bc

NESTAPA ANAK PUNGUT

book_age18+
21
IKUTI
1K
BACA
sweet
mystery
campus
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Savana nyaris menjadi korban perdagangan manusia oleh ayah kandungnya sendiri. Dia berhasil menyelamatkan diri dan kemudian ditolong oleh seorang pengusaha kaya bernama Pak Hartawan.

Sayangnya keluarga besar Pak Hartawan tak ada yang mau menerimanya. Sava justru dituduh gadis penggoda oleh Rey, anak bungsu sang pengusaha.

Bagaimana kisah hidup Sava yang berhasil lolos dari harimau, tetapi kini terjebak dalam mulut buaya.

chap-preview
Pratinjau gratis
SEBUAH WASIAT
Suara jangkrik dan gericau hewan malam terdengar riuh bersahutan. Savana melirik jam kecil yang ada di atas meja. Sudah lewat tengah malam. Namun, matanya masih enggan terpejam. Savana mencoba membaringkan tubuhnya. Gadis 18 tahun itu menatapi dinding-dinding kamarnya yang berpendar terkena sorotan lampu. Dinding itu kosong. Namun, dia seolah-olah bisa melihat kenangan masa kecilnya diputar di sana. Memori bersama almarhumah neneknya. *** "Besok di sekolah ada perayaan hari ibu. Aku mendapat tugas untuk membacakan puisi. Nenek bisa datang, kan?" tanya Savana kepada neneknya saat mereka sedang sarapan. "Siap! untuk tuan putri yang paling cantik, Nenek pasti datang," ujar sang nenek berlagak menggoda. "Jam delapan acara sudah dimulai. Nenek jangan sampai terlambat melihat penampilanku." Savana pura-pura mengancam. "Siap, tuan putri. Pesan yang mulia akan hamba ingat baik-baik." Neneknya masih terus menggoda. Dan Savana akhirnya tak tahan untuk tidak tertawa. Pasangan nenek dan cucu itu lantas terbahak bersama. "Tapi, Nek ...," ucap Sava tiba-tiba. "Tapi kenapa, Sayang?" tanya Rasmi ketika melihat perubahan sikap cucunya. "Setiap anak diminta datang bersama ibunya. Dan aku ...." Savana menghentikan kata-katanya. Air matanya terlihat mulai menggenang. Rasmi cepat tanggap. Dia mengerti apa yang dirasakan cucu kesayangannya. Gegas dia merengkuh tubuh Savana dalam pelukan. "Masih ada Nenek di sini. Apa itu kurang? Bukankah Nenek juga bisa menjadi ibu?" Savana tak mampu menjawab pertanyaan neneknya. Tangis gadis itu pecah. Sejak kecil Savana hanya tinggal bersama neneknya. Sang ibu telah meninggal saat melahirkannya. Savana hanya mengetahui wajahnya melalui foto-foto yang masih disimpan rapi oleh sang nenek. Sementara ayahnya, Savana tak pernah tahu laki-laki itu ada di mana. Neneknya selalu bungkam saat Sava ingin menanyakan perihal keberadaannya. Satu waktu bahkan wanita itu memintanya untuk menganggap sang ayah sudah mati. Ya, Savana patuh. Dia mengikuti apa yang dikatakan neneknya. Toh, selama ini ayahnya memang tak pernah tampak batang hidungnya. Lalu, untuk apalagi mempertanyakan keberadaannya. Bisa jadi, ayahnya benar-benar sudah mati. *** "Nenek jangan lupa, jam delapan acara sudah dimulai. Nenek harus melihat penampilanku. Atau, aku tidak akan tampil," ucap Savana keesokan paginya sebelum berangkat ke sekolah. Sejak pagi buta dia sudah bersiap. Hari itu sekolahnya mengadakan pentas seni dalam rangka memperingati hari ibu. Sava akan tampil mengisi acara di depan tamu undangan. Suara pembawa acara terdengar membuka kegiatan hari itu. Savana gelisah di belakang panggung. Dia mondar-mandir sambil sesekali mengintip tamu yang datang. Sebentar lagi dia akan tampil, tetapi sang Nenek belum tampak hadir. Perasaannya berkecamuk. Dia yakin neneknya tidak mungkin lupa. "Sava, sekarang giliran kamu." Seorang gurunya datang mengingatkannya agar segera naik ke panggung. Ragu-ragu gadis itu mengikuti perintah sang guru. Penampilannya kali ini ingin dia persembahkan khusus untuk sang Nenek. Namun, bagaimana dia akan tampil jika neneknya sendiri belum hadir. "Savana! Di mana Savana?!" Seorang gurunya yang lain tiba-tiba merangsek masuk, mencari Savana "Iya, Pak. Saya. Ada apa?" Savana tampak sedikit kebingungan. "Mari ikut bapak pulang. Kamu ditunggu nenekmu di rumah?" "Nenek? Kenapa Nenek? Apa Nenek sakit?" Sava mulai terlihat panik. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi. "Nanti bapak jelaskan sambil jalan. Ayo!" titah sang guru kepada Savana sambil memberikan kode kepada rekan guru yang lain untuk melanjutkan acara. Sementara itu, dengan hati berdebar tak karuan, Sava mengikuti langkah gurunya. Bersama seorang guru yang lain, mereka lantas mengantarkan dia pulang. Tidak butuh waktu lama. Mereka akhirnya tiba di rumah. Sava memasuki pelataran dengan hati berdebar. Perasaannya semakin tak karuan, melihat para tetangga yang berkerumun. Savana menyeruak masuk. Wajah para tetangga menyambutnya dengan penuh iba. "Sava ... nenekmu, Nak," ujar salah seorang tetangga sambil menghambur memeluknya. Sava tak lagi bisa mendengar apa yang dikatakan wanita itu. Matanya terpaku pada sosok yang terbujur kaku dengan tubuh sudah berbalut kain putih. "Nenek ...." Tubuh Savana roboh. Sebuah kecelakaan telah merenggut nyawa neneknya. Dan Sava benar-benar terpukul. Selama ini sang nenek adalah tumpuan harapannya. Namun, asa itu kini telah direnggut darinya. *** Sava menatap kosong kertas berisi tulisan tangan neneknya. Sebuah surat yang dia temukan di dalam boks kecil peninggalan neneknya. Benarkah apa yang disampaikan sang nenek dalam surat itu? Sebuah alamat yang berada jauh di ibu kota. Konon, di tempat itu ayahnya tinggal selama ini. Sang nenek ingin Sava mencari ayahnya. Apa yang harus Sava lakukan? Apakah dia harus mengikuti wasiat neneknya? Bersambung

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Kali kedua

read
221.0K
bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.9K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook