentang aku sepenuhnya.” “Oh ya? Apa itu?” tanya Arsen antusias. Air mukaku berubah sendu, lirih dan tampak sedih. Hanya akting. “Sebenarnya ....” “Hm?” Sedetik kupejamkan mata sambil mendesah panjang,sebelum mata kami kembali berserobok. “Sebenarnya, aku … udah nggak virgin lagi.” Arsen langsung tersedak dan terbatuk-batuk. Harap-harap cemas aku menunggu tanggapan Arsen sambil menatapnya lekat-lekat. Tak lama setelah laki-laki ituberhasil menenangkan diri, suara kursi berderit terdengar nyaring ketika Arsen mulai beranjak. “Maaf, sepertinya saya harus pulang terlebih dahulu karena Nenek sedang menunggu di rumah.” Seringai penuh kemenangan muncul di garis bibirku.Yes! Aku berhasil! Dengan senang hati aku mengangguk, memerhatikan tubuh Arsen yang berjalan menjauh menuju pintu kafe. “Bay bangkot tua, take care. Jangan ngebut-ngebut ya di jalan!!!” teriakku sambil melambaikan tangan sempurna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN