Debaran

1246 Kata
    Mobil Dafi sudah terparkir di halaman restoran jepang, Midori. Dafi melepas seatbelt dan mematikan mobil SUV mahalnya. “Ayo turun”.     “Iya, saya ke toilet dulu pak, ganti baju”.     “Oke, aku tunggu di meja ya”.     Felisha segera berlari ke toilet dalam restoran dan mengganti atasan kerjanya dengan kaos putih milik Dafi. Baunya benar-benar aroma Dafi sekali. Ia sesekali mencium aroma baju yang ia pakai sekarang. Ia berdiri di depan wasafel dan mencuci mukanya yang sedikit sembab. Baju Dafi jelas kebesaran di tubuh ramping Felisha, tapi masih cocok di pakainya. Ia tersenyum kecil dan menggeleng kepalanya. “No Felisha, it is not time for open your heart. Baru juga putus 3 minggu yang lalu, Felishaaa” ucapnya mendesah sendiri di depan kaca.     Ia berjalan mendekati meja yang sudah dipilih Dafi. Dafi melambaikan tangan dengan senyumnya yang menawan. Matanya berbinar. Felisha sangat menyukai mata Dafi yang membuat dirinya terhipnotis.     Felisha duduk dihadapan Dafi. “Sudah pesan?” Felisha memulai percakapan.     “Sudah, warayaki salmon, norimaki sushi dan Maguro sushi. Aku pesenkan kamu ocha hangat agar kamu rileks” ucapnya sambil mengambil ipadnya. Felisha mengangguk setuju dengan yang dipesannya “tidak apa-apa kan? Imbuhnya.     “Eh, iya pak, tidak apa-apa” jawab Felisha lembut. Spontan Dafi melirik tajam ke Felisha. Felisha bergidik.     “How many times I told you ya, Pak lagi Pak lagi. Memangnya aku ini bapak kamu?” nadanya kesal.     Felisha salah tingkah, “Oke Dafi. Thank you” jawab singkat Felisha sambil tersenyum hingga mereka tertawa bersama. “Puas sekarang?” decak Felisha.     “Hahaha, begitu kan enak dengernya” tawanya renyah.     Minuman dan makanan sudah datang dan di hapadan kita. Aku sudah tidak sabar memakan sushi nya. Tanpa aba-aba pun aku langsung melahap sushi dan mengerang nikmat.     “Hemmm, Ya ampuun, salmonnya lumer dimulutku” mulut Felisha masih penuh dan Ia terus mendesah nikmat sushi dilahapnya tanpa henti. “Hmm,, parah sih ini lezat sekali”.     Dafi tersenyum bahagia melihat wanita di depannya sangat menikmati sushi nya, bahkan sudah tinggal dua rol lagi. Dafi pun tertawa pelan “Nah gitu dong Fel, jadi cewek tidak perlu sungkan-sungkan. Jadi diri kamu saja, aku suka melihatnya”.     Felisha mengernyitkan dahi dan mengulum bibirnya menelan makanannya. “Ini nih, makan saja. Tidak perlu menatapku seperti itu” tukas Felisha sambil menyodorkan sushi menyuapi Dafi. Dafi pun tersenyum dan menerima suapan dari Felisha.     Mereka menuntaskan makanannya dengan sesekali bercanda dan bercerita satu sama lain. Mereka terlihta nyaman satu sama lain hingga sampai akhirnya Dafi mengantar Felisha ke apartment.     “Thanks Daf, sudah mengantarku, traktir aku, nolongin aku” Felisha berterima kasih kepada Bosnya dengan ceria.     “Iya Felisha, aku senang bisa ngobrol banyak sama kamu. Kamu pintar dan sangat menyenangkan”. Dafi mengamati Felisha, “Dan ternyata kamu receh juga ya”.     Mereka berdua tertawa bersama dan saling bertatapan. Dafi tampak mengulurkan tangan berusaha memegang tangan Felisha. Tapi tiba-tiba ponsel Felisha bergetar tanda ada panggilan masuk. Felisha mengambil ponsel dalam tas nya. “Ya ampun, Melani”.     “Yah Melani, ganggu aja sih” ketus Dafi.     Felisha menyernyit dan terkekeh. “Sebentar ya”.     “Ya Mel, gimana?” jawab Felisha mengangkat telepon dari Melani     “…..”     “Aku di Lobby, sudah sampai apartment”     “….”     “Kok kamu tahu aku dengan Pak Dafi?        “….”     “Hah?” Jawab Felisha terkejut menatap Dafi dan melihat Melani sudah di dekat Lift mengamati kita berdua.     Segera Felisha mematikan telepon dan berlari kecil menghampiri Melani yang tampak kesal di depan lift, disusul Dafi dibelakngnya.     “Hai Mel” sapa Dafi dengan santai.          Melani mendengus dan memencet tombol lift. Kita berdua masih diam dengan sikap Melani dan bertukar pandang seperti memikirkan hal yang sama. Tak lama pintu lift terbuka dan Melani masuk ke dalam lift.     “Oh Ayolah, kalian kenapa sih? Cepatlah masuk!” Melani berkata sedikit kesal. Felisha dan Dafi tampak bertukar pikiran lewat tatapan mereka yang seperti akan di interogasi Melani. Tanpa aba-aba kita berdua masuk lift dan sampai di penthouse kecil Felisha. Felisha menaruh tasnya di nakas samping sofa dan mempersilahkan Pak Dafi duduk di sofa mint Scandinavia depan tv.     Melani tampak kesal duduk di barstool dekat Kitchen island kecil di penthousenya. Ia tampak mendengus kesal melihat kita berdua. Felisha duduk berjarak dengan Dafi di sofanya.     “Kenapa sih Mel? tidak jelas begitu.” Tanya Felisha penasaran.     “Apa Bapak mempunyai hubungan sesuatu dengan staff baru bapak?” tanya Melani menyelidik kepada atasannya.     Dafi mengernyitkan dahinya, “Apakah ada masalah jika saya mempunyai hubungan dengan staff baru saya?”     “Pak! Jangan memperkeruh suasana!” sergah Felisha. “Kita tidak ada apa-apa, Pak Dafi hanya menolongku saja.”     “Baju kamu mana?” sewot Melani mengalihkan pembicaraan.     “Basah, tadi terkena kopi” jawabku sekenanya.     “Kalian tahu! Tadi kita melihat Pak Dafi narik kamu masuk lift di Lobby kantor kita. Lalu Bu Dwi yang pulang lebih malam melihat kalian bergandengan di basement dan masuk mobil Pak Dafi.” Melani tampak kesal dan bingung “Sebenarnya kalian ada apa sih? Bagaimana kalau besok kalian jadi bahan cibiran di kantor? Fel kamu itu pegawai baru loh, baru sehari lho!” Melani memarahi Felisha.     Spontan Felisha terkejut dengan cerita Melani yang kepergok pergi dengan Direkturnya. Felisha masih bingung. ‘ya ampun, masalah kemarin belum juga kelar, ini ada lagi masalah. Ya ampun Tuhaaan’ batinnya.     “Kita itu siapa Mel?” sahut Dafi penasaran ingin membantu meluruskan.     “Saya, Vero dan Renata Pak, lalu Bu Dwi juga telpon saya pas lihat bapak dan Felisha masuk mobil bapak”.     “Oh” jawab Dafi santai.     Felisha masih kesal dan terdiam. Semua terjadi karena Dafi telah membantunya dari Ferdian. Ia merasa tidak enak dengan Dafi jika Ia sampai dicibir oleh bawahannya sendiri.     “Kamu tahu Mel tadi ada Ferdian disana?” tanyaku.     “Iya tadi aku lihat Ferdian menyeka bibir dan sedikit berdarah mulutnya”     “Nah, tadi aku berantem sama Ferdian dia narik-narik aku sampai kopiku basah kebajuku. Dia tetap nyeret aku secara paksa lalu pak Dafi meninju Ferdian sampai tersungkur. Hebatkan?” Felisha tampak menahan emosi karena kesal dan banyak pikiran. “Kalau tidak ada Pak Dafi, aku sudah di seret sama Ferdian karena nggak ada kamu, Mel!” nadanya mulai meninggi.     “Jadi kamu menyalahkan ku Fel?” ketus Melani     “Bukan begitu maksudku Melani” gusar Felisha.     “Tadi saya niatnya nolongin Felisha saja Melani. Karena tadi Ferdian sudah keterlaluan narik kasar Felisha sampai kopinya tumpah ke bajunya dan membentak-bentak Felisha. Saya tidak terima, jadi saya ikut emosi dan memukulnya” tambah Dafi mulai menjelaskan kejadian tadi. “Dan saya tarik Felishaa ke lift dan saya suruh mengganti bajunya dengan kaos punya saya” imbuhnya.     “Kamu ganti baju didepan Pak Dafi Fel?" Tanya Melani penasaran.     “Astaga, tentu saja tidak Mel, tadi kita makan malam di Midori dan ganti baju disana” tukas felisha sambil menahan tawa.     “Oh… makan berdua?” Melani berdecak kesal. Dafi dan Felisha pun hanya saling bertukar pandang dan mengangguk tanda mereka memang makan berdua. Tentu saja.     “Ya sudah lah Fel terserah, tapi yang jelas besok kamu akan menjadi bahan gosip terus di kantor” Ketus Melani sambil turun dari barstoll dan masuk ke kamar.     Felisha menghela napas panjang saking banyaknya pikiran. Ia bersandar di punggung sofa, menaruh kepalanya pada bantalan sofa dan menaikkan kaki di meja. Dafi yang duduk di sebelah kirinya terlihat mendekati. Membelai pipinya. Felisha menepis pelan tangannya. Felisha tampak masih menghela napas panjang dan jarinya memijit pelan pelipisnya. Pelik rasanya     “Hey” lirih Dafi.     “Hmm”     “Sorry”     “Untuk?”     “Karena aku, kamu jadi semakin banyak masalah”     Felisha menghela nafas panjang panjang dan kasar. ‘I’ts Ok Daf, Tidak apa-apa”     “Tidak usah terlalu dipikirkan, jelaskan saja ke meraka kalau aku cuma bantu kamu” tambahnya sambil menatap Felisha dan badannya sudah di miringkan.     “Biarkan saja, malas berurusan dengan netizen” ketus Felisha becanda. “Kalau ada yang bertanya ya di jawab saja, kalau tidak ada yasudah. Capek soalnya.”     “Hahaha, Ok besok aku jemput ya” ujar Dafi.     “Apa sih… Tidaklah, aku dengan Melani saja” jawab Felisha menolak ajakan Dafi sambil melihat wajah Dafi yang tampan bak artis layar lebar.     Dafi mengangguk kecil kepalanya. Tatapan mereka beradu, Dafi tampak mematung menatap Felisha dengan lekat. Tanpa sadar tangan Felisha membelai lembut pipi Dafi.     “Thanks Daf” ucapnya dengan ibu jari mengusap lembut pipi Dafi. Dafi segera menarik tangan Felisha dan mencium dalam telapak tangan Felisha dan punggung tangan Felisha serta menggenggam jemari Felisha dengan hangat. Rasanya debaran jantung mereka terdengar satu sama lain dan tak bisa menutupi air muka malu-malu mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN