Sungguh, ini bukan image yang baik saat pertama kali ia bekerja dan di depan atasannya sendiri dan bosnya itu justru meninju mantannya. Felisha menitikkan air mata, terisak dan hanya mengikuti tangan Dafi yang menariknya berjalan. Sampai akhirnya Dafi berhenti dan menarik Felisha dalam pelukannya, Felisha menangis terisak di dekapan atasannya.
Dafi membelai lembut rambut dan punggungnya sampai Felisha merasa tenang. Felisa baru sadar bahwa mereka sekarang berada di rooftop gedung kantorannya. Dafi menuntunnya duduk di pinggir taman rooftop. Mereka masih terdiam bersama.
“Maaf pak” lirih Felisha. Felisha bergeming, tidak berani menatap atasannya yang justru sekarang merapatkan duduknya dan merangkulnya. Di belai lembut lengannya, dan tangan satunya masih menggenggam tangan Feliha. Entah mengapa Dafi sangat lembut sekali padanya. Dan Felisha merasa sangat tenang dengan perhatiannya.
“Saya yang minta maaf, saya tidak bisa membiarkan kamu disakiti terus” ucapnya lembut. “Maaf karena saya tak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya.”
Felisha menggelengkan kepala, “Bapak sudah sangat baik membantu saya. Maaf pak” ujarnya terisak.
Dafi semakin mempererat pelukannya, “Aku tidak mau kamu sakit terus Felisha, rasanya tidak terima kami diperlakukan seperti itu”. Felisha semakin menangis mengingat perlakuan Ferdian yang memang sudah terlewat batas sabat.
“Kamu jangan sedih lagi, ada aku disini. Jangan takut” tambah Dafi.
Felisha sontak melihat wajah atasannya saat Ia berkata begitu. Terlihat Dafi senyum dan wajahnya sangat tenang dan tampan. Pandangan mereka terus beradu seperti membaca pikiran lewat mata saja sampai Dafi mengernyitkan dahinya.
“Kenapa?” tanya Felisha.
“Kamu yang kenapa, menatapku seperti itu.” Dafi jelas menelanjangi pikirannya melihat Felisha menatap kagum akan ketampanan atasannya. Sontak membuat Felisha senyum dan mengalihkan wajahnya menutupi mukanya yang sudah memerah.
“Nah, gitu dong, kalau senyum kan cantik” imbuhnya.
Dafi melepas rangkulan dan genggamannya yang membuat Felisha secara tiba-tiba. Lalu Ia melihat Dafi melepaskan jasnya dan menyampirkan ke punggung Felisha sambil tersenyum sumringah.
“Biar tidak dingin” ucap Dafi.
“Thanks Bos, thank you for your caring” ucap Felisha lirih
“No, I just wanna help you” Dafi terlihat masih merapikan jasnya ke pundak Felisha untuk menutupi atasan kerja yang basah karena ditarik oleh Ferdian. “I told you, just called me Dafi” imbuhnya penekanan.
Felisha menggelengkan kepalanya. “Tidak Pak, saya baru hari pertama bekerja, kurang sopan rasanya memanggil Direktur saya sendiri dengan nama saja, sepertinya tidak pantas, tidak formal. Apalagi Bapak sampai membantu saya sampai seperti ini, maaf pak”
Dafi terlihat masam, entahlah mungkin aku salah berbicara padanya. “Ok, kalau begitu anggap saja ini bantuan dari teman kamu Fel, anggaplah aku sebagai temanmu saat kita di luar kantor, bagaimana?” tawarnya.
“Teman?”
“Kamu tidak mau berteman denganku?”
“Ehmm… hanya saja”
"Apa?” potongnya
“Teman tidak semesra ini pak” jujur Felisha.
“Ok, maaf. Karena aku sangat tertarik padamu”
Felisha masih bingung, lalu tanpa sadar ia tersenyum dan mengangguk kecil.
“Jadi bagaimana?” tanyanya lagi
“Bagaimana apanya pak?”
“Berteman, sebagai permulaan?”
Felisha mengerucutkan bibir dan mengangguk tanda setuju. Tidak masalah bukan untuk menambah teman disaat ia sedang membutuhkan banyak perhatian dari seseorang. Terlebih hanya Melani sahabatnya satu-satunya di Jakarta dan ia masih sibuk dengan pekerjaannya.
Felisha berjalan ke pinggir gedung, tersenyum kagum melihat indahnya lampu-lampu Jakarta yang tidak sepi. Felisha tahu sekarang Dafi sudah ada di sebelahnya. Ia melihat ke arah Dafi dan menatapnya penuh terima kasih. Dafi pun merespon tatapan Felisha, ia tersenyum kecil menatap Felisha. Tanpa sadar ia membelai rambut Felisha yang berantakan tersapu angina dan masih saling bertatapan intens.
Dafi tanpa ragu mendekatkan diri ke Felisha dan tangannya di eratkan di pinggang Felisha membuat mereka semakin dekat. Hidung Dafi tepat di kening Felisha, dan mengecupnya sebentar. Lambatnya ia menurunkan bibirnya ke hidung lalu berhenti tepat di depan bibir Felisha. Nafas mereka menderu hingga akhirnya bibir Dafi mengecup sebentar bibir Felisha. Felisha masih membatu dan segera ia sadar, ia mendorong pelan d**a kekar Dafi saat ia hendak menciumnya lagi. Felisha memilih menenggelamkan kepalanya di pundak Dafi dan memeluknya erat. Dafi membalas pelukan Felisha.
“Sorry…” lirih dari di dalam pelukan. “Seharusnya aku tidak terbawa suasana”
Felisha melepaskan pelukannya dari Dafi. “Ya, it’s ok” dan justru tersenyum, melepas pelukannya dan perlahan meninggalkan Dafi. Ia masih belum bisa menerima keadaan setelah pertengkaran dengan Ferdian dan tiba-tiba ia dicium atasannya. ‘sebentar lagi aku pasti gila’ batin Felisha frustasi sambil berjalan cepat menuju Lift.
Felisha sudah di dalam mobil Dafi. Felisha sudah menolak berkali-kali saat di lift tapi Dafi tetap menyeretnya dan mendudukkan di jok sebelah pengemudi. Dafi sudah duduk dibalik kemudi lalu ia merubah posisi duduknya badannya mengarah ke Felisha dan mendekatinya. Felisha kaget dan mundur menabrak pintu di belakangnya. Dafi terkekeh, ia tertawa kecil dan mengambil sebuah tas futsal di dashboard dan mengambil kaos putih di dalamnya. Ditaruhnya di pangkuan Felisha.
“Pakai saja, kasihan badan kamu bau kopi” tukasnya terkekeh dan menyalakan mesin mobilnya.
Felisha mendengus kesal. Ia justru takut jika Dafi hendak melakukan sesuatu lagi padanya. “Terima kasih pak”.
“Pak lagi manggilnya” recehnya.
“Masih canggung, rasanya tidak sopan saja pak” tukasnya malu.
“Kan kita sekarang berteman bukan?”
“Ehmm.. iya sih tapi..”
“Tapi apa?”
“Masih awkward manggil Da-fi” ucap Felisha terbata saat memangil Dafi tanpa embel-embel ‘Pak’nya
“Nah itu bisa, Dafi saja, kita kan sebaya kan? Aku masih 30”.
“Dih, orang saya masih 27, belum kepala 3. Enak saja dibilang seumuran” decak Felisha tak terima.
“Hahaha… Nah kalau ngomel-ngomel seperti ini baru deh Felisha” jawabnya tertawa.
Felish mendengus kesal lagi. Entah kenapa dia malah tersenyum mendengar candaan receh dari atasannya. Felisha tidak membalas lagi obrolannya. Hening. Dafi melajukan mobilnya tetapi bukan arah ke apartmentnya. Felisha kebingungan, takut dibawa atau diculik atasannya sendiri.
“Bapak mau lewat mana sih pak? Kan apartment saya arah sudirman.” Tanya Felisha penasaran dan masih menggunakan Bahasa formal.
Dafi langung memicingkan lirikannya ke Felisha. “Aku mau ajak kamu makan dulu, udah jam 8 dan aku laper”. Dafi tampak santai saat mengajaknya makan. “Temenin dulu tidak apa-apa kan?”
“Oh, ok deh kalau begitu. Memang mau makan apa?” karena ia juga merasa lapar.
“Ke Midori, mau kan?”
“Oh, Midori. Baiklah, disana sushinya enak” tukas Felisha senang. “Ditraktir kan?” tanya Felisha penasaran. “Masak Direktur tidak bisa bayarin makan malam staffnya?” ejek Felisha tertawa renyah.
“Iya lah, apasih yang tidak untukmu, Felisha” ucapnya manja.
Mendengar jawaban Dafi, malah membuat Felisha salah tingkah dan menjadi baper. Ia tidak seharusnya sedekat ini dengan atasannya. Baru juga satu hari bekerja dan sudah makan malam bersamanya. Parahnya lagi mereka sudah berpelukan dan berciuman sebentar. ‘ya ampuun,, jangan goyah kamu Fel!’ batinnya masih berkecamuk dipikirannya.